
Keesokan paginya, Jean dan para penduduk Kota Senderos memasuki reruntuhan Kota dan mereka mencoba mengambil barang-barang yang masih dapat digunakan.
Namun, tiba-tiba lingkaran Sihir muncul di langit sehingga membuat semua orang terkejut dan ketakutan.
“Sial! Apakah bala bantuan dari Ras Iblis datang untuk melenyapkan Keluarga Graham?” pikir Jean sembari menghunus pedangnya.
Saint dan penduduk Kota Senderos hingga saat ini belum menyadari kalau Keluarga Graham sebenarnya bekerjasama dengan Iblis Gral dan runtuhnya Kota Senderos juga karena dosa mereka juga tentunya, tetapi saat ini Keluarga Graham seolah-olah menjadi Pahlawan yang meringankan beban hidup penduduk Kota Senderos dengan menawarkan bantuan dan pembangunan Kota Senderos yang baru.
Sosok Pria tampan muncul dari lingkaran Sihir, dia mengenakan Jirah berlambang Kerajaan Kinearus dan Pedang Besar menggantung di punggungnya.
Sebagai Keluarga Bangsawan, Jean tentu mengenali Pria itu dan dia tidak menyangka Pangeran yang juga Ketua Party Pahlawan Nistenia akan datang ke Kota Senderos.
Jean langsung menduga, Graham Briars mungkin telah menyadari kalau mantan Raja Iblis Zagralaas telah mendatangi Kota Senderos dan Kesatria Sihir terkuat ini ingin menangkapnya dengan tangannya sendiri.
Saint Kuil Cahaya Kota Senderos segera menyambut kedatangan Graham Briars, di belakangnya Puluhan Kesatria Sihir Kuil Cahaya langsung bertekuk lutut dan menaruh tangan kanan mereka di dada sebagai tanda hormat pada Ketua Party Pahlawan Nistenia itu.
Jean juga melakukan hal yang sama, karena saat ini dialah Lord yang baru atau Penguasa Kota Senderos pengganti Lord Daendels Graham.
Graham Briars tidak menanggapi penghormatan mereka, tatapan matanya fokus pada reruntuhan Kota Senderos.
Dia kemudian mengeluarkan Item Sihir dari Tas Sihirnya, Item Sihir itu berupa Kompas yang diberikan oleh Alease Cougar, Penyihir Elf yang juga anggota Party Pahlawan Nistenia.
Item Sihir Kompas itu dapat merasakan Mana Elemen Kegelapan milik Ras Iblis.
Ekspresi wajah Graham Briars tampak mengkerut setelah mengeluarkan Item Sihir Kompas itu.
Dia kemudian turun ke bawah dan meletakkan tangan kanannya di dada sebagai tanda hormat. “Naga Kuno itu telah mati, siapa yang membunuhnya?” tanyanya penasaran dengan sosok yang mampu mengalahkan Naga Kuno yang dulunya butuh Party Pahlawan Nistenia untuk mengalahkannya.
Saint tersenyum dan menjawab, “Kesatria Sihir misterius yang melakukannya. Levelnya hanya Level 41, tetapi ia dapat melakukan Sihir Necromancer dan memanggil Beast Salamander Level 100. Namun, setelah pertarungan itu berakhir kami tidak menemukan jejaknya lagi.”
__ADS_1
“Salamander?” Graham Briars mengerutkan keningnya, “mungkinkah dia Raja Iblis Zagralaas?” tebaknya berspekulasi.
Setelah mendapatkan kabar mantan Raja Iblis itu menghentikan eksekusi mati Penyihir Kegelapan di Kota Trivoni, Party Pahlawan Nistenia langsung menuju Kota Trivoni dengan Sihir Teleportasi milik Alease Cougar. Namun, sayang sekali ternyata mantan Raja Iblis itu telah melarikan diri.
Saint dan para Kesatria Sihir Kuil Cahaya terkejut mendengar ucapan Graham Briars, mereka tidak menyangka akan kecolongan padahal telah melakukan pemeriksaan ketat di gerbang masuk Kota.
“Kemarin itu aku memeriksa identitas Kesatria Sihir bernama Zagralaas, dan Levelnya saat itu Level 40,” kata Albert, Pemimpin Kesatria Sihir Kuil Cahaya.
Jean tersenyum masam, hanya dia yang mengetahui kalau mantan Raja Iblis Zagralaas memang mendatangi Kota Senderos dan dialah yang menyelamatkan Juliana.
“Pantas saja Naga Kuno kalah, tetapi mengapa dia malah membunuh Naga Kuno? Padahal kalau ia mau maka Naga Kuno itu adalah senjata yang bagus untuk melakukan pembantaian pada Manusia, atau... mungkinkah saat melakukan ritual pembangkitan Naga Kuno itu terjadi kesalahan dan Naga Kuno itu malah menyerangnya makanya ia membunuh Naga Kuno itu,” sahut Graham Briars berspekulasi.
“Aku setuju dengan pendapat Pangeran Briars.” Saint menganggukkan kepala dan yang lain juga setuju dengan pendapat Graham Briars itu.
Jean tersenyum tipis, dia sangat senang tidak ada yang mengarahkan bola panas pada Keluarga Graham dan dia juga sangat bersyukur mantan Raja Iblis Zagralaas telah menjadi penyelamat mereka sekali lagi walaupun hal itu membuat penduduk Kota Senderos semakin membenci mantan Raja Iblis itu.
Graham Briars menggelengkan kepala dan berkata, “Dia berhasil meloloskan diri dan mungkin saat ini telah kabur ke Kota lain.”
Namun, ia tidak dapat menebak ke arah mana mantan Raja Iblis Zagralaas kabur. Ke arah selatan atau menuju Kota Pelabuhan Ella, sedangkan ke arah Utara itu tidak mungkin karena Raja Iblis yang baru juga memburunya, untuk saat ia yakin mantan Raja Iblis Zagralaas sedang memulihkan kekuatannya dan masih butuh waktu lama untuk kembali ke Utara merebut kembali tahta Raja Iblis.
Lingkaran Sihir Teleportasi di langit mulai meredup, karena masalah Naga Kuno telah teratasi—Graham Briars merasa tidak perlu menghabiskan waktu di Kota Senderos.
Graham Briars meletakkan tangan kanannya di dada dan menundukkan sedikit wajahnya, “Saint dan Lord Jean... Aku akan kembali ke Partyku lagi, sampai jumpa di lain waktu!”
Saint dan Jean segera meletakkan tangan kanannya di dada sebagai tanda hormat, “Kami menantikan kehadiran Pangeran Graham Briars di masa depan!”
Graham Briars langsung menghilang sesaat sebelum lingkaran Sihir Teleportasi di langit memudar.
...***...
__ADS_1
Sepuluh Kilometer dari Kota Senderos, Pitung sedang terlelap tidur di bawah Pohon besar. Sinar matahari menyilaukan mata membangunkannya.
Dia terkejut, di bahu kanan dan kirinya ternyata Netla Durand dan Larissa Blackwood menyandarkan kepala, keduanya belum bangun sehingga Pitung terpaksa mematung karena tidak tega membangunkan keduanya.
Dia teringat, hadiah menyelesaikan misi menyelamatkan Penyihir Juliana belum diundi.
Walaupun misinya berhasil, Pitung merasa tetap merugi karena harus menggunakan item Sihir Necromancer yang sangat berharga itu.
Awalnya ia berencana menggunakan Item Sihir Necromancer bila bertemu musuh kuat yang tidak dapat diatasi oleh Netla Durand dan Larissa Blackwood atau Pahlawan Nistenia menyergap mereka. Namun, siapa ternyata ada Naga Kuno di dalam Labirin itu.
Pitung menghela napas panjang, seperti kata motivasi dari penulis Bang Regar yang juga mengutip kata-kata orang lain; nasi sudah menjadi bubur maka lebih baik dinikmati saja.
Panel Virtual muncul di hadapan Pitung, hadiah yang ia dapatkan dari misi penyelamatan Penyihir Juliana adalah 10.000 Poin dan 1000 Mana.
“Satu kali Undian kini membutuhkan 50 Poin maka kesempatan kali ini aku bisa melakukan 200 Kali Undian,” gumam Pitung tersenyum lebar, “semoga saja ada Item Rare (langka) lagi.”
“Demon King System... Undi sekaligus!” seru Pitung sudah tidak sabar ingin melihat hadiah seperti apa yang akan muncul kali ini.
[Selamat Peningkatan Satu Level]
[Selamat Peningkatan Satu Level]
[Selamat Penambahan 10 Mana]
[Selamat Peningkatan Satu Level]
[Selamat Penambahan 100 Mana]
Setelah 150 Kali Undian, belum juga ada item Rare yang muncul sehingga Pitung mengerutkan keningnya dan mengutuk Demon King System yang sama dengan para vendor game di Bumi, di mana uang para Player aka dikuras sebanyak-banyaknya dan hasilnya Player itu cuma mendapatkan Item biasa-biasa saja, hanya 1:1000.000 Player saja yang beruntung mendapatkan Item Rare itu.
__ADS_1