
Aku berjalan sambil menunduk.
Pintu kamarku buka dan kaget! melihat Keysa tengah memegang botol dan pisau.
Isi dalam tas pun sudah dia acak-acak keluar.
"Syi, kenapa kedua benda ini ada di Tasmu?"
Aku diam sejenak.
"*Oh, itu Kak? Itu kan botol kecap yang aku beli tadi pagi!
Aku lupa menyimpannya!"
"Kalau pisau buat apa?"
"Itu kan pisau baru! Coba deh Kakak lihat*?"
Kesya melihat pisau dengan mata sayup. Dia masih setengah sadar. Karena, dia masih mengantuk.
"Oh ia. Kirain pisau yang biasa dipakai buat ngupas apel?!"
Aku mendekati Kesya secara perlahan dan mengambil kedua benda tersebut.
Aku kembali meletakkannya ke dalam tas.
Tas dimasukan ke lemari dan aku beranjak ke ranjang tempat Keysa terduduk.
"Yu Kak tidur lagi!" ujarku mendorong badanya untuk terbaring.
Aku terbaring disampingnya sambil menepuk-nepuk pelan paha Kesya dan berujar, "Dede Bayi, bobo ya?"
Keysa hanya tersenyum dan dia pun kembali terlelap.
Aku adik. Tapi, kenapa seperti kakak baginya?
Maklum. Dari kecil kami tak pernah merasakan kasih sayang orang tua!
"Fiuh," Gampang sekali mengakali Kakakku yang polos ini.
Aku senyum melihat wajahnya yang terlelap. Wajah seorang anak kecil yang tak menanggung sebuah beban.
'Hm ...!' Entah sampai kapan aku akan seperti ini? Apa mungkin, kalau semuanya sudah selesai aku bisa bahagia seperti dulu?!
Aku membalikan anggota tubuh dan menutup separuh badanku dengan selimut.
Ada yang mengganjal dalam pikiranku!
Mataku tertuju kearah pintu.
Aku lupa menutup pintu dan terlihat ada sosok mengintip.
Wanita berbaju putih, dengan mata merah menyala. Pipinya terkelupas mengeluarkan nanah segar. Mulutnya mengangah dan ada sinar kehijauan terpancar.
Aku ketakutan dan menutup semua anggota tubuhku dengan selimut.
"Brot," suara pintu terbanting.
"Keysi, kalau nutup pintu yang pelan Dek," teriak Papa dari arah bawah.
Aku tak bisa menjawabnya. Aku hanya terdiam, mengigil ketakutan.
Nafas terengah tak karuan.
Dinginnya AC seakan terhalang oleh hawa yang begitu panas.
Bukan panas selimut. Tapi, seakan tubuhku dekat dengan api yang berkobar.
__ADS_1
Aku ketakutan dan mencoba membangunkan Keysa yang sudah lelap tertidur. Tapi, dia tak kunjung bangun.
Aku penasaran dan sedikit membuka selimut sambil melihat kearah pintu.
Pintu sudah tertutup dan sosok tersebut sudah tak ada.
Aku membalik badan, terlentang.
Aku terdiam tak bisa bergerak.
Wajahku bermandikan darah dan nanah yang menetes begitu cepat. Sosok itu sekarang sedang melayang diatas tubuhku. Jaraknya cuma satu jengkal. Terlihat jelas wajah seram nan mengerikan.
Mulutnya kembali terbuka dan kembali memancarkan sinar kehijauan.
Nafasku tersendak. Seakan nafasku sudah sampai tenggorokan.
Mulutku mengangah terbuka dengan begitu lebar. Tapi, tak bisa bicara, leherku terasa seakan tercekik sesuatu.
Peluh membasahi tubuhku, sedangkan bagian bawah terasa hangat dari air yang mengalir menerobos melalui sela-sela celana.
Darahku terasa sudah sampai otak. Mataku membelalak mengucurkan derasnya air mata dan kelopak mata terasa ingin keluar.
Tubuhku lemas seketika dan aku, tertidur.
Didalam mimpi aku melihat mobil Ibu Lyli berhenti didepan rumah dan menurunkan seseorang yang memakai pakaian serba hitam. 'Dukun,' mungkin itu kata yang pantas untuk menggambarkan sosok tersebut.
Aku melihat kearah langit.
Terlihat langit begitu gelap, seakan ingin menurunkan hujan.
Aku teringat tentang hari ini. Lantas kenapa aku bermimpi tentang ini?
Mimpi? Ia, benar. Aku sedang bermimpi. Tapi, kenapa aku sadar kalau ini mimpi?
Mataku mencoba melihat lagi kearah orang tersebut.
Dia berdiri didepan gerbang rumah sambil komat-kamit dan secara ajaib ada seekor cicak ditangannya.
Cicak itu berjalan begitu cepat dan naik kelantai dua.
Dia sampai dibalkon depan kamar dan masuk melalui celah jendela.
Mataku terus melihatnya.
Cicak itu perlahan menakki dinding.
Aku membalik wajah dan melihat lagi kearah gerbang rumah.
Mobil yang mereka tumpangi kembali melaju dan meninggalkan rumah.
Sepeninggal mereka hujan turun dan tak lama, Keysa keluar main hujan-hujanan.
Sedari tadi aku hanya melihat lewat jendela kamar.
Aku berjalan dan sesekali melirik kearah cicak yang sekarang sudah menempel di plafon dan sudah membaur dengan cicak yang lain.
Aku berjalan keluar. Tapi, aneh. Kenapa, aku tak membuka pintu untuk keluar?
Badanku seakan menembus dinding.
Aku berjalan perlahan menuju anak tangga. Tapi, langkahku terhenti kala melihat diriku sedang duduk dan membaca buku didepan jendela dekat pintu utama.
Dan tiba-tiba ada sosok yang melayang, mendekat dengan begitu cepat.
Dalam sekejap dia ada didepanku.
Sosok yang aku lihat sebelum tidur.
__ADS_1
Dia menyeringai dan aku pun terbangun. Karena, mendengar suara Kesya membangunkanku sambil menggoyangkan anggota tubuh.
"Syi ... Bangun!"
Aku terbangun dengan tatapan kosong dan sekujur tubuhku basah, seperti seseorang habis mandi.
Keadaan masih sunyi senyap. Aku memandang kearah jam dan jam menunjukan pukul 03 pagi.
Lantas, aku memandang Keysa seraya bertanya.
"*Kak, ini kan masih pagi sekali. Kenapa, Kakak membangunkanku?"
"Cepat ganti baju dan kita turun kebawah!"
"Memang kenapa Kak?"
"Kamu gak sadar? Tempat tidur kita basah. Karena, kamu mengompol*!"
Aku teringat kejadian sebelum aku tertidur.
Aku tertawa kecil sambil memandang wajah Keysa.
Keysa menggelengkan kepala dan menarikku ke kamar mandi yang ada dipojok kamar.
Dengan paksa Keysa mengguyur tubuhku. Dinginnya begitu menusuk, bahkan terasa sampai tulang.
Setelah beberapa kali diguyur, Keysa melepaskan pakaianku satu persatu dan aku dimandikan.
Aku hanya menurut dan menahan rasa ingin tertawa.
Melihat wajah polosnya kadang membuat aku ingin menangis. Aku takut kalau ada hal buruk yang akan menimpanya kelak.
Aku terhanyut dalam kesedihan dan langsung mendekap Keysa.
"Keysi, Kamu sengaja ya? Baju Kaka jadi ikutan basah tahu?!" ujar Keysa marah.
Sekalian saja aku guyurkan air dan kami saling menciptakan air yang ada dalam bak mandi.
Kami tertawa lepas sampai membangunkan Bi Sri dan mendatangi kamar.
Berhubung kamar memang tak terkunci. Karena, waktu itu aku lupa menutup dan ditutup oleh sosok yang entah apa itu!
Bi Sri berdiri didepan kamar mandi sambil menggelengkan kepala.
"*Aduh Non, pagi-pagi begini kalian sudah mandi. Memang mau ngapain?"
"Ia Bi, Kami mandi karena Keysi ngompol*," ujar Keysa menunjuk kearahku sambil tertawa. Aku membalasnya dengan mengguyurkan air yang aku ambil pakai gayung.
"Aduh, Non Keysi udah kelas 2 SD dan bentar lagi mau naik kelas 3. Tapi, masih mengompol!" Bi Sri mengeluh sambil melimpat selimut yang bau Pesing itu.
"Udah, cepat mandinya, nanti kalian masuk angin!
Kalau sudah selesai mandi kalian cepat ganti baju dan tidur dikamar Bibi." ucap Bi Sri sambil membawa lipatan selimut dan turun untuk diletakkan diranjang bersama pakaian kotor.
Kami bergegas keluar kamar mandi dan memakai pakaian. Sedangkan pakaian basah yang tadi kami pakai, kami tinggalkan didalam kamar mandi.
Bergegas, kami keluar kamar dan turun kebawah.
Kami melanjutkan tidur di kamarnya. Sedangkan Bi Sri yang sudah terlanjur terbangun, mengerjakan pekerjaannya lebih awal.
Keysa memang tipe orang yang mudah terlelap. Baru saja terbaring, sudah dengar suaranya berdesir.
Aku memikirkan mimpi aneh tentang cicak yang aku lihat dalamnya.
Apakah itu cicak yang aku bunuh waktu itu?
Pikiranku mengambang dan sekarang malah memikirkan siapa yang akan aku bunuh selanjutnya?!
__ADS_1
Bersambung ... .
Tolong tinggalkan komentar, like, favorite, vote dan jangan lupa follow agar aku bersemangat untuk menulis.