
Pitung keheranan tak ada yang bersorak gembira setelah ia memamerkan kekuatan penuhnya.
Keadaan tiba-tiba hening, baik Beast maupun Iblis seperti tidak berani bernapas—hanya suara hembusan angin saja yang terdengar.
“Baiklah lanjutkan perjalanan!” seru Pitung tersenyum lebar untuk menghilangkan suasana canggung tersebut.
“Apakah Mana Iblis tuan Zagralaas tidak terkuras habis?” selidik Veela penasaran, karena Aura Pedang yang keluar dari bilah Pedang Hell Of Darkness itu seperti serangan bunuh diri saja.
“Tidak!” sahut Pitung. “Tadi itu baru menguras Satu Persen Mana Iblisku saja,” katanya lagi.
“Sa-satu persen!” Veela terkejut mendengarnya, begitu juga para Lord Iblis yang mendengarnya.
...***...
Sementara itu di Medan Perang Kota Trivoni dan sekitarnya, kedua kubu masih seimbang dan sudah puluhan Ribu Kesatria Sihir serta Penyihir yang tewas.
Pahlawan Nistenia dibantu oleh Kesatria Order melakukan perlawanan sengit terhadap Raja Iblis Eblirt dan Kelima Jenderalnya ditambah Naga Hitam serta para Lord Iblis yang mendukung Eblirt.
Sage Agung atau Pemimpin Suci Kuil Cahaya yang terus merapalkan mantera Sihir Berkah Dewi Cahaya tiba-tiba mengerutkan keningnya saat merasakan Mana Iblis yang sangat besar muncul di bagian Utara Kota Trivoni.
“Dia telah datang,” gumam Sage Agung. “Tembakkan Kembang Api agar Malaikat Damian datang menangkapnya.” Akhirnya ia menyadari kenapa Dewi Cahaya mengutus Malaikat ke Dunia Nistenia, ternyata kekuatan mantan Raja Iblis Zagralaas sudah melampaui para Pahlawan Nistenia.
Semua yang bertarung di medan Perang tiba-tiba berhenti bertarung setelah melihat kembang api yang sangat besar muncul di langit.
“Zagralaas sudah di sini?” Graham Briars mengerutkan keningnya. Melawan Raja Iblis Eblirt sudah sudah merepotkan apalagi ditambah melawan mantan Raja Iblis yang kabarnya hanya Malaikat saja yang mampu melawannya bila Levelnya kembali ke Level 100.
Graham Briars awalnya tidak percaya dengan informasi itu walaupun ia mengakui Zagralaas sangat kuat dan Zagralaas harus dikeroyok untuk dapat mengalahkannya. Namun, setelah ia melihat Malaikat Damian di Pulau Hazel, mau tak mau ia akhirnya mempercayai informasi itu.
“Kenapa Dia datang cepat sekali? Apakah Hast sudah dikalahkan?” gumam Raja Iblis Eblirt mengerutkan keningnya. Padahal Hast adalah Jenderal yang sangat kuat, seharusnya ia bisa menahan serangan Zagralaas selama beberapa Jam dan Eblirt akan datang membantu setelah mengalahkan Pahlawan Nistenia. Namun, ternyata rencana itu telah gagal total.
“Hentikan Perang ini!”
__ADS_1
Suara Pitung menggema di seluruh medan Perang.
Baik Iblis maupun pihak aliansi langsung ketakutan melihat ada lautan melayang di langit, Kapal-kapal Troll mengangkut Puluhan Ribu Iblis ditambah Beast yang tak terhitung jumlahnya.
“Aku tidak tertarik menguasai Dunia, tetapi aku ke sini untuk menantang Pahlawan Nistenia dan Raja Iblis Eblirt serta para Jenderalnya yang telah menjebakku setahun yang lalu. Mari kita bayar lunas pertarungan yang tertunda itu,” kata Pitung dengan suara lantang.
Semua kebingungan, baik itu pihak Aliansi maupun Pasukan Iblis.
Mereka tidak menyangka Zagralaas datang membawa Pasukan besar hanya untuk menghentikan Perang ini dan Dia ingin melanjutkan pertarungan melawan Pahlawan Nistenia dan Raja Iblis Eblirt yang hampir membunuhnya setahun yang lalu.
“Terima saja tantangannya, aku akan menyalurkan Mana milikku untuk membantu kalian. Malaikat Damian akan segera datang!” Suara Sage Agung menggema dibenak Pahlawan Nistenia.
“Kau ingin melawan kami semua?” cibir Raja Iblis Eblirt menyeringai jahat. “Apakah kamu ingin mengulang kembali peristiwa setahun yang lalu?” ejeknya.
“Tuan kami akan membantumu!” seru Larissa Blackwood.
“Ya, tentakelku pasti akan membuat mereka kewalahan!” Rialinin Eldervein berkata dengan penuh percaya diri karena sekarang Levelnya sudah mencapai Level 100.
Misi Utama dari Demon King System mengharuskannya mengalahkan Raja Iblis Eblirt dan Pahlawan Nistenia seorang diri. Kalau tidak ada aturan seperti itu, tentu ia dengan senang hati mau menerima uluran tangan mereka agar persentase kemenangannya semakin tinggi.
Pitung sengaja tidak mengerahkan Beast dan Binatang yang ia kendalikan karena ia yakin Malaikat yang muncul di Pulau Hazel pasti akan muncul lagi di sini. Mereka akan menjadi Kartu Trufnya ditambah satu Skill hadiah merekrut Carmelia.
Naga Hitam terlihat jengkel dengan sikap Pitung yang menghentikan pertarungan mereka melawan Pahlawan Nistenia.
Dia langsung mengepakkan sayapnya, badai tornado Api melesat ke arah Pitung yang memikul Pedang Hell Of Darkness dipundaknya.
Pitung menggunakan Skill Manipulasi Sihir. “Dewa Kegelapan Yang Mahakuasa Pemilik Segalanya Hamba-Mu Ini Meminjam Sihir Kegelapan: Black Hole!”
Tornado Api Naga Hitam langsung dilahap oleh Black Hole yang muncul didepan Pitung.
Sudut bibir Pitung memancarkan seringai tipis. “Untung saja Aku Wibu elit sehingga hapal banyak jenis Sihir Anime,” gumamnya. Apalagi Sistem memberikan Skill Manipulasi Sihir sehingga ia bebas berimajinasi.
__ADS_1
“Dewa Kegelapan Yang Mahakuasa Pemilik Segalanya Hamba-Mu Ini Meminjam Sihir Angin: Tornado!” Pitung mengembalikan Sihir Angin yang jauh lebih kuat ke arah Naga Hitam.
“Menjauh Naga Hitam!” seru Raja Iblis Eblirt sembari mengerutkan keningnya karena tidak menyangka Zagralaas kini dapat merapalkan Sihir yang tidak pernah ia gunakan.
Naga Hitam segera merapalkan mantera Sihir dan Gerbang Neraka muncul dihadapannya.
Namun, tiba-tiba Pitung telah muncul di depan Gerbang Neraka itu dan menebasnya; Gerbang Neraka terbelah dua sehingga langsung memudar serta lenyap begitu saja.
“Apa? Bagaimana mungkin Gerbang Neraka dapat dihancurkan?” Naga Hitam terkejut dan tidak dapat menghadang Tornado yang melesat ke arahnya.
“Kau tidak ikut dalam penyergapan waktu itu,” kata Pitung menatap dingin Naga Hitam yang berusaha keluar dari dalam Tornado, akan tetapi dia tidak bisa keluar dari dalam Tornado itu.
Eblirt menatap Graham Briars dan berkata, “Bagaimana kalau kita lupakan dulu pertikaian kita dan melawannya?”
Setelah melihat Naga Hitam dikalahkan dengan mudah oleh Zagralaas, rasa percaya diri Eblirt langsung menurun.
Graham Briars mengangguk setuju dan segera mengayunkan pedangnya. Aura Pedang menyilaukan melesat ke arah Pitung.
Pitung kembali memuncak Black Hole yang langsung melahap Aura Pedang itu.
Alease Cougar merapalkan Sihir Necromancer dan Naga Undead sebesar gunung melesat ke arah Pitung.
Pitung hanya menyeringai tipis, Dia tidak menghindar atau kabur. Dia justru mengayunkan Pedang Hell Of Darkness, membelah Naga Undead hingga hancur berkeping-keping.
Alease Cougar mengerutkan keningnya dan tidak menyangka Zagralaas semakin kuat saja. Kekuatannya ini jauh lebih kuat dari setahun yang lalu.
Pitung merapalkan Sihir Teleportasi dan berpindah-pindah tempat, Dia selalu muncul didepan Pahlawan Nistenia dan Jenderal Iblis.
Jenderal Iblis langsung terbunuh saat bilah Pedang Hell Of Darkness mengenai tubuh mereka, sedangkan para Pahlawan Nistenia hanya dilumpuhkan saja.
Pitung sengaja tidak membunuh para Pahlawan itu agar pihak aliansi nantinya mau berdamai dengan Kerajaan Iblis. Kalau mereka mati, maka Dewi Cahaya akan memunculkan kembali Pahlawan baru dan mereka pasti akan menyerang Raja Iblis lagi sehingga perdamaian di Dunia Nistenia tidak pernah terjadi.
__ADS_1