
Jean membawa Juliana keluar dari Labirin dibawah Kuil Cahaya tersebut, dia tidak menyangka yang menyelamatkan keponakannya itu ternyata mantan Raja Iblis Zagralaas.
Jean tidak mengerti apa tujuan mantan Raja Iblis itu menyelamatkan Juliana, tetapi dalam hatinya ia sangat bersyukur sekali karena nyawa keponakannya dapat terselamatkan.
“Tangkap dia! Jangan sampai melarikan diri!” seru Albert, Pemimpin Kesatria Sihir Kuil Cahaya Kota Senderos.
“Ini aku, Jean Graham! Aku menyelamatkan keponakanku yang diculik oleh Iblis!” sahut Jean, “tolol bawakan Penyihir Suci! Nyawa keponakanku sudah diujung tanduk!”
Air mata Jean membasahi wajahnya, dia sangat panik karena denyut nadi Juliana berdenyut sangat lambat.
“Bawa dia ke rumah Saint!” seru Albert, “dan kau tetap tinggal di sini dan ceritakan apa yang terjadi di dalam sana!” Dia mencegah Jean mengikuti Juliana ke rumah Saint dan hanya seorang Kesatria Sihir wanita yang membawa Juliana ke sana.
Jean menatap kepergian Juliana, kemudian ia menarik napas dalam-dalam menenangkan pikirannya. Dia menceritakan tentang ritual pembangkitan Naga Kuno pada Albert dan kemunculan Kesatria Sihir asing yang menyelamatkan Juliana.
Dia tidak menceritakan kalau Daendels Graham sebenarnya terlibat dalam kasus itu, dia juga merahasiakan identitas Pitung yang merupakan mantan Raja Iblis.
Albert menjadi tegang mendengar cerita Jean, dengan kekuatannya saat ini—tidak mungkin Kesatria Sihir Kuil Cahaya dapat mengalahkan Naga Kuno itu.
Satu-satunya cara mengatasi masalah ini adalah menunggu Kesatria Sihir Level 100 datang dari Kota Ella.
“Jean... tolong katakan pada Lord Daendels untuk mengevakuasi penduduk keluar dari Kota Senderos dan kami akan memasang barikade disekitar Kuil Cahaya agar tidak ada Petualang bodoh yang nekad masuk ke dalam!” seru Albert.
Jean menganggukkan kepala tanda setuju, dia segera berlari menuju Kastil Keluarga Graham untuk memobilisasi Kesatria Sihir Keluarga Graham mengevakuasi penduduk keluar dari Kota Senderos.
Kota Senderos kembali bergetar hebat, getarannya kali ini jauh lebih kuat dari yang sebelumnya.
Jean berdoa pada Dewi Cahaya agar dapat memberikan berkah pada mantan Raja Iblis Zagralaas supaya dapat mengalahkan Naga Kuno itu.
__ADS_1
...***...
“Tangkap mantan Raja Iblis itu Daendels!” seru Gral pada Daendels Graham yang hanya diam saja tidak menanggapi sindiran dari Pitung.
Gral bingung kenapa Daendels Graham masih diam mematung di hadapan Pitung, padahal ia sudah berniat menyelinap ke belakang Pitung saat ia sibuk bertarung melawan Daendels Graham nantinya.
“Cih, dasar budak tak berguna!” keluh Gral kesal dengan sikap Daendels Graham yang tidak menuruti perintahnya. “Sepertinya aku harus mengambil kembali apa yang telah kuberikan padamu dan Keluarga Graham akan kembali menjadi keluarga rendahan yang menggembala domba di pegunungan!” cibirnya lagi.
Gral merapal mantera sihir, sebuah lingkaran sihir muncul dihadapannya dan bola-bola api kemudian melesat ke arah Pitung.
“Sial!” gerutu Pitung karena Levelnya cuma Level 41, secara hukum Kausalitas maka Sihirnya akan kalah melawan Gral yang memiliki Level 75 tersebut.
Pitung menghunus Pedang Hell Of Darkness, Mana Elemen Kegelapan menyelimuti bilah Pedangnya.
Saat Pitung hendak mengayunkan Pedang Hell Of Darkness, tiba-tiba Daendels Graham menghunus pedangnya dan menghadang serangan Sihir Gral.
“Sudah cukup! Aku akan membunuhmu!” teriak Daendels Graham. “Kalau bukan gara-gara kau mengetahui identitas istriku maka aku tidak akan mau menjadi pelayanmu,” gerutunya.
“Pergilah Yang Mulia Zagralaas!” seru Daendels Graham pada Pitung di belakangnya.
Levelnya hanya Level 70 maka dia tidak akan mungkin menang melawan Gral. Namun, sebagai balas budi karena Pitung telah menolong Putrinya maka dirinya rela mati menghadang Gral.
“Mau kabur?”
Sudut bibir Gral memancarkan seringai tipis, serangan Sihir Apinya semakin besar membuat Daendels Graham terbakar.
Penguasa Kota Senderos itu menjerit kesakitan karena dia tidak dapat memadamkan api yang berkobar di seluruh tubuhnya.
__ADS_1
Untuk menghilangkan penderitaan Daendels Graham, Pitung menebas lehernya dan kepala Daendels Graham menggelinding ke hadapan Gral.
Gral menginjak kepala Daendels hingga hancur berkeping-keping sembari mencibir, “Dasar budak tak berguna!”
Setelah melakukan hal itu, Gral kembali menatap Pitung dengan senyuman mengejek.
“Ikutlah denganku bertemu Yang Mulia Raja Iblis Eblirt... aku yakin beliau tidak akan membunuhmu dan dia mungkin akan membantumu mengembalikan kekuatanmu yang telah hilang!” bujuk Gral tidak mau berlama-lama di dalam labirin itu.
Naga Kuno sepertinya sudah tidak lama lagi akan kalah melawan Salamander, bila Salamander itu menyerang dirinya maka Gral tentu akan hancur berkeping-keping seperti para Iblis bawahannya tadi.
“Aku yakin kau hendak mengulur waktu, tetapi itu percuma saja!” cibir Gral lagi sembari merapal mantera sihir. “Pilihanmu cuma dua, pertama ikut aku dengan patuh atau kau akan menderita seperti Daendels Graham!” ancamnya.
“Cobalah kalau kau berani melukai tuanku!”
Tiba-tiba dua suara wanita berseru secara bersama-sama, tatapan mata mereka sangat tajam dan keduanya langsung merapal mantera sihir.
Gral mengerutkan keningnya melihat Kedua wanita cantik itu.
“Gadis Naga dan Penyihir Kegelapan?” gumam Gral langsung panik, karena keduanya adalah Penyihir Level 90 yang tidak mungkin dapat ia lawan. “Cih, sepertinya aku melupakan kalian!” keluhnya sembari merapal mantera sihir Teleportasi dan tubuhnya pun melebur dalam ketiadaan.
Pitung sangat senang dengan kehadiran Netla Durand dan Larissa Blackwood, kalau saja dia anak kecil maka dirinya akan menangis dan memeluk keduanya karena datang disaat-saat kritis untuk menyelamatkan dirinya.
“Oh, ya, bagaimana kalian tahu aku ada di sini?” tanya Pitung penasaran karena dia tidak memberitahu mereka tentang penyelamatan Penyihir Juliana.
“Gempa bumi membangunkan tidur kami dan tidak lama kemudian terdengar raungan Naga,” sahut Netla Durand, “Aku langsung mengetuk pintu kamar tuan Zagralaas, tetapi tidak ada sahutan dari dalam, kemudian aku mendobraknya dan tidak melihatmu. Kami segera mencarimu ke penjuru kota dan kami melihat Kesatria Sihir Kuil Cahaya menjaga Kuil dengan ketat.”
“Kami langsung curiga tuan Zagralaas mungkin terlibat dengan raungan Naga itu dan menerobos masuk ke dalam Labirin ini!” sambung Larissa Blackwood tersenyum hangat. “Tapi setelah keluar dari sini, kita pasti akan mendapatkan masalah karena harus berurusan dengan Kuil Cahaya,” lanjutnya lagi.
__ADS_1
“Itu tidak masalah, kita langsung kabur lagi!” sahut Pitung sembari menoleh ke arah Salamander yang sedang bertarung melawan Naga Kuno. “Salamander itu adalah Beast yang kupanggil melalui Sihir Necromancer, kita harus membantunya karena waktu pemanggilannya hanya Tiga Puluh menit saja.”
Netla Durand dan Larissa Blackwood mengangguk setuju, keduanya langsung merapal mantera Sihir terkuat mereka.