
"Keysi ... Keysi ...." terdengar ada suara memanggil.
"Tek tek tek" suara jam berbunyi. Aku melirik kearah jam. Waktu menunjukkan pukul 12 malam.
Suara itu masih terdengar memanggil. Aku beranjak dari tempat tidur dan mencari asal suara tersebut.
Terlihat dibalik jendela ada sosok perempuan memakai pakaian serba putih melambai dan memanggil namaku.
Aku mendekatinya dan aku juga tak tahu, kenapa aku bisa ada diluar. Seolah badanku bisa menembus dinding.
Aku terus mendekati dia yang ada dibalik pohon.
Dia tersenyum melihatku. Wajahnya cantik mirip seperti wajahku dan Keysa.
Aku berhenti sejenak sambil memandang.
"Kamu siapa?" tanyaku penasaran.
"Ini Ibu, Keysi ... Sini Nak ...." jawab perempuan tersebut.
Tanpa ragu aku melangkahkan kaki menuju orang yang mengaku Ibu.
Belum begitu dekat terdengar suara Keysa.
"Syi. Bangun, sudah pagi. Hari ini kamu udah bisa sekolah kan?" ujar Keysa membangunkanku.
Apakah itu mimpi? Tapi kenapa begitu nyata!
Sudahlah, aku harus bersiap. Hari ini aku harus masuk sekolah!
Aku bangun dari tempat tidur menuju kamar mandi. Sedangkan Keysa sudah memakai seragam dan bersiap berangkat. Masih pukul 06. tapi, dia sudah rapih. Apa dia sudah tak sabar dan ingin cepat berangkat? Pasti gara-gara disenyumin Wira kala itu. Yang membuat Keysa langsung ke GR-an.
Sembari menyiram badan aku berpikir.
Aku teringat kejadian kemarin. Tapi, yang buat aku bingung adalah percakapan antara Bi Sri dan Mang Cipto yang waktu itu sempat aku dengar.
Waktu itu aku sedang menuju perpustakaan milik Ibu. Bisa dibilang hobi membaca Ibu menurun padaku. Karena, aku juga suka membaca seperti dia.
Aku mendengar mereka mengobrol.
Aku penasaran dan mencoba bersembunyi dibalik dinding.
"Pak, apa darah cicak banyak ya?" tanya Bi Sri.
"Maksud Ibu apa?"
"Yang tadi siang itu loh Pak, yang waktu Non Keysi membunuh Cicak!"
"Cicak yang mana Bu? Bapak cuma membersihkan darah di meja. Tapi, gak ada bangkai cicak." jawab Mang Cipto. Dia menghela nafas sejanak.
"Lagian gak mungkin toh Bu, kalau memang benar itu darah cicak, gak mungkin sebanyak itu!" sambung Mang Cipto menjelaskan.
"Bapak tak lihat bangkai cicak? terus itu darah apa?" tanya Bi Sri membuat mereka terdiam.
Aku berjalan melewati mereka, seolah tak mendengar apa-apa.
Pandangan Bi Sri menunjukkan rasa ketakutan, sedangkan Mang Cipto langsung meminum kopi seakan ingin menyembunyikan wajahnya dariku.
Apa benar darah cicak tak sebanyak itu? Terus kenapa kemarin darahnya membasahi kedua tanganku dan sampai mengucur ke lantai?
Aku coba cari di perpustakaan, semoga aku menemukan jawaban!
Teriakkan Keysa membuyarkan lamunanku.
"Syi ... Udah belum? Lama sekali. Ayo kita sarapan!" teriak Keysa dari balik pintu kamar mandi.
"Ia Kak, bentar lagi!" ucapku dan mempercepat mandi.
Sambil mandi, aku memikirkan soal buku yang ingin aku cari.
Kemarin aku cari di perpustakaan gak ada. Mungkin di perpustakaan sekolah ada buku mengenai cicak?
Aku mengenakan handuk dan bercermin.
"Aaa ...." aku teriak kencang. Keysa yang masih dikamar langsung masuk kekamar mandi yang tak aku kunci.
"*Kamu kenapa Syi?"
"Darah Kak, darah .... Tubuhku kok banyak darahnya?"
__ADS_1
"Hey, Syi sadar. Darah apaan*?"
Aku melihat lagi kearah cermin. Darah yang tadi aku lihat membasahi seluruh tubuh tiba-tiba hilang. Apa aku cuma berhalusinasi?
"*Ayo kita keluar, Kamu cepat berpakaian. Aku tunggu di meja makan!"
"Ia Kak duluan. Nanti Aku nyusul*!"
Tak lama aku keluar dari kamar mandi. Baru melangkah keluar tiba-tiba aku tak sadarkan diri.
Aku terbangun di jok belakang mobil. Sedangkan Keysa duduk didepan, disamping Mang Cipto.
Aneh, aku terbangun lengkap dengan seragam. Tas yang aku bawa pun terasa begitu berat.
"*Kak, apa yang terjadi padaku?"
"Terjadi apanya?"
"Waktu Aku habis mandi, tiba-tiba Aku tak sadarkan diri!"
"Hahahaha*," Keysa tertawa ....
"*Aneh Kamu Syih. Memang siapa yang memakaikan kamu baju dan siapa yang datang ke meja makan? Terus siapa juga yang membawamu duduk disini?"
"Memang siapa Kak?"
"Siapa lagi kalau bukan Kamu sendiri? Lagian Kaka mana mau memakaikan kamu baju dan sebagainya*!"
Aku melihat mata Mang Cipto penuh selidik kearah cermin yang mengarah kebelakang.
Aku bingung. Siapa yang menggerakan tubuhku disaat aku tak sadarkan diri?
Udahlah, lupakan. Mungkin aku lupa!
Kami datang paling awal. Tak ada siapun disekolah selain Pak Sugih yang sedang menyapu halaman.
Keysa menarikku untuk cepat sampai didalam kelas. Mata Pak Sugih penuh selidik.
Apa ada yang salah denganku?
Sesampainya didalam kelas kami pun duduk. Keysa terlihat bimbang, seakan sedang menunggu seseorang.
Aneh. Kenapa malah yang ada malah buku otomotif? Dan kenapa ada kunci inggris berukuran kecil serta obeng dalam tas?
Dari pada tak ada bacaan, lebih baik aku membaca, siapa tahu aku menemukan sesuatu.
"*Keysi ... Keysi ...."
"Ibu?"
"Iya Keysi, ini Ibu. Keysi... Balaskan dendam Ibu sama Pak Umar. Dia adalah orang yang bertanggung jawab atas kematian Ibu. Kamu tahu kan apa yang akan kamu lakukan?"
"Syi ... Syi ... Bangun. Bu Erna sudah datang*!" ujar Kesya membangunkanku yang tengah tertidur berbantalkan buku.
Sejak kapan aku tertidur? Kenapa akhir-akhir ini aku menjadi seperti ini?
"Kak, apa Kamu tidak pernah melihat Ibu?" tanyaku berbisik.
"Ibu Kita kan sudah meninggal semenjak melahirkan kita. Bukannya Bi Sri dan Mang Cipto sudah sering cerita?" Keysa balik berbisik.
Kalau memang Ibu meninggal pada saat melahirkan kita, terus kenapa orang yang mirip dengan kami mengaku kalau dia Ibu dan menyuruh aku membalas dendam?
"Keysi ... Kenapa kamu melamun? Apa kamu masih sakit?" tanya Bu Erni.
"E ... Enggak Bu. Aku baik-baik saja!" jawabku terdiam sejenak.
"Bu, Keysi ijin ke toilet sebentar," ucapku.
"Mau ditemani?" tanya Keysa.
"Gak Kak, Kesyi sendirian saja. Kesyi gak apa-apa kok kak."
Aku berdiri dan beranjak dari tempat duduk. Kaki terasa berat sekan ada sesuatu yang mengganjal.
Aku berjalan sampai luar. Dirasa tak ada yang melihat, aku mengeluarkan sesuatu yang entah apa itu.
Perlahan aku mengeluarkan sesuatu dari kaus kaki.
Aku kaget. Kaus kaki kiri menyimpan kunci inggris berukuran kecil, sedangkan kaus kaki kanan menyimpan obeng.
__ADS_1
Apa yang akan aku lakukan dengan kedua barang ini?
Sambil berfikir aku melihat kearah tempat parkir.
Aku melihat kekanan dan kekiri. Tak terlihat satu orang pun.
Aku mendekat kearah parkiran. Disana ada motor Pak Umar yang tengah terparkir.
Aku langsung merenggangkan beberapa baut dan mur menggunakan kedua alat ini.
Tenaga ku begitu kuat, sampai aku bisa merenggangkannya.
Apa ini yang Ibu mau? Apa dia yang membantuku, sehingga aku bisa cukup kuat untuk melonggarkan baut dan mur yang ada di motor Pak Umar?
Sambil melihat kanan-kiri, aku memasukan kedua alat tadi kedalam kaus kaki.
Aku berlari menuju toilet untuk mengelabui orang. Supaya kalau ada yang lihat mengira, kalau aku habis keluar dari toilet.
Ternyata tanganku kotor. Pas sekali aku menuju toilet.
Aku pun membasuh kedua tanganku yang kotor dan keluar dari toilet.
Baru melangkahkan kaki keluar, aku hampir bertabrakan dengan Pak Sugih.
Tatapan Pak Sugih memendam kebencian. Apa Pak Sugih tahu yang aku lakukan tadi?
"Pak Sugih dari tadi diluar? Maaf Pak aku tak tahu dan aku terburu-buru."
"Gak Non. Bapak baru mau ketoilet." ucapnya penuh selidik. Tapi, kali ini seakan dia melihat ada seseorang dibelakangku.
Aku melirik kebelakang, tapi tak ada seorang pun disana.
Pak Sugih meninggalkanku. Mulutnya terdengar mengucap sesuatu "cih..."
Aku tak mengerti kenapa Pak Sugih mengucapkan kata itu.
Entah mengapa, aku takut dengan Pak Sugih.
Aku berlari menuju kelas. Tapi dikelas sepi, tidak ada satu orang pun.
Aku penasaran dan melihat keluar. Tapi, tetap tak ada orang.
Aku kembali kekelas. Aku duduk sendiri.
Tak lama ada arus darah membanjiri kelas. Entah dari mana datangnya darah sebanyak ini. Aku tenggelam dan tak bisa bernafas.
Mataku mulai terpejam...
Terdengar suara berisik memenuhi telinga.
Aku membuka mata dan entah kenapa, lagi-lagi aku tersadar tengah duduk dikursi belakang mobil.
Riuh ramai suara orang memenuhi jalanan.
Mobil berjalan pelan dan terlihat ada seseorang tergeletak dipinggir jalan.
Darahnya memenuhi jalanan yang kita lewati.
"Syi, Bukan kah itu motor Pak Umar? Berarti mayat yang ditutup pakai koran adalah mayat beliau!" ujar Keysa bergelimang air mata.
Aku terdiam dan hanya mendengarkan Keysa berucap.
Ada yang aneh dari wajahku, seakan pipi ini tertarik sesuatu.
Aku melihat kearah cermin. Aku tersenyum.
Baru kali ini aku melihat senyuman yang begitu lepas memancar dari wajahku.
Aku tertawa terbahak-bahak.
Keysa kebingungan, begitu pun Mang Cipto.
Jalan sudah renggang. Mang Cipto tancap gas supaya kita bisa cepat sampai tujuan.
Aku merasa seakan beban yang ada dalam diriku terangkat. Aku merasa begitu lega melihat Pak Umar meninggal.
Bersambung... .
Tolong tinggalkan komentar, like, favorite, vote dan jangan lupa follow agar aku bersemangat untuk menulis.
__ADS_1