DENDAM (Keysi S3 "Coming Soon") KEYSI S1 &S2 (End)

DENDAM (Keysi S3 "Coming Soon") KEYSI S1 &S2 (End)
Episode 4 (Flashback)


__ADS_3

Kita mulai permainan itu.


Kesya merem dan aku berikan snack.


Kesya menebak dan aku hanya bilang bukan sambil melihat kearah belakang.


Apa perhitunganku benar dan perempuan tersebut akan tertabrak?


"Syiok ...." suara mobil berwarna merah berpapasan. Mobil modif yang mirip seperti mobil pembalap.


Mobil inilah yang akan menabrak wanita itu.


Terdengar suara ban melengking.


Wanita itu terjatuh kesamping kiri.


"Bruat" suara mobil menabrak sesuatu. Sesuatu yang bertubuh tinggi besar yang tengah berdiri disamping wanita itu. Seolah, sosok tinggi besar itu melindungi wanita tersebut.


Terlihat dari kejauhan, wanita itu melihat kearah mobil kita sambil menunjukan jari tengahnya.


Sedangkan sosok yang ada didepannya masih berdiri sambil memandang penuh amarah. Sosok tersebut mempunyai bulu yang sangat lebat, matanya merah menyala dan taring tajam menjulur keluar dari sela bibirnya.


Mobil kita menikung tajam mengikuti alur jalan.


Tapi, nampak jelas mobil merah yang menabraknya.


Terlihat jelas dari samping ketika mobil kita menikung.


Mobil bagian depan ringsek. Didalamnya ada seorang wanita, wajahnya menempel dengan setir dan mengeluarkan darah segar dari kening.


Didalam mobil merah itu tak nampak ada orang lain selain wanita yang memegang setir.


Apa ini yang namanya takdir? Karena, waktu aku mendapatkan penglihatan sebelumnya, dia memang selamat dan tak tertabrak.


Takdir tak dapat diubah, wanita itu masih bisa selamat.


Tak jauh setelah kita menikung masih terlihat mobil polisi terparkir disamping jalan dan mereka mengarahkan mobil yang melintas untuk berjalan agak menepi.


Terlihat jelas dua mobil yang habis bertabrakan sudah ada disamping jalan.


Tapi, korbannya sudah tak ada. Mungkin, sudah dibawah kerumah sakit oleh ambulans.


Masih terlihat kaca dan beberapa bagian mobil berserakan ditengah jalan.


Mang Cipto mencucurkan peluh dan tangannya sedikit bergetar.


Sedangkan Kesya masih menutup mata dan menebak snack apa yang dia pegang.


"Bagaimana si Syi, kok jawabanku salah terus," ucap Kesya sambil membuka mata.


"Kok ramai? Apa ada kecelakaan lagi?" tanya Kesya panik sambil melihat kanan-kirinya.


Aku tak menutup mata Kesya. Karena, korban pun sudah tak ada.

__ADS_1


Sampai dirumah, Kesya berlari masuk. Sementara, Mang Cipto menghentikan jalanku dengan memegang tangan.


"Non, kok Non bisa tahu kalau akan ada kecelakaan?" tanya Mang Cipto dengan mata penuh selidik.


Aku hanya memandanginya tanpa menjawab.


Mang Cipto melepaskan pegangan tangannya dan aku langsung masuk kerumah.


Malam ini aku tak bisa tidur. Terngiang wajah seram dari makhluk hitam yang aku lihat siang tadi.


Tiba-tiba sosok tersebut datang dan mencekik leherku.


Air mata bergelimang, nafasku terasa sesak.


Terlihat bayangan putih menarik makhkuk tersebut dan menghilang.


Aku terbangun. Seakan yang barusan terjadi hanyalah mimpi. Tapi, aku yakin! Itu bukanlah mimpi.


Dengan nafas terengah aku melihat kearah Kesya yang tengah tidur.


Aku berdiri dari tempat tidur menuju kamar mandi.


Aku membasuh wajah dan melihat kearah cermin.


Nampak sosok wanita berdiri dibelakangku. Wajahnya tak terlihat karna tertup rambut panjangnya. Dia hanyan menunduk dan tak lama terdengar tangisan piluh.


"Hik hik hik," dia menangis dan aku mencoba untuk berbalik.


Tapi, tak ada sesiapa pun dibelakangku. Suara tangisannya juga sudah tak lagi terdengar.


Aku kembali memejamkan mata dan aku dibawa ke alam bawa sadar. Tapi, terlihat begitu nyata.


Aku hanya bisa melihat, anggota tubuh tak bisa bergerak, seolah aku tak ada ditempat tersebut.


Aku melihat seorang Ibu muda menggendong anak perempuan kembar.


Wajahnya begitu familiar. Apa itu Ibu? Dan tempat ini terlihat seperti rumah sakit.


Sambil menggendong kedua buah hatinya ia tersenyum.


Tak lama Ayah datang dan memekuk dia dari belakang.


Tercurah kebahagiaan dari wajah mereka berdua.


Aku senang melihat pemandangan itu. Tapi, tak lama pandangnku dialihkan kesuatu tempat.


Sebuah ruangan yang sedikit agak gelap.


Ditempat ini aku melihat sosok ibu itu. Dia duduk tersungkur dilantai.


Terlihat ada 7 orang mengelilingi dia sambil tertawa melihat kondisi ibu muda tersebut yang mengalami beberapa luka penganiayaan.


7 orang tersebut terdiri dari 2 wanita dan 5 pria.

__ADS_1


Salah satu wanita itu, persis seperti wanita yang aku lihat tadi siang.


Dan salah satu pria mirip Pak Umar. Tapi, sosoknya lebih muda.


Pukulan dan tendangan diarahkan ke wanita tersebut.


Hampir semua wajahnya tertutup darah. Tapi, masih terlihat jelas, wajahnya mirip dengan sosok yang mengaku Ibu.


Tanpa rasa kasihan mereka terus menganiaya dan tertawa.


Sungguh keji dan tanpa perih kemanusiaan. Mereka menganiaya layaknya hewan.


Darah membanjiri tempat ia duduk setengah tersungkur.


Tak sampai disitu saja. Mereka berlima melepaskan celananya dengan paksa.


Mereka memperkosa dia yang sudah tak bisa berdaya.


Sedangkan tugas kedua perempuan itu hanya memeganginya.


Satu megang tangan dan dia duduk diantara kepala dan satunya memegang kaki.


Sosok yang mengaku Ibu diperkosa bergiliran.


Sedangkan kedua wanita itu tertawa begitu puas. Tak ada rasa penyesalan dari mereka.


Setelah merasa sudah puas, mereka meninggalkan tubuhnya yang tak berdaya.


Pakaiannya koyak dan beberapa bagian tubuh atasnya terlihat.


Tapi, dia sudah tak mengenakan celana karna celananya sudah terlepas ketika mereka memperkosa dia.


Wanita itu menangis. Dia mencoba untuk duduk dan mengambil celana untuk menutupi anggota tubuh bagian bawahnya.


Kepala yang tadinya menunduk langsung mendongak dan memandang ke depan (kearahku) seraya berkata,


"merekalah yang membuat ibu meninggal."


Aku tersadar sambil berdiri. Tanganku memegang pisau dan terlihat didepan mata ada tikus tergeletak setengah menjerit, "cit cit cit."


Aku tidak Dikamar melainkan ada di gudang.


"Hahahahah," aku tertawa kecil dan aku sayat tubuh tikus itu.


Aku penasaran dan membelah anggota tubuhnya. Darah kental mulai menggenang.


Aku keluarkan organ dalam tikus itu sedikit demi sedikit.


Rasa penasaran akan anggota tubuh yang selama ini membesut dipikiranku seakan terbayarkan.


"Apa anggota tubuh manusia seperti ini?" gumamku penasaran.


Bersambung... .

__ADS_1


Tolong tinggalkan komentar, like, favorite, vote dan jangan lupa follow agar aku bersemangat untuk menulis.


__ADS_2