
“Lakukan dengan cepat!” sahut Haherith mengangguk setuju, “kita tidak bisa berlama-lama di sini, aku takut kita semakin jauh dari mereka!” katanya lagi merujuk pada kelompok Pitung yang tidak kunjung dapat mereka susul.
“Tenang saja, tidak ada Kesatria Sihir Level tinggi di kawasan peternakan ini sehingga aku tidak membutuhkan kekuatan yang besar melenyapkan mereka.” Hehus menyeringai tipis.
Dia mulai merapalkan mantera Sihir Necromancer.
Lingkaran Sihir yang luas muncul di atas hutan, saking luasnya lingkaran Sihir itu; para Peternak dapat melihatnya dari Desa mereka.
Dari lingkaran Sihir muncul binatang aneh berbentuk Lintah yang memiliki sayap seperti kelelawar. Jumlahnya sangat banyak dan langsung menyerbu ke arah kawasan peternakan.
Sapi-Sapi yang sedang memakan rumput langsung berubah menjadi kerangka saat binatang aneh itu terbang melewati mereka.
“Apa yang terjadi?” Pemilik Peternakan terkejut melihat fenomena mengerikan itu. “Ce-cepat masuk ke dalam rumah!” teriaknya pada anaknya yang sedang bermain di halaman rumah.
Dia sendiri berlari sekuat tenaga menuju rumah, tetapi baru melangkah Sepuluh langkah; hewan aneh itu telah terbang melewatinya.
Anak pemilik peternakan termenung melihat tubuh ayahnya yang tiba-tiba menjadi kerangka.
Anak kecil itu segera masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu.
“Kenapa kamu mengunci pintu, nak?” Istri Pemilik Peternakan datang dari dapur membawakan makanan ringan, tetapi tiba-tiba rumahnya bergemuruh. “Apa yang terjadi?” Dia ketakutan dan segera menggendong anaknya, kemudian masuk ke dalam bunker bawah tanah.
Ribuan orang tewas saat makhluk aneh itu melintas di Desa Adonara. Kebanyakan dari mereka tidak sempat menyelamatkan diri ke bunker bawah tanah karena mengira di dalam rumah saja sudah cukup untuk menyelamatkan diri, tetapi siapa sangka; mahkluk aneh itu juga memakan dinding rumah dengan ganasnya.
Dalam hitungan menit telah terjadi pembantaian di puluhan Desa. Hehus menjilati bibirnya karena merasa puas dengan pembantaian yang dilakukan oleh mahkluk panggilannya itu.
...***...
Paman San bingung tiba-tiba Kuda yang menarik gerbong kereta berlari semakin cepat tanpa instruksi darinya, Kuda itu tampak gelisah seperti ada predator yang mengejarnya.
Pitung juga kebingungan dengan kuda yang ia tunggangi itu. “Apakah ada musuh yang mendekat? Tetapi tidak ada notifikasi dari Sistem,” pikirnya menoleh ke belakang.
Entah mengapa ia merasa sesuatu yang buruk mungkin menimpa para penduduk Desa Adonara.
“Ada apa tuan?” tanya Netla Durand keheranan melihat Pitung gelisah.
__ADS_1
Pitung tersenyum dan menjawab, “Tidak apa-apa... aku langsung rindu dengan Salsa, padahal kita baru berpisah dengannya.” Dia berkilah.
“Kalau tuan rindu dengannya... kita dapat menunda perjalanan kita ke Kota Ella—”
Sebelum Netla Durand selesai berbicara, Pitung menggelengkan kepalanya.
“Kita lanjutkan saja perjalanan ini,” sela Pitung.
“Aneh sekali, kuda-kudanya berlari sangat cepat!” seru Alianna dengan ekspresi wajah khawatir karena dia takut jatuh dari atas gerbong kereta kuda. Tangannya mencengkram erat sudut gerbong kereta agar tidak terhempas dari sana.
Kusir kereta kuda memilih diam saja walaupun sebenarnya ia curiga ada binatang buas yang mendekat, karena fenomena aneh kuda-kuda ini terjadi saat ada binatang buas yang mendekat atau mengejar mereka.
Berjam-jam perjalanan mereka hening, hanya suara langkah kuda yang menggema. Semua orang ternyata mewaspadai sergapan binatang buas.
Namun, hingga akhirnya mereka melewati sebuah Desa ternyata tidak ada binatang buas yang muncul.
Senyum hangat muncul di wajah Alianna karena kuda-kuda mulai memperlambat lari mereka, yang berarti ancaman binatang buas telah berakhir.
“Tuan Zagralaas... satu Jam lagi kita akan sampai ke Kota Ella. Aku tidak menyangka kuda-kuda berlari dengan cepat,” kata Alianna sembari menatap Kuda yang menarik gerbong kereta yang ia tumpangi.
“Mereka tidak ingin kita sampai terlalu larut malam ke Kota Ella dan... mungkin mereka tahu aku ingin melihat matahari terbenam ha-ha-ha,” sahut Pitung tertawa.
Pitung sudah tidak sabar ingin memasuki Kota Ella, Kota Pelabuhan terbesar di seluruh Dunia Nistenia tersebut.
Berbagai Ras tinggal dengan rukun di sana, bahkan Ras Iblis pun tinggal di sana. Namun, mereka harus mengikat kontrak yang membuat mereka tidak terikat lagi dengan Ras Iblis di Utara serta akan berperang bersama Manusia bila ada yang menginvasi Kota Ella.
“Hei, Alastor... kamu menyukai Penyihir berambut merah itu, kan?” Alianna berbisik padanya dengan senyum menggoda sehingga Alastor langsung salah tingkah. “Aku telah memperhatikan dari tadi kamu selalu curi-curi pandang padanya. Cie... cie ....”
Wajah Alastor memerah dan dengan cepat menggelengkan kepala serta melirik Netla Durand. Namun, ia langsung sedih karena gadis Naga itu tidak menunjukkan ekspresi apapun, seolah-olah ia tidak mendengar candaan Alianna.
Pitung ikut tersenyum mendengar candaan Alianna.
Notifikasi dari Demon King System tiba-tiba muncul dan menampilkan misi utama lainnya dengan hadiah yang sangat fantastis.
[Dewi Cahaya telah menyadari kemunculan Jiwa dari Dunia lain di Dunia Nistenia. Dia mengirim Malaikat Damian ke Dunia Nistenia untuk menangkap Jiwa dari Dunia lain itu.]
__ADS_1
Pitung mengerutkan keningnya, mengalahkan Raja Iblis Eblirt dan Para Pahlawan Nistenia saja sulit baginya, bagaimana dia mengalahkan Malaikat Damian itu.
Sudah pasti Malaikat itu jauh lebih kuat dari Pahlawan Nistenia. Padahal Sistem di Novel-Novel itu memiliki kekuatan absolute, mereka dapat melindungi Pemainnya sehingga tidak dapat dideteksi oleh Dewa maupun entitas kuat lainnya.
Rasanya Pitung ingin pingsan saja, tubuhnya tiba-tiba terasa lemah dan tidak memiliki semangat hidup lagi.
[Ding!]
[Dewa Kegelapan telah mengetahui keberadaan Jiwa dari Dunia lain. Dia sangat senang Anda menyembahnya dan memberimu Skill Pengendali Binatang serta Mana tak terbatas.]
Senyum lebar memancar dari wajah Pitung, hadiah yang diberikan oleh Dewa Kegelapan ini sangat hebat sekali. Kini ia tidak perlu berhemat dalam penggunaan Mana, sedangkan Skil Pengendali Binatang... lumayan lah walaupun tidak hebat-hebat sekali.
[Ding!]
[Dewa Kegelapan tidak puas dengan respon pemain.]
Pitung langsung ternganga dan tidak menyangka Dewa Kegelapan masih mengawasinya. Dia mulai panik, takut Dewa Kegelapan menarik kembali hadiah Skill pemberiannya.
[Dewa Kegelapan menambah kemampuan Skill Pengendali Binatang. Kini Anda dapat meningkatkan Level Binatang yang Anda kendalikan hingga Setengah dari Levelmu.]
Pitung bernapas lega ternyata Dewa Kegelapan meningkatkan Skill Pengendali Binatang. Dia pun berpikir bila ia berpura-pura tidak senang dengan hadiah dari Dewa Kegelapan maka mungkin Dewa Kegelapan akan memberikan Skill lain.
[Sistem menyarankan agar Anda tidak melakukan hal itu, karena Anda mungkin akan dibunuh olehnya.]
Pitung langsung menggelengkan kepala dan berkata, “Aku tidak berpikiran seperti itu kok, aku hanya bingung cara mengungkapkan rasa hormat pada Dewa Kegelapan.”
“Hormat matamu! Sistem tahu apa yang kau pikirkan!” Tiba-tiba Demon King System berubah menjadi gadis kecil dan berteriak keras di dekat telinga Pitung.
“Ma-maaf... jangan marah dong!” Pitung tersenyum masam.
[Dewa Kegelapan berpesan agar Pemain meningkatkan Level dan menaklukkan Dunia Nistenia. Di masa depan, Dewa Kegelapan ingin berparty denganmu berperang melawan Dewi Cahaya.]
“Hah?” Pitung terkejut dengan niat Dewa Kegelapan itu. “Di sini saja aku sudah pontang-panting, apalagi melawan Dewi Cahaya! Kenapa aku tidak serahkan saja tubuh tampan ini pada Dewi Cahaya, aku akan pasrah dia melakukan apa saja padaku,” katanya lagi.
Namun, tiba-tiba kilatan petir muncul di langit dan itu mengarah pada Pitung.
__ADS_1
[Pasrah lah kau he-he-he!] Demon King System tertawa terkekeh-kekeh.
“Tulungngngngngng!” Pitung melompat dari punggung kuda menghindari sambaran Petir itu.