
Aku tersadar sambil berdiri. Tanganku memegang pisau dan terlihat didepan mata ada tikus tergeletak setengah menjerit, "cit cit cit."
Aku tidak Dikamar melainkan ada di gudang.
Aku duduk bersila diatas tebalnya debu.
Pisau aku hantamkan kearah kepala beberapa kali sampai terputus.
"Hahahahah," aku tertawa kecil dan aku sayat tubuh tikus itu.
Aku penasaran dan membelah anggota tubuhnya. Darah kental mulai menggenang.
Aku keluarkan organ dalam tikus itu sedikit demi sedikit.
Rasa penasaran akan anggota tubuh yang selama ini membesut dipikiranku seakan terbayarkan.
"Apa anggota tubuh manusia seperti ini?" gumamku penasaran.
Tiba-tiba ada sosok yang memeluk tubuhku dari belakang.
"Anakku sayang, sekarang kamu tahu kan kenapa aku meninggal? Aku ingin kamu membalaskan dendam kepada 7 orang tersebut.
Satu sudah kau bunuh dan tinggal 6 orang.
Perempuan yang tadi siang gagal kau bunuh adalah Lyli. Dia adalah orang yang paling berpengaruh atas kematian Ibu."
Aku tak bisa menggerakkan anggota tubuh. Aku hanya bisa mendengarkan apa yang dia ucapkan.
"Lyli adalah sosok yang akan susah kau bunuh. Karena, dia mempunyai Genderuwo, suami ghaib yang akan selalu melindungi dia. Lyli rela menikahi Genderuwo dengan syarat agar bisa melindunginya dari pembalasan dendamku.
Sebelumnya aku sudah beberapa kali mencelakai dia. Namun, dia tetap selamat.
Kau tahu kenapa mobil merah itu melaju dengan kencang?"
Sosok tersebut terdiam untuk sesaat sambil mengelus kepalaku.
"Akulah yang menidih pengemudi mobil merah tersebut. Aku pergi kearahmu setelah mobil itu menabrak. Karena, aku takut Genderuwo tersebut akan mencelakaimu.
Besok datanglah ke pemakaman Pak Umar. Karena, mereka pasti akan hadir di pemakamannya."
Sosok itu tiba-tiba menghilang.
Terdengar lirih suara orang dari luar gudang.
"*Ayo Pak buka, suara berisik apa itu yang ada didalam gudang?"
"Yakin Bu, disini ada sesuatu*?"
"Ceklek," terdengar suara seseorang membuka kunci.
"Kreot," suara pintu terbuka.
"Astaga Non Keysi? Kenapa Non bisa ada didalam gudang yang terkunci ini?" tanya Bi Sri sambil berlari kearahku.
Dia kaget melihat apa yang aku pegang.
Bi Sri langsung mengambil pisau tersebut dan membuangnya jauh-jauh.
Aku hanya terdiam dan menatapnya dengan tatapan kosong.
Lantas Bi Sri menggendongku keluar.
"Pak, bersihkan bangkai tikus itu Pak!" suruh Bi Sri.
Mang Cipto memandangku penuh tanya. Dia masuk dan membersihkan bangkai tikus yang anggota tubuhnya sudah berserakan.
Dia memasukannya kedalam kardus dan berlari untuk membuangnya ketempat sampah yang ada diluar.
Bi Sri membawaku ke kamar mandi dan memandikanku yang hanya bisa menatap kosong kala itu.
Setelah selesai memandikan, dia pun memakaikan baju tidur dan meletakkan tubuhku diatas tempat tidur.
__ADS_1
Pagi buta sekali kita sudah berangkat. Dasar Keysa, dia sudah tak sabar ingin bertemu Wira.
Walau masih sepi. Tapi, kami menyuruh Mang Cipto untuk langsung pulang.
Gerbang masih tertutup. Pak Bilal Aryadira yang bertugas menjadi security masih tertidur.
"Pak Bilal, Pak. Buka dong Pak gerbangnya," ujar Keysa sambil mendorong-dorong gerbang.
Security yang masih keturunan arab itu terbangun. Dia bengong dan bingung.
"*Lah, baru jam berapa kalian sudah kesini?"
"Udah Pak buka, mau berapa lama lagi kami menunggu diluar*?"
Pak Bilal pun menurut dan membuka gerbang.
Kami berjalan menuju ruang kelas. Tapi, masih terkunci dan kami pergi ke area lapangan sambil menunggu Pak Sugih yang memegang kunci semua ruangan sekolah ini datang.
Seperti biasa, dari pada jenuh menunggu aku membaca buku yang sudah aku bawa.
Kali ini aku membaca buku detective yang bercerita menguak kasus pembunuhan.
Otakku terus merekam apa yang aku baca.
Sedangkan Kesya hanya memandang kearah gerbang sambil menahan dagu dengan kedua tangan.
Hari ini tak ada pelajaran. Karena, sebagian guru ikut kerumah sakit untuk mengambil jasad Pak Umar.
Tak lama Pak Rahmat Supriaji selaku kepala sekolah datang ke kelas.
Dia mengumumkan kalau hari ini libur dan boleh pulang.
Dia juga menawarkan diri barang kali ada yang mau ikut ke pemakaman.
Setelah memberikan pengumuman Pak Rahmat keluar dan tak lama Wira mendekati Keysa.
"Sya, jalan yuk?" ajak Wira, sampai membuat wajah Keysa memerah.
"Terus, Kamu bagaimana Syi?"
"Udah, jangan pikirkan Aku Kak. Sebenarnya Aku ingin ke pemakaman Pak Umar."
Aku berdiri dan berjalan mendekat ke bangku Fitriah. Teman sebangkunya melirik dengan tatapan sinis. Dia ketua kelas, namaya Cinta. Anaknya agak sombong karena gelar yang dia pegang sebagai ketua.
"Fit, Aku mau ikut ke pemakaman!"
"Oh ... Boleh Syi,"
Fitriah Menzurida Putri, itu nama lengkapnya. Dia berdiri dan berteriak, "Ayo, siapa saja yang mau ikut?"
Terlihat 2 cewek dan 3 cowok mendekat. Tapi, Fitriah bilang, "Khusus cewek!" ketiga cowok tersebut meninggalkan kita dengan kecewa.
Varisha Nuragustiaa dan Nikmala Maula adalah dua cewek yang akan ikut kita.
Kita naik mobil Pak Rahmat. Fitriah duduk didepan. Sementara aku, Cinta, Varisha dan Nikmala duduk dibelakang.
Mereka bertiga asik mengobrol, sedangkan aku hanya diam sendiri ditemani buku.
Kita tiba diarea pemakaman. Disitu sudah banyak orang yang hadir di pemakaman.
Aku menelisik lebih jauh, memandangi mereka satu persatu. Ke-enam orang yang aku lihat dimimpi semalam semuanya ada di pemakaman ini.
Terlihat Ibu Lyli memandang kearahku. Tak ada luka apa pun ditubuhnya.
Tapi, aku tertarik dengan satu polisi berbintang 1. Dia berdiri bersama Istri dan kedua anak perempuannya.
Aku berjalan kearah polisi tersebut.
"Syi, Kamu mau kemana?" tanya Fitriah.
Aku hanya berjalan dan tak menjawabnya.
__ADS_1
"Udahlah, biarin. Dia kan orangnya aneh!" ujar Cinta Wahid, ketua kelas yang sombong itu.
Aku berdiri didepan Bapak Polisi. Aku menengok kearah belakang, ingin tahu nama polisi itu. Richard Paimin, nama yang aku baca ditulisan seragamnya.
"Hei, kamu siapa? Kamu sendirian?" tanya salah satu anak Pak Paimin yang mendekatiku.
"Tidak, aku bersama teman sekelasku," ucapku sambil menunjuk kearah Fitriah dan teman-temannya.
"Kenalkan, namaku Zelecia Gempitauly dan itu Kakakku, namanya Zivana Cleoria."
Dia memperkanalkan diri. Usia Zelecia sebaya denganku. Sedangkan sang Kakak, Zivana terlihat dua tahun lebih tua.
Kita mengobrol dan Zelecia rupanya ingin berteman denganku. Dia ingin kalau kapan-kapan aku main kerumahnya. Aku pun mengiyakan. Karena, memang itulah tujuanku.
Acara pemakaman selesai. Zelecia pamit sambil melambaikan tangan, aku pun membalas melambai.
Aku berjalan ingin pulang. Tapi, langkahku terhenti karena ada orang yang memelukku dari belakang.
"Kamu pikir akan mudah membunuhku? Aku juga tahu alasan kamu datang ke pemakaman ini," ucap perempuan yang tengah memeluk tubuhku dari belakang.
Rupanya dia adalah Ibu Lyli, wanita yang gagal aku bunuh.
"Aku akan memberitahu siapa saja orang yang mencelakai Vanesa," ucapnya membuatku bingung.
Nama lengkap Ibu Vinesa Wince. Tapi, kenapa dia bilang Vanesa?
"Vanesa?" tanyaku.
"Ia, Vanesa saudari kembar ibumu yang telah kita bunuh!" jawab Bu Lyli.
Dia melepaskan pelukannya dan berjalan kearah depan.
Waktu itu sudah tidak ada orang. Aku sengaja ditinggal sama Pak Rahmat dan teman-teman. Karena, tujuan pulang kita berbeda.
"Ternyata kamu juga Psikopat seperti Tantemu. Baiklah, kalau kamu ingin membunuh kita, akan aku kasih tahu siapa saja dalang dibalik kematian Vanesa."
Dia menghela nafas dan mengarahkan pandangan keatas. Tak lama dia kembali menatapku seraya berucap,
"Triya, Richard Paimin, Listya Hariyanto, Zidan, Rahmat Supriaji, Umar dan Aku adalah ketujuh orang yang menganiyaya Vanesa sampai meninggal."
Seketika dia menarik rambut belakangku, membuat wajahku mendongak keatas melihatnya.
"Sebenarnya kita ber-sepuluh. 3 diluar dan 7 didalam. Mereka bertiga bernama Ahid Black, Semind dan Ibungakkyu. Tugas mereka bertiga adalah membersihkan tempat kejadian."
"Kenapa Kamu memberitahuku tentang nama-nama mereka?" tanyaku.
"Karena Aku dalang utama dibalik kematian Tantemu dan mereka selama ini memerasku, agar mereka mau tutup mulut. Padahal, mereka juga terlibat. Tapi, aku tak mau masuk penjara. Aku juga senang kalau kamu mampu membunuh mereka." jelas Ibu Lyli sambil tertawa.
Dia melepaskan tangannya dan meninggalkan aku sendiri di pemakaman ini.
"Sial! Aku tak sadar kalau Pak Rahmat juga terlibat. Padahal dia begitu baik padaku," gumamku mencucurkan air mata.
Bu Lyli sudah tak terlihat, begitu pun dengan mobil yang ia bawa.
Aku berjalan ke arah jalan dan menunggu Taksi lewat.
Tak lama ada mobil yang menghampiri dan mobil tersebut berhenti tepat ditempatku berdiri.
"Dek, Kamu salah satu murid yang ikut ke pemakaman Pak Umar ya? Kenapa kamu menangis? Apa kamu menangis karena ditinggal?" tanya seorang Ibu muda yang tak asing wajahnya.
"Ia Buk! Aku tertinggal," alasanku untuk meyakinkan dia.
Mungkin ini kesempatanku untuk mengenalnya, agar aku bisa membalaskan kematian Tante Vanesa.
Dia mengajakku masuk ke mobil. Aku masuk dan dia mengenalkan diri,
"Namaku Triya. Kamu bisa panggil Aku Ibu Tri. Namamu siapa?"
Bersambung... .
Tolong tinggalkan komentar, like, favorite, vote dan jangan lupa follow agar aku bersemangat untuk menulis.
__ADS_1