DENDAM (Keysi S3 "Coming Soon") KEYSI S1 &S2 (End)

DENDAM (Keysi S3 "Coming Soon") KEYSI S1 &S2 (End)
Episode 17 (Stalking)


__ADS_3

Panas-panas begini, memakai jaket tebal dan topi.


Peluhku mengalir dengan deras ...


Mau bagaimana lagi? Aku terpaksa melakukan ini!


Menyamar, agar tidak ketahuan sama Wahyu.


Aku terus membuntutinya dari kejauhan.


Mencari tahu, dimana Tante Lyli menyembunyikan Keysa.


Sepulang sekolah aku membuntutinya.


Mendadak beli jaket dan topi dipinggir jalan.


Dia tak pernah melirik kebelakang. Hanya memandang, lurus kedepan.


Dia terus berjalan, tanpa menghiraukan arah belakang.


Lumayan jauh aku mengikutinya. Rasa penat menghampiri. Tapi, aku harus kuat. Agar bisa menemukan lokasi Keysa.


Aneh! Kenapa dia masuk kedalam hutan?


Apa yang akan dialakukan didalam hutan?


Aku terus berjalan mengendap dan sesekali bersembunyi dibalik pohon. Walau, sebenarnya dia tak pernah menengok kearah belakang. Aku hanya takut kalau nanti dia akan memalingkan wajahnya ke belakang.


Semakin dalam aku berjalan.


Kini, langkah kakiku berhenti, melihat rumah gubug yang ada ditengah hutan.


Wahyu masuk kedalam rumah tersebut.


Aku berjalan mengendap, mendekati rumah dari samping.


Sambil berjalan, aku mencari celah-celah rumah untuk mengintip.


Kaget bukan kepalang. Melihat Wahyu telah menyekap anak gadis yang masih mengenakan seragam TK.


Gadis tersebut duduk dan diikat melingkar ke kursi.


Mulutnya disumpal dan darah kering menutupi wajahnya.


Pakaiannya setengah koyak.


Gadis tersebut merontah dan matanya melototi Wahyu.


Wahyu hanya tersenyum memandanginya.


Senyuman yang Wahyu berikan teramat ngeri.


Dia terus tersenyum memandangi gadis tersebut.


Sementara, tangannya meraba ke atas meja untuk mengambil pisau.


Wahyu membuat goresan kecil dipipi gadis itu.


Darah segar mengalir dan dia menjilatinya.


Tapi, aneh! Aku tak merasakan mual atau jijik.


Malah, air liurku mengalir. Aku ingin merasakan, seperti apa rasa darah yang beraroma amis tersebut!


Sesekali aku menelan ludah. Membayangkan dahagaku hilang, ketika meminumnya.


Gadis yang tadinya merontah kesakitan, kini pingsan.


Mungkin, dia tak kuat lama-lama menahan sakit yang ia rasakan.


Tak ubahnya senyuman Wahyu, malah ... Kini dibarengi dengan tertawa yang melengking. Membuat telingaku berasa sakit.


Tak lama, Bu Lyli datang.


Dan mereka keluar dari rumah gubuk tersebut.


Bingung! Mengejar mereka, atau menyelamatkan anak gadis yang disekap?


Tak kan terjadi apa-apa sama dia, 'pikirku!'


Setelah semua ini berakhir. Aku berjanji akan menyelamatkannya!

__ADS_1


Aku kembali membuntuti Wahyu.


Dia berjalan sambil bergandengan tangan dengan Tante Lyli.


Sesekali mereka bertatap muka dan saling tersenyum (creepy).


Tak lama berjalan dan keluar dari hutan.


Sial, mereka menaiki mobil dan melaju, meninggalkan hutan.


Aku terduduk lemas. Peluh menggenang disetiap celah jaket.


Aku haus. Tapi, tak ada yang berjualan didekat hutan. Jangankan ada orang berjualan. Orang lewat pun tak ada.


Akhirnya, aku kembali kerumah gubug tempat Wahyu menyekap seorang gadis.


Mungkin, disini ... Aku dapat menemukan air untuk minum!


Aku mencoba memutar daun pintu. Untungnya tidak dikunci.


Pintu aku buka dan aku pun masuk kedalam rumah yang kotor dan berdebu.


Banyak jaring laba-laba menghiasi setipa pojok rumah.


Tak ada alat elektronik didalam rumah ini dan lampunya pun, masih menggunakan lampu minyak.


Aku menyusuri setiap ruangan.


Tak ada botol maupun tempat penampungan air.


Aku mendekati sebuah kamar. Bau busuk melambai hidung.


Aku penasaran dengan kamar tersebut dan aku coba membukanya.


Tangan kiri menarik jaket untuk menutupi hidung. Tangan kanan memegang daun pintu untuk membuka.


Pintu baru terbuka dan aku belum sempat masuk.


Tiba-tiba perutku langsung mual dan memuntahkan cairan yang menguning.


Jijik bercampur ngeri.


Ada banyak bangkai anak kecil didalam kamar ini!


Ada yang sudah membengkak, dikerumuni lalat.


Bercak darah memenuhi lantai dikamar ini.


Tubuhku terasa begitu lemas.


Hampir semua isi dalam perut, keluar.


Pintu tersebut aku tutup kembali dan berjalan dengan sempoyongan mendekati ruangan gadis yang tenngah disekap.


Baru memasuki ruangan. Bau anyir darah mulai melambai.


Aku mencium dengan kuat bau tersebut. Baunya terasa begitu enak dan membuat liurku mengalir.


Aku berjalan mendekati dia yang masih pingsan.


Bibirku tersenyum lebar, seakan senang melihat hal tersebut!


"Uh, kasian ... Biar aku hentikan penderitaanmu!" ujarku tersenyum.


Aku mengambil pisau dan menusukanya.


Dia mendadak sadar dan melotot kerarahku.


Nafasnya terengah, air mata membasahi pipi.


Kembali aku menusukkan pisau tersebut berkali-kali. Hingga, nafasnya terhenti.


Aku memotong tali yang mengikatnya.


Tubuhnya tersungkur ketanah!


Aku hadapkan badannya keatas (terlentang) dan melepaskan pakaiannya.


Perasaanku begitu senang, akhirnya aku bisa mendapatkan korban yang bukan binatang.


Pisau aku masukan ke kemaluannya. Aku menggorekan pisau keatas sampai leher.

__ADS_1


Oh, jadi ini organ dalam yang ada di tubuh manusia? 'pikirku!'


Tangan ... Aku masukan kedalam perut. Ususnya aku tarik keluar.


Ow, panjang ... 'gumamku sambil sesekali tertawa.'


Apa itu hati? Oh ia, itu hati!


Aku mengiris bagian yang menempel dihati anak ini dan hatinya aku ambil.


Aku berdiri dan mengankat hatinya tinggi-tinggi sambil tertawa.


"Bagaimana? Enak kan rasanya?"


Terdengar suara anak lelaki dan aku memalingkan badan.


Ternyata Wahyu sudah ada dibelakangku. Didekat pintu masuk ada Bu Lyli, berdiri disamping Keysa.


Tangan dan kaki Keysa terikat. Mulutnya tertutup lakban. Dia syok melihat adiknya melakukan hal seperti itu dan seketika, Keysa pingsan.


Bu Lyli menangkapnya dan dia melihat kearahku sambil berucap,


"Nanti malam adalah malam satu suro. Aku membutuhkan nyawa dua gadis untuk tumbal. Tapi, Kamu telah merenggut salah satunya. Sebagai ganti, Kamu yang juga akan Aku korbankan!" ujar Bu Lyli, tertawa.


"*Bukannya, sudah banyak gadis yang Kau korban kan? Aku melihatnya dikamar itu?!"


"Oh itu? Kalau itu bukan korbanku. Tapi, korban yang Wahyu berikan untuk suamiku. Wahyu, tangkap Keysi*!"


Wahyu mencoba menangkapku. Tapi, aku berhasil menghindar dan berlari menabrak Bu Lyli yang berada didepan pintu.


Aku berlari keluar rumah dan masuk lebih jauh kedalam hutan.


Aku ketakutan. Sambil berlari, aku memikirkan cara untuk menyelamatkan Keysa.


Aku berhenti dibawah pohon untuk mengambil nafas.


"Keysi, Kamu dimana sepupuku?" ujar Wahyu.


Sial, dia mencariku. Wahyu memegang kapak sambil sesekali menghantamkan kapaknya ke pepohonan.


Aku bingung, bagaimana caraku melawan?!


Pisau yang tadi masih aku pegang. Tapi, aku tak mungkin bisa menang!


Pisau aku sisipkan dianatara ikat pinggang, lantas naik keatas pohon.


Aku bersembunyi dibalik rimbunnya dedaunan.


"Keysi sepupuku ... Keluarlah. Aku berjanji akan membunuhmu dengan cepat dan Kamu takkan merasakan sakit!"


Wahyu berada dibawah pohon yang aku panjat. Dia melihat kekanan dan kiri. Wajahnya tak lepas dari senyuman. Senyuman yang begitu menakutkan!


"Tante Vanessa. Jika Tante bersemayam dalam tubuhku? Tolong keluarlah dan sampaikan pada Om Rangga, Kalau aku membutuhkan pertolongannya!" gumamku dalam hati.


"Kenapa Kau tak memakan hati anak itu? Kalau kau memakannya. Kau akan mewarisi Ilmuku!" terdengar suara berbisik ditelinga.


"*Aku tak bisa. Aku reflek melepaskan hati tersebut! Aku sadar, ketika melihat Keysa. Pasti Tante yang mendorongku untuk melakukan hal keji tersebut?"


"Tentu saja keponakanku. Alasan Aku masih bergentayangan ... Karena, Aku belum mewariskan apa yang Aku miliki!"


"Bohong, Aku tak percaya. Kalau Aku memakan hati tersebut. Kau pasti akan mengambil alih tubuhku sepenuhnya?!"


"Anak pintar. Ternyata kau sudah mengerti apa yang akan terjadi. Tapi, Aku takkan membiarkan Kamu mati.


Kalau Aku yang sekarang. Tak mungkin bisa mengalahkan Lyli. Aku akan memanggil Anggon Dowo dan para pengikutnya untuk membantuku mengalahkan Lyli. Tapi, Aku meminjam tubuhmu!"


"Baiklah. Tapi, panggil dulu Om Rangga.


Siapa yang akan menghentikan Wahyu kalau bukan Ayahnya?!"


"Baiklah, Aku akan pergi memanggil Rangga dan setelahnya, Aku akan memanggil Anggon Dowo dan para pengikutnya. Pastikan, Kau tak meninggal setelah Aku meninggalkanmu?!"


"Aku tak semudah itu untuk Mati*!"


Setelah Aku mengucapkan kata tersebut. Suara Tante Vanessa yang sedari tadi berbisik, sudah tak terdengar lagi. Mungkin, dia sudah pergi.


Aku harus terus bersembunyi, sampai Om Rangga tiba!


Mendadak, kepalaku terasa sakit. Sakitnya begitu kuat, membuat tubuhku oleng. Seolah aku tak mampu menahan berat badanku.


Tangan kananku meraba, mencari pegangan. Sementara tangan kiri, memegang kepala dan berusaha menahan rasa sakitnya.

__ADS_1


Bersambung ... .


Tolong tinggalkan komentar, like, favorite, vote dan jangan lupa follow agar aku bersemangat untuk menulis.


__ADS_2