Demon King System

Demon King System
Kemarahan Rialinin Eldervein


__ADS_3

Ketiga Elf itu mati dengan mata terbelalak karena tidak menyangka akan diserang oleh sesama Elf.


Rialinin Eldervein langsung pergi setelah membunuh mereka, Tentakel yang keluar dari punggungnya segera mengecil dan akhirnya menghilang saat kembali ke punggungnya.


Yang ada dipikiran Rialinin Eldervein kini hanyalah dirinya harus membunuh Martin dan Sarah yang telah mengakibatkan penderitaan pada dirinya.


Dia pun berjalan ke Akademi Sihir Pohon Dunia, Skill barunya kembali membuat orang lain tidak menyadari keberadaannya.


Di Pelabuhan Pulau Hazel, Pitung telah turun dari Kapal dengan senyum cerah. Dia sangat kagum dengan Pulau Hazel karena hanya ada satu Pohon yang tumbuh di sana dan itu adalah Pohon Dunia yang tingginya mencapai awan.


“Para Elf sangat cantik-cantik dan tampan,” gumam Pitung memperhatikan para Elf yang lalu-lalang di Pelabuhan.


“Tuan... apakah kalian ingin menuju Pohon Dunia?” tanya Pria Elf tua tersenyum hangat. “Pulau Hazel melarang siapapun terbang dan berlari dengan cepat menggunakan Sihir. Kalau tuan berjalan kaki ke Pohon Dunia maka itu membutuhkan waktu Tiga Jam walaupun kelihatannya Pohon Dunia itu sangat dekat.”


“Tuan cukup membayar 15 Keping Emas saja untuk Tiga orang.”


“Itu sudah sangat murah dan kudaku ini berlari sangat cepat, berbeda dengan kuda yang lain!”


“Bagaimana?”

__ADS_1


Pitung mengerutkan keningnya, Elf tua ini berbicara sangat cepat tanpa membiarkan dirinya menyela. Belum lagi ia menawarkan ongkos yang sangat mahal, hal ini membuat Pitung teringat dengan harga-harga yang sangat mahal di tempat wisata di beberapa daerah di Indonesia; satu gelas air mineral kemasan harganya Dua Ribu, padahal ditempat lain harganya cuma Lima ratus Rupiah saja.


“Bisa tur—”


“Itu sudah harga diskon dan tidak bisa turun lagi,” sela Elf tua itu tanpa membiarkan Pitung selesai berbicara.


Pitung menggertak kan giginya, kesal dengan sikap Elf tua yang tersenyum lebar di hadapannya itu. Kalau dirinya adalah Zagralaas yang asli, maka Elf tua ini sudah dipastikan akan menjadi debu karena Zagralaas yang asli itu sangat mudah tersinggung.


“Baiklah! Kami akan naik kereta kudamu!” sahut Pitung masih dengan ekspresi wajah masam. “Kalau tidak ada misi merekrut Rialinin Eldervein maka aku akan memilih berjalan kaki saja,” gerutunya dalam hati sembari naik lebih dulu ke gerbong kereta kuda.


Netla Durand dan Larissa Blackwood tersenyum melihat ekspresi kesal Pitung. Keduanya juga naik ke dalam kereta kuda dan tiba-tiba Sherly juga masuk ke dalam gerbong kereta kuda, kemudian Ur dan Ir menyusulnya.


“Eh, kenapa mereka masuk juga? Berarti bayarannya lebih murah, ya? Karena Lima Belas Keping Emas akan dibagi Enam Penumpang!” kata Pitung dengan senyum cerah.


“Kau serakah sekali Pak tua!” gerutu Pitung, “sebaiknya banyak-banyak bersedekah! Hartamu itu tidak akan dibawa mati!” cibirnya sembari menyerahkan Lima Belas Keping Emas ongkos untuk dirinya, Netla Durand dan Larissa Blackwood.


Elf tua itu mengerutkan keningnya. “Baru kali ini aku menemui wisatawan Manusia yang pelit sepertimu! Jangan-jangan kau berwisata dengan modal dengkul saja?” Dia mencibir Pitung.


Sherly tersenyum mendengar perdebatan mereka. Dia segera menyerahkan Lima Keping Emas ongkosnya dan Ur juga menyusul dengan menyerahkan Sepuluh Keping Emas untuk ongkos dirinya dan Ir.

__ADS_1


Sherly keheranan Dua Iblis berwisata ke Pulau Hazel, biasanya tidak ada Iblis yang berani mendekati Pulau Hazel. Dia tidak bertanya apa tujuan mereka ke Pulau Hazel karena identitas mereka pasti sudah diperiksa oleh kru Kapal, dia yakin mereka adalah warga Kota Ella. Namun, tetap aneh rasanya Iblis berwisata ke Pulau Hazel.


...***...


Ribuan Elf telah berkumpul di halaman Akademi Sihir Pohon Dunia. Mereka ingin menyaksikan eksekusi mati Rialinin Eldervein yang telah mencuri dan memakan Buah Pohon Dunia.


Sarah tersenyum lebar dan tidak sabar melihat sosok yang menjadi saingannya mendapatkan cinta Martin akan dieksekusi mati. Sementara Martin masih berwajah masam karena kesal Rialinin Eldervein memakan Buah Pohon Dunia yang seharusnya menjadi miliknya itu.


“Kenapa mereka belum membawa Rialinin?” Martin keheranan para Kesatria Sihir Elf belum juga muncul di halaman Akademi Sihir Pohon Dunia padahal Jam besar di dinding Akademi Sihir Pohon Dunia sudah menunjukkan Pukul Dua Belas Tengah Hari. Ratu Elf dan para tetua Elf juga sudah duduk di kursi khusus dengan para petinggi Akademi Sihir Pohon Dunia.


Tak lama berselang, Dua Kesatria Sihir membawa Elf yang wajahnya ditutupi topeng.


“Dia tidak terlihat seperti Rialinin!” seru Sarah yang sangat mengenal bentuk tubuh sahabatnya itu. Elf yang dibawa Kesatria Sihir itu terlihat lebih tinggi dari Rialinin Eldervein.


Martin mengerutkan keningnya dan merasa dugaan Sarah itu benar. Elf yang dibawa Kesatria Sihir itu seperti bukan Rialinin Eldervein.


“Ayo kita ke penjara bawah tanah untuk memastikan apakah mereka mengeksekusi Rialinin atau malah menukar dengan tahanan lain!” seru Sarah takut Keluarga Bangsawan Eldervein membujuk Ratu Elf agar Rialinin Eldervein tidak dihukum mati.


“Baik, ayo ke sana!” sahut Martin segera berlari menuju penjara bawah tanah.

__ADS_1


Proses eksekusi mati Rialinin Eldervein masih sangat lama dilakukan karena Ratu Elf dan Kepala Akademi Sihir Pohon Dunia lebih dulu mengklarifikasi apa yang terjadi pada Rialinin Eldervein.


Jarak Akademi Sihir Pohon Dunia dengan Penjara Bawah tanah tidak terlalu jauh sehingga saat ia kembali lagi, proses eksekusi mati Rialinin Eldervein belum dimulai dan dia masih bisa menyaksikan proses eksekusi mati tersebut.


__ADS_2