DENDAM (Keysi S3 "Coming Soon") KEYSI S1 &S2 (End)

DENDAM (Keysi S3 "Coming Soon") KEYSI S1 &S2 (End)
Episode 12 (Dua Merpati) Bagian 2


__ADS_3

"Yah, pingsan. Padahal, Aku masih mau main sama kalian." gumam Wahyu.


Wahyu pergi ke gudang untuk mengambil tali.


Tali tersebut, dipakai untuk mengikat Dina dan Adit.


Dina diikat dengan posisi terlentang. Tangan dan kaki Dina direnggangkan, lalu diikat di empat sudut ranjang.


Sedangkan Adit, diikat dalam posisi duduk di kursi kayu.


Wahyu mengambil pakaian Dina dan Adit yang berada di bawah ranjang.


Wahyu membawanya ke dapur dan memasukannya ke dalam tumpukan kayu.


Lantas, menyalakan api dan membakar pakaian Dina dan Adit.


Dapur Wahyu tak ada kompor, dia biasa masak memakai kayu kering yang dia cari di sekitaran rumah.


Wahyu kembali ke kamar. Dia tersenyum sambil memandang diantara dua paha Dina.


"Hihihihi lucu, diantara paha kok ada kumisnya." gumam Wahyu.


"Beda sama yang cowok, diatas belalai kok ada jenggot?!" ucap Wahyu menyeringai mendongakan kepala sambil memegang dada-nya.


"tok-tok-tok. Wahyu .... Sudah siap belum? Ibu tunggu Kamu diluar!" teriak Lyli sambil mengetuk pintu depan.


"Bentar Bu, Wahyu mau mandi dulu!" balas Wahyu dari dalam kamar.


"Ya sudah, cepat ya?!" teriak Lyli mendekat kearah bangku yang berada diluar rumah dan Lyli duduk disitu sambil menunggu Wahyu yang tengah mandi.


Kurang dari 10 menit, Wahyu keluar dengan pakaian rapih dan mereka pergi meninggalkan rumah.


Sore ini, Lyli mengajak Wahyu ke pasar malam.


Sepulang dari pasar malam, Wahyu tertidur dan Lyli tak berani membangunkannya.


Jadi, malam ini Lyli membawa Wahyu kerumahnya dan bermalam disana.


Karena tak mungkin, Lyli menggendong Wahyu dari pinggir jalan sampai ke rumah gubug yang ada di dalam hutan.


Kamis, 25 mei 2000. Pukul 06.00.


Wahyu dibangunkan sama Lyli untuk mandi dan siap-siap berangkat sekolah.


Dirumah Lyli, ada pakaian dan seragam cadangan Wahyu yang bisa dia pakai kalau mendadak nginap di rumah Ibu angkatnya.


Wahyu bersiap-siap dan Lyli pun mengantarnya ke sekolah.


Di sekolah, Wahyu seperti murid pada umumnya.


Ketika pulang, Lyli mengantarnya sampai pinggir jalan dan Wahyu melanjutkan perjalanannya dengan berjalan kaki.


Sampai dirumah, Wahyu terkejut, karena kedua mangsanya masih hidup.


Namun, kondisi mereka begitu lemas.


Luka mereka pun sudah mengering dan tak lagi mengeluarkan darah.


"Eh, masih hidup ya?" ujar Wahyu mendekati Adit yang menundukan kepala.


Tangan kanan Wahyu memegang dagu Adit dan mengangkat kepalanya.


Wahyu tersenyum, melihat wajah Adit yang memelas.


"Tolong, lepaskan Kami. Kami berjanji, akan memberikan apa pun yang Kau inginkan." ucap Adit memelas dengan nada bicara yang lemas.


"Lapar ... Haus ...." rintih Dina.


"Oh, Kamu lapar?" tanya Wahyu melirik kearah Dina.


Wahyu berjalan kearah meja yang berada di pojok kamarnya.


Dia mengambil pisau yang kemarin digunakan untuk menganiaya Dina dan Adit.


Wahyu menyeringai dan berjalan mendekati Adit.


Tanpa berkata, dia mencongkel mata kiri Adit.


"Arrrggghhh ...." Adit menjerit kesakitan.


"Aaa .... Jangan-jangan! Kenapa Kamu begitu kejam pada Kami? Salah Kami apa?" teriak Dina sambil mencucurkan air mata.


Dina melihat kejadian itu dengan begitu jelas, karena kursi yang dipakai untuk menyekap Adit, berada didepan ranjang.


Wahyu tak memperdulikan mereka berdua, dia terus melanjutkan aksinya sampai mata Adit benar-benar tercongkel.


Wahyu mencongkel mata Adit dan memegangnya dengan tangan kiri.

__ADS_1


Adit merengek sambil menurunkan kepalanya.


Wahyu berjalan mendekati Dina yang menangis histeris.


Wahyu meletakkan pisau dan memegang rahang Dina yang menutup mulutnya rapat-rapat, karena Wahyu mendekatkan mata Adit ke mulut Dina.


Dina menutup mulutnya dengan kuat, sambil berontak menggelengkan kepala.


Tapi, cengkraman tangan Wahyu begitu kuat, mencengkram rahang Dina sampai tak bisa menggeleng dan membuka mulut.


Wahyu memasukan mata Adit ke mulut Dina dan menutupnya rapat-rapat sambil memukul-mukul tenggorokan Dina, agar mata Adit bisa tertelan.


Dina melotot, dia kaget karena menelan Mata Adit.


Wahyu tertawa sejadi-jadinya.


"Ya Allah ...." ucap Dina terisak.


"Masih kurang?" tanya Wahyu menatap Dina dengan menaikan alisnya beberapa kali.


Dina menangis, tapi sudah tak mengeluarkan air mata.


Rupanya, dari semalam Dina merengek dan sesekali berteriak meminta tolong. Tapi, tak ada satu orang pun yang mendengar teriakkan Dina.


Beda dengan Adit, yang terlihat sudah pasrah.


Wahyu turun dari ranjang dan mendekati Adit.


Wahyu melihat Adit dari ujung kepala sampai ujung kaki.


"Tolong akhiri hidupku! Jangan Kau siksa terus-menerus." pinta Wahyu dengan suara yang mulai serak.


"Akhiri? Aku belum puas bermain-main denganmu!" jawab Wahyu tertawa dan melompat-lompat kegirangan sambil bertepuk tangan.


"Oh iya, Kamu juga bilang haus Kan-Kan ...?" tanya Wahyu melirik kearah Dina.


Wahyu berjalan meninggalkan kamar, dia menuju ke dapur untuk mengambil gelas.


Wahyu kembali membawa gelas kosong.


Dia berjalan mendekati Dina dan mengambil pisau yang diletakkan diatas ranjang.


Wahyu kembali berjalan mendekati Adit.


"Baiklah, Aku akan mengakhiri hidupmu! Aku mau main sama Mbak saja." terang Wahyu sambil menempelkan gelas ke dada Adit.


Darahnya mengalir masuk ke dalam gelas.


"A-a-a ...." teriak Dina dengan nada serak.


Dina meronta dan berusaha melepaskan diri.


Tapi, percuma saja, karena ikatan Wahyu begitu kuat.


Adit terdiam sambil mengambil nafas berat.


"wush-wush ...." desahan nafas Adit terdengar begitu jelas.


Tak lama, suara itu hilang.


Adit meninggal.


Wahyu tersenyum dengan senyuman mengerikan.


Dia membawa gelas yang berisikan darah Adit dan naik ke atas ranjang.


Wahyu meletakkan pisau didekat kepala Dina dan melakukan hal yang sama, memaksa Dina membuka mulut dan memaksanya meminum darah Adit.


Dina tak mau minum, dia berontak dan menyemburkan darah Adit. Tapi, Wahyu memukul pelan tenggorokan Dina.


Dina pun menelan Darah Adit.


Dina kembali menangis dan memohon agar Wahyu melepaskannya.


Wahyu turun dari ranjang dan mengunci pintu. Lantas, dia melepaskan ikatan Dina.


Dina berguling dan menjatuhkan badan dari ranjang.


Dia merangkak mendekati pintu.


Wahyu berjalan pelan dibelakang Dina dan menyeretnya menjauh dari pintu.


Dina merintih kesakitan, karena badannya terseret dan membuat kulitnya sedikut terkelupas.


Wahyu melepaskan tangannya.


Dina kembali merangkak mendekat ke pintu.

__ADS_1


Wahyu membiarkanya dan hanya melihat sambil duduk diatas ranjang.


Dina berusaha mendorong pintu. Tapi, tak kunjung terbuka.


Dia memukul-mukul pintu dengan sisa tenaganya.


"Coba saja kalau bisa!" ucap Wahyu diiringi dengan tertawa.


"Tolong, lepaskan Aku!" pinta Dina terisak.


Wahyu turun dari ranjang dan membuka kunci.


Lantas, dia kembali ke ranjang dan melihat Dina yang mencoba keluar kamar.


Dina mendorong pintu dan terbuka. Lantas, dia merangkak keluar kamar.


Wahyu membiarkan Dina keluar, dia langsung tiduran diatas ranjang yang penuh darah kering.


Dina merangakak keluar dengan merengek (menangis).


Akhirnya, dia berhasil keluar dari kamar.


Wahyu memejamkan mata dan terlelap.


Dina berusaha keluar dari rumah ini dengan sisa tenaganya.


Dia sampai di pintu depan dan didapatinya kondisi pintu setengah terbuka.


Dalam hati, Dina tersenyum.


Dina berpikir, kalau bisa keluar dari rumah ini, dia akan bebas.


Butuh waktu 15 menit bagi Dina untuk sampai keluar rumah.


Sampai diluar, Dina merasa lega.


Tapi, baru 3 meter dari rumah, Dina kewalahan.


Dia istirahat sejenak sambil memuntahkan darah dan mata milik Adit.


Dina memutar badan dan melihat jauh keatas langit.


Cahaya matahari menyondong sedikit ke barat.


Semilir angin meniup mata Dina.


Karena lelah dan merasa tenang, Dina sampai tak sadar.  Dia memejamkan kedua matanya untuk beristirahat sejenak, guna memulihkan tenaga.


Setengah jam Dina tertidur dan dia melanjutkan usahanya untuk kabur.


Dina menyeret tubuhnya.


Sayatan kecil melukai bagian tubuh Dina yang tak mengenakan pakaian.


Tapi, tak menghentikan tekad Dina yang ingin bebas dan keluar dari hutan.


"Masih disini?" tanya Wahyu dengan nada teriak.


Dina tak menghiraukan Wahyu.


Dia terus merangkak, tanpa melihat kebelakang.


Jarak Dina dan rumah sudah 50 meter.


Dina harus menempuh jarak 1,5 kilo, agar bisa keluar dari hutan.


Wahyu kembali masuk kedalam rumah dan keluar sambil menyeret mayat Adit.


Wahyu terus menyeret mayat tersebut sampai mayat Adit sejajar dengan Dina.


"Ayok, balapan!" seru Wahyu menatap kearah Dina sambil tersenyum.


"Eh-eh ...." Dina menggeram sambil menyeret tubuhnya.


Wahyu diam dan menatap Dina.


Dina mendahului tubuh Adit dan Wahyu kembali menariknya hingga sejajar.


Dina masih berjuang untuk kabur dan Wahyu terus menarik tubuh Adit dengan perlahan, mengikuti gerak tubuh Dina.


"To-tolong ... Tolong ...." teriak Dina berusaha meminta tolong.


"Percuma, tak ada orang lain selain Kita!" jelas Wahyu menyeringai.


Bersambung ... .


Tolong tinggalkan komentar, like, favorite, vote dan jangan lupa follow agar aku bersemangat untuk menulis.

__ADS_1


__ADS_2