
Pagi harinya, seperti biasa ketika kami sarapan, aku menyalakan TV. Mencari kabar berita tentang terbunuhnya si pemilik restoran yang aku bunuh semalam.
Aku cari dibeberapa channel yang menyiarkan berita kriminal. Tapi, berita tersebut tidak ada.
Aku penasaran dan terus menggonta-ganti channel.
"Syi, nyari apa si? Udah, sarapan dulu!" ujar Keysa.
Aku tak menghiraukannya.
Aku terus mencari dan akhirnya ketemu.
Tapi, ada yang aneh. Diberita, dinyatakan kalau dia meninggal karena penyakit.
Bukannya, dia meninggal karena aku bunuh? Kok, diberitanya tidak seperti ini?!
Aku kembali duduk untuk sarapan.
Seperti biasa. Kursi tempat Ayah duduk, kosong. Dia masih belum pulang. Entah apa yang dia pikirkan sampai jarang ada waktu untuk anak-anaknya.
Aku tak masalah dia tak ada. Tapi, Keysa selalu memandang arah kursi yang biasa ayah duduki. Dia selalu memandang dengan tatapan sedih.
Dan aku, sekalu mengalihkan pandangannya dengan berucap,
"Cie ... Yang lagi melamun. Sudah tak sabar ingin bertemu Wira?!" ucapku mengulang kata yang sama di setiap harinya.
Aku pura-pura tak mengerti dengan apa yang Keysa pikiran.
Aku hanya tak mau dia larut dalam kesedihan.
Keysa, butuh kasih sayang orang tuanya.
Wajar saja bila dia sering memanja sama Bi Sri dan Mang Cipto.
Aku pun sama. Terkadang memanja pada mereka berdua.
Setelah sarapan, kami langsung berangkat ke sekolah.
Sepanjang perjalanan menuju sekolah, aku masih memikirkan hal tersebut.
Memikirkan, kematian Pak Zidan.
Ketika turun dari mobil, aku dikagetkan oleh Zivana dan Zelecia.
"Hai Keysi. Kamu sekolah disini ya?" ujar Zelecia.
Sedangkan Zivana, hanya tersenyum memandangku.
"Kok, kalian ada disini?" tanyaku heran.
"Ia, Ayah mampir dulu ke sekolah ini. Katanya, ada keperluan sebentar!" jelas Zelecia.
"Teman Kamu Syi? Kak, tidak menyangka. Adik, Kak yang pendiam, punya teman juga!"
Keysa berkenalan sama kedua anak Pak Paimin.
Aku melihat Pak Paimin berdiri dibawah pohon yang ada disamping kiri gerbang.
Dia melambai kepadaku. Aku ijin meninggalkan mereka yang tengah bercengkrama.
__ADS_1
Sesampainya dihadapan Pak Paimin, dia mendekatkan wajahnya ke telingaku sambil berbisik,
"Aku tahu, Kau yang telah membunuh Zidan. Sidik jarimu, ada dibantal yang menindih wajahnya!"
Aku kaget, mendengar Pak Paimin membisikan hal seperti itu.
Lantas, dia duduk jongkok sambil memegang kedua pundakku.
"Kalau Bapak tahu, kenapa tak menangkapku? Terus, mengapa media memberitahukan sebaliknya?"
"*Lihatlah, kedua anakku yang masih kecil itu. Aku tahu kalau punya salah kepada mendiang Tantemu. Tapi, aku melakukan hal nista tersebut karena keterpaksaan!"
"Ia, aku melihat mereka. Mereka anak yang manis dan riang. Kenapa Anda bilang terpaksa*?
Kami berdua melirik kearah Zivana dan Zelecia.
"*Waktu itu, Zelecia belum lahir. Lyli mengancamku, kalau tak menuruti kemauannya, dia akan membunuh keluargaku dengan teluh dan dia akan terus membunuh, sampai tak ada sisa. Dia berjanji, kalau aku tak menurutinya, dia akan terus membawa petaka dikeluargaku."
"Terus, kenapa Anda mau menolongku*?"
Aku kaget. Dia menjelaskan hal seperti itu. Kami kembali bertatap wajah dan Pak Paimin melanjutkan obrolannya,
"*Aku tak bisa menahan Lyli. Karena, tidak ada bukti yang kuat untuk menyeretnya.
Lagian, kalau pun aku berhasil menangkap Lyli ... Belum tentu keluargaku akan aman.
Karena, Lyli adalah pemimpin organisasi CEMPAKA HITAM!"
"Apa itu CEMPAKA HITAM?"
"CEMPAKA HITAM adalah organisasi yang terdiri dari 11 orang. Aku dan Tantemu, adalah salah satu dari 11 orang tersebut. Lyli adalah sahabat baik Tantemu. Tapi, karena suatu alasan, dia berhianat dan dia mengancam Kami semua!"
"Kami?"
"Kenapa Anda menjelaskannya semuanya kepadaku?"
"Kalau kau ingin mengakhiri pembunuhan ini. Kamu harus membunuh dalangnya (Lyli)!"
"Apa yang Aku dapatkan?"
"Kebebasan*!" ujar Pak Paimin menepuk pundak dan berdiri, melangkahkan kakinya meninggalkanku.
Dia kembali masuk mobil dan memanggil anak-anaknya.
Mereka melambai dengan tersenyum dan meninggalkan depan sekolah.
Keysa berjalan mendekatiku dan kami pun memasuki gerbang sekolah.
Akhirnya, aku menemukan titik terang. Aku sedikit lega. Karena, masalah yang selama ini membebani pikiranku akan sirna.
Dan, aku juga merasa senang. Karena, ketika masalah ini berakhir. Aku takkan masuk ke jeruji tahanan.
"Syi, kenapa kamu melamun? Ayo kita balapan. Siapa yang nyampai kelas duluan, dia akan mendapatkan uang jajan!"
Aku tersenyum melihat kearah Keysa dan aku langsung berlari mendahuluinya.
"Ey, Keysi curang!" teriak Keysa mengejarku dari belakang.
Sesampainya didalam kelas.
__ADS_1
Aku tersenyum sambil menyodorkan tangan. Keysa menggelengkan kepala, dia tak mau membayar.
Aku juga sebenarnya tidak berniat meminta uang jajannya. Aku tersenyum melihat kepolosan wajahnya.
Wira mendekati Keysa dan mereka pun mengobrol.
Aku kepikiran dengan CEMPAKA HITAM. Aku ingat! Kelompok tersebut pernah masuk dalam topik di salah satu majalah misteri.
Konon, kita harus hati-hati bila bertemu dengan kelompok ini.
Tapi, disitu tidak menjelaskan tentang orang-orang yang tergabung dalam kelompok tersebut.
Hanya dijelaskan. Bahwa, beberapa tahun yang lalu, mereka kerap menangkap anak kecil dan menjadikannya tumbal.
Sepeninggal mayat seorang anak tanpa hati. Tak jauh dari situ akan ada tulisan yang ditulis dari darah anak tersebut. CEMPAKA HITAM, itulah yang tercoret disetiap dinding didekat tubuh korban.
Tak pernah ada titik terang untuk kasus ini. Tersangkanya pun, tidak pernah tertangkap.
Kini aku tahu, kenapa bisa terjadi hal seperti itu.
Pasti Pak Paimin, dalang dibalik tertutupnya nama para tersangka.
Tak lama, Bu Selly masuk ke kelas.
Suasana menjadi ramai. Mereka berlarian menuju tempat duduknya masing-masing. Dan kita pun memulai pelajaran hari ini.
Sehabis istirahat, Keysa tak kembali ke dalam kelas.
Aku bertanya sama Wira, Roy dan teman-teman yang lain. Tapi, tak ada yang tahu keberadaannya.
Tak lama ada anak kelas C masuk ke dalam kelas. Dia berteriak sambil bertanya, 'Siapa yang bernama Keysi?'
Aku mendekati anak tersebut, "Aku yang bernama Keysi!"
"Oh, jadi Kamu yang bernama Keysi? Sepupuku yang malang!"
Aku kaget mendengar apa yang dia ucapkan.
"*Sepupu?"
"Oh, jadi tak ada yang menceritakan kepadamu? Namaku, Wahyu Pradita. Aku anak Kandung Rangga dan Vanessa. Tapi, aku diasuh oleh Tante Lyli dan dia sekarang Aku anggap layaknya Ibu sendiri*!"
Aku semakin bingung dengan kata-kata yang dilontarkan sama anak tersebut!
Kalau memang dia anak Tante Vanessa dan Om Rangga. Kenapa, dia malah bersama Lyli dan kenapa juga bukan dia yang membalaskan dendam Ibunya.
"Kenapa diam? Kau bingung?! Aku kesini hanya ingin memberitahu.
Keysa akan ditumbalkan!" ucapnya mendekati telinga dan berbisik.
Aku hanya terdiam, mematung.
Tubuhku bergetar dan peluh bercucuran. Mataku menatap kosong.
Wahyu meninggalkanku sambil tertawa.
Teman-teman yang melihatku seperti ini, mereka langsung mendekat.
Seketika, aku jatuh lemas dan tak sadarkan diri.
__ADS_1
Bersambung ... .
Tolong tinggalkan komentar, like, favorite, vote dan jangan lupa follow agar aku bersemangat untuk menulis.