DENDAM (Keysi S3 "Coming Soon") KEYSI S1 &S2 (End)

DENDAM (Keysi S3 "Coming Soon") KEYSI S1 &S2 (End)
S2 Episode 5 (Palasik)


__ADS_3

Ternyata, benar!


Aku berada didalam rumah sakit dan orang yang tertawa di pojok ruangan, merupakan salah satu perawat.


Aku mendekati dia dan melihat nama di seragam yang dia kenakan.


Shany. Itulah, nama yang terukir diseragam perempuan tersebut!


"Gadis sekecil ini yang membuat Lyli takut?" ucapnya sambil tertawa kecil dan mendekati tubuhku yang tergeletak tak berdaya.


Aku mencoba menghalau dia. Tapi, tanganku tak mampu menembus tubuhnya.


Mencoba memegang kursi saja tak bisa. Kalau bisa, mau aku hantamkan ke kepalanya.


"Shany, ditunggu dokter Ahmad diruangannya!" ucap salah satu perawat yang tiba-tiba memasukan kepalanya diantara daun pintu.


"Iya, Yuk! Tunggu ....!" teriaknya membalas.


"Selamat, hari ini Kamu masih beruntung!" ucapnya mendekatkan mulut ke telingaku. Lantas, dia berlari keluar dari ruangan.


Syukurlah .... Aku masih bisa bernafas lega.


Tapi, bagaimana caranya aku kembali ke tubuh?


Aku termenung sambil melihat anggota tubuhku yang masih tergeletak diatas ranjang rumah sakit.


Aku merasakan hawa yang begitu sesak, panasnya menyeruak kesetiap sudut ruangan.


Saat melihat kearah jendela, aku baru tahu. Kalau sekarang sudah malam.


Bagaimana nasib Keysa dan Mang Cipto? Apa mereka baik-baik saja?


Aku melangkahkan kaki, mencoba mencari keduanya diruangan berbeda.


Kaget, melihat keramaian ketika aku keluar dari ruangan.


Rumah sakit apa pasar?


Banyak sekali orang berjualan.


Dan banyak anak kecil tertawa berlarian menembus dinding.


Aku takut dan mundur, kembali masuk kedalam ruangan tempat tubuhku dirawat.


Saat berbalik, ada sosok kepala perempuan terbang dengan usus yang menyapu wajah tubuh asliku.



"Hey, siapa Kamu? Apa yang akan Kamu lakukan kepada tubuhku?" bentakku berlari mendekat.


"Hi-hi-hi-hi ... Apa dari tadi Kau ada disini? Berarti Kau tahu siapa Aku?" ucapnya bertanya balik dan melayang mundur ke dekat jendela.


Maksudnya apa? Tahu dia?


Aku bingung apa yang dia ucapkan.

__ADS_1


Aku terus memandang wajahnya yang seakan pernah melihatnya.


Ternyata, benar. Dia adalah perawat yang barusan keluar dari ruangan ini!


"Bukannya, Kamu itu salah satu Perawat?" tanyaku membentak.


"Hihihiii, benar! Aku diutus oleh pemimpin Cempaka Hitam untuk membunuhmu! Minggirlah! Aku janji tak akan sakit." jelasnya tertawa dan mencoba menyerangku.


Buku Sukmo Abiyasa yang terkalung dileher terbuka dan memilah halaman dengan sendirinya.


Cahaya keluar dari dalam buku dan membentuk tulisan di udara.


"Dadosaken salira Kula kados tosan!" (Jadikan badanku seperti besi!) ucapku membaca tulisan dengan cahaya putih yang mengambang diudara.


Dia mendekati tubuh tak berdayaku dan menggigit leher.


Tapi, taringnya tak cukup kuat dan patah sampai mengeluarkan darah dari mulut.


"Arrghhh ...." dia berteriak dan mencoba kabur dari ruangan ini!


Aku menangkap ususnya yang terseret dilantai.


"Lepaskan Aku, lepaskan! Aku hanya disuruh." teriaknya merintih kesakitan.


"Kalau Aku lepaskan, Kamu akan menyantap bayi yang tak berdosa.


Pantas saja, Kamu memilih bekerja sebagai perawat." ucapku sambil menggenggam erat ususnya dan menghantamkan wajahnya beberapa kali ke lantai.


"Lepaskan! Aku janji takkan melakukan itu lagi!" teriaknya memohon.


"Kalian sama denganku! Tolong Aku!" ujarnya meminta tolong sama mahluk penghuni rumah sakit yang tengah menyaksikan.


"Kalau kalian maju, akan berakibat fatal!" ucapku berseru sambil memandang setiap penjuru ruangan yang mendadak ramai dengan kedatangan beberapa mahluk.


Buku Sukmo Abiyasa terus bercahaya dan mereka juga tak berani mendekat.


Tak mungkin, mereka takut padaku! Apa mereka takut dengan buku yang menggantung dileher?


"Ampun ... Ampun...!" teriaknya memohon.


Tanpa henti aku menginjak-injak wajahnya.


Kepalanya hampir pecah dan darah mengalir deras membasahi lantai.


Aku putuskan untuk memutuskan kepala dari organ dalamnya.


Jantung, hati dan usus, aku jepit diantara kaki.


Kepalanya, aku tarik dengan kedua tangan.


"Ampu..." teriakannya terpotong, karena kepala dan organ dalam yang menyatuh telah terpisah dan dia meninggal.


Dia menghilang bak terhempas angin.


Aku kembali berjalan dan mendekat ke pintu keluar.

__ADS_1


Pegawai rumah sakit sibuk, mondar-mandir masuk keluar ruangan peristirahatan yang biasa digunakan para perawat.


"Shany meninggal dengan aneh. Dia tiba-tiba teriak dan kejang-kejang. Lalu keluar darah segar dari mulutnya." jelas Perawat yang bernama Ayuk ke pada dokter yang baru keluar dari ruangan sebelah.


"Masa bisa kaya gitu?" tanya dokter tak percaya.


Aku berjalan mendekati ruangan tersebut.


Nampak beberapa mahluk penghuni rumah sakit menatapku dengan ketakutan dan mundur menjauh.


Saat aku melihat kearah mereka, tak butuh waktu lama langsung kabur terbirit-birit.


Aku senang, tak akan ada mahluk yang berani mengganggu tubuh Astraku yang tengah meninggalkan tubuh asli.


"Hey, barang siapa yang mendekati tubuh asliku, kalian akan bernasib sama seperti Palasik jadi-jadian!" teriaku memperingati para mahluk yang tiba-tiba tak berani memandang wajahku.


Yang merasa kuat, hanya bisa menunduk.


Yang merasa lemah, akan lari menjauh.


Aku terus melangkahkan kaki dan memasuki ruangan tersebut.


Nampak banyak orang yang melihat dokter tengah memeriksa Shany yang tergeletak dengan mata melotot dan lidah yang menjulur.


Mulutnya mengeluarkan darah segar sampai membasahi kerah baju dan membuat ranjang tempat dia berbaring menjadi basah karena darah.


"Dia bilang ngantuk dan istirahat sebentar. Tapi, ketika Aku menjenguk, tiba-tiba dia teriak-teriak tak karuan dan meninggal seperti ini!" jelas Ayuk sambil menangis.


"Mungkin, kena santet!" ucap petugas cleaning servis yang langsung dibantah sama pegawai lain.


"Hey, jangan ribut! Dokter lagi memeriksa, Shany!" seru perawat yang terlihat lebih tua.


Seketika, ruangan tersebut menjadi hening.


Dokter memeriksa perawat yang bernama Shany dengan teliti.


Lalu, menggelangkan kepala dan mereka menangis sambil memeluk tubuh Shany yang sudah tak berdaya.


Para pengunjung yang menjenguk kerabatnya penasaran dan memenuhi luar ruangan untuk melihat apa yang tengah terjadi.


Awalnya, aku melihat tak ada yang istimewa dari para pengunjung yang memenuhi luar ruangan.


Tapi saat aku berbalik dan melihat ke dalam ruangan.


Dari belakang, aku rasakan aura yang begitu kuat.


Membuatku penasaran dan menoleh kearah belakang.


Bersambung ... .


Jangan lupa follow dan vote. Gak bayar kok! Gratis ....


Ayo sarankan teman-teman kalian untuk membaca cerita ini!


Semakin banyak yang baca dan vote, aku semakin bersemangat untuk menulis kelanjutan ceritanya.

__ADS_1


__ADS_2