
"Bagaimana nasibku yang terjebak dalam dunia Limbo?
Kenapa aku bisa terjebak di sini?" gumam Keysi.
(Break dulu! Ayok Kita lihat Wahyu yang masih terjebak di dalam kamar rehabilitasi)
Kamis, 13 Juli 2006.
Pukul 19.00 di hari yang sama.
Malam setelah kepulangan si kembar yang sempat menjenguk Wahyu.
Bayu, mampir ke tempat Wahyu dengan sosok gaib-nya (Genderuwo).
Waktu itu, Wahyu tengah membaca buku yang bersampulkan Buku Agama Islam. Tapi, hanya sampulnya saja. Sebenarnya Buku yang dia baca adalah ... Buku cerita tentang Psikopat yang diberikan sama Bayu dalam sosok manusianya beberapa bulan yang lalu.
"Anakku, sudah selesai baca cerita itu?" tanya Bayu.
"Eh, Ayah. Kapan datang? Kenapa datang dengan wujud yang seperti ini?" tanya Wahyu sambil menutup Buku.
"Barusan, Ayah datang buru-buru, soalnya tubuh manusia Ayah baru saja pulang ke rumah dan tak ada waktu kalau ke sini." jelas Bayu mulai mendekati Wahyu.
"Ayah dari mana?" tanya Wahyu melirik ke sebelah kirinya yang dilihat sama kamera pengawas, kalau tak ada siapa pun disana.
Bagi para pengawas yang melihat Wahyu seperti ini, mereka mengangggap kalau Wahyu sudah gila.
Penjagaan Wahyu disini, bisa dibilang terlalu ketat.
Bukan hanya di jaga sama dua orang di pintu kamarnya. Tapi, kamera pengawas pun, selalu menangkap gerak-gerik Wahyu.
"Ayah, habis bertemu dengan sepupumu dan sudah tak ada sosok yang menjaga dia.
Ayah lapor sama Mama dan sepupumu sekarang tengah diburu!" jelas Bayu dibarengi tertawa dengan nada yang begitu berat.
"Jangan buru Keysi, biarkan dia mati di tanganku!" pinta Wahyu dengan nada marah.
"Tenang saja! Mereka hanya bisa membuat Keysi kewalahan. Tapi Aku yakin, kalau tak ada yang mampu membunuh Keysi." jelas Bayu menenangkan.
"Kenapa bisa seperti itu? Pokoknya, Aku tak mau dia mati!" ujar Wahyu dengan tegas.
"Sudah, tak usah memikirkan itu. Bagaimana dengan pembelajaran yang didapat dari cerita yang ada didalam Buku?" tanya Bayu sambil mengelus-elus kepala Wahyu.
"Tak asik, tidak ada yang sadis. Masih sadis caraku membunuh, dari pada cara mereka yang di ceritakan di buku-buku." jawab Wahyu dengan nada kesal.
"Memang, sesadis apa?" tanya Bayu mencoba menggali ingatan Wahyu.
6 tahun yang lalu ....
Rabu, 24 mei 2000.
Pukul 14.00.
Waktu itu, ada sepasang remaja yang tengah berpacaran dan memilih kesepian.
Mereka masih mengenakan pakaian SMA.
Kala itu, sepasang kekasih yang tengah di mabuk asmara ini, ingin melakukan hubungan intim.
Biasanya mereka melakukan hubungan tersebut di bawah pohon.
"Masa Kita beginian di bawah pohon terus? Badanku gatel, Dit." ucap si perempuan yang mulai mengeluh.
"Dina sayangKu, habis mau bagaimana lagi? Disini adalah tempat yang paling aman!" jelas Adit yang sudah tak tahan dan ingin mencumbu Dina.
"Gak ah, Dit. Aku gak mau!" ucap Dina dengan nada marah dan mendorong tubuh Adit.
__ADS_1
Dina berjalan kearah hutan.
Adit mengekori Dina dan mencoba menarik tangannya.
"Sudahlah, Aku sudah tak tahan nih! Lagian, Kamu mau kemana si?" jelas Adit dan bertanya, sambil menggenggam erat tangan Dina.
"Lepaskan!" seru Dina menatap Adit yang ada dibelakangnya dengan amarah.
Adit melepaskan genggaman tangannya dan Dina berjalan semakin masuk ke dalam hutan.
Adit yang takut pacarnya kenapa-napa, akhirnya terus mengikuti kemana Dina pergi.
"Dit, lihat! Di situ ada rumah." ucap Dina sambil menunjuk kearah rumah kayu yang berada di tengah hutan.
"Rumah siapa, Na?" tanya Adit menyusul Dina dari belakang.
Dina berhenti dan Adit berdiri sejajar dengan Dina.
Adit merangkul pundak Dina dengan tangan kirinya.
"Aku gak tahu! Kamu si, kenapa bisa jalan sampai kesini?" tanya Adit memandang Dina sambil menyerengitkan dahi.
"Entah! Aku merasa, ada suara seorang pria yang menuntunku hingga kesini!" jelas Dina melangkahkan kakinya tanpa melirik kearah Adit.
Tangan Adit jatuh, karena Dina meninggalkannya.
Adit kembali berjalan dengan posisi sejajar.
Mereka berdua berjalan, mendekati rumah gubug yang ada di tengah hutan.
"tok-tok-tok. Assalamualaikum ...." ucap Dina yang tengah mengetuk pintu.
"Mungkin tak ada orang, Kita masuk saja!" ajak Adit sambil memegang kemaluannya.
"Kamu sudah tak tahan ya? Ayok, Kita masuk!" pinta Dina sambil melihat kearah Adit dengan senyuman mesra.
Dirasa rumah tersebut tak berpenghuni, mereka mulai bercinta di ranjang tidur milik Wahyu.
Wahyu yang habis menangkap kelinci, langsung pulang ke rumah.
Didapatinya pintu rumah terbuka, Wahyu langsung membuang kelinci yang dia buru dan dia bunuh dengan cara mengeluarkan isi perutnya.
Wahyu mendengar suara desahan perempuan yang dibarengi suara seorang lelaki.
Wahyu melepaskan kelinci buruannya hingga jatuh ke lantai.
Mendengar suara tersebut, membuat Wahyu tersenyum penuh hasrat dan memasuki rumah sambil mengendap.
Desahan seorang wanita terdengar begitu keras, kala Wahyu mendekati kamarnya.
Perlahan, Wahyu membuka pintu kamar yang di tutup dari dalam.
Saking asiknya Dina dan Adit, sampai tak sadar kalau ada Wahyu yang tengah mengawasi mereka berdua.
Wahyu mengendap, mendekati Adit yang tengah bergoyang diatas tubuh Dina.
Pisau yang Wahyu pakai untuk berburu kelinci, langsung dia hunuskan ke punggung Adit.
Wahyu menusukan pisau ke punggung Adit beberapa kali sambil tertawa.
Dina menjerit, kala melihat Wahyu yang tengah menusuk-nusuk punggung pacarnya.
Adit lemas tak sadarkan diri. Tubuhnya menindih Dina.
Dina berusaha kabur, tapi tak kuat mengangkat badan Adit.
"Tolong, lepaskan Aku!" pinta Dina merengek sambil menggelengkan kepala.
__ADS_1
Wahyu menyeringai dan menusukkan pisau ke lengan kiri Dina.
Dina teriak kesakitan. Tapi, tak menghentikan aksi Wahyu.
Wahyu menjilati darah yang keluar dari lengan Dina dan menendang kuat tubuh Adit hingga jatuh ke lantai.
Wahyu menindih tubuh Dina yang tak mengenakan busana.
Dia mengacungkan pisau ke atas.
Dina mencoba mengambil pisau dengan tangan kanannya. Tapi, Wahyu menyayat tangan kanan Dina.
Kini, kedua tangan Dina berlumur darah dan tak bisa lagi digerakkan.
Hanya tersisa kedua kaki yang dia hentakan untuk merontah.
Wahyu jatuh ke samping kiri Dina.
Dina mundur, mencoba bangkit dari tempatnya terlentang.
Dengan sigap, Wahyu menusukan pisau ke paha kiri Dina.
Dina menjerit kesakitan.
"Ku mohon, lepaskan Aku!" pinta Dina dibarengi dengan erangan.
"lubang apa itu?" tanya Wahyu yang melihat diantara dua paha.
"Ja-jangan ...!" seru Dina menggelengkan kepala.
Tiba-tiba, Wahyu merasakan ada yang berbeda dibalik celananya.
Dia merasa risih dan teringat sama apa yang dia lihat sebelum menusuk Adit.
Wahyu langsung menanggalkan semua pakaiannya dan mempraktekkan, apa yang Adit lakukan pada Dina.
Desahan dan erangan keluar dari mulut Dina.
Dina mencoba melepaskan diri. Tapi, hanya sisa kaki kanan saja yang bisa dia gerakkan.
Perlahan, Dina mengangkat kaki kanannya dan menendang kuat tubuh Wahyu hingga terpental dan jatuh ke lantai.
Dina mencoba bangun dengan sisa kekuatan yang dia punya.
Dengan hentakkan kaki kanan dan berguling, Dina mendekat ke bibir ranjang.
Tapi, Wahyu sudah terbangun dan menusukan pisau ke punggung Dina yang sudah dalam posisi tengkurap.
Dina lemas, tangisannya tak membuat Wahyu iba.
Wahyu membalikkan tubuh Dina dan melanjutkan aksinya.
Dina lemas tak berdaya.
Sedangkan Wahyu, tengah asik menggoyang pinggulnya diatas tubuh Dina.
Mata Wahyu tertuju pada bagian dada Dina.
Wahyu mencoba mengingat, apa yang di lakukan Adit kala itu.
Adit mengulum kedua dada Dina bergantian. Wahyu pun, mengikuti apa yang Adit lakukan.
Dina pingsan, karena mengeluarkan banyak darah.
Ranjang Wahyu memerah, penuh dengan bercak darah.
Bersambung ... .
__ADS_1
Tolong tinggalkan komentar, like, favorite, vote dan jangan lupa follow agar aku bersemangat untuk menulis.