
Setelah mengantar Keysa kerumah Bu Widya, Mang Cipto mengantarku ke pinggir hutan. Seperti biasa, Mang Cipto menurunkanku disini tanpa bertanya.
Aku berjalan memasuki hutan.
Setengah jalan sebelum rumah gubuk Wahyu, aku berhenti dan menunggu Pak Ronggo yang setiap harinya mengajariku ilmu beladiri.
Oh iya, sebelumnya aku pernah kesini untuk melihat rumah Wahyu yang suda tak berpenghuni.
Ditengah jalan aku bertemu seseorang yang mengenakan topeng.
Dia duduk diatas batu, tak jauh dari arahku berdiri kala itu.
Aku mendekati orang tersebut. Nampaknya, dia tengah bersemedi.
Tapi, setelah aku berbalik untuk melangkah, dia memanggil dan menghentikan langkah kakiku.
"Tunggu!" teriaknya menghentikanku.
Aku berhenti dan berbalik melihat kearahnya.
Orang tersebut turun dari atas batu dan melangkahkan kaki beberapa langkah untuk mendekatiku.
"Kamu, keponakan Vanessa?" tanyanya membuatku terkejut.
Entah kenapa, dia tahu kalau aku adalah keponakan tante Vanessa.
Aku terus memandang wajahnya penuh selidik.
"Kamu pasti bingung, kenapa Aku bisa tahu! Aku melihatmu menjadi pemimpin Cempaka Hitam saat usiamu sudah dewasa dan Kamu merekrut lebih banyak anggota, melebihi tantemu, Vanessa.
Sebelum itu, Aku akan mengajarkanmu ilmu beladiri. Karena, pada usia 15 tahun, Kamu akan mendapatkan musibah yang teramat besar." jelasnya.
Tanpa pikir panjang, aku mempercayai apa yang dia ucapkan.
Sudah 5 bulan aku dilatih olehnya.
Hari ini, seperti biasanya. Dia akan menungguku sambil duduk diatas batu yang sama. seperti, pertama kalinya kita bertemu.
"Hari ini, Aku akan menguji kekuatan kaki dan tanganmu!" ucapnya sambil tersenyum memandang kearahku.
Aku tahu dia tersenyum, karena topeng yang dia kenakan tak menutupi bagian mukut kebawah. Topeng hanya menutupi bagian hidung sampai kening.
Dia berdiri dari duduknya dan melompat ke arahku.
Tangannya menunjuk kearah batu besar yang biasa didudukinya.
Aku melangkahkan kaki mendekati batu tersebut dan mencoba memukulkan kearah batu. Lantas, aku menendang batu tersebut beberapa kali.
Anehnya, aku tak merasakan sakit. Tapi, tak ada goresan sedikitpun dibatu tersebut.
__ADS_1
"Apa yang Kamu rasakan?" ucapnya bertanya.
"Aku tak merasakan sakit. Seakan memukul bantal." terangku kebingungan.
"Bagus. Tapi, masih perlu waktu untukmu agar bisa menghancurkan batu tersebut." ucapnya meyakinkan.
Disisi lain, Keysa belajar mengaji sama Bu Widya.
Dia belajar dengan tekun dan sudah bisa menghafal beberapa ayat dan surat yang biasa dipakai untuk Ruqyah.
Adrian selalu menanyakan tentang diriku pada Keysa.
Apa mungkin, Adrian menyukaiku?
Tapi, Keysa tak pernah menjawab apa yang Adrian tanyakan. Ibunya pun selalu menegur Adrian. Karena berpikir, kalau anaknya mengganggu Keysa saat mengaji.
Bu Widya hanya mengajar Keysa seorang diri. Karena beliau juga sebenarnya bukanlah guru ngaji. Hanya Keysa saja yang bersikeras ingin diajarkan mengaji oleh Bu Widya.
Awalnya Bu Widya menolak. Tapi Keysa tak pernah patah semangat dan sepulang sekolah, Keysa selalu datang kerumahnya sambil memohon.
Akhirnya, Bu Widya pun luluh karena Pak Sugih dan Adrian memojokannya.
Keysa belajar mengaji diruang tamu dan hanya beralaskan tikar.
Sudah 2 tahun dia mengaji. Makanya, Keysa sudah pandai dalam menghafal ayat suci.
Bukan hanya itu, Pak Sugih mengajarkan ilmu kebatinan pada Keysa, agar dia bisa menangani mahluk astral.
Keysa menagih janji tersebut setelah selesai mengaji.
"Benar, Kamu sudah siap?" tanya Bu Widya dengan tatapan menghawatirkan.
"Benar, Bu. Aku sudah siap!" jawab Keysa dengan tegas.
Adrian berjalan dan keluar rumah.
Kita tak tahu, kenapa Adrian jadi seperti itu?!
Bu Widya berjalan mundur.
Pak Sugih duduk didepan Keysa dan menatapnya dengan tajam.
Pak Sugih melakukan beberapa ritual dan Keysa disuruh memejamkan mata.
Terakhir, Pak Sugih memasukan jari manis ke mulut dan ditempelkan diatas lidah atau langit-langit mulutnya.
Setelah itu, dia mengusapkan jarinya pada kedua pelipis mata Keysa.
Perlahan, Keysa disuruh membuka matanya.
__ADS_1
"Jangan takut dengan apa yang akan Kau lihat!" ucap Pak Sugih dengan tegas.
Pak Sugih dan Bu Widya yang menyaksikan hal tersebut, berpikiran bahwa Keysa belum siap. Mereka berdua bertatap wajah.
Tapi, tak ada teriak ketakutan dari Keysa. Keysa nampak begitu tenang.
Bu Widya dan Pak Sugih kebingungan.
Lantas, Pak Sugih mencoba bertanya,
"Apa Kamu tak melihatnya? Apakah Aku telah gagal membuka mata batinmu?" tanya Pak Sugih gelisah.
"Tidak, Pak. Aku melihat semua sosok yang berada didalam rumah ini!" ucap Keysa menjelaskan sambil memandang ke seluruh arah.
Disini, aku sudah merasa lelah dan sudah bisa mengimbangi Pak Ronggo.
Dia nampak terpojok.
Aku menendangnya dengan sangat keras.
Pak Ronggo terjatuh dan mengenai pohon yang hanya tertinggal batangnya saja.
Pohon yang sebelumnya tumbang, menusuk punggung Pak Ronggo hingga nempus ke perut.
Aku kaget dan mendekati Pak Ronggo yang sudah tak bergerak.
Perutnya bersimbah darah.
Aku menangis sambil menggoyangkan badannya.
"Pst, hahahhahahaa" Pak Ronggo tertawa dan duduk.
Nampak perutnya berlubang dan darah segar membasahi tempatnya terbaring.
Masih mengalir darah segar dari batang pohon hingga jatuh ke tanah.
Tapi, Pak Ronggo seakan tak merasakan apa-apa.
Darahnya pun tiba-tiba berhenti mengalir.
Pak Ronggo menatapku sambil tersenyum.
"Rawa Rontek," itu yang dia ucapkan sambil perlahan melepas topeng yang selama ini menutupi wajahnya.
Aku kaget, melihat wajah Pak Ronggo yang tak lain adalah ... .
Bersambung ... .
__ADS_1
Tolong tinggalkan komentar, like, favorite, vote dan jangan lupa follow agar aku bersemangat untuk menulis.