DENDAM (Keysi S3 "Coming Soon") KEYSI S1 &S2 (End)

DENDAM (Keysi S3 "Coming Soon") KEYSI S1 &S2 (End)
Episode 13 (Dua Alam)


__ADS_3

Larut malam kita baru sampai rumah.


Ayah, pergi lagi. Katanya ada keperluan mendadak.


Mang Cipto dan Bi Sri langsung masuk ke kamar mereka masing-masing. Aku dan Keysa juga masuk ke kamar.


Keysa langsung merebahkan badan dan tertidur.


Aku duduk disebelah Keysa yang tengah tertidur pulas sambil melihat kearah jendela.


Nampak cahaya mengedip, seperti cahaya mobil yang sengaja dibuat mati-nyala.


Aku bergegas menuju jendela dan benar, ada mobil terparkir didepan gerbang rumah.


Mobil siapa itu? Semacam ngasih kode. Tapi, kode untuk siapa?


Aku penasaran dan segera keluar dari kamar.


Menuruni tangga dan menuju pintu utama yang terkunci.


Kunci aku buka dengan perlahan supaya tak membangunkan mereka yang sudah tidur.


Bergegas aku keluar dan menuju gerbang.


Sesampainya digerbang aku tak langsung membukanya.


Aku berdiri dari balik gerbang sambil melihat mobil tersebut.


Lampu mobil dimatikan dan seorang pria, keluar.


Dia berjalan mendekatiku.


"*Kamu Keysi? Wajahmu, begitu mirip dengan Tantemu!"


"Maaf, Om siapa?"


"Aku, Rangga Pradita. Suami Vanessa!"


"Bukannya Om Rangga dinyatakan gila?"


"Terserah orang mau bilang apa. Tapi, aku kesini untuk menjemputmu*?"


Naluriku mengatakan kalau ia tak berbohong.


Gerbang aku panjat dan lompat. Om Rangga menangkapku. Kami bertatap wajah dan tersenyum. Aku diturunkan dan kami bergegas masuk kedalam mobil.


Aku duduk didepan, disebalahnya.


Dia menyalakan mesin mobil tanpa kunci.


Mobil curian?! 'pikirku'


Tapi, aku memilih diam.


Dia bertanya tentang target berikutnya.


Tetlintas sosok Hariyanto dan aku menunjukkan lokasi Pak Hariyanto berada.


Sambil melaju, Om Rangga bercerita.


Kalau yang membunuh kedua preman pasar itu adalah dia.


Polisi sudah menemukan sidik jari Om Rangga dan sekarang dia menjadi buronan.


Om Rangga juga bercerita, bagaimana dia bisa kabur dari Rumah Sakit Jiwa dan mencuri mobil yang tengah kita tumpangi.


Setibanya dijalan Anggrek, tepat didepan Hotel Anggrek.

__ADS_1


Tengah berdiri Hariyanto disitu.


Pak Hariyanto atau dikenal dengan nama Listya (kalau malam hari) sedang melakukan transaksi dengan pria berbeda, tak seperti yang aku lihat waktu itu.


Mereka akhirnya masuk hotel dan kami hanya mengamati.


Kami menyusun rencana dan aku sudah menemukan langkah apa yang harus kami lakukan.


Keesokan hari dijam yang sama.


Om Rangga menjemputku.


Aku membawa barang yang sudah disiapkan dari sore.


Pakaian lengkap dengan alat make-up milik Bi Sri yang aku ambil dari kamarnya.


Aku didandani layaknya boneka agar identitasku tidak terbongkar.


Setibanya ditujuan.


Om Rangga turun dan terjadilah transaksi dengan Listya.


Mereka berdua setuju dan mobil diparkirkan didepan hotel.


Om Rangga beralasan, setelah mereka melakukan 'itu.' Om Rangga akan menginap dihotel ini. Makanya, dia membawa boneka untuk ulang tahun anaknya.


Om Rangga mengangkat tubuhku dan aku akan berpura-pura menjadi boneka.


Tiba-tiba badanku terasa ada yang menarik.


Aku berpaling melihat kearah belakang. Nampak sosok tante Vanessa tengah memelukku. Sementara, badanku dibawa oleh Om Rangga.


Mata batinku terbuka. Aku bisa melihat dua alam berbeda.


Kami berjalan mengikuti setiap langkah kaki Om Rangga dan Listya.


Aku ketakutan, melihat pengguni ghaib yang menempati hotel Anggrek.


Ada sosok tinggi besar, ada pula sosok wanita dengan separuh wajah yang hancur, serta sosok anak-anak yang berlarian kesana kemari.


Para penghuni Hotel Anggrek menatap kami dengan tatapan benci.


Tante Vanessa minta izin sama sosok tinggi besar yang merupakan pemimpin mereka.


Sosok tersebut bernama Anggon Dowo. Dia mengizinkan kami masuk dengan syarat mempersembahkan darah manusia.


Tante Vanessa menerima syarat tersebut dan kami pun diizinkan masuk ke wilayah kekuasaan Anggon Dowo.


Nampak dari sisi ghaib, disini bukanlah hotel. Tapi, perumahan yang megah dengan dinding dan tiang yang terbuat dari emas.


Kami pamit dengan sosok tersebut dan berjanji akan segera menepati apa yang telah kami janjikan.


Banyak ular lalu lalang, membuat kami harus berhati-hati dalam melangkahkan kaki.


Setibanya dikamar, aku melihat hal yang tak seharusnya aku lihat.


Om Rangga sedang 'X' dengan Listya. Sesekali dia melihat kearah tubuhku berada.


Tubuhku disenderkan dibalik dua dinding.


Tante Vanessa mendorongku dan aku masuk kedalam tubuh.


Aku tersadar dan segera mengambil pisau yang berada dibalik androk.


Om Rangga melihatku, dia menggulingkan badan untuk menghindar. Karena, aku telah siap dengan posisi menikam.


"Jleb-jleb-jleb," suara pisau yang aku hunuskan beberapa ke tubuh Listya alias Hariyanto.

__ADS_1


Om Rangga menutup rapat mulutnya agar tidak berteriak.


Darah segar mengalir dari tubuh Listya, membasahi ranjang.


Listya meninggal dengan mata terbelalak dan mulut yang mengangah.


Om Rangga segera memakai pakaian dan aku digendong.


Tubuh astralku kembali ditarik oleh Tante Vanessa dan aku melihat Anggon Dowo sedang menikmati darah Listya.


Pengikut Anggon Dowo berkerumun dibelakangnya, menunggu giliran untuk menyantap darah segar.


Anggon Dowo berterima kasih kepada Tante Vanessa dan berjanji akan membantu kami disuatu hari.


Kami berpamitan dan keluar dari hotel tersebut.


Tiba-tiba aku terbangun dengan posisi duduk dimobil. Pakaianku sudah diganti dan make-upnya pun, sudah dibersihkan.


Om Rangga menjelaskan, kalau pakaian dan pisau telah dia buang dijembatan yang baru saja kami lalui.


"*Kenapa Kamu sering mendadak tidur? Apa Kamu mengantuk?"


"Aku tidak tidur Om. Tapi, tubuh astralku ditarik oleh Tante Vanessa!"


"Vanessa? Apa dia masih ada disini?"


"Entah Om, Aku tak tahu. Mungkin, Tante masih berada di hotel itu*!"


Terlihat air mata membasahi pipi Om Rangga.


Sepanjang jalan dia menangis.


Tak lama, aku diturunkan didepan gerbang.


"Bersiaplah, hari yang besar akan datang!" ujar Om Rangga dari dalam mobil dan dia langsung melaju meninggalkanku.


Aku kembali menaiki gerbang dan berlari melewati halaman rumah.


Tiba di pintu aku langsung masuk dan mengucinya.


Aku berjalan perlahan menuju lantai dua.


Aku masuk kamar dan tidur.


Keesokan hari, saat kami sedang sarapan. Terdengar Bi Sri berteriak.


Dia kehilangan alat make-upnya.


"Ups, Aku lupa mengembalikan alat make-up Bi Sri yang tertinggal di mobil Om Rangga."


Kami sarapan sambil nonton TV. Acara yang kami putar adalah berita.


Terjadi liputan di hotel Anggrek mengenai pembunuhan yang terjadi semalam.


Resepsionis di berikan pertanyaan tentang kejadian semalam.


Dia memberitahukan tentang ciri-ciri orang yang membunuh waria tersebut.


Bapak Paimin selaku polisi yang bertugas di TKP menyimpulkan. Bahwa kejadian ini berlatar belakang dendam dan dia juga mengumumkan di media bahwa pelaku kejadian di pasar adalah orang yang sama.


"Barang siapa bertemu dengan Rangga Pradita harus melaporkan ke pihak berwajib."


Acara tersebut juga menjelaskan dan memaparkan foto Om Rangga di media kalau Om Rangga adalah buronan utama yang sedang dikejar oleh polisi.


Bersambung ... .


Tolong tinggalkan komentar, like, favorite, vote dan jangan lupa follow agar aku bersemangat untuk menulis.

__ADS_1


__ADS_2