
Dek, Kamu salah satu murid yang ikut ke pemakaman Pak Umar ya? Kenapa kamu menangis? Apa kamu menangis karena ditinggal?" tanya seorang Ibu muda yang tak asing wajahnya.
"Ia Buk, Aku tertinggal," alasanku untuk meyakinkan dia.
Mungkin ini kesempatanku untuk mengenalnya, agar aku bisa membalaskan kematian Tante Vanesa.
Dia mengajakku masuk ke mobil. Aku masuk dan dia mengenalkan diri,
"Namaku Triya. Kamu bisa panggil Aku Ibu Tri. Namamu siapa?"
Aku diam sejenak sambil melihat kearahnya.
"*Keysi, Bu,"
"Keysi pulangnya kemana? Nanti Ibu Tri antar. Tapi, Ibu mau mampir dulu ke rumah Dee ledy untuk mengantarkan pesanan,"
"Namanya Dee Ledy?"
"Nama aslinya Ledia. Dia Istri dari polisi yang berdiri dibelakangmu*."
Rupanya Ibu Triya sudah memperhatikanku ketika di pemakaman itu.
Mobil berhenti didepan rumah besar. Digerbang dijaga oleh 2 security.
Ibu Triya mengajakku untuk masuk kerumah itu.
Kami turun dari mobil dan berjalan masuk melewati gerbang.
Terlihat Ibu Ledia tengah main diteras bersama anaknya Zivana dan Zelecia. Tapi, sosok Pak Paimin tidak terlihat.
"Dee Ledy, maaf ya aku lupa tidak sekalian ngasih pesanan. Karena, aku pikir mending pas mau pulang. Tapi, pas pulang Ibu dan keluarga sudah tidak ada."
"Maaf juga ya Triya. Karena, suami buru-buru pulang, dia ada tugas."
Terdengar mereka tengah bercakap.
Disisi lain, Anak Bu Ledia mendekatiku.
"Keysi, akhirnya kamu main juga kesini?" tanya Zelecia
"Ia, kebetulan Ibu Tri mau kesini!" jawabku.
"Tri, gadis itu anak Kamu?" tanya Bu Ledia.
"*Bukan Dee, lagian mana bisa punya anak, aku kan Janda!"
"Oh ia maaf. Kirain anak kamu dari siapa gitu, 'hehe',"
"Aku kasian. Dia tertinggal di area pemakaman. Jadi sekalian, aku antar dia pulang*!"
Tanganku ditarik sama kedua anak itu dan aku diajak main.
Tak lama kami pamit pulang dan mereka berdua berharap kalau kapan-kapan aku main lagi kerumahnya.
Tentu saja aku akan main lagi kesini. Tapi, bukan untuk main.
Kami memasuki mobil dan mobil pun melaju.
Bagaimana caraku menghabisi Janda pemilik Butik ini?
Bu Triya adalah Janda, tapi dia tak punya anak. Suaminya meninggal muda.
Aku tahu hal itu setelah mendengar percakapannya dengan Ibu Ledia.
Bagaimana caranya aku membunuh Ibu Tri? Dan aku takut, kalau nanti ada kecurigaan dari Ibu Ledia. Karena, dia tahu orang yang bersamanya adalah aku.
Aku terdiam sambil berpikir. Terdengar Bu Tri bertanya beberapa kali,
__ADS_1
"Di mana rumahmu?" Aku hanya menjawab,
"Tidak jauh lagi, Bu."
Tak lama terdengar suara berbisik,
"jangan ragu Syi, aku akan melindungimu."
Dari jauh terlihat ada mobil kontainer melaju dari jalan seberang.
Tak lama lagi, mobil tersebut akan berpapasan.
Dengan cepat aku membuka tali pengaman dan berdiri sambil merebut setir dan membantingnya kearah kanan.
"Bruat ...." suara hantaman begitu kuat.
Aku terpental dari jendela samping yang memang dibuka. Karena, waktu itu Ibu Tri pegang setir sambil merokok.
Tubuhku melayang melewati aspal jalanan dan terjatuh di semak pinggir jalan.
Aku tidak mengerti, seolah ada seseorang yang mendorongku keluar.
Tangan dan kakiku sedikit memar dan ada darah segar mengalir dari atas kepala.
Aku tak sadar, kalau kepalaku membentur batu.
Sambil tergolek lemas, aku melihat kearah mobil hitam yang tadi kami tumpangi.
Bagian depan mobil hancur.
Ibu Tri menangis merintih kesakitan. Tubuhnya terjepit dan nyaris putus.
Warga yang melihat berusaha untuk menolong. Tapi, karena pendarahan yang teramat hebat dia meninggal ditempat.
Sedangkan sopir kontainer dan kernetnya tak mengalami luka yang serius.
Terdengar ada suara dari warga yang berteriak kalau ada korban yang terpental di semak.
Beberapa mereka mendatangiku.
Aku tersenyum. Karena, Ibu Triya akhirnya meninggal.
Warga mendekat dan aku pingsan dengan senyuman.
Aku membuka mata dan terlihat ruangan yang agak gelap. Entah ada dimana, Aku pun tak tahu!
Tak lama ada perempuan yang mendekat.
Perempuan tersebut adalah Tante Vanessa. Dia mendekatiku sambil tersenyum.
"*Tante, kenapa kau membohongiku dan berpura-pura menjadi Ibu?"
"Karena, kalau Aku kasih tahu siapa sebenarnya. Mungkin, Kamu tak akan mau membalaskan dendamku!"
"Sudah cukup, Aku tak mau lagi mendengar apa katamu,"
"Kalau Kamu tak mau? Aku akan menyuruh Keysa."
"Jangan kau sentuh Kakakku. Jangan kau kotori tangannya dengan darah!"
"Kalau kamu masih tidak mau, Aku akan paksa Keysa untuk menggantikanmu*!"
Sejenak aku terdiam. Aku bingung apa yang harus aku lakukan. Aku pun tak mau kalau Keysa terlibat dalam masalah ini.
Aku menyayangi saudariku melebihi apa pun dan aku tak mau kalau dia sampai terluka.
"Baiklah, Aku akan menuruti kemauanmu. Tapi, singkirkan tangan busukmu darinya!"
__ADS_1
"Keysi keponakanku, Tante berjanji tak akan melibatkan Keysa."
Tak lama pandangnku kembali memudar. Gelap dan semakin gelap.
Terdengar Tante Vanessa tertawa dan aku tak sadarkan diri.
Aku terbangun dan melihat sekeliling. Terlihat aku terbaring disebuah kamar dengan infus ditangan.
Ada sosok perempuan tengah duduk disebelah dan perempuan ini kalau tidak salah dia ada di pemakaman Pak Umar.
"*Anda siapa? Dan aku ada dimana?"
"Sekarang kamu ada dirumah sakit. Namaku, Bunga. Aku pemilik Butik Ibungakkyu. Butikku bersebelahan dengan Butik Bu Triya."
"Berapa lama aku ada disini?"
"Sudah seminggu. Selama ini kamu koma*!"
Bu Bunga langsung meninggalkanku dan dia bilang akan memanggil dokter untuk mengecek kondisiku.
Tak lama dia kembali membawa dokter dan kata dokter, besok aku sudah bisa pulang.
Tapi, dokter memberikan saran kepada Ibu Bunga agar jangan dulu banyak bertanya kepadaku. Karena, kondisiku belum sepenuhnya pulih.
Ibu Bunga mengiyakan dan dokter pun keluar.
"Setiap hari aku kesini datang menjengukmu. Aku ingin tahu sebenarnya apa yang terjadi." ujar Bu Bunga.
Tak lama terdengar suara pintu terbuka.
Keysa datang mengenakan seragam sekolah.
Dia didampingi Mang Cipto dan Bi Sri. Mereka menangis bahagia karena aku sudah siuman.
Dan Ibu Bunga pamit pulang.
"Tunggu Bu. Terimakasih karena selama ini telah menjengukku. Kapan-kapan bolehkan Aku main ke butik Ibu?"
"Dengan senang hati. Aku pun ingin tahu kejadian yang telah menimpamu dan Bu Triya."
Ibu Bunga keluar meninggalkan kita.
Keysa memelukku yang masih terbaring, lantas disusul oleh Bi Sri.
Sekali tepuk dua lalat, 'pikirku.' Karena, aku sudah menemukan target selanjutnya.
Tadinya, aku berpikir untuk menghabisi Pak Richard Paimin terlebih dulu. Tapi, alangkah lebih mudah kalau aku habisi mereka dari yang paling lemah.
Tak mungkin, aku yang sekarang bisa menghabisi Kapten Polisi itu.
Aku tak sadar kalau Keysa dan Bi Sri tengah memeluk dan menangisiku.
Aku mencoba mengusap air mata Keysa.
"Sudah, kalian jangan menangis. Aku juga sudah tidak apa-apa," ucapku melihat kearah mereka berdua.
Mereka melepas pelukannya dan aku berusaha untuk duduk.
Dengan cepat Keysa mengambil nampan yang berisi piring dan air minum.
Nampan dipangku dan dia menyuapiku layaknya bayi.
Aku terharu dan menangis sambil memandang kearah Keysa yang tengah menyuapiku.
Dalam hati, aku berjanji akan menjaga Keysa dan tak akan ada siapa pun yang boleh menyakitinya.
Bersambung... .
__ADS_1
Tolong tinggalkan komentar, like, favorite, vote dan jangan lupa follow agar aku bersemangat untuk menulis.