
Selama perjalanan menuju Desa Adonara, Netla Durand dan Larissa Blackwood terlihat murung saat berjalan mengikuti Pitung dan Helen Flanagan yang langsung akrab serta berbincang banyak hal selama perjalanan itu.
Berkat penjelasan Helen Flanagan, Pitung akhirnya tahu kalau mereka sebenarnya sudah memasuki wilayah Lord Alaric Flanagan.
Pitung langsung menebak, kalau Helen Flanagan mungkin adalah salah Putri dari Lord Alaric Flanagan makanya banyak Petualang yang mengikutinya.
Setelah keluar dari jalanan kecil yang dikelilingi oleh Hutan Pinus, mereka akhirnya sampai di dataran rendah yang merupakan Padang rumput yang luas.
Melihat pemandangan di hadapannya, Pitung teringat dengan peternakan di Selandia Baru yang ia lihat di media sosial.
“Tempat ini adalah pusat peternakan terbesar di Kerajaan Kinearus, ada ratusan Desa di sini dan Desa Adonara terletak paling dekat dengan Hutan Utara yang masih tidak terjamah atau dikelola.” Helen Flanagan menjelaskan pada Pitung walaupun Pitung tidak bertanya.
“Kalau begitu pasti ada Petualang yang berpatroli di sini, apa mereka tidak dapat mengusir Orc itu?” sahut Pitung teringat dengan Kota kecil yang dulu ia lewati dan ada Satu Party Petualang yang menjaga Kota itu.
Helen Flanagan menganggukkan kepala dan tersenyum. “Level mereka rata-rata dibawah Level 50,” sahutnya, “saat mendengar ada Orc di hutan itu, para Petualang itu malah ketakutan dan tidak berani menyelidikinya apakah kabar itu benar atau tidak.”
Walaupun tindakan Petualang itu terkesan pengecut, tetapi ia setuju dengan mereka karena keselamatan diri lebih utama daripada berpura-pura hebat di mata orang lain.
Pitung akhirnya teringat saat ia diajak oleh teman-teman satu Desanya tawuran melawan Desa sebelah, dirinya saat itu berteriak paling keras seolah-olah dialah Pejuang terkuat. Namun, saat teman-temannya berlari menerjang lawan, dia malah berjalan santai dan melempar batu dari barisan belakang dan saat teman-temannya mundur, ia pun berlari paling cepat bak Cheetah (Harimau).
“Aku akan mengusir mereka nanti, mereka sungguh tidak berguna sekali!” Helen Flanagan menggerutu mencibir para Petualang yang disewa para Peternak tersebut. “Seorang Petualang itu harus memiliki mental Pejuang dan tidak takut dengan apapun... mereka malah takut padahal keberadaan Orc itu hanya rumor saja, jangan-jangan rumor itu sengaja disebarkan oleh kawanan pencuri ternak.”
Pitung hanya mengangguk setuju dengan ucapan Helen Flanagan, padahal sebenarnya ia setuju dengan tindakan yang diambil oleh Petualang itu.
Setelah berjalan selama setengah jam menyelusuri hamparan Padang rumput itu, mereka akhirnya sampai di Desa Adonara yang hanya dimiliki pagar kayu setinggi Tiga Meter.
Kalau ada Beast yang menyerang Desa itu maka dipastikan Beast itu pasti dengan mudah menghancurkan pagar kayu itu.
__ADS_1
Lima Petualang langsung menyambut kedatangan mereka, seorang Pria berusia empat puluhan tahun yang berjalan paling depan langsung meletakkan tangan kanan di dada dan sedikit membungkukkan tubuhnya.
“Selamat datang di Desa Adonara Nona Helen... aku David Guetta, Pemimpin Party Petualang yang bertanggungjawab atas kemanan Desa ini,” kata Pria itu tersenyum lebar menyapa Helen Flanagan.
Helen Flanagan menatap tajam David Guetta, dia melambaikan tangan seolah-olah berkata bahwa dia tidak perlu disambut oleh David Guetta dan menjauh lah dari pandangannya, kemudian Helen Flanagan terus berjalan masuk ke dalam Desa Adonara.
David Guetta tersenyum masam, tangannya terkepal erat dan kesal dengan ulah Helen Flanagan itu.
“Cih, sombong sekali! Semoga saja Orc itu mencabik-cabik tubuhmu,” cibirnya setelah rombongan Pitung dan Helen Flanagan jauh dari mereka.
“Hei, hati-hati dengan ucapanmu, Ketua David!” sela rekan satu Party-nya. “Kalau ada yang mendengarnya maka lisensi Petualang kita akan dicabut,” keluhnya lagi.
David Guetta tidak menanggapi keluhan rekannya itu. Dia mendengus dingin sembari berjalan ke menara kayu setinggi Sepuluh meter di gerbang masuk Desa Adonara. Dari Menara itulah mereka memantau peternakan dan juga menjadi markas mereka.
Di dalam Desa Adonara, Pria tua yang merupakan Kepala Desa langsung menyambut hangat rombongan Helen Flanagan.
Tidak ada jejak darah atau tanda kekerasan di kandang ternak mereka. Namun, ada jejak kaki yang besar di pinggiran hutan serta beberapa penduduk yang berburu di hutan mengatakan mereka mendengar suara Orc di sana.
Para pemburu itu tidak berani mendekati sumber suara itu karena takut bila itu benar-benar Orc dan menyerang mereka.
Petualang yang menjaga peternakan mereka juga hanya berpatroli sampai pinggiran hutan dan tidak berani masuk ke dalam, kemudian Petualang itu mengatakan akan meminta bantuan kepada Guild untuk segera mengirim Petualang Rank tinggi untuk memastikan apakah kehilangan ternak itu ulah Orc.
Setelah mendengar penjelasan dari Adar, Helen Flanagan semakin geram dengan David Guetta dan rekan satu Party-nya. Saking kesalnya, Helen sampai hendak memukul mereka—untung saja rekan satu Party-nya langsung menghentikan tindakannya itu.
Karena mereka tiba saat sore hari di Desa Adonara, Helen Flanagan memutuskan akan memasuki hutan besok saja.
Adar mempersilahkan Helen Flanagan tinggal di rumahnya, tetapi karena jumlah kamar kosong di rumahnya hanya dua saja, Petualang lain menginap di rumah warga Desa lainnya.
__ADS_1
Netla Durand dan Larissa Blackwood menginap di rumah Peternak terkaya di Desa itu. Anak gadisnya yang masih lajang langsung menghampiri Netla Durand dan mengatakan ia tertarik mendengar cerita tentang Petualangan.
Netla Durand hendak menolak tawaran gadis itu karena ia ingin tetap bersama Pitung. Namun, Ayah gadis itu berbisik pada Pitung agar menyuruh Netla Durand dan Larissa Blackwood menginap dengan Putrinya, dia berjanji akan memberikan Pitung Kepingan emas seharga Dua Sapi.
Tanpa berbasa-basi, Pitung langsung menjabat tangan ayah gadis itu tanda setuju dan dia kemudian menyarankan agar Netla Durand dan Larissa Blackwood menginap di rumah gadis muda itu.
“Hei, Pak tua... kau jangan berpura-pura pikun, mana uangnya?” bisik Pitung pada Pria tua, Ayah dari gadis muda itu setelah gadis muda itu membawa Netla Durand dan Larissa pergi.
“Jangan khawatir, asalkan Putriku bahagia aku akan melakukan apa saja!” sahut Pria tua itu menyerahkan Kantung Kain berisi Kepingan emas.
“Perkataanmu itu seperti Putrimu berumur pendek saja!” selidik Pitung penasaran kenapa ia sangat memanjakan Putrinya.
Pria tua mengerutkan keningnya dan berkata, “Hah? Sebagai orangtuanya tentu sudah sewajarnya kita memanjakan anak kita!”
Pria tua itu segera pergi, dia tampak kesal mendengar ucapan Pitung.
Pitung tersenyum masam. “Dasar tua bangka pemarah! Aku hanya bertanya karena penasaran saja, eh... dia malah kesal!” gerutunya dan tiba-tiba tangan kecil mencengkram ibu jari tangannya, sontak saja ia langsung menoleh ke bawah. “Eh, gadis cantik... ada apa? Onii-Chan (Kakak Laki-laki) akan membantumu,” sapanya dengan senyum hangat.
Dalam benaknya, Pitung sangat ingin mencubit pipi mungil gadis kecil berusia Tujuh Tahun yang berpakaian lusuh itu.
“Maukah Kakak menginap di rumahku?” sahut gadis kecil itu.
Namun, semua warga Desa Adonara yang masih ada di sana langsung terkejut mendengarnya, mereka seperti tidak percaya gadis kecil itu berani mengajak seseorang Petualang Rank S menginap di rumahnya padahal Pitung sudah disarankan oleh Kepala Desa menginap di rumahnya bersama Helen Flanagan dan Petualang dengan Level tinggi lainnya.
...***...
(Bab selanjutnya, Sore nanti, ya😁😁😁😁 Oh, ya... Pitung bukan lagi Rank C karena Levelnya sudah 75. Kini Ranknya Rank S, penjelasannya di bab saat ia masuk Guild Meteor)
__ADS_1