DENDAM (Keysi S3 "Coming Soon") KEYSI S1 &S2 (End)

DENDAM (Keysi S3 "Coming Soon") KEYSI S1 &S2 (End)
Episode 16 (pulang)


__ADS_3

Setelah menceritakan kisahnya dengan lebih detail, akhirnya sampai diujung hutan.


Disana, ada sosok perempuan menyerupai Mama, menyambutku dengan senyuman.


(Kisah pertempuran, akan dialihkan ke cerita Indah gadis indigo S2 [Coming Soon])


With Mingmang, menurunkan aku dan Adarrma.


Lantas, mereka langsung kembali ke sisi Kendari. Karena misi mereka telah selesai.


"Anakku ...! Kau kembali," ucap Mama berlari, mencoba memeluk.


"Mau apa, Kamu? Jangan memelukku! Kamu siapa?" tanyaku, mundur satu langkah, menghindari pelukannya.


"Ini Mama! Sayang ...." jelasnya.


"Tidak! Mamaku sudah meninggal," jawabku.


"Mama belum meninggal!" ucapnya lagi.


"Kalau belum meninggal, Kamu kemana? Dan kenapa semua orang bilang, kalau Kamu sudah meninggal?" tanyaku dengan nada tinggi.


"Baiklah ...! Aku akn menceritakan yang sebenarnya ...!"


***


Setelah melahirkan anak kembar yang kelak diberi nama Keysa dan Keysi, Vinesa syok, setelah mendengar kakaknya (Vanessa) meninggal dengan tidak wajar.


Bukan hanya itu, kebenaran yang sebelumnya ditutupi pun, terungkap.


Anggota Cempaka Hitam dan beberapa kelompok lain mengetahui, kalau Vinesa dan adik lelakinya, keturunan Resih Abiyasa.


Untuk menghindari itu semua, Vinesa disembunyikan oleh suaminya di suatu tempat.


Seperti adiknya yang selama ini telah lama disembunyikan.


Namanya, Bayu. Adik Vinesa dan Adik kedua dari Vanessa.


Tahun berganti tahun, si kembar mulai tumbuh tanpa adanya seorang ibu.


Sedangkan sang ayah (Ahmad Ilham), jarang pulang dan yang mereka tahu, ayahnya sibuk bekerja.


Namun sebenarnya, ayah mereka menemui ibunya yang berada disuatu tempat.


Vinesa hamil lagi dan kali ini anaknya, lelaki.


Mengetahui hal itu, ayah si kembar menyuruh istrinya belajar ilmu, "Malih rupa," agar bisa pergi, membawa anak lelakinya yang diberi nama, Alvian (Ian).


Setelah Vinesa berhasil menguasai ajian Malih Rupa, dia diceraikan.


Awalnya, Vinesa menolak. Tetapi, untuk kebaikan anak-anaknya, dia pun menerimanya.


Setelah itu, Vinesa menikah dengan seorang duda dengan dua anak.


Anak pertama dari duda tersebut, seumuran Keysa dan Keysi.


***


"Siapa namanya?" tanyaku.


"Maaf, Mama tak bisa memberi tahu! Demi kebaikan kalian berdua," jawab Mama.


"Sekarang Mama dimana?" tanyaku lagi. Tetapi, mama menggelengkan kepalanya.


Mama menyimpan rahasianya.


Dia enggan bercerita


.


"Mumpung masih ketemu Mama!" ucapku dalam hati dan langsung memeluknya.

__ADS_1



Tak lama, ada anak gadis datang.


Dia berlari, mendekati Mama sambil memanggil, "Bunda."


Aku terdiam, maksud hati ingin bertanya.


Tetapi, mama tak mungkin memberitahukannya.


"Ayo Kita pulang!" ucap mama, tersenyum.


Jauh dibelakang anak gadis, ada lubang hitam berputar, seperti sebuah portal.


Mama mendekati anak itu dan mereka langsung berjalan, masuk kedalam pusaran hitam.


Mama tersenyum, mengangguk.


Aku dan Adarrma menyusul dan langsung masuk kedalam portal.


Pandanganku langsung gelap dan perlahan, membaik.


Aku mendongakkan kepala keatas, karena mendengar suara gaduh.


"Enyahlah Kau!" ucap Tante Vanessa yang sedang berhadapan dengan Genderuwo tante Lyli.


"Aku tak bisa mati! Aku akan meneror semua keluargamu," balas Genderuwo.


Terdengar suara harimau mengeram.


Adarrma langsung melompat, menggigit tangan genderuwo yang tengah beradu kesaktian dengan tante Vanessa.


"Akhirnya ... Diakhir hayatku, Aku bisa kembali ke tubuh ini." ujar suara yang berasal dari depanku.


Aku menurunkan pandangan, terlihat Om Bayu menahan sakit. Tubuhnya penuh luka. Darah menggenangi seluruh tubuhnya.


Aku kaget, melihat tangan kananku memegang pisau yang menancap di paha om Bayu.


"Apa yang Aku lakukan?" teriakku berdiri, mundur beberapa langkah.


"Awas kalian!" ancam Genderuwo, lalu menghilang.


Mataku menelisik ke penjuru ruangan.


Terdapat banyak orang tergeletak dilantai, tak berdaya.


Mungkin, mereka beberapa anggota Cempaka Hitam.


Tetapi, aku tak melihat adanya tante Lyli.


"Tante! Inikah yang Kau lakukan, saat mengambil alih tubuhku?" tanyaku dalam hati.


"Maafkan Aku, Keysi! Tante melakukan ini, untuk melindungimu. Agar, tak ada lagi darah sepasang." jawabnya, melihat kearah om Bayu.


"Tante salah! Darah sepasang masih ada!" jawabku dalam hati.


"Maksudmu?" tanyanya.


"Mama belum meninggal! Dia mempunyai anak lelaki, Adikku," jawabku.


"Tidak mungkin!" jawab tante menyesal, tak menerima kenyataan.


"Bayu? Keysi?" terdengar suara datang dari belakang.


"Ayah ...?" tanyaku kaget, tiba-tiba ayah ada dibelakang.


"Mas Ahmad!" ucap om Bayu tersenyum, menarik nafas panjang, lalu meninggal.


"Mbak Nesa! Pergilah ...! Cari anak lelakiku dan lindungi Dia!" pinta ayah dan tante langsung menghilang, disusul Adarrma yang ikut menghilang juga.


"Pergi ...!" teriak Ayah, menyuruhku pergi dari tempat ini.

__ADS_1


Aku lari, sesekali melihat belakang.


Ayah menggantikan posisiku, dia memegang pisau yang menancap dipaha kiri om Bayu.


"Apa mungkin, Ayah mau menghilangkan sidik jariku di pisau tersebut? Lalu, bertanggung jawab atas kesalahan yang telah Aku lakukan? Seperti halnya, Om Rangga." ucapku dalam hati.


Saat sampai di pintu keluar, aku melihat cahaya senter dan suara orang-orang.


Aku tak jadi keluar, lalu sembunyi dibalik bongkahan dinding, yang ada diruangan itu.


"Bruat ...." pintu dibuka secara paksa.


Beberapa polisi masuk.


"Angkat tangan!" ujar salah satu Polisi, mendekati ayah dan memborgolnya.


"Amankan tempat ini! Cari, apa ada korban yang masih hidup." teriak salah satu polisi dan mereka menyebar, mencari orang-orang yang masih hidup.


Aku mengintip dibalik reruntuhan.


Melihat ayah dibawa sama mereka.


Ayah dibawa keluar, dengan tangan diborgol kebelakang.


Tak lama, ambulan datang dan beberapa orang mengangkat tubuh orang-orang yang tergeletak lemas.


Aku tak melihat ada yang bisa bergerak.


Tetapi, ada salah satu yang berjenis kelamin perempuan.


Saat diangkat dengan tandu, dia membuka mata dan melihat ke arahku dengan tatapan benci.


Tak lama, suasana menjadi hening.


Tak ada satu orang pun.


Aku bergegas keluar dari tempat persembunyian.


Mendekati pintu dan membukanya.


Ternyata, aku berada didalam gudang bekas pabrik gula.


Aku melewati garis polisi dan terus berjalan, keluar dari pabrik.


"Dulu Om Rangga, sekarang Ayah. Nanti, siapa lagi?!" gumamku dalam hati.


"Non! Non Keysi!" teriak suara dari arah semak.


"Mang Cipto? Kak Keysa?" ucapku menghampiri mereka.


"Ayo, Non! Kita pulang!" pinta mang Cipto.


"Kakak! Kenapa dengan wajahmu?" tanyaku, memegang wajahnya.


"Aku gak kenapa-napa! Yuk, Kita pulang! Sebelum ada orang yang mengetahui keberadaan kita." pintanya dan kita langsung berjalan, menyusuri semak-semak.


Sampai dipinggir jalan, kita menaiki mobil dan pulang.


Akibat dari kecelakaan yang kita alami waktu itu, wajah Keysa mengalami luka goresan dari pecahan kaca mobil, yang membuatnya harus dijahit.


Kalau mang Cipto bisa selamat, karena memiliki ajian Rawa Rontek.


Yang tak aku mengerti setelah kecelakaan itu, tubuhku tak ada bekas luka sama sekali.


Aku ingin bertanya, tetapi ... Keadaan tak memungkinkan.


Saat sampai di rumah, Bi Sri menyambut kita dengan tangisan.


Dia tahu ayah ditangkap polisi, karena tuduhan pembunuhan.


Bi Sri tahu, saat melihat berita yang disiarkan secara Live.

__ADS_1


Setelah itu, aku langsung pergi ke kamar mandi, untuk membersihkan tubuh yang bersimbah darah.


Tamat ... .


__ADS_2