
Pitung menangkis Palu milik Glo dengan memposisikan Pedang Hell Of Darkness secara horizontal di depan wajahnya.
Senyuman di wajah Veela langsung berubah menjadi kerutan masam karena tidak menyangka serangan Glo ditangkis dengan mudah oleh mantan Raja Iblis tersebut.
“Hei, Glo... jangan bermain-main!” keluh Goron kesal rekannya itu masih saja terlalu menganggap remeh lawannya.
Glo menggertak kan giginya dengan keras dan berkata, “Aku sudah mengayunkan Paluku dengan kuat, tetapi dia masih dapat menahannya. Mungkin informasi itu tidak benar, dia masihlah sekuat yang dulu!”
Namun, jawaban Glo itu dianggap sebagai alasan saja oleh Goron dan Orc lainnya.
“Aku akan membantu Glo melawan dia!” seru Gil melompat ke sisi kanan Pitung sembari meninju Kepala Pitung.
Kalau kepalan tangan Gil berhasil mengenai kepala Pitung, maka kepalanya pasti akan hancur berkeping-keping.
Gil keheranan melihat Pitung malah menyeringai tipis menatapnya, tatapan mantan Raja Iblis itu tidak seperti yang pernah ia lihat sebelumnya; tatapan ini seperti sosok yang menganggap remeh dirinya sehingga ia semakin kesal dan marah.
“Aku sudah melihat Level kalian dengan Skill Deeping Eyes, he-he-he... Level kalian cuma Level 50 saja dan itu sangat jauh di bawahku yang telah mencapai Level 75. Aku akan berakting seperti Karakter Protagonis Over power agar kalian ketar-ketir.” Pikiran nakal melintas di benak Pitung.
Dia sedikit menggerakkan lengannya ke arah kanan, kemudian gagang Pedang Hell Of Darkness berbenturan dengan kepalan tangan Gil.
Krekkkkkkkkkk!
Terdengar suara retakan tulang tangan Gil dan sesaat kemudian tubuhnya yang besar itu terhempas menabrak pepohonan.
Veela, Goron, Orc lainnya tercengang melihatnya. Mereka tidak menyangka Gil akan dikalahkan dengan mudah begitu.
Veela menggigit bibirnya hingga berdarah, detak jantungnya berdebar kencang. Dalam benaknya kini menebak Pitung telah mengembalikan kekuatannya. Dia mencibir Iblis Gral yang tidak memberitahu hal ini, karena bila ia tahu mantan Raja Iblis itu sudah mengembalikan kekuatannya maka dirinya akan berpura-pura setia padanya agar tidak dibunuh olehnya.
__ADS_1
“Serang bersama-sama!” seru Veela, “aku akan merapalkan Sihir penguatan tubuh!”
Dengan Sihir itu, biasanya kekuatan para Orc akan meningkat dan mampu melawan musuh Lima Level diatas mereka.
“Apa itu Sihir Penguatan Tubuh?” Pitung bertanya pada Demon King System.
Nama Skill itu terdengar hebat sehingga Pitung menjadi ragu-ragu melawan mereka. Dia takut Skill itu mirip dengan kekuatan fisik pada novel Fang Yuan karya Bang Regar yang ia baca sewaktu di Bumi tersebut, di mana hanya dengan kekuatan fisiknya saja; Fang Yuan dapat mengalahkan Dewa.
Panel System muncul di hadapan Pitung dan memuat informasi tentang Skill Sihir Penguatan Tubuh itu.
Sudut bibirnya memancarkan seringai tipis. “Ternyata itu hanya menambah kekuatan fisik mereka sehingga setara dengan Lima Level diatasnya. Cih, kalian cuma baru di Level 55 saja kalau begitu, itu mah masih enteng,” cibirnya.
Goron melompat ke arah Pitung sembari mengayunkan Kapak besar miliknya, Glo juga tidak mau ketinggalan; Palunya juga diayunkan ke arah Pitung dan Orc yang satu lagi mengayunkan Pemukul yang mirip dengan tongkat Bisbol tetapi yang ini terbuat dari Besi.
Pitung menyarungkan Pedang Hell Of Darkness ke sarung Pedang di punggungnya, dia memasang kuda-kuda beladiri. Dari kepalan tangan Pitung muncul kobaran Api.
“Menghindar!” teriak Veela yang sangat familiar dengan Tinju yang diselimuti dengan Api dari Neraka yang sangat panas dan tidak ada yang dapat memadamkannya kecuali oleh Api Suci yang diberkahi oleh Dewi Cahaya.
Glo, Goron, Orc yang satu lagi langsung ketakutan. Mereka ingin mundur, tetapi itu sudah terlambat karena kobaran Api telah melahap tubuh mereka.
Dalam beberapa detik saja, tubuh ketiga Orc itu telah berubah menjadi Abu. Pitung mengerutkan keningnya, tidak menyangka Tinju Hellfire Fist-nya ternyata sangat mengerikan—padahal itu masih tingkat rendah, sulit membayangkan bagaimana kalau tingkat tingginya.
Tatapan Pitung beralih ke sosok gadis yang terlihat seperti masih remaja itu.
Veela ketakutan, air mata mengalir deras membasahi pipinya. Dia adalah Penyihir yang tidak bisa bertarung secara langsung melawan musuh, makanya ia selalu membawa bahawan saat menjalankan tugas.
“Di mana Donovan dan yang lainnya?” tanya Pitung sembari mendekat ke arah gadis Iblis itu walaupun sebenarnya ia menduga mereka mungkin telah dimakan oleh para Orc ini.
__ADS_1
Veela yang memiliki Level 70 itu turun dari tongkat sihirnya dan langsung memeluk Kaki Pitung sembari menangis tersedu-sedu.
“Apa-apaan Iblis ini? Baru kali ini aku melihat ada Iblis yang sangat penakut!” Pitung mengerutkan keningnya, tercengang oleh ulah Veela.
“Tuan Zagralaas... tolong jangan bunuh Aku? Bukankah dulu kamu hanya menampar bokongku saja saat aku berbuat salah?” ucap Veela terbata-bata yang membuat Pitung semakin bingung. “Ayahku Sebastian selalu mendukungmu, bahkan ia rela pensiun setelah mendengar kamu mengkhianati Ras Iblis. Dia sangat yakin Raja Iblis Eblirt pasti menjebakmu tetapi ia tidak memiliki bukti makanya ia memilih bungkam hingga menemukan bukti bahwa kamu tidak bersalah!” katanya lagi.
Pitung tidak menyangka masih ada Iblis yang setia padanya, tetapi kini ia bukan Zagralaas. Dia adalah Pitung yang menumpang di wadah milik mantan Raja Iblis itu.
Pitung teringat dengan senyuman Salsa, amarahnya langsung muncul. Di Kepalan tangannya muncul kobaran api yang membuat Veela semakin ketakutan dan tangisannya semakin kencang.
Entah mengapa, Pitung merasa tak sanggup menyakiti gadis Iblis ini. Dia merasa ada ikatan batin yang terhubung dengannya, sehingga ia menghela napas panjang.
Kobaran api ditangannya pun memudar, dia menendang Veela yang membuat gadis Iblis itu terpental. Namun, tendangan itu tidak mengandung kekuatan sehingga tidak melukainya.
“Kembalilah ke Utara dan jangan pernah datang lagi ke wilayah manusia!” kata Pitung tanpa menoleh ke arah Veela. “Satu lagi, aku sudah kehilangan semua ingatanku dan bila kamu muncul lagi di hadapanku maka trik seperti ini tidak akan manjur lagi... kau akan bernasib sama dengan Orc-Orc ini!” ancam Pitung.
“Te-terimakasih tuan Zagralaas... aku akan menunggumu di Istana Raja Iblis lagi,” sahut Veela sembari menyeka air matanya.
Dia ingin mengatakan sesuatu pada Pitung, tetapi setelah mengetahui ingatan masa lalunya telah menghilang—Dia urung mengatakannya dan segera menghilang dalam kegelapan malam Hutan itu.
[Selamat Anda Mendapatkan Hadiah Tak Terduga: 100 Poin dan 500 Mana]
Pitung terkejut notifikasi dari Demon King System muncul di hadapannya. “Kok, bisa ada hadiah tanpa ada misi?” Pitung keheranan.
[Ini untuk menghindari Pemain berbuat curang dan agar Pemain tidak selalu berharap mendapatkan hadiah saat melakukan sesuatu]
Pitung tersenyum masam dengan jawaban Demon King System itu, karena itu menandakan dia kadang-kadang tidak akan mendapatkan Poin walaupun membunuh Beast liar atau menolong orang lain.
__ADS_1