DENDAM (Keysi S3 "Coming Soon") KEYSI S1 &S2 (End)

DENDAM (Keysi S3 "Coming Soon") KEYSI S1 &S2 (End)
Episode 12 (Pantangan)


__ADS_3

Malam setelah pulang dari rumah Pak Rahmat, aku mencoba tidur.


Tapi, pikiranku gelisah. Karena, aku menginkan jawaban.


Aku ingin tahu, bagaimana caraku menghabisi Pak Rahmat tanpa harus ketahuan.


Sudah larut malam, suasana menjadi sunyi senyap.


Tak terdengar suara mobil lewat, apa lagi orang yang berjalan.


Aku menatap kosong kearah plafon.


Udara dingin, berubah menjadi panas.


Sesekali aku melihat sebelah.


Keysa, sudah terlelap dalam tidurnya.


Aku mencoba memejamkan mata dengan perasaan resah.


Mungkin, didalam tidurku. Aku akan menemukan jawaban.


Angin kencang berhembus, jendela kamar terbuka lebar.


Apa aku lupa menguncinya?


Aku melangkahkan kaki dan menutup jendela.


Aku kembali ke ranjang dan mencoba untuk tidur.


Tak lama, aku mendengar seseorang memanggil namaku.


Aneh, aku berdiri. Padahal, aku sedang terbaring diatas ranjang.


Nampak dari kejauhan, ada perempuan melambaikan tangan dan memanggil.


"*Keysi, kemarilah nak ...!"


"Tante Venessa*?"


Aku melihat Tante Vanessa melambai kearahku.


Tapi, aku tak tahu sekarang ada dimana.


Yang aku lihat, hanyalah kegelapan. Hanya secercah sinar yang terpancar dari tubuh Tante.


Perlahan, aku berjalan mendekat dan dia duduk sambil menyuruhku tiduran dipangkuannya. Aku menurutinya dan membaringkan badan.


Rasanya begitu empuk, seakan aku tidur diatas ranjang.


Paha Tante Vanessa, aku jadikan banyal. aku melihat wajahnya, sesekali dia tersenyum sambil membelai rambutku.


"Keysi, kau telah membalaskan dendam Tante. Tante tahu, kau pasti ingin tahu bagaimana cara membunuh Rahmat!"


Aku tak menjawab dan hanya terdiam melihat kearahnya.


"Aku akan membawa seseorang yang akan membantumu."


Tak lama datang sosok lain. Sosok tersebut adalah parewangan Pak Rahmat.


Dia berdiri dihadapan Tante Vanessa.


Aku melihat kearah wanita tersebut. Dia menangis, seakan menahan sebuah beban.


Tante Vanessa menyuruhnya duduk dan dia duduk tepat dihadapanku.


"Ceritakanlah, kalau kau ingin bebas!" ujar Tante pada sosok tersebut.


"*Aku tersiksa. Tertahan oleh seorang dukun yang menyuruhku menuruti Rahmat. Aku ingin terbebas!"


"Kalau begitu ceritakanlah pada keponakanku. pantangan apa yang tak boleh dilanggar sama Rahmat*?"


Sosok tersebut menundukkan kepala. Tak lama dia menangis seraya berucap.


"Pisang. Pantangan yang tak boleh dilanggar sama Rahmat adalah memakan Pisang!" ujar sosok itu menjelaskan.


Tiba-tiba aku dikagetkan sama suara Keysa.


Aku terbangun dan melihat wajahnya. Keysa tampak ketakutan.


Aku mengangkat badan dan langsung duduk disampingnya.


Aku mencoba bertanya.


"Kak, kenapa?" tanyaku.


"I-itu ...!" ucap Keysa terbata sambil menunjuk kearah jendela.


Nampak sosok hitam, tinggi besar, berbulu lebat, bertaring panjang dengan mata merah menyala.


Sosok genderuwo, milik Bu Lyli.


Dia nampak berdiri didepan jendela. Padahal ini lantai dua, apakah dia terbang?


Aku menutup mata Keysa, sambil membaringkan anggota badannya.


Sedangkan aku sendiri, masih melihat kearah makhluk tersebut.


Tak lama, dia menundukkan kepala dan menghilang.


Apa Bu Lyli menyuruhnya untuk mengucapkan terimakasih?


Entahlah, mungkin dia hanya ingin berkunjung saja.


"Udah Kak, tidur!" seruku sambil menepuk pundaknya.


"*Apa sosok tersebut masih ada?"


"Sudah tak ada Kak. Kakak tidur lagi ya*?!"


Tubuh Keysa bergetar hebat.

__ADS_1


Peluhnya membasahi tubuh.


Aku terus menenangkan Keysa dan tak lama dia pun tertidur.


Siang ini, di sekolah.


Bel istirahat berbunyi.


Semua anak keluar untuk istirahat.A


Aku meninggalkan Keysa yang tengah mengobrol dengan Wira.


Terlihat Fitriah tengah jajan membeli cilok Mang Gepeng.


Aku mendekati Fitriah untuk bertanya tentang buah kesukaan Ayahnya.


Tanpa berpikir panjang, Fitriah memberitahuku. Kalau Ayahnya, suka buah alpukat.


Aku berlari dan pergi ke Kantin Bu Munawaroh untuk beli jus alpukat.


"*Bu, pesan jus alpukat 1, di gelas. Tapi, kasih sedikit pisang. Sedikit aja Bu!"


"Iya. Duh, aneh-aneh saja. Memang, buat siapa?"


"Buat Pak Rahmat!"


"Tumben, Pak Rahmat pesan jus alpukat dicampur pisang*?!"


Aku hanya tersenyum mendengar Bu Munawaroh berucap.


Bu Munawaroh membuat jus alpukat dan ditambahkan buah pisang yang berukuran kecil.


Segelas jus sudah jadi. Aku bergegas pergi ke kantor sekolah untuk menemui Pak Rahmat.


"*Ini Pak, jusnya!"


"Loh, Bapak kan gak pesan jus. Tapi itu jus alpukat kan?"


"Ia Pak!"


"Ya sudah sini. Rejeki masa ditolak*?!


Pak Rahmat menerima gelas yang berisi jus yang aku bawa.


Beliau meminumnya.


"*Enak. Tumben, jus alpukat seenak ini?!"


"Yah, enak jadi Kepala Sekolah. Siang-siang gini, dapat jus gratis*." ujar salah satu guru yang ada diruangan tersebut.


Yang lain pun ikutan dan merasa iri.


Aku berbalik dari ruangan tersebut dan kembali ke kantin.


Aku memesan beberapa gelas jus untuk mereka. Tekor seditit tak apa, untuk menutup kecurigaan dan anggap saja sebagai Pesta Kematian. 'hahahahaha.'


Aku membayar pesanan mereka dan menyuruh Ibu Muna mengantarkannya.


Langkahku terhenti. Cinta menghadapku.


"Pantas saja nilaimu bagus. Rupanya ini yang kamu lakukan untuk menyogok Guru?"


Aku lanjutkan berjalan sambil menabrakkan pundak ke Cinta.


Dia kesal dan marah-marah. Tapi, aku tak meladeninya.


Terlihat Keysa dan Wira begitu asik senda gurau.


Sedangkan Roy duduk di ayinan dengan wajah masam.


Wajah masmnya berubah, ketika melihatku mendekati mereka.


Roy tersenyum sambil melambai. Dia mengajakku main ayunan.


Aku menurutinya dan aku mengayunkan tubuh Roy.


Ayun ... Ayun ... Ayun .... Lama kelamaan aku mengayunkan tubuhnya dengan sangat cepat.


Roy panik dan berteriak.


Tapi, pikirkan tertuju sama Pak Rahmat.


"Blug," terdengar suara benda terjatuh.


Yang aku ayunkan tak ada?


Teryata Roy sudah tengkurap diatas tanah.


Suara benda jatuh, berasal dari tubuhnya.


Dia menangis hebat, membuat yang melihatnya tertawa.


Aku mendekat dan mencoba membangunkannya.


Pinggang Roy aku angkat dan tercium bau busuk yang menusuk hidung.


"Roy, Kamu kentut?" tanyaku melepaskan pinggangnya, kemudian menutup hidung.


"Maaf, sengaja!" ucap Roy sambil tertawa.


Sial, aku terkena jebakan dia. Padahal Roy, hanya pura-pura menangis.


Roy tertawa. Tangan kirinya memegang perut, sedangkan tangan kanannya menujuk kearahku.


Aku langsung mengepalkan tangan dan berusaha memukul dia.


Roy tiba-tiba bangun dan lari. Aku terus mengejar dia.


Sementara yang lain tertawa melihat tingkah kocak kami berdua.


Roy berlari sambil sesekali berbalik menjulurkan lidah, mengejekku.

__ADS_1


Dia berlari kebelakang dan ketika berbalik, 'ting,' jidatnya menabrak tiang bendera yang biasa dipakai buat upacara.


Aku berhenti mengajarnya. Kepalaku tertunduk, sementara kedua tanganku memegang perut. Aku tertawa begitu hebat.


Tak lama, bel kembali berbunyi. Kita masuk dan melanjutkan belajar.


Hari berikutnya ....


Waktu sudah menunjukkan jam belajar. Tapi, para guru belum ada yang memasuki ruangan.


Kelas sebelah masih riuh ramai anak bermain.


Apalagi kelasku, si biang kerok (Roy) selalu saja membuat tingkah yang konyol.


Aku melihat kearah bangku Fitriah. Hari ini dia tidak masuk sekolah.


Apa usahaku berhasil?


Tak lama ada salah satu guru masuk ruangan kelas kita.


Beliau menyampaikan, kalau Pak Rahmat telah meninggal.


Banyak yang menangis, mendengar Pak Rahmat tiada.


Sepeninggal Guru, ada seseorang anak yang bercerita. Dia adalah Ucok, tetangga Fitriah.


Konon katanya, Pak Rahmat meninggal dengan mata terbelalak dan menjulurkan Lidah.


Yang lain merasa ngeri, mendengar Ucok bercerita.


Dilain tempat. Dirumah Pak Rahmat.


Kematiannya membawa Pak Paimin dan beberapa polisi, beserta ahli forensik.


Mereka mencari penyebab kematian Pak Rahmat. Tapi, tak ada tanda penganiayaan.


Pak Rahmat dinyatakan meninggal dengan wajar.


Sepulang sekolah. Aku dan Keysa mampir kerumah Fitriah hanya untuk mengatakan bela sungkawa dan kami kembali ke mobil untuk segera pulang.


Ketika kami memasuki mobil. Aku melihat seorang anak bernama Ashoka.


Dia yang waktu itu melihatku dengan senyuman. Tapi, tidak hari ini. Tatapannya begitu dalam, seolah memendam hasrat kebencian.


Malam ini, aku bermimpi aneh.


Aku melihat sebuah rumah mewah.


Aku penasaran dan masuk kedalam rumah tersebut.


Nampak seorang wanita tengah duduk. Dia melihatku sambil tersenyum.


Dikakinya terdapat seseorang tengah tengkurap.


Sambil duduk, beberapa kali dia menggerakan kaki. Seolah orang tersebut adalah keset. Wajah wanita tersebut tidaklah asing.


Ia, dia adalah parewangan Pak Rahmat. Tapi, kali ini wajahnya terlihat bersih, cantik.


Dia mengenakan kebaya berwarna merah.


"Kenalkan, namaku Cempaka. Aku adalah sosok parewangan yang pernah membantu Pak Rahmat. Lihatlah, ini adalah Pak Rahmat," ujar wanita tersebut sambil menunjuk kearah seseorang yang tengah dia injak-injak.


"Keysi, tolong bapak!" ucap Pak Rahmat meminta tolong.


Bukannya aku menolong. Tapi, aku menertawakan beliau. Perempuan yang bernama Cempaka juga ikut tertawa.


Terlihat Pak Rahmat menangis. Bukan air mata biasa yang keluar dari tangisan beliau. Tapi, air mata darah.


"Rasakan pembalasanku Pak Rahmat!" ujarku tertawa melihat kearahnya.


Tiba-tiba aku terbangun dari mimpi. Lagi-lagi sosok Genderuwo milik Bu Lyli datang menghampiri.


Sedikit demi sedikit sosoknya berubah menjadi seorang pria muda yang tampan.


Pantas, Bu Lyli terpesona kepadanya.


Dia tersenyum, mengucapkan terimakasih lalu pergi.


Minggu pagi, Ayah mengajak kami jalan-jalan ke area pemandian yang ada kolam renangnya.


Kita bersuka ria disana.


Bu Sri dan Mang Cipto pun ikut bersama kita.


Disini begitu ramai, banyak orang yang datang untuk berlibur.


Kita main sampai lupa waktu.


Pukul 05 sore, kita pulang.


Tiba-tiba jalanan menjadi macet dan aku melihat ada seseorang sedang berdiri ditepi jalan. Wajahnya tak asing. Tapi, dia berpakaian layaknya perempuan.


Aku ingat dengan wajah tersebut. Wajah Pak Hariyanto, salah satu orang yang membunuh Tante Vanessa.


"Yang ditepi jalan, bukannya dia pria?" ucapku dan dijawab oleh Mang Cipto.


"*Oh, itu Non? Itu namanya Waria!"


"Waria itu apa Mang? Banci?"


"Ya, semacam itu*!"


Aku tersenyum. Akhirnya, target selanjutnya sudah nampak didepan mata.


Entah kapan waktunya, aku akan ke jalan ini lagi, untuk menemui dia.


Mobil berjalan perlahan. Terlihat Pak Hariyanto mengobrol dengan seseorang dan tak lama mereka menuju hotel yang ada dibelakang dia berdiri.


Entah apa yang akan dia lakukan dan mengapa pria tersebut membawa Pak Hariyanto ke dalam hotel?!


Bersambung ... .

__ADS_1


Tolong tinggalkan komentar, like, favorite, vote dan jangan lupa follow agar aku bersemangat untuk menulis.


__ADS_2