
Peramal tua di istana Raja Iblis sedang bertekuk lutut di hadapan Singgasana Raja Iblis Eblirt.
“Apa yang ingin kau katakan, Paman Orchid?” selidik Raja Iblis Eblirt penasaran, karena sangat jarang Peramal tua itu meninggalkan gua tempat pertapaannya.
“Dewa Kegelapan telah mengirim mimpi padaku,” sahut Penyihir Orchid dengan sudut bibir menyeringai jahat.
“Ooh, benarkah?” Ekspresi wajah Raja Iblis Eblirt juga menyeringai jahat. “Mungkinkah dia telah mengakui diriku Raja Iblis yang baru?” tebaknya.
Penyihir Iblis Orchid menganggukkan kepala dan berkata, “Lebih dari itu... Dewa Kegelapan juga telah memberikan Yang Mulia Raja Iblis Skill yang dapat meningkatkan Level pendukung setiamu hingga 10 Level.”
Raja Iblis Eblirt tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Dia tidak menyangka akan mendapatkan Skill yang sangat hebat dari Dewa Kegelapan padahal Raja Iblis yang lama belum disingkirkan.
“Namun, Dewa Kegelapan juga menyampaikan pesan buruk kalau Dewi Cahaya telah mengirim Malaikat membantu para Pahlawan Nistenia,” kata Penyihir Iblis Orchid yang membuat senyuman di wajah Raja Iblis Eblirt memudar.
Raja Iblis Eblirt mendengus dingin. “Pantas lah Dewa Kegelapan memberikan sebuah Skill padaku... ternyata kita akan menghadapi kekuatan Malaikat,” cibirnya.
Penyihir Iblis Orchid tidak menanggapi ucapan Raja Iblis Eblirt. Dia hanya menundukkan wajahnya.
Mata merah Raja Iblis Eblirt tertuju pada Penyihir Iblis Orchid. Dia terdiam sejenak, entah apa yang ia pikirkan.
“Pergilah Paman Orchid!” Raja Iblis Eblirt melambaikan tangan, “Sudah saatnya aku turun tangan menghadapi para bocah yang bermain Pahlawan-pahlawanan itu.”
Sudut bibir Raja Iblis Eblirt menyeringai jahat. Tidak ada raut wajah ketakutan yang terpampang dari wajahnya, bahkan ia tidak takut dengan kehadiran Malaikat Damian yang diutus oleh Dewi Cahaya untuk membantu para Pahlawan Nistenia tersebut.
__ADS_1
...***...
Pria tampan bersayap Putih mendarat di halaman Kuil Cahaya. Dia terlihat sangat Agung dan membuat siapapun yang menatapnya akan bersujud saking mulianya Pria itu.
“Selamat datang Malaikat Damian!” Sage Agung bertekuk lutut di hadapan Malaikat Damian sembari menundukkan wajahnya.
“Tidak perlu bersikap formal begitu Pak tua!” sahut Malaikat Damian menyambar Apel yang terletak di meja dan ia langsung melahapnya serta duduk dengan santai di Singgasana Sage Agung Kuil Cahaya. “Apakah aku sudah terlihat seperti Raja? atau Penguasa yang sangat kuat he-he-he ....” Dia tertawa terkekeh-kekeh.
Sage Agung mengerutkan keningnya karena tidak menyangka Malaikat yang satu ini terlihat seperti Manusia sombong saja. Apakah kehidupannya di Surga sangat terkekang sehingga saat ia ditugaskan ke Dunia Nistenia ia langsung melampiaskan hasrat terpendamnya.
Senyuman di wajah Malaikat Damian memudar. “Cih, kalian terlalu Kaku!” cibirnya sembari menjentikkan jari tangannya sehingga ampas Apel yang dilemparnya ke atas langsung memudar menjadi ketiadaan. “Baiklah aku akan berkerja dengan serius! Apakah kalian sudah menemukan jejak mantan Raja Iblis Zagralaas? Dia itu jauh lebih berbahaya dari pada Raja Iblis Eblirt dan gara-gara dialah aku diutus ke Dunia ini!”
Sage Agung terkejut mendengarnya dan tidak menyangka ternyata Malaikat Damian datang khusus untuk mengejar Zagralaas.
Malaikat Damian tidak mengatakan kalau Jiwa yang mendiami mantan Raja Iblis itu sebenarnya adalah Jiwa dari Dunia lain.
Menurut Dewi Cahaya, tempat-tempat yang dilalui oleh Jiwa dari Dunia lain itu akan mendapatkan malapetaka baik dalam skala besar maupun kecil. Dan itu sebenarnya sudah terbukti, banyak Kota atau Desa yang mengalami nasib buruk baik secara langsung atau tidak langsung.
“Ambilkan aku Peta Dunia Nistenia!” seru Malaikat Damian.
Penyihir cantik Kuil Cahaya segera meletakkan Peta Dunia Nistenia di hadapan Malaikat Damian.
Dia memperhatikan wilayah di dekat Kota Senderos dengan seksama dan menebak-nebak ke arah mana Pitung akan pergi.
__ADS_1
“Wilayah mana yang mengalami gejolak di dekat Kota Senderos akhir-akhir ini?” selidik Malaikat Damian.
“Beberapa saat yang lalu, cabang Kuil Cahaya wilayah Lord Alaric melaporkan bahwa wilayah Peternakannya telah diserang oleh Penyihir Iblis dan menghancurkan wilayah itu,” sahut Sage Agung.
Malaikat Damian menganggukkan kepala sembari menyingkirkan Peta itu dari hadapannya.
“Apakah Malaikat Damian telah mengetahui ke mana mantan Raja Iblis itu pergi?” selidik Sage Agung penasaran dengan anggukan Malaikat Damian itu.
“Aku bukan Dewa yang tahu segalanya... tetapi aku akan menduga dengan yakin kalau dia menuju Kota Ella dan selanjutnya menuju Pohon Dunia Ras Elf,” sahut Malaikat Damian tersenyum bangga.
Sage Agung terkejut mendengarnya dan tidak menyangka Zagralaas akan menuju Pulau Hazel. Namun, kenapa dia ke sana? Apakah ia tidak takut Ratu Elf akan mengetahui kedatangannya—karena Elf memiliki kepekaan yang tinggi terhadap Mana.
“Aku akan menunggunya di Pohon Dunia, kalian tidak perlu mengirim Inkuisitor karena itu akan menyinggung perasaan para Elf. Cukup diriku saja sudah cukup untuk bermain dengan Iblis tua itu.” Dengan percaya diri, Malaikat Damian langsung mengepakkan sayapnya dan terbang menuju Pulau Hazel.
Sage Agung ingin mengatakan agar Malaikat Damian membawa beberapa Penyihir Kuil Cahaya. Namun, ia telah terbang jauh.
Entah mengapa, Sage Agung sangat khawatir kalau Malaikat Damian justru akan mencoreng nama baik Kuil Cahaya.
“Apakah kami akan mengikutinya diam-diam, Sage Agung?” bisik Inkuisitor Level 100 yang tiba-tiba muncul di belakang Sage Agung.
“Tidak perlu... kalau kita mengawasinya, aku takut dia akan marah dan akan merepotkan kita,” sahut Sage Agung, “kirim pesan pada Para Pahlawan untuk menuju Pulau Hazel. Sebutkan kalau mantan Raja Iblis Zagralaas kemungkinan besar muncul di sana.”
Kalau yang diprediksi oleh Malaikat Damian benar maka tempat itu akan menjadi kuburannya, karena tidak mungkin ia akan lolos lagi bila berhadapan dengan Tiga entitas kuat.
__ADS_1
Inkuisitor itu mengangguk setuju dan segera memudar menjadi cahaya, menghilang dari pandangan semua orang.