
Aku melihat kearah cermin. Aku tersenyum.
Baru kali ini aku melihat senyuman yang begitu lepas memancar dari wajahku.
Aku tertawa terbahak-bahak.
Keysa kebingungan, begitu pun Mang Cipto.
Jalan sudah renggang. Mang Cipto tancap gas supaya kita bisa cepat sampai tujuan.
Aku merasa seakan beban yang ada dalam diriku terangkat. Aku merasa begitu lega melihat Pak Umar meninggal.
Mobil melaju kencang.
Tempat Pak Umar kecelakaan sudah jauh terlewati.
Aku menengok kearah jendela. Terlihat kita sudah melewati supermarket.
Tak jauh ada tikungan tajam.
Sekitar 500 meter setelah kita melewati tikungan tajam tiba-tiba ....
"bruat ...." Suara tabrakan yang amat dahsyat.
Mobil berputar seperti bola dan kita yang ada didalam bak Hamster yang ikut berputar. Badan kita terombang-ambing. Pecahan kaca memotong anggota tubuh kita.
Terlihat Mang Cipto meninggal. pecahan kaca menancap belakang kepala. begitu juga Keysa. Lehernya hampir putus terkena sayatan dari kaca yang pecah.
Aku tak bisa bergerak. Mendadak, darah mengucur dari kepala membasuh wajah.
Melihat kebawah, anggota tubuhku sudah terpisah.
Sakit ... perih yang aku rasakan.
Pandangan seketika memudar ....
Dan ....
Aku tersadar.
Aku duduk di kursi belakang. Apa waktu mundur atau hanya mimpi?
Aku tak mengerti.
Aku ingat, tak jauh lagi kita melewati jalanan Pak Umar kecelakaan.
Aku menyelinap masuk ke jok depan lewat sela jok mobil.
"*Aduh Syi, ngapain kamu kesini. Sesak tahu?"
"Udah Kak. Kakak tutup mata saja ya?"
"Emannya kenapa?"
"Tak jauh, didepan ada kecelakaan*."
Keysa menurut dan menutup mata.
Mang Cipto bingung dengan apa yang aku ucapkan.
Terlihat bibirnya seakan ingin melihat sesuatu.
"Astagfirullah .... Siapa yang kecelakaan? Kasihan sekali!" ujar Mang Cipto melihat kearahku.
"Udah Mang jalan terus," pintaku.
"*Keysi ... Aku takut darah!"
"Makanya kakak jangan buka mata dulu*!"
Tanganku ikut menutup mata Keysa agar dia tak mengintip.
Mang Cipto masih curi pandang kearahku, seakan ingin bertanya bagaimana aku bisa tahu.
Setelah jauh melewati tempat Pak Umar kecelakaan. Mang Cipto mempercepat laju mobil.
"*Mang kenapa buru-buru?"
"Maaf Non. Mang Cipto takut kalau lihat gituan. Mang cipto ingin cepat sampai kerumah*!"
Mobil belum melewati supermarket langsung aku berhentikan.
"*Stop Mang stop disini buruan!"
"Cit* ...." suara mobil mendadak merengem dan berhenti tepat didepan supermarket.
"*Kenapa Non kok minta berhenti disini?"
__ADS_1
"Aku mau beli sesuatu di supermarket itu*," alasanku. Padahal untuk menghindari kecelakaan yang akan kita alami.
Mobil pun menepi.
Keysa, aku suruh turun menemaniku. Sementara Mang Cipto menunggu kita dijalan sambil menyalahkan rokok. Terlihat tangannya bergetar hebat.
Mungkin Mang Cipto takut melihat tubuh Pak Umar yang hampir tak terbentuk.
Aku dan Keysa berjalan menuju supermarket.
Baru sampai pintu, Keysa bertanya ....
"*Syi, memang kamu mau beli apa?"
"Aku cuma mau beli minum Kak*," ucapku sambil tersenyum.
"Ih, kamu gak usah sengum. Senyum kamu tuh nyeremin tahu!"
Serem? Bukannya aku sudah bisa tersenyum?
Aku penasaran dan melihat ke kaca dekat pintu supermarket yang baru kita masuki.
Ternyata yang diucapkan Keysa benar. Aku belum bisa tersenyum.
Tapi kenapa waktu itu aku bisa tersenyum dan tertawa?
Apa itu benar mimpi? Tapi kenapa terlihat begitu nyata?
Apa ini ulah Ibu yang menunjukkan mimpi tersebut, agar kita tidak celaka?
Terus, apa alasannya Ibu menolong kita?
Banyak pertanyaan yang berkecamuk dalam pikiranku.
Aku tak tahu, harus bertanya pada siapa!
Kami keluar membawa barang belanjaan. Air minum dan beberapa snack.
Kami mendekati Mang Cipto.
"Ayo Mang kita berangkat," ujar Keysa.
"*Mending kita disini aja dulu Non. Percuma kita tak bisa lewat!"
"Loh, memangnya kenapa?"
Mang Cipto menghela nafas .... Sedangkan aku hanya menyimak pembicaraan mereka berdua.
Mang Cipto melanjutkan cerita.
"Tadi ada mobil polisi dan ambulans berhenti disini sebentar karna menurunkan seseorang. Aku tanya sama orang yang diturunkan tersebut. Katanya, tak jauh dari sini ada mini bus dan truk bermuatan bertabrakan. Kecelakaannya parah, sampai membuat jalanan jadi macet!" jelas Mang Cipto.
"*Terus siapa orang yang turun tersebut? Dan mengapa dia turun?"
"Bilangnya si pegawai baru rumah sakit dan dia tidak sanggup kalau melihat kejadian tersebut,"
"Terus kenapa malah turun disini?"
"Kalau itu aku tidak tahu. Mungkin rumahnya dekat sini*."
Kalau dari sini memang tidak terlihat. Bukan hanya jarak yang sedikit jauh, tapi juga karna didepan ada tikungan tajam yang membuat mata kita tak melihat tempat kejadian.
Kita hanya berdiri diluar mobil yang terparkir dipinggir jalan.
Keysa sibuk melontarkan pertanyaan sama Mang Cipto.
Mataku mengikuti seorang wanita. Rambutnya diikat membulat kebelakang. Pakaian ketat dengan tas kecil ditangan kirinya. Androknya cuma sampai lutut dan dia memakai sandal heels.
Perempuan tersebut masuk ke dalam warnet sebelah supermarket.
Sekitar 5 menit-an dia keluar dan pergi menuju jalan sebrang dimana mobilnya terparkir.
Belum sampai mobil dia dikagetkan oleh suara ban yang melecit. Perempuan tersebut hampir tertabrak. Dia terlihat marah dan mengacunkan jari tengah.
Tak berapa lama terdengar suara, "dia target berikutnya."
Penglihatan kembali memudar. Saat tersadar aku kaget karna aku baru keluar dari supermarket. Seolah aku mendapatkan penglihatan tentang apa yang harus aku lakukan.
"Kenapa Syi, kok kamu melamun?"
Aku hanya menggeleng dan kita kembali berjalan menuju mobil.
Terjadi percakapan antara Mang Cipto dan Kesya. Percakapan yang sudah aku dengar sebelumnya.
Posisi aku berdiri disamping mobil, sebelah timur dan menghadap kearah selatan.
Sedangkan posisi perempuan itu, yang beberapa saat lagi akan datang. Dia datang dari arah selatan menuju utara, posisinya ada disebelah barat.
__ADS_1
Depan warnet ada Ibu muda duduk dikursi pegang pisau sambil mengupas apel untuk anaknya yang ada disebelah. Mungkin Ibu ini adalah pemilik warnet tersebut.
Tak lama perempuan yang aku targetkan datang. Mobilnya terparkir disebelah barat. Dia menyebrang untuk pergi ke warnet.
Terlintas dipikiran akan strategi apa yang harus aku lakukan.
Pertama aku harus mengambil tali yang ada dijok belakang mobil.
Aku ambil tali dan menyusun strategi.
"Kak main ikat-ikatan tali dikaki yuk!" ajakku sambil memperlihatkan tali yang aku pegang. Kesya melihat dan hanya terdiam penuh pertanyaan.
"Siapa yang ikatannya paling kuat dan gak bisa dilepas, dia akan mendapatkan Wira!" tegasku meyakinkan. Kesya mengangguk sambil tersenyum.
Aku ikat kaki kesya membentuk simpul yang mudah dibuka. Mang Cipto hanya memperhatikan kami tanpa bertanya.
Kesya membuka tali dan tersenyum. Mungkin dia pikir mudah, padahal memang itu rencana yang aku lakukan.
Giliran Kesya mengikatkan tali padaku. Mata menyelidik melihat perempuan itu sudah lewat.
Aku berusaha untuk membuka dan memang tak terbuka karena ikatan Kesya begitu kencang.
"Aduh gimana ni gak bisa Aku buka?" ucapku seakan mengeluh. Kesya tertawa dan beranggapan dia telah menang.
"Syi kamu disini, Aku mau pinjam pisau sama Ibu itu!" ucap Kesya. Rencana yang aku susun ternyata berhasil.
"Gak usah Kak. Keysi saja yang meminjam pisau tersebut!" ucapku meyakinkan.
Aku melirik kearah Ibu tersebut, dia tersenyum melihat ulah kita.
Perempuan itu baru saja masuk. Kurang dari 5 menit aku harus membuat goresan pada hells miliknya agar patah. Tapi, gak langsung patah dan membutuhkan beberapa waktu.
Aku menghampiri ibu tersebut dan meminjam pisau kepadanya.
Sambil tersenyum dia menyodorkan pisau. Pisau aku ambil dan aku duduk jongkok didekat sandal hells wanita itu.
Badanku membelakangi ibu itu biar dia tidak melihat apa yang akan aku lakukan.
Jarak antara warnet dan jalan seberang tempat mobil dia terparkir berjarak kurang lebih 50 meter.
Aku harus membuat goresan yang sekiranya kurang dari 47 meter goresan tersebut mematahkan hells miliknya.
Kalau aku gores dari samping mungkin dia hanya sedikit keseleo ketika heels-nya patah dan dia bisa sempat menghindar.
Aku harus menjatuhkan tubuhnya. Jatuhnya juga harus kekiri, kalau kekanan mungkin dia akan mengalami luka yang tak begitu parah. Jadi aku harus menggores hells bagian kiri.
Kalau gores dari samping dan menggores bagian yang mengerucut kecil. Mungkin, patahnya gak begitu berpengaruh pada-nya. Berarti aku harus menggoresnya dari ujung bawah supaya ketika dibuat berjalan akan pecah dan metahkan heels dan badannya jatuh dengan sangat hebat.
Kalau aku menggores setengahnya. Mungkin, belum sampai diseberang hills-nya akan patah. Jadi, aku harus menggores atau membelah seper-empatnya saja.
Aku mulai memberikan goresan pada heels-nya. Tapi, tak semudah yang aku pikirkan. Hells-nya lumayan kuat. Aku membutuhkan waktu untuk menggores.
"Belum putus juga? Sini Ibu bantu?" tanya Ibu tersebut.
"Gak Bu, bentar lagi putus!" jawabku.
Akhirnya sudah seperempat goresan dan aku langsung membuka tali.
Aku langsung berdiri dan memberikan pisau ke ibu tersebut sambil bilang 'terimakasih.'
Aku berjalan menuju Keysa dan Mang Cipto.
"Yu kita berangkat. Lagian kita sudah lama disini!" terangku meyakinkan mereka.
Kita masuk mobil. Tali aku simpan lagi ketempatnya.
Mobil mulai jalan dan Mbak tersebut keluar dari warnet.
Aku harus menutup mata Kesya, supaya dia tak melihat apa yang akan terjadi.
"*Kak main tebak-tebakan yu?"
"Tebak-tebakan bagaimana Syi?"
"Merem sambil menebak nama snack yang dipegang. Tapi gak boleh mengintip*!"
Kita mulai permainan itu.
Kesya merem dan aku berikan snack.
Kesya menebak dan aku hanya bilang bukan sambil melihat kearah belakang.
Apa perhitunganku benar dan perempuan tersebut akan tertabrak?
Bersambung ... .
Tolong tinggalkan komentar, like, favorite, vote dan jangan lupa follow agar aku bersemangat untuk menulis.
__ADS_1