
“Mana mungkin ibu dari seorang Penyihir menjadi Buruh Peternakan, hal itu akan menodai nama baik Penyihir,” sela Pitung tersenyum lebar.
Isabel menganggukkan kepala dan dia tahu semua ini berkat Pemuda tampan ini. Adar sudah menceritakan semuanya, kalau Pitung lah yang memberitahu Helen Flanagan tentang bakat Sihir Putrinya.
“Terimakasih juga tuan Zagralaas... jangan bersedih atas apa yang terjadi pada suamiku, itu bukan salahmu.” Isabel terdiam sejenak dan menarik napas dalam-dalam. “Donovan pasti senang karena tuan Zagralaas telah membantu Salsa menjadi Penyihir,” katanya lagi.
Pitung hanya mengangguk saja tanpa menjawab ucapan Isabel.
Setelah berbincang-bincang cukup lama dengan Adar, Helen Flanagan dan Isabel, akhirnya Pitung menginap di rumah warga Desa yang lain—yang rumahnya cukup mewah karena pemilik rumah itu memiliki Peternakan yang cukup luas dengan jumlah ternak mencapai Ribuan ekor.
Keesokan harinya, Netla Durand dan Larissa Blackwood sangat terkejut mendengar kabar tentang kejadian tadi malam; di mana tuan mereka telah mengalahkan Orc.
Keduanya langsung mencari Pitung untuk memastikan apakah dia terluka atau tidak. Keduanya tidak memperdulikan lagi Putri pemilik rumah yang masih ingin menjamu keduanya.
Pitung tersenyum masam melihat Dua wanita cantik yang menatapnya tanpa berkedip tersebut, aroma wangi dari tubuh mereka membuat pikiran Pitung melayang-layang.
“Aku baik-baik saja, kok... Orc itu cuma Level 50 saja. Sudahlah jangan dibahas lagi,” kata Pitung karena terus mendapatkan pertanyaan bertubi-tubi dari Keduanya.
“Apakah kamu benar-benar tidak ingin ikut dengan kami ke Kastil Keluarga Bangsawan Flanagan atau mampir dulu ke Guild Meteor untuk mengambil hadiah mengalahkan Orc itu?” sapa Helen Flanagan yang hendak meninggalkan Desa Adonara bersama Party-nya.
“Kakak Petualang... jangan lupa untuk mengunjungiku nanti!” Salsa langsung melompat ke pelukan Pitung.
Pitung tersenyum lebar dan membelai rambut Salsa. “Tentu aku datang membawakan gaun yang lebih indah untukmu,” sahutnya. Kemudian ia menatap Helen Flanagan, “Tujuan kami dari awal adalah ke Kota Ella, tak mungkin kami malah memilih jalan yang lebih jauh ke Kastil Keluarga Bangsawan Flanagan. Tenang saja, di masa depan kami pasti akan mengunjungi Kastilmu.”
“Kenapa rasanya jawabanmu itu tidak dapat dipercaya, ya?” sahut Helen Flanagan bercanda. “Baiklah, sampai jumpa dan asah lah Pedangmu itu hingga menjadi tajam agar dipertemuan kita nanti bilah Tombakku tidak meremukkannya.”
Pitung tersenyum lebar mendengar candaan Helen itu. Dia kemudian menurunkan Salsa dan memberikannya Kantung Kain berisi Kepingan Emas sembari berbisik, “Belikan pakaian yang bagus untukmu dan ibumu saat sampai di Kota nanti.”
__ADS_1
Salsa sangat senang dan langsung menganggukkan kepala, kemudian berlari ke arah Isabel yang hanya tersenyum saja karena tidak mendengar apa yang mereka bisikkan.
Adar dan penduduk Desa Adonara beramai-ramai mengikuti rombongan Helen Flanagan hingga gerbang Desa Adonara.
“Jangan khawatir Paman Adar... Paman Don sudah memastikan tidak ada Orc lain di hutan. Kami akan meminta Guild Meteor untuk mengirim Petualang yang mengisi Pos kosong yang ditinggalkan oleh David Guetta,” kata Helen Flanagan sebelum meninggalkan Desa Adonara.
“Terimakasih nona Helen sudah menjaga Desa Adonara, kami akan menantikan kunjungan Anda di masa depan,” sahut Adar sembari meletakkan tangan kanan di dada serta membungkukkan tubuhnya sebagai tanda hormat pada Keluarga Bangsawan Flanagan tersebut.
Setelah rombongan Helen Flanagan meninggalkan Desa Adonara, Adar hendak menyapa Pitung yang masih berada di dalam Desa. Namun, saat ia mencarinya, Pitung dan Kedua gadis cantik bersamanya ternyata sudah tidak ada di desa.
Adar keheranan kenapa Ketiganya diam-diam meninggalkan Desa dan tidak berjalan melewati jalan utama. Dia bingung, apa sebenarnya tujuan mereka melakukan hal itu.
...***...
Satu Kilometer ke arah Barat Desa Adonara, Pitung, Netla Durand, dan Larissa Blackwood mengendarai Kuda milik Peternak yang memperkerjakan Donovan dengan upah murah.
“Saat melawan Orc tadi malam, aku bertemu dengan gadis Iblis bernama Veela. Apakah dia benar Putri dari Sebastian?” tanya Pitung penasaran.
“Veela?” sahut Netla Durand sembari berpikir sejenak, “bukankah dia Iblis kecil yang selalu berkeliaran di Istana dan tuan sering menghukumnya serta membuatnya menangis.”
“Oh, berarti ucapan Iblis itu benar, kukira dia berbohong agar tidak kubunuh. Pantas saja aku merasa seperti memiliki ikatan dengannya, seolah-olah aku melihat Salsa saja,” ucap Pitung.
Netla Durand tidak menyangka tuannya itu sangat peduli dengan anak manusia itu. Sikapnya benar-benar berubah, kini ia sangat baik dan berhati lembut tidak seperti saat menjadi Raja Iblis—di mana ia sangat tegas dan dingin.
“Aku harus menaikkan Levelku lagi, sepertinya Eblirt akan memulai Perang besar melawan aliansi Manusia, Elf, dan Kurcaci,” gumam Pitung.
Misi utama yang diberikan oleh Demon King System adalah merebut kembali tahta Raja Iblis dan mengalahkan para Pahlawan Nistenia.
__ADS_1
Dia teringat masih memiliki Poin, hadiah mengalahkan Orc tadi malam.
Panel Virtual Demon King System muncul di hadapannya. Dia langsung melakukan Dua Kali Undian, karena sekali Undi itu membutuhkan Lima Puluh Poin sedangkan hadiah tadi malam cuma Seratus Poin saja.
[Selamat Peningkatan Satu Level]
Selamat Peningkatan Satu Level]
“Kampret lah, sudah kuduga tidak akan mendapatkan Item Rare kecuali harus Undi dengan banyak Poin,” gerutu Pitung.
Panel Virtual Demon King System tiba-tiba berubah menjadi emot manusia batu mengejek Pitung.
Pitung mengerutkan keningnya, tidak menyangka Demon King System malah mengejeknya.
“Itu jalan menuju Kota Ella!” seru Larissa Blackwood membuyarkan lamunan Pitung.
Jalan itu cukup lebar karena digunakan sebagai jalur utama mengirim ternak-ternak dari kawasan peternakan. Dari Kota Ella kemudian ternak-ternak itu akan dikirim ke seluruh penjuru Kerajaan Kinearus, Kerajaan Kurcaci di selatan Nistenia, dan Pulau Hazel yang dihuni oleh para Elf.
Beberapa Kereta Kuda milik pedagang terlihat meninggalkan wilayah Lord Alaric Flanagan, sepertinya mereka juga menuju Kota Ella.
“Ayo kita susul mereka!” seru Pitung, “berkuda beriringan lebih menyenangkan karena kita bisa menawarkan jasa pengawalan agar mendapatkan makanan enak dari mereka.”
“Sayangnya itu tidak aka terwujud karena mereka sudah dikawal oleh Petualang lain,” sela Larissa Blackwood menunjukkan ke arah depan rombongan Kereta Kuda itu.
Seorang Kesatria Sihir duduk disebelah Kusir dan di rombongan paling belakang tampak Kesatria Sihir lagi duduk bersama Kusir serta di atas gerbong kereta kuda itu duduk gadis Penyihir yang menggenggam Tongkat Sihir.
“Ternyata mereka dikawal oleh Tiga Petualang,” sahut Pitung mendengus karena tidak bisa lagi menawarkan jasa pengawalan untuk mendapatkan uang dan makanan enak. “Tak apalah, kita akan beriringan saja dengan mereka agar tidak salah memilih jalan menuju Kota Ella,” katanya lagi.
__ADS_1