DENDAM (Keysi S3 "Coming Soon") KEYSI S1 &S2 (End)

DENDAM (Keysi S3 "Coming Soon") KEYSI S1 &S2 (End)
Episode 14 (Tuyul)


__ADS_3

Tak terasa, kami sudah kelas 3.


Hari ini, adalah hari ulang tahun kami.


Malam ini. Aku, Keysa, Ayah, Mang Cipto dan Bi Sri diajak pergi sama Ayah.


Kami tak tahu, kemana Ayah akan membawa kami pergi.


Tak lama, mobil terparkir disebuah restoran.


Zidan & Sabrina Food Resto. Nama yang terpampang di papan tulis restoran ini.


Kita masuk dan mereka menyambut.


Rupanya, Ayah sudah membooking Restoran ini untuk pesta ulang tahun Aku dan Keysa.


Selamat Ulang Tahun, Keysa dan Keysi. Tulisan yang terpampang rapih dipojok restoran.


Balon-balon dan pita, melengkapi setiap sudut ruangan.


Disini tak ada orang lain selain kita, pemilik dan pegawai resto.


Setelah kita duduk, pemilik restoran ini membawa kue yang begitu besar.


Keysa nampak begitu senang dengan kejutan yang Ayah berikan.


Aku pun ikut senang. Tapi, melebihi kesenangan Keysa.


Karena, pemilik restoran ini adalah orang yang bertanggung jawab atas kematian Tante Vanessa.


Pak Zidan dan Ibu Sabrina mengucapkan selamat ke aku dan Keysa.


Mataku melirik tajam kearah Pak Zidan.


Dialah, orang pertama yang memperkosa Tante Vanessa.


Saat potong kue. Zidan dan istrinya masih berdiri disamping kita sambil ikut bernyanyi.


Ingin sekali aku sobek wajahnya dengan pisau yang aku dan Keysa pegang.


Tapi, aku harus bersabar. Sampai saatnya tiba.


Aku tak kuat menahan amarah yang begitu meluap.


Aku ijin ke kamar mandi dan Ibu Sabrina mengantarku.


Kamar mandi milik resto lumayan jauh dan harus melewati bagian luar dapur.


Terlihat jelas beberapa koki sedang memasak. Tapi, ada yang mengganjal pikiranku.


Sosok anak kecil, berwajah pucat, berkepala botak dan hanya mengenakan popok bayi.


Tuyul? Apa yang tuyul tersebut lakukan?!


Dia mendekat ke arah masakan yang sudah siap.


Dia meludahi dan memberikan ingus pada setiap masakan yang sudah siap saji.


Perutku tiba-tiba mual, aku langsung berlari ke dalam kamar mandi dan meninggalkan Bu Sabrina dibelakang.


Awalnya tak ada niatan untuk melakukan aktifitas di kamar mandi, selain menahan amarah. Tapi, setelah melihat hal tersebut. Aku, justru mual dan muntah-muntah.


Aku memuntahkan banyak makanan dan membuat tubuh ini langsung tak enak.


Bu Sabrina mendekatiku dari belakang. Aku langsung lemas dan jatuh pingsan.


Saat aku tersadar. Aku sudah terbaring dikamar.


Mereka mengerumuni dan Ayah nampak begitu marah. Karena aku, pesta yang sudah ia buat dengan meriah jadi gagal. 'Sudah mengeluarkan uang banyak. Tapi, malah menjadi seperti ini.' ujar Ayah.

__ADS_1


Bi Ijah dan Mang Cipto mencoba menenangkan Ayah.


Keysa nampak kebingungan dan dia langsung menangis.


Ayah kesal dan dia keluar kamar.


Mungkin, dia menuju Bar pribadi miliknya untuk minum-minum.


Hal inilah yang sering Ayah lakukan kalau sedang ada masalah.


Bi Sri, mencoba menenangkan Keysa. Sedangkan Mang Cipto duduk disebelahku dan memijat-mijat kaki.


Aku terharu dan ikut menangis.


Mereka berdua bukanlah orang tua kami. Tapi, mereka berdua begitu menyanyangi kami seperti anak sendiri.


Setelah menenangkan kami berdua dan Keysa pun sudah tertidur.


Mang Cipto dan Bi Sri meninggalkan kami.


Sedangkan mataku enggan terpejam.


Terlihat sorotan cahaya mobil dari luar.


Aku berdiri melangkahkan kaki menuju jendela.


Nampak mobil berbeda dengan orang yang sama.


Om Rangga, dia kembali menjemputku.


Entah kebetulan atau dia sudah disuruh.


Padahal, sudah lama dia tak menampakkan batang hidungnya.


Aku membuka pintu dan keluar menuju balkon yang berada diluar kamar.


Aku kembali masuk.


Baru masuk, belum sempat menutup pintu. Aku dihadang Keysa. Dia berdiri tepat didepanku.


Bibirnya tersenyum dan menyeringai, membuatku ngeri mendengarnya.


Aku tahu, kalau dia bukanlah Keysa.


"*Siapa Kamu?"


"Aku? Aku Osin, peliharaan Pak Zidan!"


"Kenapa Kamu kesini dan mengapa Kamu merasuki tubuh Keysa?"


"Aku kesini untuk memperingatkanmu. Aku tahu tujuanmu yang sebenarnya?"


"Apa yang Kau tahu?"


"Aku tahu, Kamu mau membunuh majikanku kan? Kalau majikanku mati Aku bisa bebas. Tapi, Aku tidak mau!"


"Kenapa tidak mau? Bukannya enak, kalau kamu bebas?"


"Kalau aku bebas, Aku tak bisa lagi menyusu sama Bu Sabrina*."


Aku diam sejenak dan aku bisa menebak, kalau peliharaan Pak Zidan yang merasuki Keysa adalah tuyul yang aku lihat di restorannya sore tadi.


"*Tapi, Kamu kan menyusu sama Bu Sabrina. Jadi, tak masalahkan kalau aku membunuh suaminya?"


"Itu masalah bagiku. Karena, itu adalah perjanjian yang telah ditetapkan*!"


Setelah mendengar jawaban dia, aku hanya bisa terdiam.


Tak lama, bulu gudukku kiang meremang.

__ADS_1


Kedua pundak seakan ada yang memegang dari belakang.


"Biar Tante yang menyingkirkan tuyul ini!" ujar sosok dari belakang membisikiku.


Tak menunggu waktu lama.


Keysa tiba-tiba tergeletak dilantai.


Sosok yang memegang pundak juga sudah tak ada.


Aku mencoba menyadarkan Keysa dan dia pun terbangun.


"*Syi, kenapa Kakak tiduran dilantai?"


"Kakak jatuh dari ranjang. Ayo bangun, Aku bantu jalan sampai keranjang*."


Jelas, alasanku tak masuk akal.


Karena, jarak Keysa terbaring dengan tempat tidur berjarak 10 meter. Tapi, Keysa percaya.


Aku diuntungkan oleh kepolosannya.


Aku baringkan dia keatas ranjang sambil aku selimuti.


Aku berlari untuk menutup pintu kamar yang menuju balkon.


Keysa melihatku. Tapi, matanya masih sayup mengantuk.


Dia tak bertanya dan langsung memejamkan mata ketika aku kembali.


Lantas, aku pun tidur disampingnya.


Seperti biasa, Keysa bangun lebih awal.


Dia membangunkanku dengan wajah heran.


"*Syi Syi bangun Syi!"


"Ada apa Kak?"


"Lihat Syi. Kamar Kita jadi berantakan seperti ini*?!"


Setengah sadar, aku melihat sekeliling.


Nampak semua barang berserakan dan yang bikin aneh. Ada jejak kaki kecil yang masih basah.


Jejak itu keluar dari kamar mandi.


Seolah, ada anak lain selain kami dikamar ini.


"Oh, itu. Itu ulahku Kak. Tadi aku tidur berjalan!" ujarku memberikan alasan.


Aku berbohong, seolah yang telah terjadi adalah ulahku. Aku menutupi kebenaran. Karena, aku tak mau membuat Keysa ketakutan.


Keysa percaya dan kami mulai turun dari tempat tidur.


Masih setengah ngantuk, kami merapikan kamar. Terus mandi dan memakai seragam.


Sebelum memaki seragam, aku melihat hal aneh.


Pundak belakang Keysa nampak memar. Seperti, ada seseorang yang memukul pundaknya.


Tapi, Keysa tak sadar dan tak tahu, kalau ada luka memar di pundak kanannya.


"Tuyul sialan. Awas saja, kalau kau berani mengusik ketentraman Kita." gumamku dalam hati.


Bersambung ... .


Tolong tinggalkan komentar, like, favorite, vote dan jangan lupa follow agar aku bersemangat untuk menulis.

__ADS_1


__ADS_2