
Pak Ronggo menatapku sambil tersenyum.
"Rawa Rontek," itu yang dia ucapkan sambil perlahan melepas topeng yang selama ini menutupi wajahnya.
Aku kaget, melihat wajah Pak Ronggo yang tak lain adalah Mang Cipto.
Aku tercengang, sambil melihati Mang Cipto yang membuang topengnya di semak-semak.
"Mang Cipto?" tanyaku mengangah melihatnya.
"Ia, Non. Nama lengkapku Ronggo Sucipto dan Aku adalah Guru Rangga." jelasnya menganjakku duduk di atas rumput.
Mang Cipto menceritakan semua yang terjadi padaku.
Dia juga menceritakan, kalau sosok yang dulu pernah mendiami tubuhku adalah, Si Putih (Bellin). Dia malih rupa menjadi arwah Tante Vanessa yang bergentayangan.
(Untuk Detail ceritanya, baca ceritaku yang berjudul VANESSA OF THE DARKNESS yang ada di *******).
"Kenapa baru sekarang, Mang Cipto memberitahukan hal tersebut?" tanyaku kesal.
"Dulu, Aku tak tahu. Lyli-lah yang memberitahukan semua ini!" jelas Mang Cipto sambil menundukan kepala.
"Jadi selama ini, Tante Lyli masih hidup dan memimpin Cempaka Hitam? Apa dia mau balas dendam?" tanyaku sedikit ketakutan.
"Iya! Lyli memulihkan kondisi dan sekarang, sudah merekrut lebih banyak anggota.
Lyli bertambah kuat, karena setiap malam satu suro, dia mengorbankan dua gadis untuk Nyai Cempaka Juah." jelas Mang Cipto.
"Apa Tante Lyli tahu identitasmu, Mang?" tanyaku sambil mengerutkan dahi.
"Tidak! Yang dia tahu hanya Ronggo, bukan Cipto." ujarnya menjelaskan sambil berdiri dari tempat dia duduk.
"Mungkin sudah saatnya Aku memberikan buku peninggalan Ibu-mu." ucapnya memberikan buku yang di ambil dari tas yang letakkannya ada di balik semak.
"Buku apa ini? Kok gak ada tulisannya?" tanyaku sambil memilah setiap lembar dari buku tersebut.
"Buku Sukmo Abiyasa." ucapnya melirik dengan mata sayup.
"Gunanya untuk apa?" tanyaku sambil melihat keatas, melirik kearah Mang Cipto.
"Suatu hari nanti, Kamu akan tahu." jelasnya mengakhiri percakapan.
Kenapa Bunda memiliki buku usang seperti ini?
Kelihatannya, buku ini cukup Kuno. Apa peninggalan leluhurku?
Matahari kian tenggelam, suara hewan malam mulai bernyanyi.
Kita mulai melangkah kaki untuk pulang.
Tapi, aku merasa ada yang mengikuti dari belakang.
Karena penasaran, aku menoleh dan melihat pria tampan tersenyum memandangku.
"Percepat langkahmu!" seru Mang Cipto.
Aku mempercepat langkah, sampai kaki kita sejajar.
__ADS_1
Sesekali melihat kearah Mang Cipto.
Raut wajahnya berubah, terselubung oleh rasa takut yang teramat.
Aku hanya bisa diam dan terus melangkahkan kaki ini, sampai ke bibir jalan.
"Kenapa berhenti? Ayo, lanjut!" pinta Mang Cipto mengajakku berjalan ke sebelah kiri dan terus berjalan.
Tak jauh kita melangkahkan kaki, ada jalan yang berkelok.
Disitulah, Mang Cipto memarkir mobil dan kita langsung menjemput Keysa, lantas pulang ke rumah.
Waktu di perjalanan setelah menjemput Keysa, Aku teringat sama Buku Sukmo Abiyasa yang tiba-tiba menghilang.
Perasaan, aku memegangi buku tersebut dan tak meletakkannya di mana pun!
"Mang Cipto, bukunya hilang!" ucapku dengan nada berbisik.
Keysa tak mendengar apa yang aku ucapkan. Karena, dia tengah berkonsentrasi untuk menghafal ayat suci Alquran.
Mang Cipto melihat kearah cermin yang berada didepan mobil.
Dia terus menatap kearahku, sambil berujar,
"Di lehermu!" ucapnya dengan nada berbisik.
Aku tak mengerti, kenapa Mang Cipto malah menjawab seperti itu? Padahal, aku lagi ngomongin buku yang hilang!
Apa Mang Cipto salah dengar?
Kaget, ada sesuatu yang menggantung dileher.
Aku memegangnya dan melihat apa yang ada diantara leher.
Ternyata, Buku Sukmo Abiyasa mengecil dan terkalung.
Padahal, sebelumnya aku tak mengenakan kalung sama sekali!
Buku mengecil layaknya bandul, besarnya seukuran telapak tangan, serta ada rantai yang melingkar membuat bulatan besar seperti halnya kalung.
Sebenarnya aku ingin bertanya, kenapa buku Sukmo Abiyasa bisa seperti ini? Tapi, aku takut Keysa tahu dan bertanya sesuatu yang aku tak bisa menjawabnya.
Azan magrib berkumandang.
Mobil menepi, menurunkan Keysa yang ingin menunaikan ibadah.
Entah mengapa, hatiku belum bisa terketuk dan hanya berdiam diri di mobil dengan Mang Cipto.
Keysa mendekati Masjid dan aku mulai bertanya tentang apa yang membuatku penasaran.
"Mang ...." ucapku.
"Buku itu menyatu dengan dirimu. Mungkin, Kau adalah pewaris sah satu-satunya." ujar Mang Cipto sambil menyalakan kuntum rokok.
"Maksud Mang Cipto, apa?" tanyaku penasaran sambil mengerutkan dahi.
__ADS_1
"Ibumu saja, tak bisa membuat buku tersebut menjadi sebuah kalung dan dia tak bisa membaca tulisan dalam buku tersebut!" balas Mang Cipto membuang asap rokok dari balik jendela.
"Bukannya tak ada tulisan?" tanyaku menghela nafas sambil menyandarkan punggung di kursi mobil.
"Ada! Aku yakin, Kamu pasti bisa melihat tulisan dalam buku tersebut!" ucapnya membuka pintu mobil dan keluar.
Semilir angin sore yang masuk lewat jendela mobil yang aku buka, membuat mataku mengempis dan menarik nafas lewat mulut. Aku mengantuk dan membaringkan tubuh.
"Keysi putri kula, mrikia ...!" (Keysi anakku, kemarilah ...!) terdengar suara kakek-kakek memanggil, membuatku langsung duduk dan mencari sumber suara tersebut.
Aku melihat ke setiap penjuru arah.
Tak ada seseorang pun dekat dengan mobil.
Mang Cipto, sedang duduk di warung depan masjid sambil minum kopi dan mengobrol sama pemilik warung.
"Dalem dipunriki!" (Aku disini!) suara tersebut kembali terdengar. Namun, masih tak ada seseorang pun.
Aku kembali mencari sumber suara.
Mataku terpaku sama sosok yang bersembunyi dibalik pohon yang berada disebrang jalan.
Bukankah itu orang yang tadi? Pria dewasa yang aku lihat kala meninggalkan hutan!
Kenapa dia bisa berada disini? Dan kenapa pula, mengikutiku?
Sebenarnya, aku merasa tak asing dengan sosok tersebut.
Seakan, pernah melihatnya. Tapi, entah dimana!
"Non, kok melamun?" tegur Mang Cipto mengagetkanku. Apalagi, hanya kepalanya saja yang dibiarkan masuk melalui pintu mobil yang berada dibagian supir.
Mang Cipto memegang gelas kopi dan tak masuk ke dalam.
Dia menatapku penuh selidik.
"Mang, bukannya orang itu adalah orang yang berada didalam hutan, sewaktu kita pulang?" tanyaku sambil menunjuk kearah pohon beringin yang berada di seberang jalan.
"Lagi ngomongin apa si?" Keysi bertanya dan masuk, duduk di kursi depan seperti biasanya.
Mata Mang Cipto masih menyelidik kearah yang aku tunjuk.
Dia langsung berlari kearah warung untuk meletakkan gelas kopi yang tak habis dia minum.
Mang Cipto membayar dengan uang lebih dan tak mengambil kembalian yang tengah diambil sama Bapak pemilik warung.
Mang Cipto berlari kearah mobil dan langsung masuk, lalu menyalakan mesin dan menancap gas.
Kenapa dia ketakutan? Memang siapa pria tersebut, sampai membuat Mang Cipto lari kalang kabut.
"Pria itu siapa, Mang?" tanyaku mendekatkan mulut ke telinganya.
"Ba-ba-bayu!" ucap Mang Cipto menggetarkan gigi, terkatuk-katuk.
Bersambung ... .
Tolong tinggalkan komentar, like, favorite, vote dan jangan lupa follow agar aku bersemangat untuk menulis.
__ADS_1