
Namaku, Keysi. Aku punya saudari kembar bernama Keysa. Umur kita saat ini masih 7 tahun.
Kakakku Keysa, dia sedang asik main hujan-hujanan diluar, ketawa sambil lari-larian.
Aku hanya duduk dibalik jendela sambil membaca buku Anatomi Tubuh Manusia.
Sesekali, aku melihat kearah Keysa. Dia melambaikan tangan, mengajakku main dengannya.
Aku hanya diam dan memperhatikan dia, tanpa menjawab.
Ibu meninggal setelah melahirkan kita berdua.
Ayah selalu sibuk dikantornya dan tak ada waktu untuk kita.
Kita ditemani Bi Sri (pembantu Rumah Tangga) dan Mang Cipto (Supir) dirumah.
Mereka sesekali mengurusi kita layaknya anak mereka sendiri.
Mang Cipto dan Bi Sri adalah sepasang suami-istri yang sudah sedari dulu mengadbi dirumah ini.
Mereka berdua, tak dikaruniai keturunan. Karena, Bi Sri mandul.
"Non, sini Non. Mendekat sama Bibi! Non Keysa jangan hujan-hujanan, Nanti sakit."
"Ayok Bi, temani Keysa! Kita hujan-hujanan Bi!"
"Aduh Non, jangan tarik tangan Bibi!"
Mereka berdua malah asik hujan-hujanan. Tertawa .... sambil berlari, kejar-kejaran.
Sedangkan Mang Cipto, hanya memandangi mereka dari balik pintu sambil menyeruput kopi.
Mang Cipto tersenyum melihat keriangan mereka berdua.
Aku menutup buku dan melihat kearah Keysa dan Bi Sri.
Ingin sekali ikut bergabung. Tapi, sayang kondisiku tak seperti Keysa.
Aku mudah sakit dan tak berani main hujan-hujanan.
Aku hanya bisa tersenyum memandang mereka dari balik jendela.
Dinginnya hujan mulai masuk lewat ventilasi dan membuatku bersin.
Baru kena seperti ini saja badanku sudah mulai gak enak. Apalagi, kalau hujan-hujanan seperti Keysa?!
Aku melangkahkan kaki dari balik jendela menuju kamar.
Duduk diranjang sambil memakai selimut.
Aku pun melanjutkan membaca.
Keesokan hari ....
Yang hujan-hujanan Keysa. Tapi, aku yang sakit?!
Sampai, hari ini aku tak masuk sekolah.
Keysa ingin menemaniku, tapi Bi Sri menyuruhnya untuk berangkat sekolah.
Mang Cipto mengantar Keysa pergi ke sekolah.
Sedangkan Bi Sri, merawatku dirumah.
"Bi, buku Aku mana?"
"Non Keysi, istirahat saja dulu! Tak usah mikirin buku."
"Tapi Bi ..?"
"Udah ya, Bibi tinggal ke dapur sebentar untuk masak!"
Sepeninggal Bi Sri, aku hanya terbaring sambil melamun.
mataku menelisik kearah langit-langit. Disana ada beberapa cicak.
Aku hanya memandangi cicak tersebut.
Sepintas, aku teringat kejadian kemarin disekolah.
__ADS_1
SDN 1 Kamboja. tempat kita bersekolah.
kita sekarang duduk di kelas 2A.
Waktu itu aku tengah membaca buku dikelas. Keysa menyikut pundakku.
"Syi, Wira kalau dilihat ganteng ya?" ucap Keysa lirih.
"Wira kan banyak yang suka, kenapa Kakak gak suka sama Roy saja?" ucapku, balik bertanya.
Keysa langsung mencubit kedua pipiku, "kamu ini... Adik tapi nusuk!" gumamnya bercanda.
Aku dan Keysa melihat kearah Wira dan Roy.
"Dem ... Dem ... Dem ..." Kelas bergetar, seperti ada gempa. Tapi, bukan gempa, melainkan Isti.
Isti adalah cewek yang gendut dan mempunyai kulit yang gelap. Dia suka sama Wira dan hari ini akan menjadi hari seperti sebelumnya.
Seperti hari-hari sebelumnya. Isti akan mengejar Wira dan Wira menghindar. Terjadi kejar-kejaran diantara mereka bak film India.
Aku lihat keysa tertawa lepas melihat kejadian tersebut. Sedangkan aku hanya bisa diam, aku tak bisa tertawa sedari lahir. Urat mukaku seakan membeku. Hanya wajah tanpa ekspresi yang menyelimuti setiap hariku.
Aku pernah mencoba tersenyum dibalik cermin.
Urat pipi berasa susah untuk ditarik dan hanya bisa membuka mulut memperlihatkan gigi.
Senyumanku begitu ngeri, seperti senyuman hantu dalam film horor.
Sebenarnya hati kecilku tertawa kala melihat kejadian lucu. Tapi wajah ini yang seakan membohongi setiap orang yang melihat. Dingin? Mungkin itulah yang mereka rasakan.
Terdengar suara sepatu melangkah. Jenal yang tempat duduknya dekat dengan pintu berteriak,
"Bu Erni datang ...!"
Suasana langsung riuh ramai. Mereka berlarian menuju tempat duduknya masing-masing.
"Selamat pagi anak-anak..."
"Selamat Pagi juga Bu," ucap kita serentak sambil berdiri.
"Isti, kenapa kamu tidak ikut berdiri?" tanya Bu Erni tegas.
"Malu kenapa?"
"Androkku kena permen karet!" jelas Isti menunduk.
"Hm .... Wira, Roy. Ini pasti ulah kalian?" tanya Bu Erni setengah teriak.
"Hust-hust." Roy menyikut pinggang Wira.
"Habis, dia anaknya nyebelin Bu. Masa cowok keren seperti aku dikejar-kejar sama dia!" teriak Wira membela diri sambil melirik kearah kami. Terlihat Wira tersenyum, begitu juga Keysa.
Sontak yang ada dikelas ini tertawa. Sementara Isti menangis dan terlihat Dewi, teman se-bangku Isti mencoba menenangkan dia.
"Wira, kamu kedepan. Kamu dihukum!"
Wira menurut dan berjalan kedepan. Dia berdiri didepan papan tulis sambil mengangkat satu kaki dan tangannya memegangi kedua telinga.
"Diam kalian! Apa kalian juga mau Aku hukum seperti Wira?" teriak Bu Erni setengah marah.
Suasana yang tadinya riuh ramai orang tertawa berubah menjadi hening.
Ingin aku tertawa kalau mengingat kejadian lucu tersebut.
Apa ada buku tutorial untuk tertawa? Besok sajalah aku cari di perpustakaan rumah.
Barangkali ada.
Aku kembali memandang kearah cicak.
Isi tubuh cicak seperti apa?
Aku penasaran dan lantas berdiri dari tempat tidur.
Aku mencari sesuatu agar bisa menggapai cicak tersebut.
Terpintas dalam pikiran. Aku lempar saja dia dengan kain kompres.
"Wush ..." aku melempar kain tersebut. Cicak terjatuh dan berlari. Makhluk tersebut meninggalkan ekor-nya yang masih bergerak.
__ADS_1
Aku mendekatinya. Sambil jongkok aku menatap ekor yang terus bergerak.
Aku mengambilnya dan aku dekatkan dia dengan wajahku, agar bisa terlihat jelas.
Tak lama ekor tersebut berhenti bergerak. Aku coba menggoyangkannya tapi tetap diam.
Aku mencoba berfikir untuk membedah eko cicak ini dan lihat isi didalamnya.
Tak jauh dari tempat tidur ada meja. Diatasnya ada piring yang diisi buah apel dan juga pisau.
Aku berjalan kearah meja tersebut.
Pisau sudah digenggam, sedangkan ekor aku taruh diatas meja.
Perlahan aku membelahnya. Darah kental terlihat, tulang ekor pun nampak.
Aku merasa tak mendapatkan apa-apa.
Mataku menyusuri setiap jengkal area kamar.
Ada cicak tanpa ekor yang menyempil diantara lantai dan tembok.
Pelan ... Aku melangkahkan kaki menuju cicak tersebut.
"Hap," cicak sudah ada digenggaman.
Aku kembali menuju meja.
Badan cicak aku letakkan secara paksa sambila aku pegang kepalanya.
Perut cicak aku belah sedikit demi sedikit.
Darah segar keluar ... Dan,
"Non ngapain ...?" teriak Bi Sri sambil merebut pisau yang aku pegang.
Aku melihat wajahnya penuh katakutan.
"Pak ..." Teriak Bi Sri memanggil suaminya yang sedari tadi sudah pulang.
Mang Cipto datang setelah mendengar teriakkan Istrinya. Dia sempat terbengong melihat tanganku yang ada darah.
"Bu, Ibu bawa Non Keysi kekamar mandi, cuci tangannya. Nanti bapak yang akan bersihkan meja," ucap Mang Cipto panik.
Malam ini Ayah juga tak pulang.
Mang Cipto mendongengkan kami.
Keysa sudah tertidur, mataku juga mulai berat dan aku tertidur.
Sesekali aku terbangun karna kaki Keysa sudah ada diwajahku.
Keysa kalau tidur gak bisa tenang. Dia kalau tidur muter-muter kaya kipas angin.
Aku memutar kembali badannya agar kepala dia tak tergantung kebawah.
Tak berasa penuh energi yang ekstra, "fuh ...." Peluh bercucuran karena memutar badannya.
Kini kepala ku dengan kepala Keysa sudah bertemu.
Aku mencoba kembali memejamkan mata. Tapi, "pak, dug," tangannya kemuka, sedangkan kaki satunya naik keatas badanku.
Akhirnya aku punya ide.
Badan Keysa aku putar diatas selimut hingga selimut melilit tubuhnya.
Kini tubuh Keysa bagaikan kepompong dan aku mulai lagi untuk tidur.
"Keysi ... Keysi ...." terdengar ada suara memanggil.
"Tek-tek-tek" suara jam berbunyi. Aku melirik kearahnya. Waktu menunjukkan pukul 12 malam.
Suara itu masih terdengar memanggil namaku. Aku beranjak dari tempat tidur dan mencari asal suara tersebut.
Terlihat dibalik jendela ada sosok perempuan memakai pakaian serba putih melambai dan memanggil namaku.
Bersambung ... .
Tolong tinggalkan komentar, like, favorite, vote dan jangan lupa follow agar aku bersemangat untuk menulis.
__ADS_1