
“Lihat di sana Alastor! Tiga orang penunggang Kuda turun dari bukit!” seru Alianna, Penyihir wanita yang duduk di atas gerbong kereta kuda paling belakang pada Kesatria Sihir yang duduk disebelah Kusir.
Alastor segera menoleh ke arah bukit yang hanya ditumbuhi rerumputan di sebelah kanan Jalan. Dia mengerutkan kening karena intuisinya mengatakan kalau ketiga orang itu lebih kuat dari mereka.
“Apakah mereka itu Petualang nakal?” tanya Paman San, Kusir Kereta Kuda dengan ekspresi wajah panik.
Walaupun Guild menjamin para Petualang tidak akan mengusik atau merampok para Pedagang, tetapi kadang-kadang ada saja Petualang yang melakukan tindakan kriminal dan mereka akan membunuh mangsanya agar mereka tidak dikenakan daftar hitam di Guild atau menghilangkan jejak kejahatan yang mereka lakukan.
“Sepertinya mereka tidak jahat, tetapi kita harus tetap waspada,” sahut Alastor—karena Ketiga orang asing itu tidak menghunus senjata atau merapalkan mantera Sihir.
Larsson, Ketua Party Petualang yang mengawal para Pedagang itu juga telah melihat kedatangan tiga penunggang kuda yang menuruni bukit kecil di sebelah jalan. Dia meminta Kusir kereta kuda tetap melajukan kuda dengan kecepatan normal, sementara dirinya segera melompat ke atap gerbong kereta kuda, bersiap-siap melakukan serangan bila orang asing itu ternyata berniat merampok para pedagang.
Alianna menggenggam erat tongkat sihirnya, dia sangat gugup karena Ketiga Penunggang Kuda itu telah mencapai lereng bukit dan menuju ke arah mereka.
“Hai, kalian mau ke mana? Kami hendak menuju Kota Ella, mungkin kita menuju tempat yang sama,” sapa Pitung tersenyum ramah.
Alianna tersenyum melihat Pitung yang tidak mahir menunggang kuda itu, kedua tangan Pitung mencengkram erat tali Kuda. Jelas sekali kalau dia baru belajar menunggang kuda, samar-samar Alianna merasakan jejak Mana mengelilinginya agar dia tidak jatuh.
Alianna menduga hal itu dilakukan oleh salah satu dari Dua Penyihir wanita cantik yang mengikutinya.
Alastor yang telah menggenggam gagang Pedangnya, batal mencabut Pedang itu dari sarungnya. Sudut bibirnya memancarkan senyuman cerah karena ketiga orang asing ini ternyata tidak memiliki niat jahat.
__ADS_1
“Kami juga menuju Kota Ella,” sahut Alastor, “apakah kalian melakukan misi ke sana? Oh, ya... aku Alastor, Kesatria Sihir Level 65 dari Guild Cahaya Keadilan.”
“Aku Alianna, Penyihir Level 50,” sahut Alianna sembari melambaikan tangannya. “Ketua kami di sana adalah Larsson, Kesatria Sihir Level 70.” Dia menunjuk ke arah Pria yang berdiri di atas gerbong kereta kuda paling depan, dan Larsson melambaikan tangan sembari tersenyum.
Pitung melambaikan tangannya, tetapi tubuhnya langsung goyah dan hampir jatuh—untung saja Larissa telah menggunakan Sihir yang segera menstabilkan Pitung bila ia hampir jatuh dari punggung kuda.
“Aku Zagralaas, Kesatria Sihir Level 77 dari Guild Meteor, dan... mereka adalah Larissa dan Netla, rekan Party-ku,” sahutnya tanpa mengatakan Level Kedua gadis yang menemaninya itu. “Kalian ternyata hendak ke Kota Ella juga, bagaimana kalau kita berbarengan saja?” Dia menawarkan konvoi bersama, “Jangan khawatir, kami tidak akan meminta upah pengawalan. Kami belum pernah ke sana sehingga kami takut salah memilih jalan nantinya.”
Awalnya Alastor mengerutkan keningnya saat mendengar Pitung ingin berkonvoi dengan mereka. Dia mulai curiga mungkin Pitung sebenarnya ingin menyergap mereka saat mereka lengah. Namun, saat mendengar Pitung belum pernah ke Kota Ella, ia pun menepis dugaannya itu dan langsung menganggukkan kepala tanda setuju.
Siapa pun pasti senang berkonvoi dengan Petualang yang memiliki Level lebih tinggi dari mereka. Itu akan menjadikan perjalanan mereka lebih aman dan tidak perlu khawatir disergap oleh para bandit, sebab jarang sekali ada bandit yang memiliki Level tinggi.
“Apa tujuan tuan Pitung ke Kota Ella?” tanya Alianna penasaran, walaupun sebenarnya ia tidak memiliki topik lain untuk ditanyakan agar perbincangan mereka tidak berakhir.
Alianna tersenyum lebar dan berkata, “Aku juga ingin ke sana melihat Pohon Dunia. Namun, ongkos naik Kapal ke sana sangat mahal sekali.” Dia menghela napas panjang.
“Mahal?” Pitung terkejut mendengarnya.
“Ya, mereka sengaja melakukannya agar tidak banyak Manusia mengunjungi Pulau Hazel,” jawab Alianna, “kalau tidak salah... sekarang ongkosnya adalah 100 Keping Emas.”
Pitung mengerutkan keningnya, berarti ia membutuhkan biaya 600 Keping Emas untuk ongkos Kapal saja. Belum lagi biaya makan serta penginapan di Pulau Hazel yang pastinya juga akan mahal.
__ADS_1
“Aku harus menjual sisa Kristal Beast yang kusimpan dalam Tas Sihirku,” pikir Pitung tersenyum, untung saja Kristal Beast dari Orc tidak terbakar oleh Api dari tinju Hellfire Fist yang menurut legenda hanya bisa dikalahkan oleh Api Suci.
Alianna menatap Netla Durand dan Larissa Blackwood, dia heran kenapa Dua Penyihir Wanita itu diam saja sejak tadi. Seolah-olah keduanya tidak suka berinteraksi dengan orang asing.
...***...
Di tempat bekas pertarungan Orc dengan Pitung, Puluhan Iblis muncul di sana.
Iblis yang mengenakan Jirah Besi berwarna hitam membuka helmnya, kepalanya hanya tengkorak saja dan api merah menyala di matanya.
“Orc-Orc bodoh itu telah dibakar oleh Api dari Neraka, sedangkan nona Veela sepertinya dibiarkan hidup oleh sosok yang mengalahkan mereka,” kata Haherith—nama Iblis yang juga salah satu Komandan Pasukan Iblis terkuat tersebut.
“Api dari Neraka? Bukankah itu dimiliki oleh Sang Mantan,” sahut Hehus—Iblis yang mengenakan pakaian ala Penyihir. Namun, yang ia kenakan serba hitam dan ujung tongkat sihirnya adalah Tengkorak Penyihir Pahlawan dari era pertama yang ia gali dari kuburnya.
“Sang Mantan? Maksudmu Zagralaas si pengkhianat itu!” cibir Haherith jijik mendengar nama mantan Raja mereka itu.
Sudut bibir Hehus memancarkan seringai tipis. “Hei, jangan mencibirnya,” candanya—padahal ia juga membenci Zagralaas dan dirinya termasuk dalam kelompok yang mendorong Eblirt agar melakukan Kudeta pada Zagralaas.
“Oh, ya... pantas saja gadis kecil itu selamat,” kata Haherith lagi, karena Veela dari kecil sudah tinggal di istana Raja Iblis. Mana mungkin Zagralaas mau menyakiti sosok kecil yang selalu menghiburnya itu. “Veela sudah gagal melaksanakan misinya, bala bantuan Orc tidak akan datang lagi. Itu akan merusak rencana yang telah disusun oleh Yang Mulia Raja Iblis Eblirt.”
Hehus setuju dengan ucapan Haherith. Mereka sebenarnya hanya lewat saja di hutan ini, karena tujuan mereka adalah mencari keberadaan Zagralaas atas perintah Raja Iblis Eblirt.
__ADS_1
Kemarin Iblis Gril mengabarkan kalau Zagralaas muncul di Kota Sanderos. Mereka langsung melakukan pengejaran tetapi mereka malah bertemu Petualang Level 100 yang memperlambat perjalanan mereka—karena mereka terpaksa harus bertarung melawan Petualang itu.
“Bagaimana kalau kita bantu saja gadis kecil itu, anggap saja sebagai balas budi karena waktu kecilnya kita sering dihibur olehnya dengan sikapnya yang lucu itu ha-ha-ha ....” Hehus tertawa terkekeh-kekeh karena teringat dengan Veela kecil saat berusia Lima tahun yang membuat istana Raja Iblis menjadi meriah, padahal biasanya istana itu terkesan menakutkan dan selalu sunyi karena tidak ada yang berani membuat keributan, takut Zagralaas marah.