DENDAM (Keysi S3 "Coming Soon") KEYSI S1 &S2 (End)

DENDAM (Keysi S3 "Coming Soon") KEYSI S1 &S2 (End)
Episode 8 (Pasar Berdarah 1)


__ADS_3

Beberapa hari berlalu dan sekarang adalah hari minggu.


Aku terbangun lebih awal dari Keysa. Biasanya kalau hari minggu, Kami tidur sampai siang. Tapi, entah mengapa hari ini aku ingin sekali pergi ke pasar.


Tepat pukul 07 pagi, aku sudah siap pergi ke pasar bersama Bi Sri.


Mang Cipto mengantar kami.


Sesampainya di pasar, Mang Cipto menunggu di mobil dan kami pergi untuk belanja.


Hari ini Ayah ada dirumah, jadi ada yang menemaninya Keysa.


Nama Ayahku Ahmad Ilham, sedangkan nama almarhum Ibu, Vinesa Wince.


Ibu meninggal beberapa hari setelah melahirkan kami. Dia syok ketika mendengar kakak kandungnya meninggal dengan sangat tragis dan tak lama Ibu pun ikut menyusulnya.


Tante Vanessa, dia adalah Kakak Ibu. Umurnya selisih dua tahun lebih tua dari Ibu. Tapi, wajahnya tak jauh berbeda, mereka hampir mirip layaknya orang kembar.


Rangga Pradita adalah suami Tante Vanessa. Beliau sekarang berada di rumah sakit jiwa.


Aku baru tahu setelah Bi Sri dan Mang Cipto bercerita.


Awalnya mereka merahasiakan ini. Tapi, setelah aku bujuk akhirnya mereka pun mau mencetitakannya.


Kami berjalan masuk pasar.


Saat itu, aku tengah menemani Bi Sri memilah sayur. Tiba-tiba ada dua preman datang.


Terjadi percakapan diantara mereka.


"Bang Semin. Ini pedangan yang kemarin tidak setor?" tanya salah satu preman yang berlagak seperti Bos.


"Ia Bos. Orang ini yang tidak mau bayar!" jelas preman yang bernama Semin.


"Maaf, Bang Ahid Black. Aku belum dapat uang lebih, jualanku dari kemarin sepi," ujar Ibu penjual cabai yang ada di kios sebelah.


Mereka tak terima dan menyuruh Ibu itu membayar secara paksa. Kalau Ibu itu tidak mau bayar, mereka berencana akan mengobrak-abrik jualannya.


Semin? Ahid Black? Bukannya mereka yang Ibu Lyli ceritakan. Memang waktu di pemakaman Pak Umar mereka tidak hadir, makanya aku tak tahu wajah mereka berdua.


"Udah Non, jangan dilihatin." ujar Bi Sri sambil memilah sayur.


"Bos. Anak kecil itu, mirip dengan perempuan yang waktu itu kan?" tanya Semin.


"I ... ia. Ayo kita kabur!" jelas Ahid dan mereka berdua pergi tunggang langgang.


Ibu itu memandang kearah kami, dia bingung kenapa kedua preman tersebut sampai takut.


Kios Ibu tersebut selisih satu kios dengan kios sayur yang kita datangi.


Dia menjajahkan perabot dapur. Sedangkan kios sebelah berjualan ikan segar.


Apa mereka kabur karena melihatku? Atau mungkin melihat sosok Tante Vanessa yang memang mengikuti kami sedari tadi.


Pandanganku memudar beberapa saat. Aku melihat kedua preman itu terkapar dengan beberapa luka tusuk ditubuhnya.


Pandanganku memudar kembali dan aku melihat mereka baru saja lari, menjauh dari kami.


Aku mendapatkan lagi penglihatan. Tapi, siapa yang berani menusuk mereka berdua? Tak mungkin, aku yang melakukanya?!


Sudah beberapa kios di pasar ini yang sudah kami datangi. Belanjaan sudah banyak. Dan kami tak membawanya.

__ADS_1


Kami belanja banyak untuk persediaan.


Butuh kuli panggul untuk menghantarnya ke mobil, "pikirku."


Terlihat dari sudut pasar ada lima orang lelaki tengah mengobrol. Mungkin, mereka kuli panggul.


Tanpa suruhan dari Bi Sri. Aku melangkahkan kaki menuju orang tersebut.


Sedangkan Bi Sri, masih fokus tawar menawar dengan sang penjual.


Dari jauh aku dengar, mereka membicarakan Ahid dan Semin.


Mereka mengeluhkan tindakan kedua preman tersebut. Karena, tindakan kedua preman itu, pasar ini menjadi sepi.


Kesempatan dalam kesempitan. Aku tak harus mengotori tanganku untuk membunuh mereka berdua.


"Kalau mereka dibiarkan, kalian dan para penjual akan susah," cletukku kepada mereka. Membuat mereka terdiam dan menatapku penuh pertanyaan.


"Eh, benar. Apa yang dikatakan adik kecil ini," ucap orang berbaju merah.


"terus, apa yang akan kita lakukan?" tanya seorang yang ada disebelahnya.


"Aku tau Pak?" tanyaku, membuat mereka bingung dan bertanya.


"Tahu bagaimana adik kecil?" tanya si baju merah tersebut.


Sedangkan yang lain memandang orang berbaju merah dengan penuh selidik.


"Antar dulu yu belanjaanku. Nanti aku kasih tahu!" ucapku dengan nada yang meyakinkan.


"Ah, siap. Memang sekarang giliranku!" ucap pria berbaju merah.


Aku berjalan diiringi Pak Ade (baju merah). Aku tahu namanya setelah bertanya.


"Aku tahu. Bapak ingin menyingkirkan mereka berdua kan?" tanyaku.


"Menyingkirkan bagaimana maksudnya?" Pak Ade tanya balik.


"*Membunuh mereka!"


"Membunuh bagaimana Dek? Aku tak kan mampu membunuh mereka*?"


Aku menjawab dengan senyuman. Wajah Pak Ade nampak kebingungan.


Memang tak jauh kami berjalan dan selain bertanya nama, aku juga menanyakan tempat tinggalnya.


Kami sudah sampai ditempat Bi Sri berdiri.


"Non, dari mana saja. Bi Sri sampai berpikir Non hilang!" ujar Bi Sri cemas.


"Keysi habis nyari tukanng panggul Bi!" jelasku menunjuk kearah Pak Ade.


Kita kembali ke mobil. Sedangkan Pak Ade mengangkat bawahan kita dan membawanya.


Tak terlalu jauh, terlihat mobilku terparkir. Mang Cipto tengah berdiri sambil mengobrol dengan tukang becak.


"Mang Cipto ...." teriakku dari kejauhan.


Dia mendengar dan langsung membuka pintu belakang mobil.


Sesampainya di mobil kami masuk. Mang Cipto masih diluar membantu Pak Ade memasukan barang belanjaan.

__ADS_1


Belanjaan sudah masuk dan Bu Sri memberikan upah pada Pak Ade lewat jendela.


Terlihat Pak Ade melihat kearahku dan seakan ingin bertanya.


Aku balik pandang kearahnya dengan sebuah senyuman. Ya, aku sudah bisa tersenyum setelah berhasil membunuh 3 orang itu.


Pak Ade melihatku bingung dan dia berbalik badan, berjalan menuju pasar.


Mang Cipto masuk dan kita berjalan pulang.


"*Non kenal sama bapak barusan?"


"Gak Bi. Kebetulan saja Aku tahu namanya!"


"Oh*...?!"


Sesampainya dirumah aku berlari masuk. Aku langsung menuju ke perpustakaan dan mencari buku Detective. Aku mencari kisah yang menceritakan sang tokoh utama membongkar kasus kematian.


Aku membaca dan merekam kejadian demi kejadian yang telah berhasil dibongkar oleh detective tersebut.


Tak terasa sudah waktunya makan siang. Bi Sri datang memberitahuku.


Di Meja makan sudah ada Keysa dan Ayah menunggu. Terlihat rasa senang terpancar dari raut wajah Keysa.


Aku duduk disamping Keysa sambil tersenyum.


"Bruat," ayah menghentakkan tangannya ke meja.


"Sejak kapan kamu bisa tersenyum?" tanya Ayah marah.


Keysa takut dan terlihat air matanya menggenang.


"Beberapa hari yang lalu Yah!" jelasku.


"Sialan kau Vanessa," gumam Ayah mencucurkan air mata.


Mungkin Ayah mengetahui hal ini? Mungkin sebelumnya Tante Vanessa juga pernah mendatanginya?


"Maafkan Ayah. Ayo kita makan!" ujar Ayah.


Sedangkan Keysa masih kaget.


"Udah Kak. Mungkin, Ayah capek. Makanya dia marah?" ujarku menenangkan Keysa.


Aku mengelus rambutnya sambil berucap,


"Udah ya, Adek manis jangan menangis," Keysa tertawa, balas berucap,


"Ia Kakak yang lahirnya setelah aku 'hihi'."


Ayah tersenyum karna melihat kelucuan kami. Dari pada di bilang Adik. Justru sifatku lebih dewasa dibanding Keysa. Walau umurku sama dengan dia. Usia Kami selisih satu jam.


Apa mungkin, ini karena Tante Vanessa, makanya cara pikirku pun berbeda dengan anak pada umumnya?


Malam pun datang. Rencana malam ini tidak boleh gagal. Karena, aku melihat mereka meninggal di Kios pasar yang sepi tanpa orang dan cahayanya agak gelap. Meninggalnya mereka pasti malam hari?!


Tempat tinggal Pak Ade pun aku tahu.


Yang aku pikirkan sekarang adalah bagaimana caraku keluar dari rumah dan bagaimana caraku bisa sampai disana?!


Bersambung ... .

__ADS_1


Tolong tinggalkan komentar, like, favorite, vote dan jangan lupa follow agar aku bersemangat untuk menulis.


__ADS_2