
Mendengar lolongan Serigala Iblis dari kedalaman hutan, Pitung segera bergegas ke sana. Namun, baru melangkah beberapa langkah saja, tiba-tiba Mana yang menghubungkan dirinya dengan Serigala Iblis itu terputus.
“Orc itu telah membunuh Serigala Iblis? Sepertinya mereka memiliki Level yang cukup tinggi,” gumam Pitung menjadi ragu menuju ke sumber suara lolongan Serigala Iblis itu.
Namun, saat ia mengingat ekspresi wajah Salsa, dirinya langsung menepis ketakutannya dan segera bergegas ke arah sumber suara lolongan Serigala Iblis itu.
Dia tidak ingin, gadis kecil yang periang itu kehilangan senyum di wajahnya karena kehilangan sosok yang dicintainya.
Pitung menghunus Pedang Hell Of Darkness dan menggenggamnya dengan erat, dia juga mengirim suara telepati pada Enam Serigala Iblis lainnya untuk menuju sumber suara lolongan Serigala Iblis tadi.
Baru berlari Seratus meter, salah satu Serigala Iblis tiba-tiba menghilang dan Dua lainnya juga ikut menghilang—yang berarti mereka dibunuh dengan muda oleh Orc itu.
Pitung memperhatikan Panel Virtual Demon King System dan tidak ada misi yang terpicu, hal ini membuat Pitung kebingungan kenapa tidak ada misi yang terpicu padahal kejadian ini terjadi secara tiba-tiba dan dirinya juga tidak menyangka Donovan akan diculik oleh Orc.
“Apakah Demon King System ini pilih-pilih siapa yang ingin diselamatkan?” gumam Pitung karena Penyihir Juliana yang menyembah Dewi Cahaya malah disuruh oleh Demon King System untuk diselamatkan, sedangkan Donovan dan Party David Guetta kastanya mungkin terlalu rendah sehingga tidak layak memicu misi dari Demon King System.
Serigala Iblis terakhir menghilang tak jauh dari lokasi Pitung berlari.
Dia segera berhenti berlari dan bersembunyi di balik Pepohonan menunggu kedatangan Orc itu. Namun, ia heran suasana di sana hening dan tidak terdengar suara langkah kaki atau getaran dari permukaan tanah padahal Orc itu memiliki tubuh yang sangat besar.
Dari kejauhan terlihat cahaya dari Beast Kunang-kunang yang terus mendekat ke arahnya.
“Apakah itu musuh atau Petualang Party nona Helen?” pikirnya memilih tetap bersembunyi menunggu Beast Kunang-kunang itu mendekat sehingga akan terlihat siapa yang mengendalikan Beast Kunang-kunang itu.
Tiba-tiba telapak kaki yang sangat besar mendarat di sebelah Pitung sehingga ia langsung terkejut dan secara refleks langsung melompat menjauh dari telapak kaki itu.
__ADS_1
Orc yang berjalan lebih cepat dari Beast Kupu-Kupu langsung berhenti melangkah setelah mendengar suara berisik di dekat kakinya.
Dia curiga mungkin itu adalah Beast Serigala Iblis lagi, tetapi ia juga heran kenapa tidak terdengar suara lolongan Serigala Iblis.
Glo tidak memperhatikan Doron telah berhenti melangkah sehingga ia menabrak tubuh Doron dengan keras.
Doron tersungkur ke tanah dan menimbulkan suara benturan yang membuat burung-burung yang tidur di pepohonan langsung berhamburan kabur.
“Glo... jangan grasak-grusuk saja, perhatikan juga siapa di depanmu!” Doron mengeluh dan kesal dengan ulah Glo. Kemudian ia teringat dengan sosok mencurigakan tadi dan menoleh ke arah Pitung melompat tadi, tetapi tidak ada siapapun di sana.
“Kenapa kau tiba-tiba berhenti, Doron?” Glo menjawab dengan kesal karena selalu disalahkan apapun tindakannya.
Doron berdiri lagi dan meraih Kapaknya yang tergeletak di permukaan tanah. “Tadi aku mendengar suara seperti seseorang sedang menghindari telapak kakiku, tetapi saat aku hendak menoleh kau malah menabrakku!” sahutnya lagi.
“Aku juga mendengar suara seperti seseorang melompat,” sahut Gil—Orc yang berjalan beriringan dengan Doron.
Penyihir biasanya tidak pandai dalam pertarungan langsung atau tidak menguasai seni beladiri—makanya Penyihir itu langsung bersembunyi begitu telapak kaki Doron muncul di sebelahnya.
“Cari dia! Kalau perlu hancurkan Pepohonan disekitar kita!” seru Veela merapalkan Sihir Necromancer memanggil Beast Kunang-kunang yang lebih tinggi Levelnya agar dapat menerangi area yang lebih luas. “Dewa Kegelapan Yang Mahakuasa Pemilik Segalanya, Hamba-Mu ini meminjam Sihir Necromancer: Datanglah Kunang-kunang Level 50!”
Bayangan seseorang tiba-tiba muncul dari balik sebuah Pohon.
Sudut bibir Veela memancarkan seringai tipis karena telah menemukan Penyihir yang mencoba menyelidiki keberadaan mereka.
“Sial! Ketahuan juga!” keluh Pitung sembari keluar dari balik Pohon besar karena percuma saja bersembunyi karena bayangan dirinya telah dipantulkan ke arah sebelah.
__ADS_1
Veela mengerutkan keningnya, suara Penyihir ini terasa familiar dan dia langsung teringat dengan sosok yang dulu sangat ia hormati. Namun, kini sosok itu adalah yang paling ia benci karena mengkhianati Ras Iblisnya.
“Zagralaas!” cibir Veela setelah melihat sosok itu.
“He-he-he... kalian ternyata mengenali diriku,” sahut Pitung tertawa pelan sembari menyandarkan bagian tumpul bilah Pedang Hell Of Darkness di bahunya.
“Cih, apakah kau berpura-pura tidak mengenali diriku? Aku adalah bocah yang sering kau bentak karena sering duduk di singgasanamu!” sahut Veela dengan sinis.
Pitung tersenyum lebar dan menganggukkan kepala sembari berpikir sejenak. “Ooo, aku pernah melakukan itu, ya?” sahutnya lagi karena ia tidak memiliki ingatan mantan Raja Iblis Zagralaas.
Veela tersedak karena lupa bernapas, dia tidak menyangka mantan Raja Iblis yang hampir setiap hari membuat dirinya menangis itu melupakan tentang dirinya. Entah mengapa Veela merasa kesal dan marah.
“Aku Veela... anak dari Sebastian, Kepala Pelayan Istana Raja Iblis!” teriak Veela.
“Jangan terpancing emosi Nona Veela... Dia pasti sengaja membuat Anda marah agar dapat melakukan serangan menyelinap seperti yang ia lakukan di Kota Senderos pada tuan Gral!” sela Doron khawatir Veela kehilangan kontrol emosi sehingga menyerang mantan Raja Iblis Zagralaas dengan gegabah.
“Oh, Iblis Gral itu,” sahut Pitung teringat dengan Iblis yang menghidupkan kembali Naga Kuno. "Eh, kapan aku menyerangnya dengan menyelinap? Justru dia yang diam-diam hampir melukaiku... untung saja Netla Durand datang menggagalkan serangannya,” sanggahnya.
Veela dan para Orc tentu tidak percaya dengan ucapan Pitung. Mereka telah didoktrin oleh Raja Iblis Eblirt bahwa demi menyelamatkan dirinya sendiri, Zagralaas rela berkolusi dengan Pahlawan Nistenia menyerang para Jenderal Iblis dan Gral kembali melaporkan kalau Zagralaas kembali melakukan hal yang sama di Kota Senderos sehingga para Iblis semakin membenci mantan Raja Iblis itu.
Veela tidak memiliki Skill Deeping Eyes sehingga ia tidak mengetahui berapa Level Pitung saat ini. Namun, menurut informasi Iblis Gral, Level Pitung hanya Level 41 saja.
“Glo... tebus kesalahanmu dengan menangkap penghianat itu!” seru Veela menatap sinis Pitung.
Glo sangat senang diberikan kesempatan menebus kesalahannya hanya melawan mantan Raja Iblis yang telah kehilangan kekuatannya.
__ADS_1
Iblis Gral tidak memberitahu kalau mantan Raja Iblis itu dapat menggunakan Sihir Necromancer yang memanggil Beast Salamander Level 100. Dia justru memberitahu kalau mantan Raja Iblis itu dilindungi oleh Netla Durand saja.
Hal itu ia lakukan agar Iblis Level rendah tetap berani melawan mantan Raja Iblis itu dan mengirimkan informasi keberadaannya.