
“Hanya tinggal Kau dan Aku lagi, Eblirt!” kata Pitung berdiri di hadapan Eblirt.
“Aku tidak menyangka Kau bertambah kuat, bahkan mengalahkan mereka dengan mudah!” sahut Eblirt dengan sudut bibir menyeringai tipis.
Eblirt terlihat tenang dan tidak panik walaupun semua Jenderalnya telah dimusnahkan oleh Pitung.
“Sepertinya Dewa Kegelapan juga memberikanmu Skill yang sangat kuat,” cibirnya.
Tubuh Eblirt diselimuti kabut hitam dan kabut hitam itu melesat ke arah Pitung.
Pitung mengayunkan Pedang Hell Of Darkness ke arah samping dan tiba-tiba terdengar suara benturan Dua Pedang.
Ledakan energi Sihir menimbulkan gelombang sihir yang membuat area disekitar mereka hancur berkeping-keping.
“He-he-he... Aku tidak akan membiarkanmu merapalkan mantera Sihir,” ejek Eblirt. “Bersiaplah untuk mati!”
“Oh, benarkah?” sahut Pitung tertawa terkekeh-kekeh.
Mana Iblis menyelimuti bilah Pedang Hell Of Darkness.
Eblirt mengerutkan keningnya karena merasa Mana Iblis yang menyelimuti bilah Pedang Hell Of Darkness adalah seluruh Mana Iblis yang Zagralaas miliki. “Apakah Dia ingin melakukan serangan bunuh diri?” gumamnya.
Eblirt terpaksa mengalirkan semua Mana Iblisnya ke bilah Pedangnya agar tidak mati oleh tebasan Pitung.
Boooooommmmmm!
Ledakan energi Sihir kembali mengguncang medan Perang Kota Trivoni. Ledakan energi Sihir ini sangat mengerikan dan paling menghancurkan selama Perang ini.
“He-he-he... akhirnya kau mati, Zagralaas!” cibir Eblirt yang telah kehilangan semua kekuatannya, tubuhnya dipenuhi luka-luka. Untung saja Jirah besi yang ia kenakan sudah dilapisi Sihir Perisai.
“Kenapa kau sangat senang?”
Tiba-tiba Pitung berdiri di depan Eblirt dengan sudut menyeringai jahat.
Eblirt terkejut, mulutnya menganga lebar karena tidak menyangka Zagralaas baik-baik saja. Bahkan Mana Iblis yang terpancar di tubuhnya masih banyak sekali.
“Ti-tidak mungkin... bagaimana kamu baik-baik saja?” Eblirt merasa putus asa.
Pitung mencengkram leher Eblirt dan terdengar suara retakan pada tulang lehernya. “Kau tidak perlu tahu tentang itu,” cibir Pitung sembari menengadah menatap awan di langit. “Kenapa kamu diam saja di sana?”
“Mungkinkah Malaikat Damian sudah datang?” gumam Sage Agung menatap ke arah yang dilihat oleh Pitung.
Sayap Putih membentang sangat lebar dan memancarkan cahaya menyilaukan. Kemudian sosok Tampan mengenakan Jirah Putih keluar dari balik awan tersebut.
“Halo jiwa dari Dunia lain,” sapa Damian tersenyum lebar.
“Kenapa Malaikat sampai turun tangan hanya untuk menangkapku? Apakah Dewi Cahaya tidak bisa memberikan anugerah yang lebih kuat untuk para Pahlawan,” cibir Pitung. “Dewa Kegelapan saja memberikan Aku anugerah yang membuat Mana Iblisku tak akan pernah habis.”
Damian hanya tersenyum saja, Pedang Cahaya muncul di tangannya.
__ADS_1
“Aktifkan Skill baruku, Sistem!” seru Pitung karena Damian akan segera bertindak.
[Penyetaraan Kekuatan diaktifkan]
Suara Demon King System menggema di benak Pitung. Skill yang ia dapatkan dari misi merekrut Carmelia adalah Penyetaraan Kekuatan dan hanya bisa digunakan sekali saja, makanya ia menyiapkan Skill itu untuk melawan Damian.
“Hmm?” Damian terkejut Pitung memancarkan kekuatan yang setara dengannya.
Sayapnya mengepak dan dalam sekejap muncul di hadapan Pitung yang langsung mengayunkan pedang Hell Of Darkness.
Pitung tak bisa menggunakan Skill Manipulasi Sihir karena membutuhkan beberapa detik waktu untuk merapalkannya.
“Semua menjauh!” seru Sage Agung.
Dia merasa pertarungan Malaikat Damian dan mantan Raja Iblis Zagralaas akan menimbulkan kerusakan yang sangat mengerikan, bahkan gelombang Sihirnya saja mungkin akan membunuh mereka.
Aliansi Kuil Cahaya, Kerajaan Kinearus dan Kurcaci segera mundur sejauh mungkin dari Medan Perang.
“Mundur!” seru Netla Durand.
Pasukan Iblis yang tersisa segera menjauh kecuali Beast dan Binatang yang masih dibawah kendali Pitung.
Aura Pedang berwarna hitam dan Aura Pedang Cahaya yang menyilaukan saling berbenturan yang langsung mengakibatkan ledakan energi Sihir.
“Dewa Kegelapan sungguh murah hati sekali memberikanmu kekuatan yang bahkan setara dengan Malaikat,” cibir Damian.
Dalam hati Pitung mencibir kalau kekuatannya diberikan oleh Sistem yang muncul entah dari mana, bahkan Dewa Kegelapan tidak menyadari keberadaan Demon King System tersebut.
Sayap Damian melesat ke arah ****** yang segera mundur Puluhan Kilometer dalam sekejap. Kemudian ia memerintahkan semua Beast dan binatang buas menyerang Damian.
“Kamu terlalu kejam mengorbankan nyawa mereka sebagai tamengmu,” cibir Damian memunculkan Lingkaran Sihir tanpa Rapalan Mantera.
Lingkaran Sihir muncul di langit dan Hujan Pedang Cahaya langsung menghantam semua Beast dan Binatang Buas.
Pitung mengerutkan keningnya, Beast yang susah payah ia kumpulkan itu dilenyapkan hanya dalam hitungan detik saja.
Lingkaran Sihir kembali muncul di dekat Pitung dan Pedang Cahaya sebesar gunung melesat ke arahnya.
Pitung mengayunkan Pedang Hell Of Darkness secara Vertikal menangkis Pedang Cahaya itu.
Damian muncul di belakang Pitung, Pedang Cahayanya menebas punggung Pitung. Namun, Pitung bereaksi dengan cepat, Pitung menjatuhkan diri dari langit sehingga tebasan Pedang Cahaya gagal mengenai punggungnya.
Walaupun mereka memiliki kekuatan yang setara, Pitung meyakini dirinya akan kalah pada akhirnya karena Damian dapat menggunakan Sihir tanpa Rapalan, sementara dirinya hanya bertumpu pada Skill berpedangnya saja.
“Kenapa kau terus menghindar? Nasib Iblis ada di tanganmu,” ejek Damian yang merasa kemenangan akan berpihak padanya.
“Oh, betulkah?” ejek Pitung mengayunkan Pedang Hell Of Darkness ke arah kerumunan Kesatria Sihir Kuil Cahaya.
“Kau!” Damian segera memunculkan lingkaran Sihir dan membentuk Perisai melindungi para Kesatria Sihir Cahaya.
__ADS_1
“Bagaimana kalau aku membawa Jutaan Manusia tidak bersalah mati bersamaku?” ancam Pitung menyeringai jahat menatap ke arah Kerajaan Kinearus.
Damian mengerutkan keningnya dan tidak menyangka Pitung segila itu untuk melakukan genosida terhadap pengikut Dewi Cahaya.
Kalau mereka bertarung secara adil maka Damian akan menang, akan tetapi bila Pitung menggunakan kecepatannya melesat ke arah Kerajaan Kinearus maka Damian akan kesulitan menghentikannya.
Pitung sangat senang melihat ekspresi wajah panik Damian. Ekspresi inilah yang ia harapkan sejak awal. “Bagaimana kalau kita akhiri saja pertarungan ini dan melakukan perjanjian Damai selama 100.000 tahun?”
“Aku sangat senang Iblis dan pengikut Dewi Cahaya berdamai. Namun, Jiwamu berasal dari Dunia lain dan tidak seharusnya ada di sini, kalau kamu ingin perjanjian damai berlangsung maka Kau harus ikut denganku menemui Dewi Cahaya,” sahut Damian merasa pilihan perdamaian adalah solusi paling tepat.
Pitung menggelengkan kepalanya. “Aku tidak ingin bertemu Dewi Cahaya maupun Dewa Kegelapan. Asal kalian menjamin perjanjian damai dilakukan maka Aku dengan sukarela akan kembali ke Duniaku.”
Damian tidak langsung menjawab. Dia melakukan komunikasi dengan Dewi Cahaya, sementara itu Pasukan Iblis dan Sage Agung keheranan melihat Damian dan mantan Raja Iblis Zagralaas berhenti bertarung.
Damian menghela napas panjang dan berkata, “Dewi Cahaya setuju dengan tawaranmu. Namun, apakah Dewa Kegelapan menjamin Raja Iblis yang baru tidak akan menyerang pengikut Dewi Cahaya?”
“Untuk masalah itu tenang saja, Aku akan mengangkat Raja Iblis yang baru yang merupakan tangan kananku. Dia tidak akan pernah melanggar perjanjian damai itu,” sahut Pitung.
“Baiklah, tetapi Aku tidak akan meninggalkan Dunia ini sebelum Jiwamu meninggalkan Dunia ini,” kata Damian segera terbang ke arah Sage Agung untuk menjelaskan tentang perjanjian Damai selama 100.000 tahun.
Pitung juga segera terbang ke arah Pasukan Iblis.
Party haremnya segera mengerumuni Pitung dan bertanya apa yang terjadi, kenapa Malaikat Damian berhenti menyerangnya.
Pitung menjelaskan tentang perjanjian damai selama 100.000 tahun sehingga semua Iblis senang mendengarnya.
“Netla... kamu akan menjadi Raja Iblis yang baru dan kalian bertiga akan menjadi tangan kanannya,” kata Pitung sembari menatap Netla Durand, Larissa Blackwood, dan Rialinin Eldervein sembari tersenyum hangat.
Netla Durand menitikkan air mata dan teringat dengan misi yang dikatakan oleh Pitung saat kepribadiannya tiba-tiba berubah.
“Apakah tuan Zagralaas akan meninggalkan Dunia ini?” tanya Netla Durand.
Pitung menganggukkan kepala sembari tersenyum. “Itulah yang diminta oleh Dewi Cahaya agar berhenti membuat pengikutnya menyerang bangsa Iblis kita,” sahutnya.
Keempat wanita cantik itu sangat sedih mendengar penjelasan Pitung. Mereka tidak ingin dia pergi meninggalkan Dunia ini, akan tetapi mereka tidak memiliki kekuatan untuk melawan Malaikat Damian.
“Jangan menangis, mungkin suatu saat nanti kita akan bertemu lagi,” kata Pitung sembari menyerahkan Pedang Hell Of Darkness pada Netla Durand. Cahaya menyilaukan tiba-tiba menyelimuti seluruh tubuh Pitung, perlahan-lahan tubuhnya pun memudar menjadi ketiadaan.
“Tuan Zagralaassssssssssss!” Keempat wanita itu hendak memeluknya, tetapi tubuhnya sudah menghilang dan mereka hanya mendengar ucapan Pitung, “Aku mencintai kalian!”
...***...
“Bro, bangun!”
Pitung membuka matanya dan melihat Pria gemuk disebelahnya membangunkan dirinya yang tertidur di Bioskop dan popcorn berserakan di tubuhnya.
“Ah, kenapa lu malah tidur, pertarungan terakhir itu sangat seru sekali, bro. Sayang sekali, Malaikat Damian muncul sehingga Raja Iblis Zagralaas gagal menaklukkan seluruh Dunia Nistenia,” kata Pria gemuk itu.
Pitung terkejut mendengarnya, karena dalam trailer filmnya; Raja Iblis Zagralaas mati diawal penayangan dan yang menjadi Raja Iblis adalah Eblirt, kemudian akan bertarung melawan Pahlawan Nistenia diakhir film.
__ADS_1
“Apakah Aku benar-benar diisekai? Sehingga alur ceritanya berubah,” gumam Pitung merasa mimpinya seperti kenyataan saja.
...***Tamat***...