
Pitung bangun tidur saat ayam jantan berkokok. Dia langsung membangunkan Netla Durand dan Larissa Blackwood karena tidak ingin ketinggalan Kapal yang berlayar ke Pulau Hazel.
Menurut Pemilik Penginapan hanya ada satu saja Kapal yang berlayar ke Pulau Hazel setiap harinya dan Kapal itu akan berlayar Pukul Tujuh Pagi, makanya Pitung bangun tidur pagi-pagi sekali.
Pitung, Netla Durand, dan Larissa Blackwood berbaris rapi di antrian panjang penumpang yang juga ingin menuju Pulau Hazel.
Kebanyakan Penumpang itu adalah Elf serta belasan Manusia dan Dua Ras Iblis yang ikut mengantri di belakang Pitung.
Netla Durand merasa Dua Iblis itu sangat mencurigakan karena mereka juga menginap di penginapan yang sama dengan mereka. “Tuan Zagralaas... aku curiga kedua Iblis ini adalah mata-mata yang mengintai kita,” bisiknya.
Pitung menoleh ke belakang dan Dua Iblis itu menyadari kalau mereka sudah dicurigai oleh Pitung.
Iblis yang mengenakan penutup wajah segera melepaskan penutup wajahnya, terlihatlah wajah yang dipenuhi bekas luka sabetan pedang.
Pitung menduga dulunya Iblis ini pasti Kesatria Sihir di Pasukan Iblis.
“Hai, Kami adalah Iblis warga Kota Ella dan... Kami akan berlibur ke Pulau Hazel. Oh, ya... namaku Ur dan sahabatku ini bernama Ir,” sapa Ur tersenyum lebar sembari mengulurkan tangan pada Pitung.
“Umm... senang berkenalan dengan kalian, Aku Zagralaas!” sahut Pitung segera berjabat tangan dengan Ur.
Setelah berkenalan dengan Ur, Pitung segera menghadap ke depan karena harus bergerak lagi sebab para penumpang dipersilahkan masuk ke dalam Kapal.
Pitung sangat takjub dengan bentuk Kapal yang mirip dengan Kapal Layar abad pertengahan di film-film Hollywood. Namun, bedanya Kapal Layar ini digerakkan oleh Penyihir berelemen Angin sehingga Kapal dapat berlayar dengan cepat.
__ADS_1
“Apakah kalian pernah naik Kapal sebelumnya?” tanya Pitung pada Netla Durand dan Larissa Blackwood.
“Ini pertama kalinya aku naik Kapal karena biasanya aku selalu terbang bila melakukan perjalanan,” sahut Netla Durand dan Larissa Blackwood hanya menggelengkan kepala tanda ia juga belum pernah naik Kapal.
Terompet berbunyi sangat keras sebagai pengingat kalau kapal akan segera berlayar. Penumpang yang masih berada di dermaga segera berlari agar tidak tertinggal karena hanya Kapal ini satu-satunya yang akan berlayar ke Pulau Hazel.
“Kenapa senior Serly pulang ke Pulau Hazel? Bukankah liburan sekolah masih sangat lama?” Elf muda bertanya pada Elf berpenampilan paruh baya yang merupakan Guru di Akademi Sihir Kota Ella tersebut.
Serly menghela napas panjang dan menjawab, “Salah satu murid Akademi Sihir Pohon Dunia telah mencuri dan memakan buah Pohon Dunia yang hampir matang.” Dia tampak kecewa mengatakannya. “Dan kabarnya dia berasal dari Keluarga Elderveinku. Perbuatannya itu sungguh memalukan dan aku ingin melihat dia dieksekusi mati serta menyatakan pada Ratu Elf bahwa Keluarga Eldervein tidak terlibat dengan ulahnya itu!”
“Apaaaa?” Elf muda itu terkejut mendengarnya. “Pantas saja banyak Elf yang pulang kampung,” katanya lagi.
Pitung yang diam-diam mendengarkan percakapan mereka dan langsung menebak kalau Elf itu mungkin Rialinin Eldervein; gadis Elf yang harus ia rekrut.
Awalnya Pitung sangat senang telah mengetahui target misinya. Namun, ia akhirnya kebingungan bagaimana cara menyelamatkan Rialinin Eldervein yang akan dihukum mati oleh Bangsa Elf.
“Sistem... apakah kau ingin membunuhku karena merasa aku Pemain yang tidak hebat?” cibir Pitung pada Demon King System yang memberinya misi yang sangat sulit atau dalam Game mungkin ini masuk kategori SSS atau Last Game melawan Bos Monster.
Suasana hening, Demon King System tidak menanggapi ocehan Pitung sehingga Pitung menggertak kan giginya bertambah kesal dengan sikap Demon King System itu.
Pitung menarik napas dalam-dalam. “Baiklah... aku akan menghadiri eksekusi mati Elf itu. Bila kurasa tidak mungkin menyelamatkannya maka aku tidak akan menyelesaikan misi ini dan pasrah Levelku direset kembali ke Level minus Lima,” pikirnya.
Rombongan Haherith yang baru sampai di Kota Ella langsung terkejut saat mendapat laporan dari Iblis lain bahwa mantan Raja Iblis Zagralaas telah berlayar ke Pulau Hazel.
__ADS_1
“Bagaimana Hehus? Apakah kita akan menyusulnya ke Pulau Hazel?” Haherith bertanya pada Hehus karena ia tidak yakin mereka dapat membuat kerusuhan di Pulau Hazel mengingat ada Ratu Elf di sana.
Tidak ada yang mengetahui seberapa kuat Ratu Elf itu. Dia tidak pernah meninggalkan Pulau Hazel lebih dari Seribu Tahun sehingga dia tidak pernah ikut dalam Perang apapun. Namun, kabarnya ia pernah menjadi anggota Party Pahlawan yang berhasil membunuh Raja Iblis dan hampir melenyapkan Ras Iblis, tetapi saat di penghujung Perang tiba-tiba ia memutuskan keluar dari Party Pahlawan untuk menjadi Ratu Elf.
Setelah Ratu Elf keluar dari medan Perang, Raja Iblis yang baru tiba-tiba muncul yang mengusir Party Pahlawan dari wilayah Iblis.
Hehus tidak langsung menjawab pertanyaan Haherith. Dia menutup matanya dan melakukan Sihir Ramalan. Keningnya berkerut karena terjadi tumpang tindih dalam ramalan itu, sangat banyak kemungkinan yang akan terjadi.
Setelah merenung cukup lama Haherith berkata, “Kita akan ke Pulau Hazel. Namun, sebelum berangkat kita harus membawa lebih banyak Iblis berlevel tinggi yang akan menemani perjalanan kita.”
Haherith sempat ragu dengan jawaban Hehus karena bila mereka berangkat dengan rombongan besar maka itu akan membuat para Elf menganggap mereka akan menginvasi Pulau Hazel. Namun, pada akhirnya Haherith tetap menyetujui saran Hehus karena ia yakin Hehus pasti sudah meramalkan kemungkinan yang akan terjadi di Pulau Hazel nanti.
Haherith menatap Iblis Goblin di sebelahnya. “Cari sebanyak-banyaknya Iblis yang ada di Kota Ella dan suruh mereka menuju Selatan Kota. Kita akan berangkat tengah hari nanti!”
Walaupun tidak lagi ada Kapal yang berangkat ke Pulau Hazel. Mereka tetap dapat pergi ke sana menggunakan Sihir Teleportasi, karena Ur pasti akan mencari tempat terpencil di Pulau Hazel dan membuat lingkaran Sihir Teleportasi di sana.
“Satu lagi, bergerak secara terpisah agar Lord Kota Ella tidak menyadari pergerakan kita!” seru Haherith pada Goblin itu.
“Baik tuanku!” sahut Goblin yang berspesialisasi Skill Assassin tersebut sehingga setiap pergerakannya sangat sulit dilacak oleh lawan.
Rombongan Haherith segera menuju Selatan Kota Ella karena mereka juga harus membuat lingkaran Sihir Teleportasi agar bisa menuju Pulau Hazel dengan cepat.
Bawahan Haherith menculik beberapa penduduk untuk ditumbalkan dalam pembuatan lingkaran Sihir Teleportasi yang menggunakan darah makhluk hidup tersebut.
__ADS_1
Disaat bersamaan Beast Elang Putih melintas di langit Kota Ella. Lima anggota Party Pahlawan menunggangi Beast tersebut dan Beast itu terbang ke arah Pulau Hazel.
Sudut bibir Hehus memancarkan seringai tipis. “Pantas saja banyak kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi, ternyata Party Pahlawan juga menyadari keberadaan Zagralaas,” pikirnya.