
Pitung menganggukkan kepala tanda setuju dengan ajakan gadis kecil itu. “Ya, tentu saja aku mau!” sahutnya.
Gadis kecil itu langsung tersenyum lebar, sangat senang mendengarnya. Dia langsung menoleh ke belakang ke arah Pria kurus dan wanita yang terlihat sangat kurus serta berpakaian lusuh. “Ayah... Ibu... Kakak Petualang mau menginap di rumah kita!”
Ayah dan Ibu gadis kecil itu tersenyum masam, keduanya sepertinya malu karena tatapan semua orang tertuju ke arah mereka.
Ayah gadis itu melambaikan tangan dan berkata, “Maafkan perkataan Putriku itu, dia hanya bercanda saja.”
Gadis kecil itu menggelengkan kepalanya dan menyanggah ucapan Ayahnya, “Tidak! Kakak Petualang akan tidur di rumah bersamaku!” Cengkraman tangannya semakin erat menggenggam ibu jari tangan Pitung.
Adar mendekati Pitung dan berbisik, “Donovan itu hanya buruh yang tinggal di gubuk kecil di luar Desa. Tuan Zagralaas tidak perlu menanggapi ajakan anaknya ini, aku telah menyediakan kamar yang bagus untuk tuan Zagralaas.”
Adar sengaja berbisik agar Donovan tidak tersinggung oleh ucapannya, dengan informasinya ini Adar berharap Pitung menolak ajakan gadis kecil ini dengan alasan yang masuk akal tanpa membuatnya menangis.
Pitung menatap gadis kecil itu yang menatapnya dengan tatapan mata berbinar-binar sehingga hati kecilnya tidak tega menolak ajakannya.
“Tidak apa-apa Paman Adar... aku akan tinggal bersama mereka, ini hanya satu malam saja kok dan aku sudah terbiasa tidur di alam terbuka saat berpetualang!” sahut Pitung tersenyum hangat yang membuat para penduduk tercengang, tidak menyangka seorang Petualang Rank S mau berbaur dengan penduduk miskin.
“Baiklah... ayo ke rumahku Kakak Petualang, tadi pagi aku membuat Roti kering dan masih menyimpan beberapa potong lagi!” Gadis kecil itu dengan semangat menarik tangan Pitung dan berjalan keluar dari Desa Adonara.
Orang tua gadis kecil itu meminta maaf pada Adar atas tindakan Putrinya itu dan Adar mengatakan tidak apa-apa karena Pitung sendiri tidak menolak ajakan Putrinya.
Helen Flanagan sendiri masih tercengang melihat Pitung pergi dengan gadis kecil berpakaian kumuh itu, kalau saja ajakan itu tertuju padanya maka tanpa basa-basi dirinya akan langsung menolak.
Adar menatap Helen Flanagan dan berkata, “Maaf Nona Helen... kejadian ini tidak disangka-sangka dan—”
Helen Flanagan mengangkat tangannya dan berkata, “Tidak apa-apa... lagi pula Dia itu bukan Petualang yang ikut dalam misi dari Guild Meteor. Dia hanya penasaran saja dengan Orc itu makanya dia ikut dengan kami!”
__ADS_1
...***...
“Siapa namamu gadis cantik?” tanya Pitung pada gadis kecil yang terus tersenyum sepanjang perjalanan menuju rumahnya itu.
“Salsa... Kakak Petualang!” sahutnya, “itu rumah kami!” Dia menunjuk rumah kecil di sebelah peternakan.
Salsa melepaskan cengkraman tangannya pada ibu jari tangan Pitung, ia berlari ke dalam rumah.
Donovan dan istrinya Isabel tersenyum melihat tingkah Salsa. Saat ia mendengar dari anak-anak Desa Adonara kalau Petualang dari Guild Meteor akan datang ke Desa, dia langsung meminta ayah dan ibunya membawanya ke Desa untuk melihat para Petualang itu.
Awalnya tujuannya hanya ingin bersalaman saja dengan Petualang Rank tinggi, tetapi saat ia melihat para Petualang tinggal di rumah anak-anak Desa lainnya—Salsa pun tidak mau ketinggalan, dia segera memperhatikan siapa Petualang yang menurutnya paling kuat dan tatapannya langsung tertuju pada Pitung yang di punggungnya tergantung Pedang Hell Of Darkness dan langsung memilih Pitung untuk diajak menginap di rumahnya.
Pitung menoleh ke arah Donovan dan Isabel sembari tersenyum, keduanya juga tersenyum sembari menganggukkan kepala.
“Hmm, sampai kapan mereka terus tersenyum? Katakan sesuatu, kek?” Pitung mengeluh dalam benaknya karena ia juga bingung mau mengatakan apa menyapa pasangan suami-istri itu.
Salsa keluar dari rumahnya sembari membawa Piring berisi Roti kering yang ukurannya sangat kecil.
“Wah, hebat sekali Salsa sudah bisa membuat Roti!” sahut Pitung langsung mengunyah Roti kering yang sangat keras dan rasanya tidak enak itu. Namun, ia memperlihatkan ekspresi wajah seolah-olah menikmati Roti kering itu.
“He-he-he... sebenarnya Ibu yang membuatnya, aku hanya membantu sedikit saja!” sahut Salsa.
“Silahkan masuk Tuan Zagralaas!” sela Donovan mempersilahkan Pitung masuk ke dalam rumahnya.
Pitung memasuki rumah itu dan terkejut, ternyata rumah itu tidak memiliki kamar dan hanya ada tikar serta bantal lusuh saja di sana, sedangkan untuk memasak Isabel melakukannya di luar rumah.
Pitung tidak menyangka Desa Adonara yang terlihat makmur itu ternyata ada juga warga yang sangat miskin.
__ADS_1
Donovan mengambil Jala (alat tangkap ikan) yang terletak di sudut ruangan. “Aku pergi ke sungai sebentar Tuan Zagralaas... jangan sungkan-sungkan, anggap saja rumah ini rumahmu juga ha-ha-ha.” Dia tertawa canggung.
“Apa tidak apa-apa keluar menjelang malam seperti ini? Takutnya ada binatang buas!” kata Pitung menatap Isabel yang hendak mencuci piring.
“Sungainya dekat, kok... dan suamiku sudah sering melakukannya, kawasan di sini sangat aman dari binatang buas karena Party Petualang tuan David selalu berpatroli,” sahut Isabel.
Salsa langsung mengikuti ibunya keluar rumah dan membantunya mencuci piring. Dia terlihat sangat bersemangat karena Pitung memperhatikannya.
Pitung tersenyum-senyum melihat tingkah gadis kecil itu.
“Apa bibi Isabel tidak memiliki lahan peternakan sendiri?” tanya Pitung penasaran kenapa mereka berakhir menjadi buruh di sini.
Isabel menarik napas dalam-dalam, tangannya dengan gesit membilas piring-piring kotor di hadapannya.
“Sebenarnya kami berasal dari Utara, setahun yang lalu Desa kami menjadi medan Perang antara Kesatria Sihir Manusia melawan Pasukan Iblis. Kejadian itu terjadi secara tiba-tiba, sehingga kami tidak sempat menyelamatkan harta kami dan terpaksa mengungsi ke tempat yang aman.”
Isabel terus menceritakan saat di pengungsian mereka kekurangan makanan, saat bantuan makanan dari Kuil Cahaya tiba maka para pengungsi akan saling berebut dan sering kali Donovan tidak mendapatkan makanan dan terpaksa mereka harus memakan rumput agar tidak kelaparan.
Karena tak tahan lagi tinggal di sana, Donovan memutuskan membawa keluarganya menuju Kota Trivoni. Namun, di sana juga Donovan kesulitan mendapatkan pekerjaan hingga ada warga Desa Adonara yang menawarkan pekerjaan sebagai buruh di peternakannya.
Itulah mengapa mereka berakhir di Desa Adonara dan menjadi satu-satunya buruh yang diupah sangat murah. Namun, mereka tetap bersyukur karena di sini tetap bisa makan setiap hari walaupun makanannya tidak bergizi.
Pitung sangat tersentuh mendengar cerita Isabel, dia pun teringat dengan dirinya yang merantau ke Jakarta. Di mana ia digaji pas upah minimum regional saja, padahal kebutuhannya sangat tinggi sebagai Wibu karena ia mengkoleksi banyak figura gadis-gadis anime dan tentunya menonton filmnya juga serta koleksi banyak novel cetak.
“Hei, Salsa... apa cita-citamu?” tanya Pitung memecahkan keheningan, karena tiba-tiba Isabel membisu setelah menceritakan kisah tentang keluarganya itu.
“Aku ingin menjadi Petualang seperti Kakak!” sahut Salsa sembari mengambil ranting pohon dan melakukan gerakan menebaskan Pedang. “Tebasan Cahaya!” teriaknya.
__ADS_1
Pitung tertawa melihat tingkah lucunya itu dan tiba-tiba ia terdiam karena merasakan fluktuasi Mana dari ranting pohon itu.
“Jangan-jangan gadis kecil ini sebenarnya memiliki potensi hebat menjadi Penyihir,” pikirnya berspekulasi dan mendekati Salsa untuk memastikan apakah fluktuasi Mana itu benar-benar berasal darinya.