DENDAM (Keysi S3 "Coming Soon") KEYSI S1 &S2 (End)

DENDAM (Keysi S3 "Coming Soon") KEYSI S1 &S2 (End)
Episode 19 (Final Fight)


__ADS_3

Aneh, tiba-tiba darah Om Rangga berhenti. Aku melihat disela bajunya yang sobek. Nampak, tak ada bekas luka sama sekali.


"*Om, kok?"


"Rawa Rontek Syi. Nanti, akan Om jelaskan kalau semuanya sudah selesai*!"


Darah yang keluar dari tubuhku tiba-tiba mengering. Tapi, tak seperti Om Rangga, lukaku masih ada.


Aku baru sadar, kalau Om Rangga tak mengenakan alas kaki.


Apa ada hubungan dengan Rawa Rontek yang barusan dia bilang?


Entahlah, aku tak harus memikirkan ini sekarang!


Kita berjalan masuk.


Om Rangga meneriaki nama Lyli.


Saat kami memasuki ruangan tersebut. Keysa sudah dalam posisi tertidur di ranjang yang entah kapan sudah Tante Lyli siapkan. Ranjang satunya masih kosong. Apa ranjang tersebut dia siapkan untukku?


"*Rangga ... Sejak kapan Kau sadar? Rupanya Kau sudah bisa lepas dari Nyai Cempaka?"


"Jangan panggil nama tersebut. Lepaskan Keysa dan menyerahlah!"


"Menyerah katamu? Enak saja! Aku sudah lama menunggu hari ini tiba dan beberapa jam lagi, keinginanku akan terwujud*!"


Kami tak menyadari kalau diruangan tersebut hanya ada Tante Lyli dan Keysa yang tengah terbaring.


Tiba-tiba dari arah belakang Wahyu berlari sambil menghantamkan palu ke badan Om Rangga.


Om Rangga tersungkur. Wahyu tertawa dan berdiri disamping Ibu angkatnya.


"Om tak apa?" ujarku membangunkannya.


"Aku tak apa Syi!"


Om Rangga membisikan sesuatu dan langsung menatapku.


Aku mengangguk dan kami mulai mendekati kedua orang tersebut.


Tante Lyli memasang kuda-kuda. Dia pikir, Om Rangga akan menyerangnya.


Saat Tante Lyli berusaha memukulnya, Om Rangga menunduk, menghindari serangannya dan menangkap Wahyu.


Aku yang berlari dibelakang Om Rangga langsung lompat dan menendang Tante Lyli.


Dia terpental menabrak tembok.


Om Rangga membaringkan Wahyu secara paksa di ranjang satunya.


Wahyu berontak.


"Syi, ambilkan tali yang ada disudut ruangan!"


Dengan sigap aku mengambil tali tersebut dan memberikannya pada Om Rangga.


Lyli bangun dan tertawa, dia berujar,


"Hm, serangan seperti ini tak akan mempan terhadapku!"


Aku mengambil pisau yang ada diatas meja. Meja tersebut tepat berada diantara dua ranjang.


Aku berlari dan menikam perut Tante Lyli.


Perutnya seperti baja, hanya bajunya saja yang tergores.


Lyli tertawa dan dia menjambak rambutku.


Aku memegang tangannya dengan kuat.


Lyli menjerit kesakitan dan melepaskan tangannya.


"*Sejak kapan Vanessa menjadi kuat kembali?"


"Kau pikir, hanya ada Tante Vanessa dalam tubuhku? 'hahahahaha*' "


Om Rangga sudah berhasil mengikat Wahyu dan dia langsung mencekik leher anak kandungnya tersebut!


Tatapan mata Lyli mulai berbeda.


Mataku bisa melihat dengan jelas. Sosok yang selama ini ada didalam tubuh Lyli dan selalu menyelamatkankannya. Sosok itu tiba-tiba keluar.


Dengan cepat sosok tinggi besar berbulu hitam tersebut keluar dari badan Lyli.


Dan pergi kearah Wahyu, lantas merasuk ke dalam tubuhnya.


"Syi, sekarang ...!" teriak Om Rangga.


Tante Lyli menatapku dan pisau langsung aku tusukan ke perutnya.


"Jleb," mata Tante Lyli melotot. Dari mulut keluar darah segar.


Ternyata benar apa yang Om Rangga bisikan. Sosok Genderuwo yang melindungi tubuh Lyli lebih menyayangi Wahyu dari pada istrinya sendiri. Mungkin, karena Wahyulah yang selalu memberi dia makan.

__ADS_1


Wahyu berontak. Tali yang mengikatnya tiba-tiba hancur.


Dia bangun dan mendorong tubuh Om Rangga. Wahyu berlari mendekati Ibu angkatnya.


Tante Lyli langsung terduduk setelah aku tusuk.


Aku mundur, membangunkan Om Rangga.


Wahyu menangis sambil mendekap tubuh ibunya.


"Ayo, Kita selamatkan Keysa dan pergi dari sini!"


Om Rangga langsung memegang Keysa dan mengangkat tubuhnya.


Keysa masih tak sadarkan diri.


Kami bergegas keluar dari ruangan tersebut.


Kami berhenti sejenak dan melihat kearah Wahyu yang tengah menjerit dan menangis.


Lyli meninggal dengan pisau yang menacap diperut.


Wahyu memegang pisau tersebut dan menariknya.


"Keysi. Suatu saat, Aku pasti akan membunuhmu!" ucap Wahyu sambil menodongkan pisau tersebut kearahku.


Entah mengapa Wahyu berkata seperti itu dan tidak langsung menyerang kami.


Apa dia berpikir kalau takkan menang? Entahlah, aku juga tak harus memikirkan ini!


Kita bergegas keluar dari ruangan tersebut dan keluar dari rumah penjagalan ini.


Baru meninggalkan rumah. Kita dikagetkan oleh langkah sepatu.


Kita berlari dan sembunyi dibalik pepohonan.


Pak Paimin dan beberapa anggota kepolisian datang kerumah tersebut.


Sedangkan beberapa anggota polisi lain memutar dan mengelilingi rumah.


Pak Paimin dan dua anggota polisi yang tersisa masuk kedalam rumah sambil memegang pistol.


Tak lama mereka keluar dan membawa Wahyu.


Tangan Wahyu diikat dan dia di bawah secara paksa.


Pak Paimin memanggil ambulans lewat radioa yang dia pegang.


Tak lama, beberapa orang mengenakan pakaian serba putih datang dan diringi pula oleh awak media yang langsung meliput ke lokasi.


Mereka masuk kembali kedalam rumah tersebut dan keluar sambil menandu Tante Lyli yang sudah meninggal ditempat. Yang lain menandu beberapa sisa mayat yang sudah mereka masukan kedalam kantong mayat.


Sebelum mereka pergi, ada salah satu polisi memasang garis pembatas dirumah tersebut dan mereka pergi meninggalkan lokasi.


Kami berjalan kelaur dari hutan.


Keysa masih tak sadarkan diri. Dia masih digendong sama Om Rangga.


Sebentar lagi jalanan akan terlihat. Tapi, Om Rangga belok kanan. Aku, mengikutinya.


Ternyata, Om Rangga menyembunyikan mobilnya disini. Diantara peponohan dan ditutupi dengan dahan berdaun.


Dia meletakkan Keysa di atas tanah dan membuang dahan berdaun tersebut.


Dirasa sudah bersih, pintu dibuka dan Keysa dibaringkan di jok belakang.


Om Rangga masuk dan aku pun masuk, duduk disebelahnya.


Sementara itu, cahaya mentari sudah mulai naik. Pagi ini, dia membawaku pulang.


Entah apa yang terjadi dirumah. Mungkin, mereka menghawatirkan kita berdua yang tak pulang seharian.


Om Rangga menyuruhku mengambil kantong plastik yang berada tepat dikakiku.


Aku mengambilnya dan ternyata, itu adalah pakaian lengkap.


Aku disuruh mengganti pakaian didalam mobil. Entah kebetulan atau sudah direncanakan. Om Rangga seperti sudah tahu apa yang akan terjadi kepadaku.


Aku mengganti pakaian dan membuang seragam sekolah yang sudah koyak berlumuran darah ke tong sampah yang ada di pinggir jalan.


Untungnya, dirumah masih ada seragam cadangan. Tapi, pakaian yang Om Rangga kasih bisa pas dengan badanku.


Aku tersenyum memandang kearahnya.


Keysa terbangun. Dia bingung kenapa bisa berada didalam mobil.


Dia bertanya padaku tentang Om Rangga dan aku menjelaskannya kalau Om Rangga adalah Om kita.


"*Syi, Aku mimpi diculik sama Tante-tante. Aku disekap dan tak lama dibawa ketempat yang berada ditengah hutan. Aku melihat Kamu memegang pisau dan hati.


Mimpi yang aneh ya Syi?"


"Ia Kak. Namanya juga mimpi*!"

__ADS_1


Aku tersenyum, begitu juga Om Rangga. Syukurlah, Keysa tak sadar dengan kejadian itu. Dia menganggap bahwa yang sudah terjadi kemarin adalah mimpi.


"*Tapi, kenapa Aku bisa ada disini?"


"Mungkin, Kamu kelelahan saat belajar. Padahal sepulang sekolah, Om jemput Kamu dan Kita main bareng. Ia kan Syi?"


"Ia Om, bener! Apa Kakak lupa, kalau seharian penuh kita bermain?"


"Kakak lupa, Syi*!"


Om Rangga tertawa, aku ikutan tertawa.


Keysa bingung ... Tapi, akhirnya dia juga ikut tertawa.


Setelah berjalan cukup jauh. Akhirnya, Sampai juga dirumah.


Mobil diparkir didepan gerbang. Om Rangga mengambil jaket yang dia taruh di jok belakang da memakainya. Guna, menutupi bajunya yang sobek. Lantas, dia juga mengenakan kaus kaki dan sepatu.


Om Rangga mengantar kami sampai memasuki gerbang dan terus berjalan mendekati rumah. dia pula yang mencet bel rumah.


Terdengar suara teriakan, "ya, tunggu sebentar!" Suara Bi Sri.


Pintu dibuka. Bi Sri terkejut melihat kepulangan kami.


Tak jauh dari belakangnya Ayah dan Mang Cipto mendekat.


Bukannya senang dengan kepulangan kami. Ayah menunjukkan raut wajah emosinya.


Bukan emosi kepada kami. Tapi, pada Om Rangga.


Ayah mengepalkan tangan dan dengan cepat hendak memukul Om Rangga tanpa bertanya terlebih dahulu. Tapi, tubuhnya di peluk erat sama Mang Cipto dari belakang.


"Sudah Pak, jangan emosi dulu! Lebih baik kita tanya, apa yang telah terjadi!" ujar Mang Cipto menenangkan Ayah.


Ayah begitu emosi dan dari mulutnya tercium dengan keras bau alkohol.


"Pak Rangga. Tolong jelaskan!"


"*Sepulang sekolah, Kami habis diajak jalan-jalan sama Om Rangga!" jelasku.


"Ia, benar!" sahut Om Rangga.


"Diam Kamu Keysi. Biarkan Aku mendengar penjelasan dari mulutnya! Tak tahu kah betapa hawatirnya Ayah mendengar kalian tiba-tiba menghilang? Ayah hampir lapor ke pihak berwajib. Tapi, menunggu 24 jam baru bisa melaporkan kehilangan kalian*!"


Om Rangga hanya tertunduk. Dia bingung bagaimana menjelaskan peristiwa sebenarnya.


Keysa mendekati Ayah. Memeluknya sambil tersenyum.


"Udah Yah, kita kan tidak kenapa-napa. Lagian, Om Rangga baik kok!"


Ucapan dan Pelukkan Keysa meluluhkan hati Ayah.


Ayah memeluknya balik. Tapi, dia melepaskan pelukannya, seraya berkata, "Bau Asem!"


Ucapan Ayah membuat Keysa mencium badannya. Keysa tertawa dan suasana tegang langsung berubah.


Kita semua tertawa dan aku juga merasakan hal yang sama. Aku pasti bau, malah kemungkinan lebih bau dari Keysa. Aku lebih berkeringat dari dia.


Aduh, efek seharian tak menyentuh air untuk mandi.


Aku lupa, tenggorokanku begitu kering.


"Jangan bergerak!" ujar Pak Paimin dan beberapa anggota polisi lain. Mereka menodongkan pistol dan memborgol tangan Om Rangga.


Om Rangga hanya diam. Dia tak melawan dan pasrah.


Pak Paimin mendekatiku. Sambil jongkok. Dia berbisik,


"Terimakasih, Kamu sudah mengakhiri ini semua!"


Dia berdiri dan tersenyum.


Memberikan salam hormat, lantas pergi meninggalkan rumah.


Rupanya, sedari tadi kita telah dibuntuti sama pihak yang berwajib. Tapi, kita tak sadar.


Sepeninggal mereka (polisi). Bi Sri dan Mang Cipto menangis.


Ayah membalikkan badan. Aku tahu, dia juga terbawa suasana. Tapi, dia malu untuk menunjukkannya.


Ayah langsung pergi meninggalkan kita.


Bi Sri menggiring kita ke kamar dan memandikan kita berdua.


"*Non Keysi. Kenapa kaki Non lecet semua?"


"Oh, ini Bi? Saking asyiknya Kita bermain, Aku tak sadar dan sempat terjatuh ke semak berduri!"


"Makanya, kalau main jangan meleng gitu*!"


Hari ini, kita tak bersekolah. Karena, sudah siang.


Besok, kita bisa beraktifitas lagi seperti biasa.

__ADS_1


Bersambung ... .


Tolong tinggalkan komentar, like, favorite, vote dan jangan lupa follow agar aku bersemangat untuk menulis.


__ADS_2