DENDAM (Keysi S3 "Coming Soon") KEYSI S1 &S2 (End)

DENDAM (Keysi S3 "Coming Soon") KEYSI S1 &S2 (End)
Episode 7 (Tragedi Kamar Mandi)


__ADS_3

Dinginnya AC menusuk ke penjuru ruangan, membuat tubuh kecilku menggigil.


Aku bangun dari ranjang dan mencoba mencari remote untuk menurunkan suhu.


Perlahan aku berdiri, menelisik ke setiap sudut ruangan.


Terlihat remote AC tergeletak diatas kursi.


Aku berjalan sambil menyeret tiang infus yang aku pegang.


Aku mengambil Remote dan suhu diturunkan.


Aku kembali berjalan menuju tempat tidur. Tiba-tiba aku terkaget. Karena, ada sosok wanita tengah berdiri disamping tempat tidurku.


Wajahnya pucat, darahnya bercucuran dan anggota tubuhnya tak utuh.


Bu Triya. Itulah sosok yang aku lihat.


Badannya menghadap tempat tidur, aku hanya melihatnya dari samping.


Perlahan dia membalikkan badan dan melihat kearahku.


Badannya seketika jatuh, seolah tulang yang menyagah tubuhnya tak kuat menahan.


Sambil merangkak dia mencoba mendekat. Tubuhnya terseret meninggalkan bercak darah dilantai.


Aku tak bisa bergerak, tubuhku mematung karena takut.


Jaraknya sudah begitu dekat, hanya berkisar 1 meter.


Dia mendongakkan kepala dan memutar leher sampai wajahnya melihat kebelakang.


Sosok Tante Vanessa tiba-tiba ada dibelakang Bu Triya.


Dengan sigap Tante Vanessa menarik tubuhnya.


Wajah Tante Vanessa menghadapku, tersenyum. Sementara, kedua tangan tante Vanessa memegang tubuh Ibu Triya yang merontah.


Seketika mereka hilang dari pandangan dan bercak darah yang ada dilantai, tiba-tiba menghilang.


Kejadian itu membuat tubuhku bergetar hebat.


Peluh bercucuran.


Aku langsung terduduk di kursi sambil memahami apa yang baru saja terjadi.


Tubuhku lemas, mati rasa dan mata mulai terpejam.


Aku pun tertidur ....


Pagi hari aku terbangun ditempat tidur.


Terlihat Bu Bunga duduk dikursi itu. Apa dia yang memindahkanku ke tempat tidur?


Dia tersenyum melihatku yang sudah terbangun.


"*Kenapa kamu tidur di Kursi?"


"Gak apa Bu. Aku hanya lelah berbaring dan ingin duduk. Tapi, malah ketiduran, 'hehe*',"

__ADS_1


Ibu Bunga berdiri dan menarik kursinya seraya mendekatiku.


Kursi sudah ada disamping ranjang dan dia duduk sambil memandang.


"Kamu sudah bisa bercerita kan?" tanya Ibu Bunga. Aku diam sebentar dan berpikir untuk mencari alasan.


"Aku tak tahu kejadian pastinya. Tapi, tiba-tiba mobil yang kami tumpangi melenceng kearah jalan yang berbeda dan menabrak mobil kontainer itu!" jelasku.


Ibu Bunga langsung berdiri dan memukul tangannya ke senderan kursi.


"Bedebah. Aku tahu ini pasti ulah Lyli. Tapi, caranya begitu busuk. Pasti dia menyuruh suami ghaibnya untuk mencelakai Kita satu persatu. Aku sudah menduga, kalau hari ini akan datang!" gumam Bu Bunga kesal.


Rupanya dia mengira kematian Ibu Triya disebabkan oleh Bu Lyli. Aku merasa lega. Karena, aku tak harus memikirkan alasan lain untuk menjawab.


Ibu Bunga melihat kearahku. Matanya mendadak merah dan air matanya menggenang, mengalir membasahi pipinya yang agak sedikit tembem.


"Maafkan Aku. Gara-gara perselisihan diantara Kita, Kamu hampir saja menjadi korban."


Mendengar kata yang dia ucapkan membuatku ingin tersenyum. Tapi, aku menahannya agar Bu Bunga tidak curiga.


"Tidak apa Bu. Lagian, Aku juga selamat."


Bu Bunga langsung mendekapku dan dia menangis. Aku senang. Karena, akan ada alasan agar aku bisa dekat dengan dia.


Pandanganku mendadak gelap dan aku melihat Ibu Bunga masuk ke kamar mandi. Dia terpeleset dan kepalanya menghantam bak mandi.


Pandangan kembali gelap dan aku melihat Bu Bunga yang menangis dan tak lama dia memelukku.


Mungkin, aku sudah mendapatkan penglihatan apa yang akan terjadi. Tapi, kenapa waktu kejadian Ibu Triya, aku tak melihatnya. Hanya bisikan saja yang menghampiri.


Bu Bunga melepaskan pelukan. Aku pamit untuk ke kamar mandi yang memang masih satu ruangan. Kamar mandi ini berada disamping tempat tidurku dan jaraknya sekitar dua meter. Kamar aku dirawat lumayan luas hingga kamar mandi pun ada didalam.


Bu Bunga mengantarku sampai depan pintu. Aku masuk dan menutupnya.


Bagaimana caraku membuat Bu Bunga celaka?


"Sudah belum? Ibu juga mau pakai kamar mandi?" teriak Bu Bunga dari luar.


"Ia Bu, sebentar!" jawabku dari dalam.


Aku melihat sabun mandi dan mengambilnya. Sabun itu aku letakkan didekat pintu dan aku keluar.


Baguslah. Bu Bunga memandang kearahku sambil masuk, dia tidak melihat kearah lantai.


Sabun terinjak dan dia tersungkur. Kepalanya membentur bak mandi.


Darah segar mengalir deras dari kepala. Dia jatuh terlentang.


Matanya menatapku tajam dan berkata,


"Sial, ternyata dari awal kamulah yang ingin mencelakai kita. Aku tidak berpikir kesitu. Karena, kamu hanya anak kecil. Bedebah, ternyata kau sama kejinya seperti Vanessa!"


Aku hanya terdiam melihatnya. Mataku melotot kearah Bu Bunga.


Aku tersenyum dan dia mencoba bangun.


Dengan segap aku menutup pintu dan membiarkan dia mati kehabisan darah.


Beberapa kali dia mencoba membuka pintu. Aku menahannya dengan sekuat tenaga agar pintu tak terbuka.

__ADS_1


"Blug," suara tubuh Bu Bunga terjatuh.


Tidak lagi terdengar ada suara orang beraktifitas dari dalam kamar mandi.


Mungkin dia pingsan dan tinggal menunggu waktu sampai dia benar-benar meninggal.


Aku kembali ketempat tidur dan merebahkan badan.


Tak lama terdengar ada suara seorang lelaki masuk sambil mengucapkan permisi.


Rupanya dia cleaning Servis yang hendak membersihkan ruangan ini.


Aku pura-pura tertidur. Dia mulai menyapu dan ketika dia mau ambil air buat mengepel. Dia kaget, karena melihat Bu Bunga yang terkapar dikamar mandi.


Dia berlari keluar dan memanggil beberapa orang.


Beberapa orang masuk, termasuk dokter. Dokter mengecek keadaan Ibu Bunga dan terdengar dari mulutnya berucap, "Inalillahi wa innailaihi roji'un."


Badannya diangkat keluar dan meletakkan tubuhnya diatas ranjang roda yang sudah mereka siapkan diluar kamar.


Tubuhnya dibawa pergi entah kemana. Mungkin, ke kamar mayat.


Cleaning Servis kembali masuk kamar mandi dan dia membersihkan bercak darah yang membasahi lantai.


Aku melihatnya dengan jelas. Karena, aku membuka mata dan mereka tak sadar.


Dirasa sudah bersih, Cleaning Servis itu keluar dari kamar mandi dan mendapatiku membuka mata. Dia datang menghampiri dan menjelaskan kalau orang yang selalu datang menjengukku sudah meninggal didalam kamar mandi tersebut.


Mataku berlinang air mata. Tapi, hatiku tertawa.


Dia menasehatiku untuk tabah karena kepergian Bu Bunga. Aku hanya mengangguk sambil menangis.


Lantas orang tersebut langsung pergi meninggalkanku.


Tak lama ada beberapa anggota polisi datang, termasuk Pak Paimin dan Cleaning Servis.


Mereka mengecek kamar mandi, tempat ditemukannya Ibu Bunga meninggal sambil menunggu hasil visum.


Polisi mengecek kesetiap sudut kamar mandi, sementara Cleaning Servis itu bercerita.


Salah satu polisi melihat kearahku dan bertanya kepada Cleaning Servis, apa aku mengetahui kejadian tersebut. Dia menjawab, waktu kejadian itu aku masih tertidur dan tak mengetahuinya.


Tak lama ada perawat datang sambil membawa hasil visum. Tak ada tanda kekerasan pada mayat Bu Bunga dan mereka mengira kalau itu murni adalah kecelakaan.


Pak Paimin melihat kearahku dan mendekat sambil bertanya, "Apa kamu melihat ada sosok aneh masuk kekamar ini?" tanya dia berbisik.


"Sosok aneh apa ya?" tanyaku dengan wajah lugu anak kecil yang seolah tak mengerti.


"Oh, tidak apa. Sebaiknya kamu istirahat. Maaf telah mengganggu kenyamananmu."


Dia berbalik meninggalkanku. Mereka keluar meninggalkan kamar.


Aku merasa lega. Karena, Pak Paimin tak curiga. Pak Paimin hanya curiga kalau yang melakukan hal tersebut adalah sosok suruhan Ibu Lyli.


Tak berselang lama....


Keysa, Mang Cipto dan Bi Sri datang menjemputku.


Hari ini aku pulang dan besok bisa kembali sekolah.

__ADS_1


Bersambung ... .


Tolong tinggalkan komentar, like, favorite, vote dan jangan lupa follow agar aku bersemangat untuk menulis.


__ADS_2