DENDAM (Keysi S3 "Coming Soon") KEYSI S1 &S2 (End)

DENDAM (Keysi S3 "Coming Soon") KEYSI S1 &S2 (End)
S2 Episode 6 (Banaspati)


__ADS_3


Mahluk dengan api yang berkobar, tertawa melihatku.


Apa dia salah satu orang yang dikirim untuk membunuhku?


"Shany ... Shany. Mengurus anak kecil saja tak bisa." gumamnya sambil melihat kearah tangan yang mengepal.


Saat tangannya di buka, bola api keluar dan dia melemparkan bola tersebut kearahku.


Aku berguling dan mengelak.


Orang yang awalnya berkerumun untuk melihat Perawat yang meninggal secara mendadak dengan sangat mengenaskan, langsung lari berhamburan ketika ada hordeng yang tiba-tiba terbakar, terkena bola api.


"Sial! Tak hanya gaib. Ternyata, api yang sudah mengenai sesuatu akan berwujud dan membuat apa pun yang mengenainya terbakar." gumamku dalam hati sambil melihat hordeng yang terbakar dan apinya menjalar membakar seisi ruangan.


"Aku harus memancing dia menjauh dari kerumunan." pikirku.


Aku berlari kearah parkiran dan sosok yang menyerupai Banaspati terus mengejarku dari belakang sambil melemparkan bola apinya.


Sirine kebaran berbunyi.


Banyak pasien yang dibawa keluar dari rumah sakit.


Pemadam kebakaran pun langsung datang untuk memadamkan api yang membakar area rumah sakit.


Tiba di area parkiran, aku berhenti dan membalikkan badan.


Dia tersenyum sambil memegang bola api di tangan kanannya.


"jangan lari! Aku disuruh tuan untuk membunuhmu!" ucapnya sambil mendekat.


"Siapa Kamu? Apa Kamu juga sama dengan sosok Palasik itu?" tanyaku berteriak sambil memasang kuda-kuda.


"Tidak! Aku adalah Jin yang datang untuk menyantetmu. Tapi, setelah melihat Kau bisa membunuh Shany si Palasik, membuatku ingin mengalahkan sosok astralmu!" ucapnya sambil melemparkan bola api kearahku.


Aku berhasil menghindar dan mencoba mencari dimana tuan Si Banaspati.


Aku yakin, dia takkan jauh dari sini.


"Bruat ... Bruat ...." suara bola api yang mengenai tong dan tumpukan kayu yang ada di ujung parkiran dan membakarnya.


Aku berlari mengelilingi area parkiran sambil mencari orang yang mengirim Banaspati.


Aku berlari menghindar sambil mengitari mobil-mobil yang ada di area parkiran.


Mataku meneslisik kearah mobil yang didalamnya terdapat orang.


Aku melihat mobil itu penyok dibagian depannya.


"Tak salah lagi, mobil itulah yang menabrak Kami!" gumamku dalam hati.


Dari tatapan mata orang yang berada didalam mobil, seolah dia bisa melihat wujud astralku dan mulutnya tak berhenti komat-kamit.

__ADS_1


Aku pura-pura tak tahu dan berhenti tepat didepan mobil tersebut.


Aku memandang kearah Banaspati yang berjalan mendekat.


"Apa itu saja kemampuan yang Kamu punya? Main bola api kayak anak kecil!" ucapku mengejeknya.


"Ternyata, besar mulut juga! Padahal, Kamu sudah terpojok!" gumamnya melemparkan bola api yang keluar dari kedua tangannya.


Dia melemparkan dengan sangat brutal dan banyak bola api yang dia lemparkan.


Aku menghindar dan "boom ...." Mobil itu meledak dan terbakar.


"Bodoh, kena juga!" gumamku dalam hati.


"Aaaarrrrgggghhhhhh ...." teriaknya yang tiba-tiba terbakar dan menghilang dari pandangan.


"Uhuk-uhuk." terdengar suara seorang lelaki keluar dari mobil yang terbakar.


Dia merangkak menjauhi mobilnya.


Anggota tubuhnya hampir kebakar sepenuhnya.


"Siapa Kamu? Apa Kamu di utus oleh Tante Lyli untuk mencelakaiku?" tanyaku mendekati dia yang tergeletak di aspal parkiran.


"Aku, Anggoro. Uhuk-uhuk .... Ja-ja-jangan, Non. Aku cuma disuruh sama Lyli." jelasnya memohon ampun.


Aku ingin mengakhiri hidup orang-orang seperti mereka. Tapi, bagaimana caranya?


Sedangkan tubuhku saja, sedang tergeletak tak berdaya dan mungkin, sekarang sedang di evakuasi karena kebakaran.


"Bisa, kalau Kau memasuki tubuhku." gumamnya yang sangat bodoh, memberitahukan caranya agar aku bisa membunuh dia.


Aku mendekatkan wajah dan tersenyum kearahnya.


Dia melambaikan kedua tangan sambil menggelengkan kepala.


Dari kejauhan, ada dua warga yang berlari dan berhenti, melihat kearah kita dengan pandanganan kebingungan.


"Eh, lihat. Ada orang yang terbakar!"


"Mana?"


"Itu, di tempat parkiran."


"Tunggu, jangan mendekat! Lihat tingkahnya begitu aneh. Dia meraung-raung sendiri, padahal tak ada orang didekatnya."


"Sudah yuk, Kita tinggalkan! Mungkin dia orang gila. Ayo, lebih baik Kita membantu yang didalam, siapa tahu masih ada pasien yang belum di evakuasi."


Kedua orang tersebut berlari kearah rumah sakit dan membantu pemadam kebakaran dan warga lain untuk mengevakuasi beberapa orang yang terjebak didalam kebakaran.


"Ja-ja-jangan masuk ke tubuhku!" teriak Pak Anggoro memohon.


Aku mengambil alih tubuhnya.

__ADS_1


Aku bisa merasakan panas dan perih yang begitu hebat.


"Hahahaha." aku tertawa dan menggerakkan badan untuk bangun.


Lantas berjalan mendekat ke tengah jalan dan menabrakkan diri ke mobil yang tengah berjalan cukup kencang.


Aku merasakan sakit yang teramat hebat.


Perih dan panas yang aku rasakan.


Aku memutuskan untuk keluar dari tubuh Anggoro yang sudah hampir tak terbentuk.


Kepalanya pecah dan kaki kirinya lepas. Tangan kanannya gepeng terlindas ban mobil yang menabraknya.


Rasa sakit itu hilang, ketika aku keluar dari tubuhnya.


Dia sempat menatapku yang sudah menepi sambil melihatnya.


Pak Anggoro mengucapkan sesuatu yang tak bisa aku dengar dan dia menarik nafas terakhirnya.


"Apa sudah selesai?


Apa akan ada lagi yang datang untuk membunuhku?" gumamku dalam hati.


Ketika ingin berbalik, ekor mataku melihat penampakan perempuan dengan kaki dan tangan yang panjang.


Berbaju putih, setengah merangkak, dengan rambut acak-acakan menutupi wajah.


Kaki dan tangannya sepanjang 1,5 meter. Sedangkan tubuhnya seukuran wanita dewasa pada umumnya.


Aku penasaran dan membalikkan badan guna melihat, apa yang akan mahluk tersebut lakukan.


Ternyata, dia mendekati mayat Anggoro yang meninggal ditengah jalan.


Dan, dia menjilati darah yang tercecer dijalanan.


Bukan hanya itu, dia membuka mulutnya lebar-lebar dan mendekatkan ke kepala Pak Anggoro. Lantas, memasukan kepala tersebut ke mulutnya. Seperti anak kecil yang tengah mengulum permen.


Aku sudah membunuhnya, tapi rasanya tak tega melihat mahluk tersebut menikmati mayat Anggoro yang dibiarkan dijalanan sepi tanpa orang yang datang untuk menolong.


Tak ada warga yang tahu, karena tengah sibuk menolong para pasien dirumah sakit yang terbakar.


"Woy, pergi! Jangan dekati mayatnya ...." seruku mengusir dia.


Dia menatapku dan menundukkan pandangan.


Sampai menatap kalung yang aku kenakan, dia kabur meninggalkan mangsanya.


Akhirnya, aku bisa kembali dengan tenang dan sudah tahu, bagaimana caranya kembali ke dalam tubuh.


"Hohohuaha-ha-ha ...." terdengar suara tertawa yang melengking memekahkan telinga.


"Sial! Sekarang apa lagi?" gumamku sambil mencari sosok tertawa yang membuat hawa disekitar menjadi gelap.

__ADS_1


Bersambung ... .


Tolong tinggalkan komentar, like, favorite, vote dan jangan lupa follow agar aku bersemangat untuk menulis.


__ADS_2