
Aku keluar dari tempat persembunyian dan menemui sosok anak kecil berambut putih tersebut.
"Lepaskan Tante dan Adarrma!" pintaku seraya berteriak.
"Boleh. Asal, Kau kalahkan Aku terlebih dahulu!" ucapnya sambil menggerakkan tangan ke depan, menyuruh beberapa mahluk menyerangku.
"Tak semua orang atau mahluk bisa keluar dari hutan ilusi.
BagiKu, ini sangat mudah. Karena Aku sudah menaklukkan ilusi tersebut.
Aku harus menggiring mereka dan membiarkannya tersesat di dalam hutan." pikir ku dalam hati.
"Sini Kalian, ayo maju!" teriakku menantang.
Nampaknya, beberapa makhluk ini geram.
Mereka menyerang. Membuatku beberapa kali berguling agar bisa menghindari serangan mereka.
Aku terus memanas-manasi mereka dengan perkataan tak mengenakan.
Perlahan, menggiring mereka masuk ke dalam hutan.
"Jangan ...!" teriak perempuan tersebut. Tapi, semua mahluk miliknya tak mengindahkan teriakan tuan nya.
Rencanaku berhasil. Mereka nampak kebingungan setelah menapakkan kaki nya didalam hutan.
Aku membiarkan mereka tersesat di dalam dan langsung keluar, menghadapi tuan nya.
"Hahahhaaa masih ada kah yang hendak kau panggil?" tantang ku kepada dia.
"Kamu memang pintar anak manis. Tapi, Aku masih bisa memanggil beberapa makhluk." ucapnya dan buku yang dia pegang melayang di udara, membuka tiap lembar buku.
Aku bergerak dengan cepat seraya menggapai buku tersebut.
Tapi, aku langsung terpental. Kala mencoba memegang buku itu.
"Hahahahahaa Kamu pikir dapat mengambil Buku ini dengan mudah? Buku yang sudah membuka bab nya, tak kan mudah di ambil." ucap perempuan tersebut.
"Hey, sebelum itu, aku ingin tahu nama Mu?" tanyaku, mencoba mengulur waktu.
Aku melakukan hal tersebut, karena melihat Tante dan Adarrma mulai mendekatinga dengan sangat perlahan.
"Owh, nama Ku? Baiklah, Aku akan memperkenalkan diri.
Nama Ku, Nyai Danurdara." ucapnya memperkenalkan.
"Nyai? Bukannya Kamu anak kecil? Malah sepertinya, Aku lebih tua dari Mu." ucapku lagi.
"Hahahahaha Aku bukanlah anak kecil. Aku mendapatkan tubuh ini, karena suatu hal." jelasnya.
Tanpa di ketahui, Adarrma membuka mulutnya lebar-lebar dan menggigit tubuh Nyai Danurdara.
Buku itu langsung jatuh dan Tante mengambilnya.
"Lepaskan! Licik-licik-li ... Cik." teriaknya kepada kita.
"Tante ... Akhirnya Kita berhasil." teriaku berlari mendekati Tante Vanessa dan memeluknya sambil menangis.
"Iya. Ini semua karena rencana Mu." ucap Tante mengelus kepala ku.
"Syi, netralisir Buku ini! Biar tak ada lagi yang bisa menggunakannya." pinta Tante.
"Tapi, Te. Bagaimana cara Keysi menetralisirnya?" tanyaku.
"Dengan ... Itu!" ucap Tante menunjuk Buku Sukmo Abiyasa yang tiba-tiba mengeluarkan cahaya.
Buku tersebut, lepas dari rantai kalung dan melayang ke udara.
Perlahan membesar ke bentuk aslinya.
Lembaran buku terbuka dan menampakkan sebuah tulisan yang keluar di udara.
Aku membaca tulisan nya dan cahaya dari tulisan, berkumpul menjadi satu, membentuk sebuah pusaran dan masuk ke dalam Buku Nyeluk Dhemit.
__ADS_1
"Tidaaaaaaaaakkkkkkkkkk ...." teriak Nyai Danurdara dan perlahan, tubuhnya menjadi transparan.
Nyai Danurdara, tiba-tiba menghilang.
Mahluk yang dia panggil pun tiba-tiba lenyap.
Buku Sukmo Abiyasa perlahan mengecil dan kembali terkalung di leher ku.
Anehz tapi nyata. Ternyata inilah yang bisa dilakukan oleh Buku Sukmo Abiyasa.
"Sudah yuk! Kita mencari pintu." pinta Tante.
"Pintu apa?" tanyaku bingung.
"Pintu ke alam manusia. Kamu ingin kembali, kan?" tanya Tante tersebut.
"He em." jawabku singkat, balas tersenyum.
"Kalau Kami berdua, bisa keluar dari alam ini dengan sangat mudah. Berbeda dengan Mu, yang masuk lewat pintu." jelas Tante.
"Tapi, Aku ingin mencari sosok yang menyamar jadi Ibu dulu. Kalau Tante mau kembali, kembalilah ...!" pintaku.
"Kembali kemana? Aku tak punya tubuh." jawab Tante.
"Pakai tubuh Ku saja. Lagian, tubuh Ku sedang diincar oleh Cempaka Hitam." terangku.
"Baiklah, Aku akan melindungi tubuh Mu. Cepatlah kembali!" pinta Tante.
"He em." jawabku singkat sambil tersenyum, memeluknya.
"Adarrma, Kamu disini dulu, jaga Keysi!" pinta Tante.
"Baiklah ...." jawab Adarrma.
Perlahan, Tante hilang dari pandangan dan aku kembali berjalan dengan Adarrma.
Sampai di bibir hutan, aku berhenti sejenak.
"Apa Kamu ... Bisa melihat ilusi di hutan ini?" tanyaku melihat kearah samping, tepat dimana Adarrma berada.
Adarrma lari dengan sangat kencang. Membuat rambut ku tersapu angin.
Bibir ku tak berhenti senyum kegirangan.
Belum pernah naik kuda, sekalinya naik, malah naik ke punggung harimau yang sangat besar.
Sudah lama Adarrma berlari. Tapi, ujung hutan masih belum nampak.
Membuatnya kewalahan dan berhenti sejenak.
"Apa Kamu tak merasakan sesuatu yang aneh?" tanya Adarrma memandang sekeliling.
"Aneh bagaimana?" tanyaku ikut memandang apa yang dia pandang.
"Bukannya, kita sudah melewati pohon ini?" tanya Adarrma.
"Pohon dengan ujung bunga yang sangat besar? Tapi, tak mungkin ada satu pohon." jawabku.
"Baiklah, Aku akan mencoba sesuatu." ucap Adarrma, mendekati pohon tersebut dan mencakarnya.
"Hey, apa yang Kau lakukan?" teriaku bertanya.
"Aku membuat tanda. Kalau Kita bertemu pohon ini lagi, berarti apa yang Ku pikiran memang benar." jelasnya dan kembali berlari.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, kita sampai di pohon yang sama dan Adarrma berhenti lagi untuk kedua kalinya.
"Lihatlah, tak mungkin ada goresan yang sama di pohon berbeda." jelas Adarrma.
Aku diam sejenak, sambil mengamati.
Memang benar apa yang dia katakan. Tapi, bagaimana mungkin kita bisa kembali?!
Sedangkan, kita terus berlari kedepan, tanpa berkelok sedikit pun.
"Memang benar apa yang Engkau ucapkan. Sedari tadi, Kita hanya memutari lokasi ini. Tapi, bagaimana bisa?" tanyaku bingung.
__ADS_1
"Sial. Hey, keluarlah ...!" teriak Adarrma sambil melihat sekeliling.
"Apa ... Ada yang sengaja menyesatkan Kita? Atau, Kita terjebak dalam ilusi?" tanyaku bingung.
"Ya, ada yang menyesatkan Kita dan ini bukanlah ilusi." jawab Adarrma.
"Ayo, Kita coba ambil jalur kanan." ucap Adarrma.
"Memang, Kamu tak lelah?" tanyaku.
"Tenang saja, Aku masih bisa berlari beberapa kilo lagi." jawabnya.
"Baiklah. Let's go ...." ucapku dan Adarrma kembali berlari.
Jalan ke kanan, tak seperti jalan lurus.
Disini banyak rintangan.
Dari jalannya yang terjal, sampai ada beberapa ular besar yang siap menerkam.
Untungnya ... Adarrma bisa mengelak serangan mereka dan terus berlari.
Namun, pelarian kita tak membuahkan hasil.
Kita kembali ke tempat semula.
"Sial-sial-sial ...." keluh Adarrma dengan tatapan marah dan mencakar pohon tersebut beberapa kali.
"Begini saja. Aku coba turun sejenak dan Kamu bisa melihat ilusi apa yang mengganggu perjalanan Kita." ucapku dan langsung turun dari punggung nya.
"Ja ...!" ucapnya terpotong.
Adarrma tiba-tiba diam dan mematung.
Dia tak kunjung bergerak.
"Adarrma, hey ... Kamu kenapa?" tanyaku sambil menggoyangkan tubuh nya. Tapi, Adarrma tak menjawab.
"Xixixi ... Beraninya memasuki kawasan Kami!" ucap suara yang entah datangnya dari mana.
"Siapa Kamu?" tanyaku memandang keatas, mencari sumber suara tersebut.
"Kami? Kamilah yang menyesatkan Kalian." ucap suara tersebut, namun ... Sedikit berbeda dari yang pertama.
"Biarkan mereka! Beraninya masuk tanpa ijin." ujar suara dengan nada sedikit berat.
"Siapa Kalian dan mau apa?" tanyaku masih melihat keatas, karena dari situ aku mendengar asal suara mereka.
"Kami? Kasih tahu gak ya?! Xixixixixi" jawabnya membuatku kesal.
"Hey, kalau berani ... Tunjukkan batang Hidung kalian! Atau, Kalian memang pengecut." teriaku menantang.
"Hey, beraninya anak manusia menantang Kami."
"Woy, Kamu juga jangan terpancing dengan omongannya!"
"Benar! Kita tak harus mendengarkan kata-katanya."
Mereka saling lempar kata, membuatku tahu dengan jumlahnya.
Aku mengembangkan bibir, tersenyum gembira. Karena, ada salah satu dari mereka yang mempunyai emosi lebih dan bisa aku manipulasi.
"Alah, pengecut. Sekalinya pengecut, ya tetap pengecut." teriakku kembali, mencoba memanaskan suasana.
"E-eh ... Berani-beraninya Kamu ngomong seperti itu!" jawabnya marah.
"Jangan ...!"
"Iya, jangan diladeni!"
Salah satu dari mereka terpancing emosi dan menunjukkan wujudnya.
Dua dari mereka pun menyusul, menampakkan wujud dengan terpaksa.
"Aaaarrrrgggghhhhhh ... Kesabaran Ku habis!" ucap sosok tersebut, menatapku dengan amarah.
__ADS_1
Bersambung ... .