
Siang ini, setelah pulang sekolah.
Aku membuka lembar demi lembar buku untuk mencari cara menyakiti makhluk tak kasat mata.
Aku mulai lelah. Sampai sore tak menemukan apa yang aku cari.
Aku harus cari dimana buku seperti itu?
Tak semua jawaban, ada didalam buku!
Aku termenung, sambil melihat kearah langit-langit rumah.
Tapi, aku menemukan jawaban yang tidak dicari.
Konon, manusia tak dapat melihat makhluk halus, kalau manusia tidak ada makhluk halusnya dalam tubuh mereka.
Sedangkan aku sendiri, terkadang bisa melihat sosok tak kasat mata.
Apa Tante Vanessa bersemayam dalam tubuhku?
Pukul 5 sore, aku melangkahkan kaki menuju kamar.
Kaget bukan kepalang, melihat isi kamar kembali berantakkan.
Terdengar jelas suara anak kecil tertawa sambil berlarian.
Apa tuyul itu kembali dan ingin mengusik kehidupanku?
Kalau yang dikatakan buku tersebut memang benar. Harusnya aku bisa melihat sosoknya kembali seperti malam itu!
Taka lama, wujud tersebut mulai terlihat.
Aku tersenyum kepadanya dan dia merasa ketakutan.
Posisinya tepat didepan mata.
Sebelum Tuyul tersebut berpaling, aku menangkapnya.
Dengan sekuat tenaga aku memegang tangan kanannya dan aku remas kuat-kuat.
Tuyul menjerit kesakitan.
Tak berhenti sampai disitu.
Aku mematahkan kedua tangan dan kakinya.
"Rasakan. inilah balasan yang kau dapatkan!" gumamku diiringi dengan nada tertawa.
Dia menangis kesakitan dan mencoba merangkat dengan anggota tubuhnya.
Dia mencoba menjauh dariku.
Aku hanya melihat kearahnya dan apa yang akan dia lakukan setelah ini?!
"Jeplak," suara pintu dibuka. Keysa masuk dan dia kaget melihat kamar kami berantakkan.
Aku melihat kearah Keysa dan menjelaskan bahwa tuyul lah yang melakukan hal tersebut.
__ADS_1
Keysa hanya terdiam dan ketika aku berbalik. Tuyul tersebut sudah tak ada.
"Tuyul? Dimana Syi? Kamar kita jadi seperti ini karena tuyul?" tanya Keysa dengan mata yang melirik kesana kemari.
"Kakak takut? Gak usah takut Kak, sosok tersebut sudah tidak ada!"
Keysa terdiam dan aku mengajaknya untuk membantuku membereskan barang yang berantakkan.
Malam ini.
Om Rangga kembali menjemputku.
Aku memberitahukan lokasi Pak Zidan.
"*Pak Zidan sudah tak ada di Restoran. Tadi sore, dia dibawa ambulans."
"Kenapa bisa tahu tentang Pak Zidan?"
"Vanessa memberitahuku lewat mimpi. Dari siang, aku mengawasi Restoran miliknya.
Waktu kejadian, aku ada disitu. Zidan waktu itu tengah mengurus tamu dari anggota DPR. Dia mendadak kesakitan dan tubuhnya mati rasa. Seakan ada seseorang yang mematahkan kaki dan tangannya*."
Rupanya, apa yang aku lakukan dengan tuyul peliharaannya berdampak pula pada pemiliknya.
"*Om Rangga sore tadi ada di Restoran Pak Zidan? Memang, Om makan disitu?"
"Makan? Mana mau Aku makan makanan yang ada campur tangan tuyul!"
"Om tahu darimana?"
"Om bisa melihat hal seperti itu!
"Bukannya Tante Vanessa telah meninggal? Bagaimana Om bisa membawa dia kembali?"
"Hm, meninggal? Vanessa masih hidup sampai sekarang. Tapi, jasadnya tak lagi menampung sukma Vanessa dikarenakan suatu perjanjian."
"Perjanjian?"
"Ia, Tantemu melakukan perjanjian dengan penguasa Sungai Banyu Hilir*."
Om Rangga menjelaskan dengan detail apa yang terjadi sama Tante Vanessa dan asal muasal Tante Vanessa bisa membuat perjanjian dengan Makhluk yang bernama Nyai Cempaka Juah.
(Note: Untuk para pembaca, bisa baca cerita Vanessa di cerita lain. Ceritanya berjudul Vanessa Of The Darkness).
Aku baru tahu penyebab kematian dia yang sebenarnya dan kenapa arwahnya gentayangan.
Rupanya, Tante Vanessa belajar Ilmu Hitam dan mencari kekayaan lewat jalan pintas.
"*Terus, Kita mau kemana Om?"
"Rumah Sakit*!"
Sambil menyetir, Om Rangga terus melanjutkan ceritanya tentang Tante Vanessa.
Tak lama, mobil yang kami naiki sudah terparkir di area parkir rumah sakit.
Kami turun dan mencari ruangan administrasi untuk menanyakan nomor kamar yang digunakan sama Pak Zidan.
__ADS_1
Om Rangga menyuruhku menunggu disebuah lorong dengan alasan tak mau melibatkanku di media kalau sampai dia ketahuan.
Tak lama, Om Rangga datang menghampiri.
Dia memberitahukan kamar yang dipakai sama Pak Zidan.
Pak Zidan hanya seorang diri. Keluarganya masih sibuk mengurusi restoran.
Kesempatan emas buat kami untuk membunuhnya.
Tiba dikamar C 01.
Aku disuruh masuk dan mengahabisi nyawa Pak Zidan.
Sedangkan Om Rangga diluar, mengawasi sekitar.
Aku masuk dengan perlahan.
Terlihat Pak Zidan sedang tertidur diranjang.
Tangannya diinfus. Tapi, dia tak mengenakan oksigen untuk membantu pernafasannya.
Aku berjalan dengan perlahan dan tiba disamping ranjang tempat Pak Zidan tertidur.
Aku menarik paksa bantal yang tertindih dikepalanya.
Seketika, Pak Zidan terbangun.
Dia melotot dan mulutnya ingin mengucapkan sesuatu.
Dengan sigap aku menempelkan bantal kewajahnya.
Dia hanya terdiam tak bisa merontah. Karena, tangan dan kakinya lumpuh seperti tuyul peliharaan miliknya.
Tak menunggu waktu lama. Zidan menghembuskan nafas beratnya, nafas terakhir.
Pak Zidan pun meninggal.
Aku berjalan keluar dan lupa untuk meletakkan kembali bantal itu dibawah kepalanya.
Aku keluar dari kamar C 01 dengan menganggukan kepala, mengasih tanda sama Om Rangga kalau tugas yang aku lakukan telah berhasil di laksanakan.
Kami langsung berjalan meninggalkan rumah sakit.
Sesampainya di mobil kami masuk dan langsung melaju kencang.
Sepanjang jalan kami tertawa.
Karena, merasa puas atas meninggalkan Pak Zidan.
Awal membunuh seseorang, karena rasa dendam.
Tapi, setelah tahu bahwa dia bukan Mama, melainkan Tante Vanessa. Rasa balas dendam mulai memudar dan berganti menjadi terpaksa, karena aku takut kalau Tante Vanessa mendatangi Kesyi untuk membalaskan dendamnya.
Lambat laun, rasa terpaksa berubah menjadi sebuah kesenangan dan keinginan untuk membunuh.
Jadi tidak sabar, ingin membunuh target selanjutnya. 'hahahaha.'
__ADS_1
Bersambung ... .
Tolong tinggalkan komentar, like, favorite, vote dan jangan lupa follow agar aku bersemangat untuk menulis.