DENDAM (Keysi S3 "Coming Soon") KEYSI S1 &S2 (End)

DENDAM (Keysi S3 "Coming Soon") KEYSI S1 &S2 (End)
Episode 20 (Ruqyah) _End_


__ADS_3

Ternyata, banyak teman yang peduli sama kita.


Beberapa dari mereka pada hawatir. Karena, kemarin Mang Cipto mencari kita di sekolah dan sempat bertanya sama teman dan guru.


Tapi, berbeda dengan kelas 3 C. Disana ada duka dan kecewa.


Ya. Karena, kabar Wahyu masuk penjara sudah tersebar.


Tapi, ada yang aneh sewaktu kita baru berangkat sekolah.


Pak Sugih menyuruh kita mendatangi rumahnya dan bilang, kalau ada yang akan ikut juga. Keysa langsung menyetujuinya.


Sebenarnya ada apa dan mengapa dia menginginkan kita main kerumahnya.


Waktu pulang sekolah, seperti biasa. Mang Cipto menjemput kita.


Aneh, dia tak sendirian. Ada Ayah dan juga Bi Sri yang sudah duduk didalam.


Aku masuk dengan perasaan bimbang. Sebenarnya, ada apa dengan Pak Sugih?


Ternyata, rumah Pak Sugih tak jauh dari rumah Alm. Pak Rahmat (Kepala Sekolah). Hanya selisih beberapa gang saja.


Kita menuruni mobil dan berjalan memasuki gang sempit.


Tiba dirumah kecil, Mang Cipto mengetuk pintu. Pintu dibuka oleh anak lelaki. Ashoka, nama anak tersebut. Dia mempersilahkan kita masuk.


Diruang tamu sudah ada Pak Sugih dan Istrinya.


Istrinya memperkenalkan diri. Namanya, Widya.


Ashoka pun mendekat dan memperkenalkan diri. Nama dia yang sebenarnya adalah Adrian iksamahendra. Di panggil, Ashoka.


Kita dipersilahkan duduk diatas tikar yang sudah dipersiapkan.


Adrian memandang kearahku dengan penuh selidik.


"Pak Ilham. Bisa kita mulai?" tanya Pak Sugih ke Ayah.


"Oh, iya Pak!" jawab Ayah.


Aku bingung, sebenarnya mereka mau melakukan apa.


Bu Widya langsung melafalkan ayat suci.


Badanku mulai berasa panas.


Pak Sugih mendekatiku sambil memegang kepala dengan erat.


Aku menjerit sejadi-jadinya.


Aku melihat Adrian, dia hanya menatap.


Bayanganku mulai pudar dan aku merasa ada disuatu tempat.


Gelap. Tak ada apapun yang bisa aku pandang.


Tak lama pandangan berangsur membaik dan aku melihat hutan yang lebat.


Tapi, cahaya matahari tak seperti biasanya. Disini siang. Tapi, cahaya yang dipantulkan agak orange kemerahan.


Hutan pun terlihat lebih gersang dan pemandangan sekitar, teramat menyeramkan.


Aku melihat Pak Sugih dan Adrian tengah bergulat dengan sosok yang pernah aku lihat.


Ya, sosok tersebut adalah Anggon Dowo dan anak buahnya.

__ADS_1


Mereka mengadu ilmu bak film kolosal.


Tiba-tiba ada yang memegang erat pingganku dari arah belakang.


Aku dibawa terbang dengan posisi mundur dan menjauh dari mereka.


Adrian melihatku. Dia berusaha mengejar. Sedangkan Pak Sugih masih mengadu kesaktian.


Sebelum jauh, aku terus memandang. Pak Sugih berhasil melumpuhkan bawahan Anggon Dowo dan sekarang giliran Pak Sugih melawan Anggon Dowo. Tapi, aku tak dapat melihatnya lagi.


Aku melihat kebawah. Nampak Adrian masih mengejarku dan sesekali dia melompat untuk meraih tanganku yang menjulur, seolah meminta tolong.


Entah siapa yang membawaku menjauhi mereka. Aku hanya melihat tangannya. Tangan seorang perempuan. Apa dia Tante Vanessa?


Pegangannya begitu erat. Membuatku tak bisa melihat ke arah belakang dan melihat sosok siapa yang telah membawaku.


Adrian masih mengejar dan ada bebatuan besar.


Dia melompati bebatuan itu dan menggapai tanganku.


Adrian menarikku dengan kuat dan aku terlepas dari genggaman tangan yang memegang pinggang.


Aku jatuh menimpa badan Adrian.


Aku menindih badannya.


"Deg-deg ... Deg-deg ...." Dadaku berdetak hebat.


Aku berusaha bangkit. Mata kita saling menatap.


Pipiku tiba-tiba memerah. Apakah ini yang Keysa rasakan ketika bertemu Wira?


Ah, apa yang aku pikirkan?!


Kita berdiri dan Adrian melangkah maju kedepan bak pahlawan yang ingin melindungi seorang putri dari para penjahat.


"Hey, anak kecil. Jangan menghalangiku!"


Adrian tak menghiraukan apa yang Tante Vanessa ucapkan. Dia masih terus berusaha melindungiku.


Tante Vanessa melayang mendekati Adrian. Tangan Tante diangkat keatas. Terlihat kukunya yang panjang dan tajam hendak mencakar Adrian. Tapi, Adrian berhasil mengelak, menepis tangan Tante.


Adrian teriak, dia menyebutkan nama, "Luhung Sewu."


Tiba-tiba ada seekor harimau datang dan menyerang Tante Vanessa.


Tante berhadapan dengan harimau tersebut. Tapi, harimau itu kewalahan menghadapi Tante Vanessa.


Ditengah pertarungan, ada suara perempuan berteriak, "Siska, bantu dia!"


Langsung datang sosok anak kecil yang mengenakan baju adat jawa kuno.


Dia membantu harimau tersebut untuk melawan Tante Vanessa.


Dari belakang, ada anak gadis berjalan dan sekarang dia berdiri sejajar denganku.


Dari cara berpakaiannya, anak ini terlihat sama denganku.


"Kamu siapa?" tanyaku penasaran.


"Namaku, Indah Suci Pertiwi. Aku sama seperti Adrian!" ujar gadis tersebut memperkanalkan diri.


"Dia adalah Suci, sepupuku. Tapi, Aku lebih suka memanggilnya dengan sebutan Indah!" timpa Adrian.


Tante Vanessa berhasil dipukul mundur. Tapi, dia memanggil seorang.

__ADS_1


"Ratu Cempaka Juah datanglah dan bantu Aku!"


Tiba-tiba datang seorang wanita cantik mengenakan pakaian yang persis seperti Siska. Tapi, pakaian wanita itu terbuat dari emas.


"Kenapa Aku harus membantumu? Justru Aku akan membawamu. Perjanjian Kita sudah sampai disini dan Kamu, akan menjadi salah satu Dayang di istanaku!"


Tante Vanessa dibawa Paksa oleh wanita tersebut. Mereka terbang meninggalkan kita.


Luhung Sewu dan Siska mendekati kita.


"Oh ia, Aku belum tahu namamu!" tanya gadis tersebut.


"*Namaku, Keysi!"


"Keysi, salam kenal ya? Aku pamit!"


"Ndah, terimakasih telah membantuku*!" ucap Adrian dan kedua gadis tersebut menghilang.


Dari arah belakang. Pak Sugih mendekat.


"Apa sudah selesai? Ternyata, Luhung Sewu hebat juga!" ujar Pak Sugih.


"*Kalau dia sendirian, tak kan bisa menghadapi sosok yang sudah lama menetap dalam tubuh pacarku!"


"Hah? Pacar? Baru juga kenal, sudah dibilang pacar. Tapi, tak apa si, diakan Pahlawanku*!" gumamku dalam hati.


"Tuh kan Pak, dia juga tidak apa?" ucap Adrian.


"Heh ...? Aneh. Aku kan ngomong dalam hati! Tapi, kenapa mereka bisa mendengarnya dan suaraku juga keluar."


Mereka berdua tertawa dan Pak Sugih menjelaskan, kalau kita sedang berada di alam berbeda. Lebih tepatnya di Alas Mingmang.


Katanya, kalau ada orang biasa dibawa kesini, dia tidak akan bisa kembali dan dia hanya berputar-putar didalam hutan.


Sebelumnya, Aku sedang di ruqyah oleh Bu Widya. Tante Vanessa membawaku kesini, untuk menyesatkanku dan mengambil alih tubuhku sepenuhnya.


Untung, kita mendatangi kediaman Pak Sugih sebelum terlambat. Kalau tidak, mungkin aku akan menjadi orang yang berbeda.


"Terus, bagaimana dengan tubuhku?" tanyaku.


"Tubuhmu aman dirumahku. Paling, Kamu hanya pingsan dan tak sadarkan diri. Tenang saja, Istriku sedang meruqyah tubuh aslimu!" jelas Pak Sugih.


"Terus, bagaimana dengan tubuh kalian berdua?" tanyaku lagi.


"Tubuhku diambil alih oleh makhluk pendamping dan sedang berusaha untuk menetralisir dirimu. Sedangkan Adrian, awalnya dijaga oleh Luhung Sewu. Tapi, setelah dia dipanggil. Kemungkinan, Adrian pun ikut pingsan sepertimu!"


Adrian dan Pak Sugih saling menatap dan mengangguk.


Tiba-tiba aku sadar dan melihat wajah Ayah.


Kepalaku dipangkuannya. Aku begitu senang dan merindukan pangkuannya.


Bi Sri dan Mang Cipto menangis, seraya berujar, "Alhamdulillah."


"Yeh ... Malah tidur lagi. Sudah bangun!" ujar Ayah dan kita semua tertawa.


Inilah akhir kisahku. Akhir kisah psikopat yang telah membelenggu diriku.


Dengan kepergian Tante Vanessa. Bisa dibilang, aku sudah sembuh.


Dan aku, bisa merasakan hidup bebas tanpa belenggu.


Adrian pindah sekolah dan sekarang, kita satu kelas.


Setelah semua kejadian ini. Setiap hari Ayah pulang dan kita selalu tertawa bersama.

__ADS_1


__Tamat__


Tolong tinggalkan komentar, like, favorite, vote dan jangan lupa follow agar aku bersemangat untuk menulis.


__ADS_2