DENDAM (Keysi S3 "Coming Soon") KEYSI S1 &S2 (End)

DENDAM (Keysi S3 "Coming Soon") KEYSI S1 &S2 (End)
S2 Episode 7 (Buto Ijo)


__ADS_3

Baru saja meninggalkan tubuh Anggoro dan hendak kembali ke rumah sakit, aku di kejutkan oleh sosok orang yang tengah berdiri di pojok parkiran.


Wajahnya tak begitu jelas, tertutup oleh rambutnya yang sedikit panjang.


Dia tersenyum menyeringai.


Aku berjalan dan terus menatap kearahnya.


Apa dia orang gila?


Apa bisa melihatku? Tapi, saat melewatinya, aku tahu kalau dia tak melihat kearahku.


Saat melewati orang tersebut, nampak cahaya hijau menyala dari arah belakang.


Aku berpaling dan melihat kearah cahaya tersebut.


Rupanya, cahaya itu datang dari sosok pria yang bertelanjang dada dan dari tubuhnya keluar sosok yang tak lain adalah, Buto Ijo.



"Huahahahahahaha ...." dia tertawa sambil kedua tangannya menyapu mobil-mobil yang tengah terparkir.


Mobil berterbangan kearahku.


Aku berlari untuk menghindar. Tapi, aku mendadak berhenti.


"Kenapa harus lari? Bukannya tubuhku tak bisa terkena benda mati?" gumamku dalam hati.


Ternyata benar saja, mobil tersebut menembus tubuhku.


Tapi, setelah itu .... Aku dikagetkan oleh pria yang baru mengeluarkan sosok Buto Ijo dalam tubuhnya.


Aku benar-benar tak tahu kedatangannya dan dia, langsung mendorong kuat tubuhku hingga terhempas ke aspal parkiran.


"Sial! Walau memakai tubuh asli, dia bisa melukai tubuh astralku." gumamku sambil berdiri dan mengelap bibir yang mengeluarkan darah.


Dia berhenti dan melihat kearahku sambil memiringkan kepalanya ke kanan.


Aku melihat mata kanannya, menatapku begitu tajam. Sedangkan mata kirinya, tertutup oleh rambut.


Baru kelar dengan satu masalah dan datang masalah baru.


Apa Lyli benar-benar berantusias ingin membunuhku? Sampai-sampai mendatangkan orang-orang yang mempunyai kemampuan diluar nalar.


"Siapa, Kamu? Aku tak punya urusan denganmu!" tanyaku sambil menjelaskan kepadanya. Tapi, orang tersebut tak menjawab dan kembali menegakkan kepala.


Walau hanya wajah kanannya yang terlihat, aku bisa tahu, kalau dia tak berekspresi sama sekali.


Pandangan datar, dengan mulut yang terkunci rapat.


"Huahahahahahaha .... Percuma, Tuanku tak bisa bicara." jawab si Buto Ijo yang mulai mendekat.


Langkahnya menggetarkan bumi.


Orang-orang yang sedang sibuk mengevakuasi para pasien ketakutan. Karena berfikir, kalau guncangan bumi karena injakkan kaki si Buto Ijo adalah gempa.


"Sebelum Aku melahapmu, ijinkan Aku memperkenalkan diri. Namaku, Endaru. Sedangkan tuanku bernama, Birawa." ucapnya memperkenalkan diri seraya mengayunkan tangan kanannya yang mencoba menangkapku.


Aku berhasil mengelak dan berlari.


Tapi, Birawa berlari kearah kerumunan orang.


"Sial-sial-si-al .... Apakah dia mau menghampiri tubuhku yang sedang tak sadarkan diri?" gumamku mencoba mengejar Birawa dari arah belakang.


Birawa berlari dan hampir memasuki gerbang rumah sakit.


Tapi langkahnya terhenti dan mendadak terpelanting, tubuhnya jatuh ke tanah.

__ADS_1


"Mang Cipto ...." teriaku.


Mang Cipto melirik kearahku.


Syukurlah, matanya bisa melihat, kalau aku ada disini.


"Non, biar Birawa menjadi urusanku! Non kalahkan Sosok Buto ijo yang sudah keluar dari tubuhnya." teriak Mang Cipto.


"Aku? Bagaimana Aku bisa mengalahkan mahluk sebesar Dia?" teriaku bertanya.


"Huahahahahahaha, kena! Mau kemana Anak manis?" ucapnya sambil mendekatkan genggaman tangan kearah wajah.


Aku terkecoh oleh Birawa dan tak tahu, kalau tangan Endaru sudah ada dibelakang dan siap menggenggamku.


Mang Cipto pun tak tahu dan tak memperingatkan, kalau Endaru sudah dekat.


Dia hanya fokus sama Birawa yang mulai berdiri dari tempatnya jatuh.


Endaru membuka mulutnya lebar-lebar sambil mendongakkan kepala.


Tangan kanannya yang memegang tubuhku, diarahkan keatas mulut dan dia melepaskan genggamannya.


"Non Keysi .... Bertahanlah! Biarkan Aku mengalahkan tubuh Inangnya dulu! Non, jangan hawatir. Tubuh astralmu takkan mati!" teriak Mang Cipto sambil melihat kearahku dengan air mata yang menggenang.


Aku jatuh dan masuk melalui tenggorokannya yang begitu luas.


Gelap dan panas. Itulah yang aku rasakan ketika terus jatuh sampai ketempat luas, dimana aku bisa berdiri.


"Deg-deg, deg-deg." degup jantung Endaru terdengar begitu jelas.


Hawa didalam tubuhnya begitu pengap dan menyesakkan pernafasan.


Belum lagi, cairan yang aku injak berasa ingin menghancurkan kaki.


Semua itu hanya bisa aku rasakan. Karena aku tak dapat melihat isi perutnya yang begitu gelap.


Mang Cipto di pukul mundur oleh Birawa dan memuntahkan darah.


Diantara gerbang rumah sakit dan tempat parkir, Mang Cipto dan Birawa berkelahi.


Bisa dibilang, Birawa mempunyai kekebalan tubuh.


Setiap pukulan yang mengenainya, seakan tak berasa.


Walau Mang Cipto mempunyai Aji Rawa Rontek. Tapi, dia masih bisa merasakan sakit.


Apalagi, setelah terkena pukulan yang bertubi-tubi.


Mang Cipto tak bisa merasakan ketenangan.


Dia masih memikirkanku yang tengah ditelan sama sosok Buto Ijo.


Ditambah lagi, sosok tersebut mulai menyerang Mang Cipto.


Birawa saja, sudah membuat Mang Cipto kewalahan. Apalagi, Endaru yang mulai menghentak-hentakkan kakinya yang ingin menginjak Mang Cipto.


(Kita mundur beberapa saat. Dari sini, akan dijelaskan melalui sudut pandang orang ketiga).


Sore itu, Bayu memergoki Keysi dan Cipto yang masih berada didalam hutan.


Biasanya, pukul 17.00 Keysi sudah pulang.


Mungkin, karena Cipto yang telah memberitahukan identitasnya, membuat keduanya tak ingat akan waktu.


Ditambah lagi, Cipto memberikan Buku Sukmo Abiyasa.


Bayu adalah sosok Genderuwo yang mengambil alih tubuh seseorang yang tengah koma dirumah sakit.

__ADS_1


Tubuh itu milik anak muda yang terkena kecelakaan, ketika mengendarai motor besarnya yang menyerempet mobil kontainer.


Identitas pemuda itu tak diketahui dan tak ada yang menolongnya.


Lyli yang melihat paras tampan dari pemuda tersebut, membuatnya iba dan membawanya ke rumah sakit.


Tapi, pemuda tersebut tak sadarkan diri dan akhirnya, Lyli menyuruh suami gaibnya untuk mengambil alih tubuh tersebut.


Bayu yang biasanya pulang di kala matahari sudah mau tenggelam, dia mendengar gelagat tawa dari hutan yang tak jauh dari rumah gubugnya dan membuatnya penasaran untuk mendekati suara tersebut.


Bayu melihat Keysi dan tahu, kalau sosok yang selama ini menyamar sebagai Vanessa (Bellin) sudah tak ada didalam tubuh Keysi.


Tapi, dia harus memastikan dengan benar.


Makanya, Bayu mengikuti Keysi hingga ke masjid.


Saat Bayu yakin, kalau Bellin sudah tak ada didalam tubuh Keysi, dia memberitahukannya Lyli.


Tentu saja, hal ini membuatnya senang.


Rasa ingin membalaskan dendam, kembali berkobar.


Lyli yang sudah mengumpulkan banyak pengikut beberapa tahun terakhir, akhirnya membuka sayembara.


Barangsiapa bisa membunuh Keysi, akan diberi hadiah uang 1 miliar.


Mendengar hal itu, para pengikutnya menawarkan diri untuk menghabisi, Keysi.


Dengan satu syarat!


Barangsiapa yang lebih dahulu mendekati Keysi, yang lain harus menunggu giliran berikutnya.


Mengapa Lyli melakaukan hal tersebut? Karena, dia ingin mencari sosok terkuat diantara anak buahnya dan dia hanya ingin membagikan hadiah tersebut untuk satu orang yang dapat membunuh Keysi.


Karena mereka bukan orang biasa, baru diberitahu namanya saja, mereka sudah tahu dan mulai berlarian ke kendaraan mereka masing-masing.


Mereka berlomba, untuk menjado orang yang dapat membunuh Keysi dan bisa mendapatkan hadiah.


Tentu saja, bukan cuma itu.


Mereka juga pernah mendengar Lyli bercerita, kalau Keysi adalah anak yang pernah mengalahkannya.


Siapa yang bisa mengalahkan Keysi, dia akan menjadi pemimpin Cempaka Hitam berikutnya.


Itulah, yang mereka pikirkan.


(Cerita kembali dialihkan melalui sudut pandang Keysi).


Endaru tak bisa diam. Dia terus bergerak dan menghentak-hentakkan kakinya untuk menginjak Mang Cipto.


Hal itu, membuatku jatuh bangun dan sesekali berguling.


Entah apa rasanya, kalau aku terus berada didalam gelapnya perut Endaru dan tak bisa kembali ke dalam tubuh.


"Keysi ... Keysi ...." terdengar lirih suara perempuan memanggilku.


Aku terdiam dan mencoba mencari asal suara tersebut.


Tiba-tiba, Buku Sukmo Abiyasa yang mengalung diantara leher mengeluarkan cahaya.


Aku kaget, melihat sosok perempuan yang sudah ada didepanku.


Dia memandangku, sambil tersenyum.


Bersambung ... .


Tolong tinggalkan komentar, like, favorite, vote dan jangan lupa follow agar aku bersemangat untuk menulis.

__ADS_1


__ADS_2