DENDAM (Keysi S3 "Coming Soon") KEYSI S1 &S2 (End)

DENDAM (Keysi S3 "Coming Soon") KEYSI S1 &S2 (End)
S2 Episode 1 (Darah Untuk Ayah)


__ADS_3


5 tahun telah berlalu. Aku dan Keysa, menuju ke tempat Rehabilitasi.


Wahyu tak di penjara secara umum karena usianya yang tergolong masih anak-anak.


Di tempat yang akan kita tuju, Wahyu ditempatkan diruangan yang ketat penjagaan. Sedangkan untuk ruangan lain, tak dijaga sedikit pun.


Sebenarnya, Keysalah yang mengajakku kesana. Awalnya aku tak mau tapi dia memaksa, sambil memberitahu kalau sepupu kita sudah berubah menjadi sosok yang lebih baik.


Entah dari mana dia dapatkan berita tersebut, Keysa pun tak tahu sama si pembawa berita.


Untuk menuju tempat tersebut lumayan jauh. Tapi, akhirnya kita sampai juga.


Mang Cipto menurunkan kita dari mobil.


Kita masuk ke tempat tersebut dan bertanya sama seseorang.


Mang Cipto tak mau ikut, dia menunggu kita di luar sambil minum kopi di warung pinggir jalan.


Setelah di beri tahu, kita menuju ruangan no.31, dimana ruangan tersebut adalah kamar Wahyu.


Kita berjalan menelusuri lorong yang tak tersentuh matahari. Hanya lampu listrik yang agak reduplah yang menjadi penerang jalan.


Nampak dari jauh, ada ruangan yang dijaga oleh dua orang polisi. Tak salah lagi, pasti itulah ruangan Wahyu!


Kita berjalan mendekat dan di berhentikan sama anggota polisi yang menjaga kamarnya.


"Adik-adik ini mau kemana?" tanya polisi yang berdiri disebelah kanan.


"Kami, mau menjenguk Wahyu!" jawab Keysa.


"Kalian siapanya Wahyu?" tanya Polisi yang sebelah kiri.


"Kami, sepupunya." balas Keysa.


"Maaf, kalian tak boleh mendekat apalagi masuk!" ujar kedua polisi itu dengan tegas.


"Kami adalah anak angkat, Pak Richard Paimin!" jelasku membuat mereka menunduk dan mempersilahkan kita masuk.


Kita melihat Wahyu tengah duduk di kursi, didepannya ada meja, di belakang Wahyu duduk ada ranjang tempat tidurnya.


Wahyu tengah duduk sambil membaca buku pendidikan agama islam.


Keysa semakin yakin kalau Wahyu benar-benar sudah berubah. Tapi, lain halnya denganku yang masih menaruh curiga terhadapnya.


"Eh, kirain siapa yang datang. Ternyata, Adik-adikku." ucap Wahyu dengan tersenyum dan mempersilahkan kita duduk diatas ranjangnya.


"Wahyu memanggil kita adik? Tapi, ya pantas juga. Soalnya, Wahyu anak Tante Vanessa dan berarti, dia sepupu tua." gumamku dalam hati.


Awalnya aku tak tahu kenapa Keysa mengajakku kesini. Aku pikir, kedatangan kita hanya untuk menjenguk.


Wahyu berdiri dan menarik mundur kursinya. Lantas, didekatkan didepan kita.


Dia duduk dengan posisi kursi yang terbalik dan menggantungkan kedua tangannya diatas punggung kursi.


"Ada perlu apa kalian datang kemari?" tanya Wahyu.


"Aku mau tahu, Kenapa Kakak bisa jadi seorang pembunuh?" tanya Keysa.


"Baiklah, Aku akan bercerita. Tapi, agak panjang!" ucap Wahyu tersenyum.


"Tak apa! Kita masih ada waktu 1 jam." jelas Keysa.


(Wahyu mulai bercerita dan mulai dari sini, akan mengambil sudut pandang Wahyu)


Aku tinggal sendiri dirumah gubug yang berada di tengah hutan. Tapi, tidak sendiri juga. Karena tiap malam, Ayah selalu datang menemaniku.


Waktu itu, umurku genap 5 tahun. Ayah memberitahukan, kalau aku bukanlah anak dia dan Lyli. Melainkan, Anaknya Vanessa dan Rangga.


Keesokan harinya, setelah Ibu mampir kerumah dan pergi meninggalkan beberapa makanan serta membawa pakaian kotorku.

__ADS_1


Selang satu jam, aku keluar rumah dan berjalan mengikuti jejak Ibu untuk kabur.


Aku kabur, untuk mencari keberadaan orang tua kandungku.


Tapi, di tengah perjalanan aku bertemu dengan seorang gadis.


Gadis itu, seumuran denganku. Dia minta tolong dan pingsan di hadapanku.


Aku hanya diam dan menunggu gadis itu terbangun.


"Maaf, Kamu siapa dan kenapa bisa ada disini?" tangaku.


"Namaku, Firda Wahyuni. Aku dibuang oleh orang tuaku!" ucapnya menangis sambil memegang perut.


"Kenapa Kamu memegang perut? Lapar?" tanyaku.


Gadis tersebut mengangguk dan aku menuntunnya berjalan sampai ke rumah gubugku.


Aku menyuruhnya masuk dan menungguku diruang tamu. Lantas, aku membawa beberapa makanan dan minuman untuk Firda.


Dia makan dengan lahapnya.


Sudah beberapa hari berlalu. Kita hidup bersama di rumah ini.


Aku merasakan hangatnya pertemanan.


Tapi, kalau Ibu datang kerumah, aku selalu menyembunyikan dia.


Ibu kaget, melihat makanan yang cepat habis.


Aku hanya bilang, kalau sedang suka makan.


Tapi, aku tak bisa menyembunyikan Firda dari Ayah.


Ayah tahu. Padahal, Firda aku sembunyikan di dalam lemari.


Yang membuatku aneh, Ayah selalu menjilat bibir kala melihat kearah Firda.


Pagi ini, aku dan Firda main kejar-kejaran di depan rumah.


Dia berlari masuk ke hutan dan aku mengejarnya sambil tertawa.


Tapi, dari kemarin kita tak makan. Entah ada masalah apa, Ibu tak mendatangi rumah untuk membawa makanan.


Firda berhenti dan berdiri setengah jongkok sambil memegang kedua lutut.


Dia memandang kearah bunga.


"Yu, sini! Ada kupu-kupu." ucap Firda tersenyum sambil melirik kearahku.


Aku mendekati Firda sambil melihat kearah tengkuknya.


Entah kenapa, aku ingin sekali menggigit tengkuknya yang putih mulus.


Tiba-tiba, terdengar perut Firda keroncongan. Dia melirik lagi kearahku sambil tersenyum.


"Kasian kan, sama anak itu? Wahyu, Kamu bisa mengakhiri penderitaan dia!" terdengar lirih seseorang tengah berucap. Tapi, tak berwujud.


Firda duduk diatas rerumputan.


Aku ikut duduk disebelahnya.


"Ambil batu itu, Wahyu" suara itu kembali terdengar.


Aku mencoba mencari asal suara tersebut. Tapi, entah dari mana suara itu berasal.


Aku seperti orang yang tengah bingung, sampai tak mendengar Firda memanggil namaku berkali-kali.


"Ih, Wahyu. Kamu lihat kemana dan mikirin apa?" ucapnya kesal.


"Maaf, Fir. Kamu mendengar suara seseorang?" jawabku sambil melihat kearah kanan dan kiri.

__ADS_1


"Suara apa, Yu? Aku tak mendengar suara seseorang!" ucapnya tegas.


Tanpa sadar, tangan kananku sudah memegang batu.


Entah sejak kapan, aku menggenggam batu yang berada disamping kananku?!


"Yu. Kalau kita sudah dewasa. Kamu mau kan, menikah denganku?" tanya Firda sambil tersenyum.


"Menikah tuh, makanan ya?" tanyaku balik dengan wajah polos.


"Wahyu, Kamu lucu!" ucap Firda sambil memegang wajahku dengan kedua tangannya.


Lantas, Firda mencium keningku.


"Wahyu. Kalau Firda masih ada didekatmu, Kamu akan terus kelaparan dan mati bersama dia!" lagi-lagi, suara itu terdengar. Walau suaranya sangat lirih terdengar, namun begitu jelas.


Pikiranku langsung gelap dan menghantam kepala Firda dengan batu yang ku pegang.


Firda tergeletak, kepalanya bersimbah darah. Tapi, dia tak marah dan masih melihatku dengan tersenyum.


Aku berpikir, kalau arti menikah adalah mati bersama-sama.


Aku menyimpulkan arti menikah, dari suara itu.


"Terima kasih, karena sudah membuatku bahagia.


Aku senang, walau akan berakhir seperti ini!" ucap Firda sambil tersenyum dan memejamkan mata.


Aku melepas batu tersebut dan menggoyang-goyang badan Firda. Tapi, Firda tak kunjung bangun.


Aku kaget, tiba-tiba ada seorang yang tengah berdiri didekat kepala Firda.


Aku mendongakkan kepala dan melihat kearah wajah orang tersebut.


Ternyata, dia adalah Ayah.


"Ayah? Tumben pagi-pagi menemuiku?" tanyaku.


"Darah untuk Ayah?!" ucapnya tersenyum.


Ayah mundur beberapa langkah. Kemudian, membaringkan badannya ke tanah.


Dia merangkak mendekati kepala Firda. Lantas, menjilati kepalanya yang berlumuran darah.


Firda kejang. Rupanya, dia belum meninggal.


Sambil menjilat, Ayah juga menghisap darahnya.


Firda mengangkat badannya yang masih terlentang naik ke atas. Posisi kaki mendorong tanah dan kepala bagian belakang ditekankan kebawah sambil menarik nafas panjang dan tubuhnya pun, jatuh seketika.


Ayah duduk, sambil mengusap bagian bawah mulutnya. Dia tersenyum dan berdiri meninggalkanku, seraya berkata,


"Firda telah meninggal. Tinggal saja tubuhnya disini untuk hewan buas!"


Ayah pergi memasuki hutan.


Aku berjalan meninggalkan tubuh Firda sambil beberapa kali melirik ke belakang, melihat kearahnya.


(Balik lagi ke sudut pandang Keysi)


"Dek, sudah jam 15. Bukannya kalian mau pulang?" tanya salah satu polisi yang membuka pintu sambil memperlihatkan kepalanya.


"Iya Pak!" balas Keysa.


Kita berdiri dan pamit sama Wahyu. Lantas, kita berjalan keluar dan langsung pulang.


Jam 15.30. jadwal Keysa mengaji sama Ustazah Widya.


Sedangkan aku, belajar bela diri sama orang misterius yang mengenakan topeng. Dia memperkenalkan diri dengan nama, Ronggo.


Bersambung ... .

__ADS_1


Tolong tinggalkan komentar, like, favorite, vote dan jangan lupa follow agar aku bersemangat untuk menulis.


__ADS_2