Demon King System

Demon King System
Bakat Sihir Memukau Salsa


__ADS_3

“Karena Paman Donovan sedang mencari ikan di sungai, bagaimana kalau kita jalan-jalan ke Desa? Kamu boleh membeli apapun dan aku yang akan membelinya!” ajak Pitung sembari membeli bahan baku makanan untuk keluarga Donovan, saat melirik sudut ruangan di rumahnya tadi—ia melihat gandum milik mereka tinggal sedikit saja dan itu seharusnya hanya cukup untuk Satu orang saja.


Pitung tidak ingin nanti, Donovan dan Isabel berpura-pura sudah kenyang kemudian hanya menyuruh dirinya dan Salsa saja yang makan sementara mereka hanya menahan lapar hingga mendapatkan upah saat bekerja besok.


“Apa saja?” Salsa sangat senang mendengarnya dan segera menatap ibunya untuk meminta ijin apakah boleh ikut dengan Petualang baik hati ini.


Isabel tampak ragu mengijinkan Salsa pergi dengan orang asing ini, tetapi ia juga takut kalau Pitung akan tersinggung bila ia melarang Salsa pergi.


“Pergilah... tetapi jangan merepotkan Kakak Petualang, ya... dan jangan beli barang-barang mahal!” seru Isabel tersenyum hangat menatap Putrinya itu.


“Yeay... ayo Kakak Petualang!” Salsa langsung menggenggam tangan Pitung. “Bolehkan aku membeli Boneka Beruang besar dan gaun indah seperti milik Cinderella, ayah pasti akan terkejut bila aku tiba-tiba berubah menjadi cantik!”


Pitung tersenyum lebar mendengar ucapan Salsa yang sangat bersemangat itu, sepertinya ia tidak terpuruk walaupun keluarganya sangat miskin atau mungkin makan hanya seadanya saja.


“Ayo cepat Kakak Petualang, sebentar lagi akan malam! Kata Ayah, diluar ini sangat menyeramkan saat malam hari makanya semua orang mengurung diri di dalam rumah!” Salsa berlari menarik tangan Pitung yang langsung mempercepat langkahnya.


Saat mereka memasuki gerbang Desa Adonara, hanya satu Petualang saja yang berjaga di atas Menara Kayu.


Pitung melambaikan tangan menyapa Petualang itu dan berkata, “Sendirian saja saja Paman? Ke mana tuan David?”


Petualang yang berjaga di Menara Kayu itu langsung menoleh ke arah sumber suara itu dan terkejut ternyata yang menyapanya adalah Petualang Rank S, dia segera turun tetapi Pitung mengatakan agar tidak perlu turun karena dia hanya ingin berbelanja ke dalam Desa.


Petualang itu tersenyum. “Ketua David berpatroli, mungkin akan lama baru kembali karena ia ingin menonton Donovan yang sedang menangkap ikan di sungai.”


“Oh begitu, syukur lah dia menemani Paman Donovan, aku khawatir juga ia pergi menjelang malam begini!” sahut Pitung lega ada Petualang yang menemaninya.


Tempat pertama yang Pitung dan Salsa tuju adalah Toko Pakaian terbesar di Desa Adonara.


Pemilik toko langsung menyambut mereka dengan senyuman hangat. “Tuan Petualang ingin membeli pakaian seperti apa?” sapanya.


“Tolong berikan gadis cantik ini gaun paling bagus!” sahut Pitung tersenyum hangat menatap Salsa yang malah bersembunyi di belakangnya.

__ADS_1


Pemilik toko melirik Salsa sembari tersenyum manis dan mengulurkan tangannya, “Ayo gadis cantik ikut bibi mencarikan gaun yang cocok untukmu!”


Salsa tampak ragu, Pitung menganggukkan kepala tanda agar Salsa mengikuti Pemilik toko itu. Karena Pitung menyuruhnya mengikuti Pemilik toko itu, Salsa segera menggenggam tangan Pemilik toko itu dan berjalan ke dalam Toko.


Beberapa gadis muda mengerumuni Pitung, mereka sepertinya tidak menyangka akan bertemu dengan Petualang Rank S di toko pakaian itu.


Pitung tersenyum hangat menyapa mereka dan dia sudah merasa seperti Pria paling tampan di Dunia, kalau di Jakarta dulu; boro-boro jadi rebutan gadis-gadis, ada yang tersenyum kearahnya saja sudah merupakan keajaiban dunia.


“Kakak Petualang... apakah aku cantik?” Tiba-tiba Salsa keluar dari toko pakaian mengenakan gaun merah.


Pitung berpura-pura tercengang dengan mulut terbuka lebar. “Siapakah nona cantik ini?” sahutnya.


Salsa tertawa, senang mendengarnya dan berkata, “Aku Salsa... Kakak Petualang!”


“Aku tidak menyangka kamu akan secantik ini, pasti saat besar nanti kamu akan secantik rekan Kakak, Netla Durand yang berambut merah atau secantik Larissa Blackwood yang berambut pirang.” Pitung memuji kecantikan Salsa secara berlebihan agar dia senang.


Setelah itu mereka membeli Boneka Beruang besar, sembako dan makanan enak lainnya. Kemudian mereka menuju rumah Kepala Desa.


Dia yakin dengan bimbingan Keluarga Bangsawan Flanagan, Salsa akan menjadi Penyihir hebat walaupun tidak sehebat Juliana yang memiliki darah campuran Elf tersebut. Namun, untuk kategori Penyihir Manusia murni, maka bakatnya sudah dianggap luar biasa dan kemungkinan besar akan diterima di Akademi Sihir Kerajaan Kinearus.


Adar terkejut dengan kedatangan Pitung ke rumahnya, dia langsung memanggil Pelayan untuk mempersiapkan jamuan makan. Namun, Pitung segera menolaknya karena ia memilih makan masakan Isabel nanti malam.


Setelah mengetahui niat kedatangan Pitung, Adar segera memanggil Helen Flanagan yang beristirahat di kamar.


“Ada apa mencariku, Zagralaas?” Helen tersenyum menatap gadis kecil disebelah Pitung.


“Apakah Keluarga Bangsawan Flanagan menerima orang luar? Gadis kecil ini sebenarnya sudah dapat mengeluarkan Mana walaupun ia tidak menyadarinya,” sahut Pitung.


Helen Flanagan terkejut mendengarnya dan tidak menyangka anak yang tidak memiliki darah Bangsawan dapat mengeluarkan Mana padahal usianya baru Tujuh Tahun.


“Kamu tidak bercanda, kan? Orangtuanya bukan Kesatria Sihir atau Penyihir, bagaimana mungkin ia dapat mengeluarkan Mana?” Helen Flanagan meragukan ucapan Pitung.

__ADS_1


Pitung sudah menduga reaksi Helen Flanagan begitu. Dia kemudian menatap Salsa dan memintanya melakukan gerakan menebaskan Pedang menggunakan ranting kayu yang sudah ia simpan di Tas Sihirnya.


Karena ada banyak orang di rumah Kepala Desa, Salsa tampak gugup. Dia berjalan seperti Robot, saat kaki kanannya melangkah maka tangan kanannya ikut berayun.


Helen Flanagan yang awalnya sudah berekspresi serius ingin melihat Mana yang keluar dari tubuh Salsa langsung tertawa terkekeh-kekeh.


Pitung sendiri menepuk jidatnya sendiri karena tidak menyangka Salsa akan segugup itu dan takut dia tidak dapat mengeluarkan Mana seperti tadi. Kalau Salsa gagal mengeluarkan Mana, maka kesempatannya merubah takdirnya akan sulit terwujud di masa depan.


Bila Salsa terus tinggal di Desa Adonara, tentu tidak ada yang akan melatihnya dan dia akan berakhir menjadi gadis desa biasa saja.


“Tutup matamu, Salsa dan bayangkan di hadapanmu adalah Iblis yang mengerikan!” seru Pitung, “lalu kamu akan menebasnya dengan Pedang yang mengeluarkan cahaya!”


Salsa menutup matanya, kemudian membayangkan Iblis yang pernah muncul di Kotanya dulu. Detak jantungnya berdebar kencang, jejak kemarahan terlihat jelas dari raut wajahnya.


Pitung, Helen Flanagan dan yang lainnya terkejut dengan ekspresi wajah Salsa itu. Mimpi buruk seperti apa yang telah ia lewati sebelum keluarganya mengungsi ke Desa Adonara ini.


Cahaya menyilaukan menyelimuti ranting pohon.


“Bakat Penyihir yang menakjubkan!” Helen Flanagan terkejut.


“He-he-he... tentu saja, mataku tidak pernah salah melihat sesuatu yang menakjubkan!” sahut Pitung dengan bangga, seolah-olah Salsa seperti anggota keluarganya saja.


“Eh, jangan biarkan dia mengayunkan ranting pohon itu!” seru Helen Flanagan dengan panik melihat Salsa hendak menebas ke arah dinding rumah Kepala Desa.


Adar ingin menangis, takut rumahnya akan hancur berkeping-keping oleh bocah yang menumpang hidup di Desa Adonara itu.


Pria paruh baya tiba-tiba muncul di hadapan Salsa dan langsung menetralkan Mana di ranting pohon itu.


Pitung terkejut melihatnya, dia tidak menyadari ternyata ada Kesatria Sihir Level 90 bersama rombongan Helen Flanagan.


Kalau ia tidak mengaktifkan Skill Deeping Eyes, maka ia akan mengira Pria paruh baya itu memiliki Level 50 saja.

__ADS_1


“Dia mungkin adalah Kesatria Sihir yang khusus melindungi Helen Flanagan yang berarti... wanita ini adalah Putri dari Lord Alaric Flanagan,” pikir Pitung.


__ADS_2