DENDAM (Keysi S3 "Coming Soon") KEYSI S1 &S2 (End)

DENDAM (Keysi S3 "Coming Soon") KEYSI S1 &S2 (End)
Episode 11 (Perewangan Pelet)


__ADS_3

Pukul 06 pagi kami terbangun.


Kami keluar dari kamar Bi Sri dan kembali ke kamar kami yang ada diatas.


Kami mandi lagi dan bersiap-siap untuk berangkat sekolah.


Sebelum berangkat biasanya kami sarapan dulu. Tapi, hari ini Keysa sudah tak sabar untuk menginjakkan kaki disekolah.


Seperti biasa, kami datang paling awal.


Pak Bilal sudah membuka gerbang dan Bu Munawaroh sudah membuka Kantin.


Pagi ini kami sarapan di Kantin Bu Munawaroh.


Tak lama, satu-persatu para murid berdatangan.


Dari kejauhan, Keysa melihat Wira dan Roy berjalan memasuki gerbang sekolah.


Keysa langsung terburu-buru untuk menyelesaikan makan paginya.


Selesai makan dia bergegas mengejar Wira yang sudah ada didepan kelas.


Sedangkan aku sendiri menunggu Fitriah, anak kepala sekolah.


Target selanjutnya adalah Pak Rahmat Supriaji (Kepala Sekolah).


Aku mencoba mengakrabkan diri dengan Fitriah agar aku bisa main kerumahnya.


Dari kejauhan terlihat Fitriah, Cinta, Varisha dan Nikmala melewati gerbang.


Aku berlari mendekati mereka.


"Hey, ngapain kamu kesini?" tanya Cinta.


"Udahlah Cin, gak apa. Keysi kan teman Kita juga!" jelas Fitriah.


Aku hanya tersenyum dan mereka bertiga ikut tersenyum. Lain halnya dengan ketua kelas yang sombong itu. Memang sedari dulu dia tak suka padaku. Karena, nilai pelajaranku lebih unggul dari dia. Cinta selalu menjadi yang kedua dalam semua mata pelajaran. Sedangkan aku, selalu menjadi yang pertama atau ranking 1.


Sepulang sekolah, aku mampir kerumah Fitriah. Sedangkan Keysa, langsung pulang kerumah.


Tujuanku bukan hanya sekedar main. Tapi, mencari waktu yang tepat untuk membunuh Pak Rahmat.


Tiba dirumah Fitriah. Aku disambut sama 2 orang perempuan. Yang satu berumur 40-an dan yang satunya lagi berumur 27-an.


Keduanya mempersilahkanku masuk dan Fitriah pun dipanggil.


Fitriah keluar dari kamar dan mendatangiku yang sudah ada diruang tamu.


Fitriah memperkenalkanku dengan kedua wanita tersebut. Yang tua bernama Ibu Lies Anggraeini dan yang lebih muda bernama Sri Rahmayanti.


Ibu Lies adalah Istri pertama Pak Rahmat sedangkan Ibu Sri adalah istri kedua sekaligus ibu dari Fitriah.


Aneh, baru sebentar duduk disini. Peluh, sudah bercucuran.


Padahal ruang tamu ini ber-AC dan aku melihat mereka tenang-tenang saja.


"Tunggu sebentar ya? Aku mau ambil masak-masakan dulu!"


Fitriah pergi untuk mengambil mainannya.


Memang dari awal alasanku main, mau menemaninya main masak-masakan.


Mainan sudah dibawa dan kami pun keluar!


Siang ini berangin, walau panas aku tak merasa kepanasan, beda sekali dengan didalam.


Ramai anak-anak sedang main layangan disamping rumah Fitriah. Salah satu cowok itu ada yang melirik genit kepadaku sambil tersenyum. Boro-boro aku mau membalas senyum, melihatnya saja membuatku enek.


Cowok berambut klimis, bergigi ompong dan ingusan.


"Haduh," aku tak kuat memandang balik.

__ADS_1


Fitriah melihat kearah cowok tersebut.


"Syi, kayaknya si Ashoka suka sama kamu!" ujar Fitriah meringis.


Aku sama Fitriah main masak-masak, pakai alat dapur yang terbuat dari plastik.


Tak lama, Pak Rahmat pun pulang. Kita bersalaman dan beliau menyambutku dengan senyuman.


Aku pun ditawarin makan siang. Aku makan siang dirumahnya bareng sama keluarga dia.


Ternyata seperti ini rasanya punya keluarga yang utuh?


Sambil makan, kita pun bersenda gurau.


Keadaan ini tak meluluhkan hatiku. Tapi, kebencianku sama Pak Rahmat kian membesar.


Tanpa ulah dia dan temannya, mungkin aku bisa merasakan kebahagiaan seperti yang mereka rasakan.


Selesai makan kami melanjutkan bermain.


Dari sini, rencana sudah mulai aku susun.


Halaman rumah, mainan masak-masakan, layangan dan sandal jepit.


Bagaimana caranya supaya Pak Rahmat celaka. Tapi, tak ada yang menjadi tersangka?


Layangan putus! Mungkin, itu satu-satunya cara untuk membunuh dia.


Tapi, apakah bisa? Dan kalau aku ada disini. Kemungkinan, Pak Paimin akan curiga!


Aku bingung. Apakah, aku bisa melakukannya?


Sambil main dengan Fitriah, otakku terus berputar menyusun rencana.


Aneh, kenapa aku tak mendapatkan penglihatan tentang kematian Pak Rahmat?!


"Tante, apa kau disini?" tanyaku dalam hati.


Hawa dirumahnya pun tak enak. Seakan aku merasakan sesuatu.


Padahal diluar angin sedikit kencang. Tapi, didalam rumah, aku merasakan hawan yang begitu panas.


"*Tunggu sebentar ya Syi, Aku mau ambil pisau?"


"Buat apa Fit?"


"Buat motong sayur*!"


Terlihat Ashoka mulai lagi melirik kearahku. Aku jijik melihat ingus hijaunya. Apa lagi kalau sampai dia mendekat.


"Aku ikut, mau numpang ke kamar mandi."


Aku kembali masuk kerumah, mengikuti Fitriah dari arah belakang.


Hawa panas kembali terasa.


"*Fit, rumah kamu panas ya?"


"Panas apanya? Didalam sejuk begini*!"


Kami melangkahkan kaki menuju dapur. Terlihat kedua istri Pak Rahmat sedang beres-beres bekas makan dan ada pula yang mencuci piring.


Aneh! Kenapa mereka berdua begitu akur? Padahal kebanyakan pria kalau mempunyai istri lebih dari satu, mereka tak serumah!


Fitriah mengambil pisau dapur dan aku masih berdiri melihat kearah Ibunya.


Perlahan, sosok bayangan putih terlihat. Bayangan seorang perempuan berambut panjang berdiri tepat ditengah mereka.


Kuntilanak! Tak salah lagi, aku melihatnya begitu jelas.


"Parewangan, Pelet Pak Rahmat!" terdengar suara berbisik. Mungkin, itu suara Tante Vanessa. Apa selama ini dia selalu ada disampingku? Tapi, kenapa aku tak bisa berinteraksi dengan dia?!

__ADS_1


Sosok yang tadinya membelakangiku memutar kepalanya 180°.


Badannya masih membelakangiku. Tapi, wajahnya melihat kearahku. Mata melotot dan mulutnya seakan mengucapkan sesuatu. Tapi, aku tak bisa mendengar dengan jelas apa yang dia ucapkan.


Sepertinya sosok itu marah dengan kehadiranku dirumah ini?!


"Syi, Kamu ngapain berdiri disini? Katanya mau ke kamar mandi?" tanya Fitriah mengagetkanku.


Aku reflek dan melihat kearah Fitriah. Tapi, aku tak menjawab apa yang dia tanyakan.


Ketika aku kembali melihat kearah sosok tersebut, dia sudah tak lagi menampakkan diri.


"I-i-iya Fit, Aku kekamar mandi dulu!" ucapku dengan terbata.


Aku melangkahkan kaki ke kamar mandi dan setelahnya langsung keluar menemui Fitriah yang sudah menungguku.


"*Fit, Bapakmu kemana? Kok aku tak melihatnya?"


"Oh Ayah, kalau jam segini, biasanya dia sedang istirahat dikamar*!"


Kita bermain sampai sore dan Mang Cipto menjemputku.


Setelah berpamitan, aku langsung pulang.


Terlihat Ashoka melambaikan tangan dan aku membuang muka.


Hari ini, aku tak bisa membunuh Pak Rahmat. Aku hanya bisa memantau keseharian yang dia lakukan.


Ditengah perjalanan, teringat sosok yang aku lihat dirumahnya.


Aku mencoba mencerna bahasa bibir dari sosok tersebut. Samar, tapi aku mengingatnya dengan jelas. "Saiki aku ngewangi Rahmat, sesok mati gantian Rahmat ngewangi aku." Mungkin, seperti itu yang dia ucapkan.


Tapi, aku tak mengerti arti dari kata tersebut!


"*Mang Cipto, Mamang mengerti bahasa Jawa?"


"Lah, mengerti Non. Mang Cipto sama Bi Sri kan memang dari jawa!"


"Mang, Aku mau tanya, Bahasa Indonesianya, 'Saiki aku ngewangi Rahmat, sesok mati gantian Rahmat ngewangi aku,' tuh artinya apa Mang*?"


Mang Cipto diam sejenak. Dia tak berani menjawab.


"Non, dengar kata-kata itu dari siapa?"


"*Em, ada Mang. Memang artinya apa?"


"Sekarang aku jadi pembantu Rahmat, besok kalau Rahmat mati maka Rahmat akan jadi pembantuku*".


Setelah Mang Cipto mengartikan bahasa jawa, dia kembali diam sejenak. Aku pun sama.


Aku mencoba mencerna makna dari kata-kata tersebut.


"*Non, apa Pak Rahmat mempunyai Perewangan pelet dan sejenisnya?"


"Memang Mang Cipto tahu akan hal ini?"


"Kalau kita mempunyai Perewangan makhluk halus dan memintanya untuk membantu kita. Suatu hari nanti, makhluk tersebut akan meminta imbalan.


Tapi, kalau kita menyalahi peraturan, mereka akan mencelakai kita dan langsung menjadikan kita tumbal!"


"Oh, gitu ya Mang?"


"Mungkin, Non Keysi masih polos. Makanya, Non Keysi bisa melihat makhluk tersebut. Kalau Mamang amit-amit deh, minta bantuan sama yang begituan!"


'Hihihihi*,' aku tertawa dalam hati.


Tak susah bagiku membunuh dia. Aku hanya harus mencari tahu perjanjian apa yang dia lakukan dengan makhluk tersebut dan membuatnya menyalahi peraturan.


Mungkin, bukan aku yang akan mencari informasi. Aku yakin, Tante Vanessa akan mencari tahu.


Bersambung ... .

__ADS_1


Tolong tinggalkan komentar, like, favorite, vote dan jangan lupa follow agar aku bersemangat untuk menulis.


__ADS_2