
Semakin jauh aku berlari, semakin tercium bau wangi bunga yang membuatku tenang.
Aromanya seperti bunga mawar. Tapi, lebih harum dan menyengat dihidung.
Semakin lama, hawa panas pun datang dan terasa membakar tubuh.
Padahal, tak ada cahaya mentari di alam ini.
Hanya cahaya yang keluar dari langit dengan warna merah gelap.
Ditanah, tempat aku menginjakkan kaki untuk berlari, banyak kumbangan air berwarna merah, seperti genangan darah.
Terkadang, aku tak tahu kalau ada kumbangan darah didepan, membuatku menginjak dan terpeleset karena licin.
Padahal, kumbangan tersebut tak dalam, paling 10 senti meter.
Tapi, seakan ada tangan yang keluar dan menarik kaki.
Halangan seperti itu, tak membuatku menghentikan langkah kaki dan terus berlari.
Sampai, terdengar suara mendesis seperti ular dan tubuh bagian belakangku seolah ada yang mendorong hingga menabrak salah satu pohon.
Aku merasa aneh dan ingin melihat kebelakang.
Tapi, sosok pohon perempuan, seolah memberikan isyarat.
Aku terus memandanginya, sampai lupa dengan apa yang menimpa diriku.
Wangi bunga mawar kembali menusuk hidung.
Aku juga merasa, ada sesuatu yang berkobar dan datangnya dari arah belakang.
Terdengar suara perempuan dari belakang sambil mengucapkan kata yang tak bisa aku mengerti.
Aku penasaran dan berpaling, melihat kearah belakang.
Nampak seorang perempuan yang berdiri diatas ular yang sangat besar.
Dibelakang perempuan tersebut, ada pohon yang didahannya bermekaran bunga mawar.
Tapi, dia seperti pohon-pohon yang ada disini.
"Keysi ...." ucap Pohon tersebut sambil menangis.
Setiap pohon memiliki wajah dengan kulit pohon, tak seperti manusia.
Tapi, dari pola wajahnya, aku tahu! Pohon itu adalah perwujudan dari Tante Vanessa.
"Tante Vanessa?" tanyaku mencoba meyakinkan.
"Iya, Ini Tante!" ucapnya sendu.
"Hey, perempuan ular. Lepaskan Tante Vanessa!" pintaku membelalak sambil menunjuk kearahnya.
"Hey, putri timur! Agung tutuk ugi. Badhe Kula dadosaken," ( Hey, anak kecil! Besar mulut juga. Akanku jadikan,) ucapnya terpotong oleh teriakkan Tante Vanessa.
"Syi, hati-hati sama Api biru yang keluar dari Agniasari!"
Perempuan yang kata Tante bernama Agniasari, dia menari-nari diatas tubuh ular.
Perlahan, api biru keluar dari tubuhnya.
Api itu menjalar kesemua arah. Tapi, tak membuat area sekitar terbakar.
Perlahan, api itu mendekat dan membuatku mundur perlahan.
Dia berjalan sambil menarai diatas tubuh ular sampai diatas kepala.
Lalu, ular tersebut menganggkat kepalanya sampai tinggi.
__ADS_1
Mungkin, sekitar 7 meter diatas tanah.
Api berwarna biru, langsung menyembur ke satu titik, tak lagi menjalar ke area sekitar.
Api itu, seakan mengejarku.
Aku berlari memutari tubuh ular tersebut untuk mencari celah.
Dirasa tak menemukan celah, aku bersembunyi diantara pohon.
Namun, api tersebut berhenti.
Membuatku bertanya, kenapa dia tak berani menyambarkan apinya ke pohon-pohon yang menyerupai manusia?!
Aku mencoba mengecohnya, supaya tahu apa yang akan terjadi, bila api tersebut mengenai pohon.
Aku berjalan keluar dari persembunyian.
"Hey, hajar Aku dengan apimu!" teriakku yang sudah berdiri didepan pohon.
Tatapan Agniasari pun berubah.
Yang tadinya tersenyum sambil menari, kini marah dan membelalak.
Lalu, mendorongkan dua tangan kedepan.
Api biru terdorong ke arahku dengan sangat cepat.
Aku berguling, menghindari gelombang api.
Api itu, membakar pohon.
Pohon terbakar begitu hebat.
Hilangnya api, memunculkan sesosok perempuan tanpa busana.
Perempuan tersebut begitu senang, sampai melompat-lompat kegirangan.
"Blug." terdengar suara tubuh yang jatuh ke tanah.
Desis suara ular mendekat dan memakan wanita tersebut.
Rupanya, pohon yang ada disini memang dulunya manusia, sama seperti Tante Vanessa.
Dan sambaran api yang kedua, membuat pohon tersebut menjadi manusia kembali.
Mungkin, inilah cara, agar Tante Vanessa bisa kembali. Tapi, tak mungkin juga aku bisa mengecoh dia untuk kedua kalinya.
Tanpa menunggu waktu lama, aku berlari mendekati Agniasari yang mulai bangun dari tempatnya terjatuh.
Dengan cepat, aku memukul perutnya.
Bagian belakang tubuh Agniasari, mengeluarkan api dan mengenai pohon yang ada dibelakangnya.
Pohon pun, terbakar.
Sial! Rupanya Bellin.
Dia kembali menipuku dan mencoba untuk kabur.
Ular kembali mendesis dan mengejar Bellin yang mencoba kabur.
Bellin lari sambil melihat kearahku yang ada dibelakangnya.
Sedangkan, aku hanya bisa menatapnya. Karena tanganku, sedang menjambak Rambut Agniasari yang tengah menundukkan setengah badan sambil menahan sakit.
"Syi, tolong Aku ...." teriak Bellin meminta tolong.
Bellin terus berlari sambil berusaha menjauh dari ular yang tengah mengejarnya.
Aku tak menghiraukan Bellin.
__ADS_1
Aku menarik kuat rambut Agniasari dan menyeretnya sambil berlari.
Dia berteriak, seakan memohon untuk dilepaskan.
"iculake ... iculake. aksama ... aksama." (Lepaskan ... Lepaskan. Ampun ... Ampun.) teriaknya yang diiringi dengan tangisan.
Aku tak menghiraukannya.
Mumpung, ular tersebut tengah mengejar Bellin.
Aku takkan menyia-nyiakan kesempatan ini.
Aku terus menyeret tubuhnya sampai keluar hutan.
Biasanya, luka mengeluarkan darah.
Tapi, berbeda dengan Agniasari yang mengeluarkan api.
Saat keluar hutan, api di tubuhnya semakin membesar.
Membuatku melepaskan genggaman tangan dari rambutnya.
Wajah Agniasari, sudah tak berbentuk.
Pakaiannya yang dia kenakan koyak dan bercecer di atas tanah.
Kulit dan dagingnya terkelupas, sampai terlihat tulang.
Tubuh Agniasari perlahan habis menjadi api dan membakar seisi hutan.
Anehnya, api tersebut hanya menjalar kearah hutan dan tak mengenai tubuhku.
Satu persatu, pohon-pohon tersebut kembali menjadi manusia.
Sedangkan Bellin yang terkena api tersebut untuk kedua kalinya, kembali menjadi pohon.
Orang-orang ini terlihat begitu senang. Karena sudah kembali menjadi manusia.
Untuk seperkian detik, mereka tak sadar, kalau mereka tak mengenakan pakaian.
Teriak malu, diringi menutup tubuh dengan tangan.
Wajar saja, bukan hanya perempuan. Tapi, laki-laki pun ada diantara mereka.
Tua, muda, anak kecil, maupun dewasa.
Aku merasa bahagia, karena bisa menolong mereka.
Tapi, apa sudah usai?
Ternyata, tidak!
Ular tersebut, langsung melahap mereka satu persatu.
Tangis dan teriakan berkecamuk.
Mereka berlari dan menyebar, sampai tak menghiraukan rasa malu.
Hanya berpikir, bagaimana menghindar dan bisa selamat.
Bingung, dengan apa yang harus aku lakukan.
Terlintas dalam pikiran, tentang apa yang Mama ucapkan.
Aku berpikir, mungkin Tante Vanessa, mungkin Tante Vanessa dapat mengalahkan ulat tersebut.
Saat berbalik, aku dikagetkan oleh sosok yang menggeram.
Sosok itu, menatap penuh kebencian.
Bersambung ... .
__ADS_1
Tolong tinggalkan komentar, like, favorite, vote dan jangan lupa follow agar aku bersemangat untuk menulis.