
Di dalam sini begitu gelap.
Tapi aku sudah bisa berjalan.
Aneh, kenapa begitu luas?
Apakah aku tambah mengecil?
Buku yang mengalung dileher, langsung memunculkan cahaya. Akhirnya, aku bisa menelusuri isi perut Buto Ijo.
"Ciprak-ciprak-ciprak." langkahku terdengar, berjalan di genangan air berwarna hijau, yang tingginya seatas mata kaki.
Aku terus berjalan dan mencari jalan keluar.
Dari dalam kegelapan, nampak ada seseorang.
Rupanya, bukan hanya aku saja yang berada didalam perut Buto Ijo.
Aku berlari diantara genangan air yang agak panas.
Mungkin, kalau tubuh asliku berada disini, tak lama akan meleleh.
"Keysi ... Keysi ...." panggil perempuan tersebut.
Aku diam sejenak, sambil memandang wajah perempuan yang tak asing bagiku.
Aku berlari mendekati dia dan langsung memeluknya.
"Ibu ...." teriakku sambil menangis.
"Jangan panggil Ibu, panggil Mama!" pintanya membuatku merenggangkan pelukan seraya melihat wajahnya.
Aku sudah tak merasakan goncangan dari sosok Buto Ijo.
Aku bingung dan melihat kearah kaki.
Air berwarna hijau yang menggenang, tiba-tiba menjadi air bening yang mengalir.
Tapi, tinggi air lebih rendah, tingginya dibawah mata kaki.
"Aku ada di mana? Dan kenapa Mama ada disini?" tanyaku sambil memeluknya kembali.
Mama mengelus-elus kepalaku.
Tapi, ada yang aneh. Kenapa suasana pun tiba-tiba berubah.
Bau busuk dari air berwarna hijau, tiba-tiba ikut menghilang dan tercium bau wewangian bunga.
Perlahan, cahaya menerangi tempat aku dan Mama berada.
"Kamu berada di alam berbeda. Mamalah yang membawamu kesini! Mama ada disini, karena di kurung oleh Birawa." jelasnya yang tak henti-hentinya mengelus-elus rambutku.
"Bagaimana bisa? Bukannya, Mama sudah meninggal?" tanyaku yang larut dalam peluk hangatnya seorang Ibu.
"Mama belum meninggal! Beberapa hari setelah melahirkan kalian, sukma Mama ditarik oleh Birawa dan di kurung di tempat ini!" terang Mama sambil mengelap air mataku.
"Kenapa Om Birawa mengurung Mama?" tanyaku lagi sambil menggenggam kedua tangan Mama.
"Birawa adalah Mantan pacar Mama. Tapi, 3 tahun dia meninggalkan Mama tanpa kabar.
Saat Kandungan Mama berumur 7 bulan, Birawa kembali dan mencari Mama.
Kembalinya Birawa tak seperti dulu. Dia tak mengucapkan sepatah kata pun. Padahal, dia adalah orang yang suka ngomong dan menghibur Mama dengan leluconnya."
Mama diam sejenak dan kita saling menatap.
Lalu, Mama menggandengku dan kita berjalan.
"Mama kira, Birawa marah. Tapi, setelah Mama selidiki, Birawa tetap tak pernah ngomong. Dia memilih diam dan mengunci mulutnya rapat-rapat." jelas Mama yang terus menggandeng tanganku.
__ADS_1
Ternyata, kita berada didalam gua.
Mama membawaku keluar dan nampak area lapang, tak jauh, ada hutan yang begitu lebat.
Angin begitu sejuk, aroma wewangian bunga semakin menyerbak menusuk hidung.
Burung-burung kecil berterbangan dengan alunan irama kas mereka.
Aku menjulurkan tangan kanan dan ada satu burung yang hinggap.
Sedangkan tangan kiri, masih menggandeng tangan Mama.
Burung bercuit sambil sesekali memiringkan kepala.
Burung dengan bulu cantik, yang tak pernah aku lihat sebelumnya.
"Melihatmu, membuatku teringat sama Kak Vanessa." ujar Mama memandangi wajahku dengan senyuman lembut, yang membuatku begitu nyaman berada didekatnya.
"Tapi, Tante jahat!" jelasku mendongakkan kepala, melihat kearah Mama.
"Kakak gak jahat. Dia salah jalan!" jelas Mama sambil melihat jauh kearah hutan.
Hal itu membuatku penasaran.
Sebenarnya, Mama melihat apa? Tatapannya begitu serius.
"Aku teringat, terakhir kali Kakak menangis. Dia memelukku erat di waktu Mama menikah sama Papa." jelas Mama yang masih melihat ke satu titik.
"Bukan Papa, tapi Ayah." ucapku menjelaskan.
"Oh, iya kah? Mama tak tahu! Maklum, Mama meninggalkan tubuh, ketika usia kalian masih beberapa hari." ucapnya tersipu menyipitkan mata.
"Dibalik hutan, ada seseorang yang mampu menolongmu, agar bisa keluar dari perut Buto Ijo!" jelas Mama menoleh kearahku sebentar dan lanjut menatap kearah hutan.
"Kak Vanessa." ucapnya sambil menunjuk ke dalam hutan yang terlihat begitu mengerikan.
"Kok, Tante ada disni? Bukannya Tante sudah menjadi budak Ratu Cempaka Juah?" tanyaku sambil melangkah mendekati Mama.
"Tantemu sudah bebas. Ada seorang gadis dengan beberapa mahluk yang membantunya. Dia mengalahkan Cempaka Juah dan menghancurkan istananya." jelas Mama membungkukan badan dan menatap kearahku yang sudah berdiri sejajar dengannya. Mama, memegang kedua tanganku.
"Siapa?" tanyaku penasaran.
"Entahlah, Kakak gak sempat cerita banyak. Ada mahluk yang menjaga tempat ini, yang membuat Kita terpisah." Mama menjelaskan, sambil menyuruhku duduk di pangkuannya.
Mama memelukku dari belakang dan dia menceritakan Tante Vanessa yang sedari kecil agak nakal. Tapi, dia selalu menyanyangi Mama dan selalu mengalah.
Bahkan, Mama manja sama Tante Vanessa.
Mama terus menceritakan kebaikan Kakaknya.
Membuat hatiku terbuka dan bisa menerimanya.
Aku dibuatnya tertawa, waktu Mama mencetitakan Tante Vanessa yang mencuri paha Ayam untuk Mama yang sedang sakit.
Bukan mencuri sama orang. Tapi, mencuri di dapur sendiri.
Masa lalu mereka begitu suram dengan hadirnya Ibu tiri yang selalu menyiksa dan menyuruh keduanya mengerjakan pekerjaan rumah.
Nenek meninggal diusia Tante Vanessa yang menginjak 7 tahun. Sedangkan Mama kala itu, berusia 5 tahun.
Mama tak seperti Tante, yang mendapatkan siksaan lebih pedih. Karena Tante, selalu membela Mama dan menerima hukuman tersebut untuk melindunginya.
Tangis dan tawa berkecamuk menjadi satu, didalam alunan cerita yang Mama sampaikan.
Aku jadi yakin, kalau Tante Vanessa, sebenarnya orang yang baik.
Hatiku sudah menerimanya dan Aku akan meminta pertolongan Tante Vanessa, agar bisa keluar dari Perut Buto Ijo.
__ADS_1
"Ayo Ma, Kita samperin Tante Vanessa!" ajakku sambil berdiri dan menarik tangan kanannya.
"Tidak semudah itu," ucapnya membuatku Ragu.
"Maksud, Mama?" tanyaku penasaran.
"Didalam hutan, ada sosok yang berjaga," jelasnya membuat pikiranku mengambang.
"Sosok yang menjaga? Terus kenapa, Mama tahu kalau disana ada Tante Vanessa?" tanyaku penasaran sambil menunjuk kearah hutan.
"Mama pernah, mencoba lari dari tempat ini.
Sampai di ujung hutan, Mama melihat Tantemu bersama sosok lain yang tengah di kurung. Tapi, bukan kurungan pada umumnya.
Seperti dikurung dalam lingkaran Mantra yang membuat siapa saja tak bisa masuk, maupun keluar." jelas Mama mulai berdiri dan mendorong tubuhku, untuk berjalan.
"Dia, menyiksa Kak Vanessa dan memperingatkan, kalau Aku terus-menerus menemuinya, Kak Vanessa akan mendapatkan siksaan yang berkali-kali lipat.
Tapi, dengan adanya Buku Sukmo Abiyasa yang menggantung dilehermu, Mama yakin! Kamu pasti bisa menghancurkan penghalang tersebut.
Pergilah ...!" ucapnya sambil mendorongku mendekati hutan.
"Mama tunggu disini! Keysi janji, akan menyelamatkan Tante Vanessa!" ucapku melihat kearah belakang dan berlari masuk ke hutan sambil melambaikan tangan.
Mama melihatku sambil menggenggam kedua tangannya dan sesekali, mengusapkan air mata sambil balas melambaikan tangan.
Aku berlari sambil tersenyum dan tak menghiraukan, tatapan pohon yang menyerupai manusia.
Pohon disini memang aneh, hampir mirip seperti manusia, lengkap dengan wajah dan tubuh. Cuman, kakinya saja yang tak ada dan tertanam, didasar tanah.
Tinggi pohon, paling kecil adalah 5 meter. Sedangkan yang paling tinggi, seperti tinggi gedung pencakar langit.
Mata mereka terus mengawasi.
Bukan hanya mata, mereka menggerakkan bibir seraya berucap,
"Kondura .... Ampun kengrika! (Kembalilah .... Jangan kesana!) ucap pohon-pohon tersebut dengan kata yang sama. Tapi, aku tak mengerti dengan apa yang mereka ucapkan.
Aku terus berlari dan berlari.
Sampai jatuh beberapa kali.
Tapi, aku selalu bangkit dan meneruskan langkah kakiku dengan senyuman.
Lumayan lama, aku berlari.
Dan, terdengar suara ular berdesir.
Membuatku menghentikan langkah dan mencari sumber suara tersebut.
"Bug." hantaman dari belakang membuatku terpelanting beberapa meter kedepan dan mendarat di kaki pohon yang mirip seorang perempuan.
Pohon itu menatapku sambil menggelengkan kepala.
Matanya mengisyaratkan iba.
"Kondura .... Caos! Sadereng Panjenengan kepanggih kaliyanipun." (Kembalilah .... Kembali! Sebelum Kau bertemu dengannya.) ucapnya yang tak bisa aku pahami.
Aku menatapnya, sambil mencerna apa yang dia coba katakan.
Tapi, dia menutup mata dan menyembunyikan wajahnya.
Pohon berwajah, tiba-tiba menjadi pohon biasa pada umumnya.
"Dhaharan? Yektos, sanes! Sayangipun, saged Dalem dadosaken amengan." (Makanan? Ternyata, bukan! Tapi, bisa aku jadikan mainan.) terdengar suara dari arah belakang yang datangnya dibarengi suara desir ular.
Bersambung ... .
Tolong tinggalkan komentar, like, favorite, vote dan jangan lupa follow agar aku bersemangat untuk menulis.
__ADS_1