DENDAM (Keysi S3 "Coming Soon") KEYSI S1 &S2 (End)

DENDAM (Keysi S3 "Coming Soon") KEYSI S1 &S2 (End)
Episode 9 (Pasar Berdarah 2)


__ADS_3

Pukul 19.00 Kita makan malam.


Terlihat raut wajah Keysa begitu senang. Kapan lagi kami bisa makan bareng sama Ayah?! Aku pun senang!


Setelah selesai makan, kita mengobrol diruang tengah yang berada dibawah tangga. Kita ngobrol sambil menonton film kartun.


Sesekali aku melihat Keysa sedikit manja dengan Ayahnya.


Aku tersenyum, melihat keakraban mereka berdua.


Pukul 20.00. Kita naik kelantai dua menunju kamar.


Sampai dikamar, kami berbaring dan Ayah mendongengkan Kami.


Si Kancil. Itulah yang Ayah dongengkan untuk menidurkan aku dan Keysa.


Pukul 20.30. Ayah turun.


Awalnya kami mencoba mencegahnya. Karena, kami masih ingin mendengarkan dongengan Ayah.


Tapi, Ayah bilang dia mau ke teras untuk merokok dan menyuruh kami berdua tidur.


Pukul 21.00. Keysa sudah tertidur.


Aku bangun dengan pelan agar dia tak terbangun.


Langkah selanjutnya menuju Bar Pribadi milik Ayah. Disitu aku bisa mendapatkan minuman keras dengan merek ternama.


Rencananya minuman tersebut ingin aku berikan kepada kedua preman itu melalui perantara Pak Ade.


Kalau mereka sudah mabuk berat. Akan mudah bagiku untuk menghabisi kedua preman tersebut!


Aku berjalan pelan menuju pintu kamar untuk keluar.


"Duk, duk, duk," suara anak tangga terdengar pelan ketika aku turun.


Aku kaget. Melihat Ayah duduk dikursi memandangiku.


"Mau kemana Kamu?" tanya Ayah dengan mata melotot.


"Gak Yah, Aku mau ke Perpustakaan kok!" terangku sedikit kikuk.


"*Bukannya Ayah sudah suruh kalian untuk tidur?"

__ADS_1


"Ia Yah, tapi aku tak bisa tidur!"


"Kakak kamu?"


"Kakak, sudah tidur kok Yah*!"


Aku dan Ayah bercakap. Tapi, aku terus melangkahkan kaki sembari berjalan menuju Perpustakaan.


"Ayah ada disitu! Apa yang harus aku lakukan?" gumamku dalam hati.


Sesampainya di perpustakaan, aku memilah buku dengan ukuran besar.


Aku keluar mengendap dan menuju Bar untuk mengambil minuman keras milik Ayah.


Ayah sering minum-minum sendiri diruangan ini kalau dia sedang stres.


Minuman mahal sudah aku dapatkan.


Aku ingin keluar rumah. Tapi, Ayah masih duduk disitu.


Satu-satunya cara adalah kembali naik ke kamar.


Aku berjalan sambil membuka buku besar dengan lebar.


Tangan kanan menyelipkan botol minuman tersebut ditengah buku.


"Ia Yah. Habisnya aku tak sabar mau membacanya*!" terangku menutup buku dan menjepit botol tersebut ditengahnya.


Aku berlari naik ke atas supaya ayah tak curiga kalau ditengah lembaran buku ada botol yang terselip.


Botol ini cuma berisi setengah liter. Tapi, komposisi alkohol didalamnya begitu besar dan harganya pun mahal.


Sampai dikamar. Aku mengambil tas dan memasukan botol itu didalam tas beserta pakaian ganti dan beberapa perlengkapan yang akan aku gunakan.


Tak lupa, aku pun memasukan Pisau yang ada di meja. Pisau tersebut ada di meja dan tergeletak didekat piring berisi apel.


Semua sudah siap. Tinggal bagaimana caraku untuk keluar.


Aku mengambil sedikit uang saku yang aku simpan. Karena, tak mungkin aku minta antar Mang Cipto?! Aku akan naik Taksi untuk menuju rumah Pak Ade!


Aku berjalan menuju pintu yang mengarah ke balkon. Tapi, aku dikagetkan sama suara TV yang Ayah nyalakan.


Memang Ayah duduk dan nonton TV. Tapi, siaran di TV inilah yang membuatku ingin tahu.

__ADS_1


Aku kembali ke ranjang lalu melempar tas.


"Duk duk duk," suara langkah kakiku terdengar. Aku berlari membuka pintu kamar dan menuruni anak tangga.


Aku terdiam di depan TV dan Ayah marah.


"Hey, kenapa Kamu menghalangi pandangan Ayah?"


Saking ingin tahunya sampai aku tak sadar kalau telah mengahalangi pandangannya.


"Maaf Yah!"


Sambil berjalan mundur, aku duduk disamping Ayah. Sementara pandanganku masih mengarah ke layar televisi.


Disitu disiarkan secara langsung tentang kejadian pembunuhan yang telah terjadi.


Dua mayat terindentifikasi sebagai preman pasar yang bernama Ahid dan Semin.


Dan ada wawancara langsung dengan Kapten kepolisian.


"Kedua korban ini namanya Semin dan Ahid. Mereka adalah preman yang beroperasi di Pasar ini. Keduanya mengalami luka tusuk yang teramat parah, hingga mereka meninggal ditempat. Untuk motif pelaku, kami belum bisa memastikan dan akan kami lakukan pengejaran terhadap tersangka." ujar Kapten Polisi Richard Paimin menjelaskan dalam acara siaran langsung ini.


"Ceklek," TV mendadak di matikan.


"Kenapa Kamu begitu tertarik dengan berita ini?" tanya Ayah. Aku terdiam sejenak.


"*Bukan tertarik Yah. Tapi, pasar itu adalah pasar yang aku kunjungi pagi tadi!"


"Sudah, kembali ke kamarmu*!"


Aku menurut dan kembali melangkahkan kaki menuju lantai dua, tempat kamarku dan Keysa berada.


Aku bingung, siapa yang melakukan hal tersebut?!


Apa, Pak Ade? Tapi, tidak mungkin kalau beliau akan melakukan hal senekat itu.


Aku berjalan sambil menunduk.


Pintu kamar aku buka dan aku kaget, melihat Keysa tengah memegang botol dan pisau.


Isi dalam tas pun sudah dia acak-acak.


"Syi, kenapa kedua benda ini ada di Tasmu?"

__ADS_1


Bersambung ... .


Tolong tinggalkan komentar, like, favorite, vote dan jangan lupa follow agar aku bersemangat untuk menulis.


__ADS_2