Demon King System

Demon King System
Rialinin Eldervein


__ADS_3

“Sayang sekali kita harus berpisah di sini,” kata Alianna tersenyum cerah sembari melambaikan tangan pada Pitung.


“Mungkin dilain waktu kita akan berpetualang bersama lagi,” sahut Pitung yang memutuskan tidak mengikuti rombongan Alianna ke pusat Kota Ella karena ia tidak ingin melewatkan pemandangan matahari terbenam.


Aliastor melirik Netla Durand yang hanya memasang ekspresi wajah datar saja. Dia merasa dadanya sesak dan berpikir mengapa ia merasakan hal itu.


Larsson menepuk pundak Aliastor sembari tersenyum hangat. “Masih banyak wanita cantik di luar sana... jangan bersedih—”


Aliastor mengerutkan keningnya dan langsung memalingkan wajahnya, matanya tampak memerah dan berair. “Cih, aku tidak sedih, kok! Lagi pula siapa yang jatuh cinta,” selanya.


Larsson tersenyum lebar melihat reaksi rekannya itu. Dia menggelengkan kepala dan tidak mengatakan apa-apa lagi karena tidak ingin Aliastor semakin sedih.


“Ayo naik ke kereta kuda!” seru Larsson ingin segera menyelesaikan misi pengawalan mereka agar ia bisa beristirahat dengan cepat.


Alianna dan Aliastor segera naik ke kereta kuda yang langsung melaju ke pusat Kota Ella, sementara Pitung, Netla Durand, dan Larissa Blackwood berkuda menuju bibir pantai.


...***...


“Indahnya!” gumam Pitung memandangi matahari yang terbenam di lautan.


Walaupun di Bumi ia kadang-kadang berliburan ke Pantai, ia tetap menikmati pemandangan di hadapannya ini.


Netla Durand dan Larissa Blackwood juga tersenyum bahagia melihat matahari terbenam itu.


Ketiganya duduk di pasir dan berbincang-bincang dengan santai hingga matahari terbenam dan digantikan dengan malam berbintang.


Pitung memutuskan menginap di penginapan murah yang tidak jauh dari bibir pantai. Dia harus berhemat karena ongkos kapal menuju Pulau Hazel sangat mahal.


Netla Durand dan Larissa Blackwood berdebat siapa yang akan tidur dengan Pitung sehingga pemilik penginapan tercengang karena tidak menyangka Pemuda yang ketampanannya biasa-biasa saja itu diperebutkan oleh Dua gadis cantik yang seharusnya lebih cocok menjadi pendamping Pemuda Bangsawan.


Pitung mengakhiri perdebatan Dua Penyihir cantik itu dengan menyuruh keduanya tidur bersama, sedangkan dirinya akan tidur sendiri di kamar lain.

__ADS_1


Setelah menerima kunci kamar, Pitung langsung menuju kamarnya dan merebahkan tubuhnya di kasur tipis penginapan murah tersebut.


Dia memperhatikan Panel Virtual yang muncul di hadapannya.


[Nama: Zagralaas (Pitung)


Level : 76


Mana : Tidak Terbatas


Skill : Deeping Eyes, Demon Sword Art Tingkat Menengah, Hellfire Fist Tingkat Menengah, Manipulasi Sihir Tingkat Rendah, Pengendali Binatang.


Poin: —]


Sudut bibir Pitung memancarkan senyuman tipis menatap Panel Virtual itu. Dia sangat senang, peningkatan Level Sihirnya meningkat dengan cepat. Kalau pencapaiannya terus seperti ini maka ia akan mencapai Level 100 dengan cepat dan segera menyelesaikan misi utamanya.


[Ding!]


[Rekrut Elf Rialinin Eldervein ke dalam Party Anda. Bila misi berhasil Anda akan mendapatkan hadiah 25.000 Poin. Bila misi gagal maka Level Anda akan direset kembali ke minus Lima.]


Saat itu juga senyum di wajah Pitung berubah menjadi kerutan masam.


“Hei, apa-apaan misi ini! Kenapa nggak sekalian saja suruh aku menebang Pohon Dunia?” keluh Pitung berteriak histeris.


Panel Virtual di hadapannya berubah menjadi emot Manusia Batu dan sebuah kalimat kembali muncul di Panel Virtual yang mengharuskan Pitung menyelesaikan misi itu dalam kurun waktu Lima Hari.


“Sial! Demon King System tak berguna,” gerutu Pitung. “Masa disuruh merekrut Elf hanya memberitahukan indentitas nama saja. Tidak dijelaskan apakah dia sedang mengalami masalah di Pulau Hazel atau informasi lainnya,” cibirnya lagi.


Pitung kemudian keluar dari kamar. Dia berencana menjual Kristal Beastnya karena tidak ingin kekurangan dana saat menuju Pulau Hazel nanti.


Karena misi dari Demon King System hanya berdurasi Lima hari saja, maka Pitung memutuskan akan langsung berangkat ke Pulau Hazel besok dan tidak akan berliburan dulu di Kota Ella yang merupakan Kota terbesar Kedua di Kerajaan Kinearus tersebut.

__ADS_1


...***...


Di penjara bawah tanah yang letaknya persis di bawah Pohon Dunia Pulau Hazel, Rialinin Eldervein baru saja dijebloskan ke penjara.


Elf tampan berambut pirang menatapnya dengan tatapan kecewa, sementara gadis Elf di sebelah Elf tampan itu tersenyum cerah menatap Rialinin Eldervein.


“Tolong katakan pada Ratu bahwa aku dijebak seseorang, Martin!” Rialivin Eldervein menangis tersedu-sedu sembari memohon pada Martin, Elf tampan yang juga sahabatnya itu.


“Cih, jangan berkilah lagi! Banyak saksi yang melihatmu memakan buah Pohon Dunia itu!” sela Martin menatap Rialivin Eldervein dengan tatapan jijik, kecewa Elf yang disukainya itu akan melakukan perbuatan jahat—padahal buah Pohon Dunia belum matang.


Buah itu biasanya matang seratus tahun sekali dan buahnya hanya satu saja.


Buah Pohon Dunia akan diberikan kepada Elf muda terkuat dan generasi muda terkuat saat ini adalah Martin. Dia yang seharusnya memakan Buah Pohon Dunia yang akan matang seratus hari lagi itu. Namun, Rialivin Eldervein malah memakannya di hadapannya dan itu membuatnya sangat kecewa.


Buah Pohon Dunia mengandung Mana yang sangat besar dan Elf yang memakan buah itu juga mendapatkan Skill hebat. Alease Cougar contohnya Elf yang memakan buah pohon Dunia Seratus tahun yang lalu. Dia adalah salah satu Penyihir terkuat di Dunia Nistenia yang juga anggota Party Pahlawan.


Martin memiliki mimpi akan menjadi anggota Pahlawan suatu saat nanti. Namun, mimpi itu dikuburkan oleh sahabatnya sendiri.


“Martin! Aku bersumpah tidak mengetahui kalau buah ini adalah buah Pohon Dunia,” kata Rialinin Eldervein berusaha meyakinkan Elf tampan yang sangat dicintainya itu. “Buah itu telah di sihir mirip Apel dan seseorang pasti telah menukarnya saat aku lengah,” katanya lagi dengan tatapan mata berair.


Rialinin Eldervein sangat menyukai buah Apel dan dia selalu menyimpan beberapa buah Apel di tasnya, kemudian memakannya disaat senggang.


Kemarin saat mengikuti pelajaran teori Sihir di Akademi Sihir Pohon Dunia selesai, Rialinin Eldervein memakan Apel disaat semua rekan-rekannya masih di kelas dan disaat itulah ia ketahuan memakan Buah Pohon Dunia.


Martin mengerutkan keningnya menatap Rialinin Eldervein. “Cih, dasar Iblis penggoda! Selama ini kau sengaja mendekatiku agar kamu dapat perhatian dariku, kan? Namun, dibelakangku kau juga dekat dengan Pria lain! Jangan-jangan kau itu telah menggadaikan kesucianmu pada mereka agar mendapatkan Buah Pohon Dunia,” cibirnya sembari melangkah pergi menjauh dari ruang tahanan.


Rialinin Eldervein terkejut mendengar cibiran Martin. Dia tidak menyangka kalimat menyakitkan itu keluar dari mulut Pria yang dicintainya, padahal selama ini dirinya hanya berteman dengan Martin dan Sarah Eldervein saja.


Sarah Eldervein yang berjalan di sebelah Martin menyeringai saat menatap Rialinin Eldervein.


“Pasti kau yang menjebakku, Sarahhhhhhh!” teriak Rialinin Eldervein akhirnya menyadari hanya Sarah yang bebas keluar masuk ke kamarnya. “Martin! Sarah yang menjebakku! Tolong katakan pada Ratu!” teriaknya lagi. Namun, Martin mengabaikan ucapannya, sedangkan Sarah tampak senang melihat Rialinin Eldervein menderita begitu.

__ADS_1


__ADS_2