
“Ayo kita mendekat ke arah Elf itu!” Pitung memutuskan akan mendekati Rialinin Eldervein dan menolongnya saat para Elf mengalahkannya.
Netla Durand dan Larissa Blackwood mengangguk setuju, kemudian ketiganya melesat ke arah Rialinin Eldervein.
“Komet?” Pitung terkejut melihat anak panah raksasa dengan ekor dipenuhi kobaran Api melesat ke arah Rialinin Eldervein. “Gawat! Rialinin tidak akan mampu bertahan dari serangan itu.” Karena anak panah itu mengandung energi Sihir yang jauh melampaui kekuatan Sihirnya.
“Pahlawan Nistenia!” Netla Durand mengerutkan keningnya menatap ke arah Lima Pahlawan yang sedang terbang ke arah Rialinin Eldervein.
Pitung akhirnya mengerti kenapa misi dari Demon King System berubah menjadi misi Utama, ternyata para Pahlawan Nistenia juga berada di Pulau Hazel.
Namun, Pitung bingung kenapa mereka bisa tahu kalau dirinya akan datang ke Pulau Hazel padahal kabarnya para Pahlawan itu sedang bertarung melawan Pasukan Iblis yang mencoba mengambil alih Kota Trivoni.
“Apakah penyamaran kami telah terendus oleh intelijen Kuil Cahaya?” Hanya ini satu-satunya yang terlintas dibenak Pitung.
Tentakel-Tentakel yang membentuk Perisai di depan Rialinin Eldervein hancur berkeping-keping dihantam anak panah yang terlihat seperti Komet tersebut dan Rialinin terhempas sejauh dua ratus langkah.
Rialinin bangkit kembali, dia berteriak histeris dan Tentakel-Tentakel yang sangat banyak keluar dari punggungnya.
“Masih mau melawan?” Bernard Starlight melempar Tombaknya ke arah Rialinin Eldervein yang terlihat sangat marah setelah dihantam oleh serangan Panah Brigitte Mill.
Tentakel-Tentakel Rialinin Eldervein hancur berkeping-keping dihantam oleh Tombak Bernard Starlight.
Rialinin tidak akan sanggup menghentikan laju Tombak itu dan dia dipastikan akan dihantam oleh Tombak itu.
Martin yang selamat dari kejaran Rialinin Eldervein tersenyum lebar. Dia merasa lega setelah hampir berada diujung tanduk, untung saja para Pahlawan Nistenia datang tepat waktu walaupun sahabatnya Sarah tidak seberuntung dirinya karena Sarah tewas ditangan Rialinin.
Kelelawar kecil tiba-tiba muncul di depan Rialinin Eldervein, sesaat kemudian sebuah lingkaran Sihir juga muncul.
“Iblis?”
__ADS_1
Para Pahlawan terkejut dengan kemunculan lingkaran Sihir itu.
“Jangan biarkan Iblis membawa Elf itu!” seru Graham Briars menghunus pedangnya, kemudian ia melesat ke arah Hehus yang sedang merapalkan mantera Sihir.
Dari lingkaran Sihir itu berhamburan mahkluk aneh berbentuk Lintah dengan sayap Kelelawar yang langsung menabrak Tombak milik Bernard Starlight.
Kelelawar kecil dihadapan Rialinin Eldervein berubah wujud menjadi Iblis berpenampilan seperti Penyihir. Sudut bibirnya memancarkan seringai tipis menatap Rialinin dan dia menjulurkan tangannya.
“Gadis muda... ikutlah denganku,” kata Hehus sembari menggunakan Sihir Pesona agar Rialinin Eldervein menerima uluran tangannya. “Elf tidak membutuhkanmu lagi, hanya kami para Iblis yang akan menerimamu apa adanya,” rayunya lagi.
Tentakel-Tentakel yang membentuk Perisai didepan Rialinin Eldervein langsung mengerucut dan memberikan ruang agar Rialinin Eldervein dapat melihat siapa yang telah mengulurkan tangan padanya.
Sudut bibir Rialinin Eldervein memancarkan senyuman tipis dan tangannya juga terulur ke arah tangan Hehus.
Alease Cougar menjadi panik, kalau Rialinin Eldervein dibawa oleh Pasukan Iblis maka dia akan menjadi ancaman besar bagi Bangsa Elf di masa depan setelah Levelnya mencapai Level 100, mungkin dirinya dan Ratu Elf akan kesulitan menghentikan serangannya yang sangat mengerikan tersebut.
“Sial!” gerutu Hehus kesal dengan serangan Brigitte Mill itu—padahal ia hampir berhasil meraih tangan Rialinin Eldervein, kemudian ia akan melarikan diri ke Lingkaran Sihir Teleportasi maka Pahlawan Nistenia tidak akan dapat mengejarnya lagi. “Kalian hadang mereka!” serunya pada Pasukan Iblis yang berada di permukaan tanah.
Ur termasuk diantara Pasukan Iblis itu. Dia mengerutkan keningnya karena tidak mungkin bagi mereka dapat melawan Pahlawan Nistenia yang telah mencapai Level 100 sementara Level mereka sangat rendah.
“Serahkan saja Pion-Pion ini padaku!” kata Bjoglon Redhammer, Kurcaci yang berspesialisasi Skill pertahanan.
Bjoglon Redhammer menyeringai lebar menatap Pasukan Iblis. Tangan kirinya menggenggam Perisai sedangkan tangan kanannya menggenggam Palu besar.
Walaupun tubuhnya pendek, Bjoglon Redhammer bergerak sangat lincah. Satu persatu persatu Kepala Iblis dihantam Palu besarnya sehingga Kepala Iblis tersebut hancur berkeping-keping.
Graham Briars dan Bernard Starlight mengepung Hehus, sementara itu Alease Cougar telah selesai merapalkan mantera Sihir Pemanggilan dan Naga Undead Raksasa tiba-tiba muncul di langit.
“Kau tidak akan bisa melarikan diri lagi, Hehus!” cibir Graham Briars.
__ADS_1
Dia telah melihat Hehus di Medan Perang disaat Raja Iblis Zagralaas berhasil mereka lukai. Saat itu Raja Iblis Eblirt dan sebagian besar Jenderal Iblis tidak membantunya sehingga Zagralaas pun tidak sanggup menghadapi serangan gabungan Pahlawan Nistenia dan Kesatria Sihir Kuil Cahaya.
Hehus tetap terlihat tenang walaupun makhluk panggilannya dihancurkan oleh Kedua Pahlawan itu.
“Kalian masih terlalu muda untuk dapat menaklukkan diriku,” ejek Hehus menyeringai lebar. “Sebaiknya kalian memperbanyak latihan dulu barulah mendatangiku lagi.”
Graham Briars mengerutkan keningnya mendengar ejekan Hehus. Dia memang tidak mengenali cara bertarung Hehus karena di medan Perang yang dulu, Hehus hanya melakukan serangan jarak jauh saja.
“Cih, kau cuma bisa membual saja!” cibir Bernard Starlight menatap jijik salah satu Jenderal Iblis tersebut. Dia menusukkan Tombaknya ke arah dada Hehus, tetapi tiba-tiba Hehus berubah menjadi Kelelawar kecil sehingga Tombak Bernard Starlight gagal melukainya.
“He-he-he... dasar bocah bodoh!” ejek Hehus segera terbang menjauh dari sana.
Graham Briars mengayunkan pedangnya untuk menghadang Hehus yang mencoba melarikan diri. Namun, tebasannya juga gagal mengenai Hehus yang mengecil sebesar nyamuk.
“Lebih baik kalian menaklukkan Elf Monster itu dan satu lagi... Zagralaas ada di Pulau Hazel,” kata Hehus sembari menghindari semburan Api dari Naga Undead Alease Cougar.
“Zagralaas di sini?” Graham Briars terkejut mendengarnya dan dia melihat ada Tiga Manusia yang mendekat ke arah mereka. “Mungkinkah mereka?” gumamnya menduga-duga, karena informasi dari Kota Trivoni; mantan Raja Iblis itu bersama Pelayan Naganya membawa pergi Penyihir Kegelapan yang hendak dieksekusi mati oleh Kuil Cahaya.
“Martinnnnnnnnnnnnn!”
Tiba-tiba Rialinin Eldervein berteriak keras, permukaan tanah bergetar hebat dan terbelah; Tentakel-Tentakel yang tak terhitung jumlahnya melesat ke arah Martin yang mengira dirinya telah selamat karena ada Pahlawan Nistenia di dekatnya.
“Oh, tidak!” seru Graham Briars tidak menyangka akan kecolongan karena terlalu fokus mencari keberadaan mantan Raja Iblis Zagralaas sehingga ia melupakan keberadaan Rialinin Eldervein.
Graham Briars menebas Tentakel di depannya, tetapi itu belum cukup untuk menyelamatkan Martin yang telah dililit oleh Tentakel-Tentakel Rialinin Eldervein.
Martin menjerit histeris, salah satu Tentakel menembus dadanya dan Tentakel lain masuk melalui matanya yang tembus di bagian belakang kepalanya.
Naga Undead Alease Cougar mencengkram tubuh Rialinin Eldervein dan menghentikan aliran Mana-nya sehingga ia tidak dapat lagi menggunakan Skill barunya itu.
__ADS_1