DENDAM (Keysi S3 "Coming Soon") KEYSI S1 &S2 (End)

DENDAM (Keysi S3 "Coming Soon") KEYSI S1 &S2 (End)
Episode 18 (Ingatan Yang Hilang)


__ADS_3

Mendadak, kepalaku terasa sakit. Sakit yang begitu kuat, membuat tubuhku oleng. Seolah aku tak mampu menahan berat badanku.


Tangan kananku meraba, mencari pegangan. Sementara tangan kiri, memegang kepala dan berusaha menahan rasa sakitnya.


Aku teringat kejadian itu ... Kejadian yang membuatku tak sadarkan diri.


Sehabis mandi, aku mengenakan pakaian. Memandangi diriku dicermin sambil tersenyum mengerikan.


Aku berjalan dan menginjak kecoa. Aku mengambil kecoak tersebut dan memakannya.


Aku jijik mengingat akan hal tersebut. Seoalah, itu bukan diriku!


Aku melahapnya dengan sangat nikmat. Sampai mengeluarkan lidah untuk mengambil sisa kaki kecoa yang menyangkut dibibir.


Aku memakan habis kecoa tersebut dan tertawa terkekeh-kekeh.


Setelah itu keluar kamar dan menuruni anak tangga.


Aku pergi ke perpustakaan. Buku yang ada didalam tas, aku ganti dengan buku otomotif.


Setelah itu, aku kembali berjalan.


Kali ini langkah kakiku menuju gudang.


(Kalau pagi, biasanya gudang dalam kondisi terbuka. Karena, Mang Cipto selalu mengecek kendaraan setiap pagi dan dia membuka gudang, guna mengambil keperluannya.)


Aku masuk ke dalam gudang dan mencari sesuatu.


Aku mendapatkan kunci inggris berukuran kecil dan satu buah obeng. Lantas, aku memasukannya kedalam tas.


Aku berjalan keluar gudang.


Mendekat ke meja makan!


Aku sarapan dengan lahap. Sampai, 3 botol selai aku habiskan.


"Syi, Kamu makanya begitu? Tidak seperti biasanya!" ucap Keysa keheranan. Tapi, aku tak menghiraukannya.


Aku melihat Keysa terdiam, roti yang dia makan baru satu gigitan. Aku mengambil paksa roti tersebut dan memakannya.


Merasa masih kurang, aku pergi ke dapur dan mendekati kulkas.


Ayam mentah aku makan dengan lahap.


"Syi, lagi ngapain? Ayo ... Kita berangkat!" teriak Keysa dari ruangan tengah.


Aneh, aku makan ayam utuh tanpa menyisakan tulang.


Semuanya aku makan dengan lahapnya. Seolah, sudah lama aku tak makan!


Aku bergegas keluar rumah. Mang Cipto dan Kesya sudah menungguku didalam mobil.


Aku masuk dan duduk didalamnya. Tak begitu lama, aku sadar.


Ingatan Apa ini? Apa itu yang terjadi ketika aku hilang kesadaran? Terus, bagaimana dengan kesadaran yang lain?!


Tanpa sadar, ranting yang aku injak patah. Aku terjatuh dengan posisi punggung terlebih dahulu.


Aku merasakan sakit yang teramat sangat. Tapi, aku mencoba berdiri dan memanjat lagi. Tapi, sudah tak kuat!


Terdengar langkah kaki mendekat.


"Eh sepupuku ... Rupanya Kamu sudah pasrah? Ayo ikut, malam ini ... Kita akan bersenang-senang!"


Aku terduduk dan mundur. Tangan kanan mencari pisau yang aku jatuhkan.


Sedangkan Wahyu kian mendekat sambil tertawa.


Entah apa yang aku pegang. Aku langsung melempar kearahnya.

__ADS_1


Dia berhasil menghindar. Aku berdiri dan lari, menjauhi Wahyu.


Nafasku terengah, rasa haus yang aku tahan dari siang membuatku tak kuat lagi untuk berlari.


Hari sudah semakin gelap. Aku melihat ada batu besar. Aku berjalan mendekati batu tersebut dan kembali sembunyi.


Kepalaku mendadak sakit kembali. Aku memegang kuat kepala dengan kedua tangan.


Kali ini, aku teringat kejadian didalam kelas.


Waktu itu sedang baca buku.


Buku aku letakkan di meja dan membuka tas.


Perlahan, aku mengambil kunci inggris dan obeng. Aku memasukan ke dua benda tersebut dimasing-masing kaus kaki.


Setelah itu ... Aku mendadak tertidur dan tak lama Keysa membangunkanku.


"Arrghhh .... " Aku menjerit kesakitan. Kali ini ingatanku tertuju ketika baru mau masuk kelas. (Sebelumnya aku dari toilet mencuci tanganku yang kotor. Karena, waktu itu, aku habis mengendorkan baut di motor Pak Umar).


Aku melangkahkan kaki sambil tersenyum. Lantas, kembali duduk disamping Keysa.


Keysa kebingungan dan bertanya. Tapi, aku tetap diam. Memandang, dengan tatapan kosong.


Aku hanya berdiam diri sampai istirahat pun aku tak keluar dan masih didalam kelas.


(Waktu itu, Bu Erni mengira aku sedang sakit. Makanya dia membiarkanku yang hanya duduk dan tidak mengikuti pelajaran).


Para siswa dan siswi lain memandangku dangan tatapan yang tak mengenakan.


Aku terus seperti itu sampai jam pulang dan aku kembali menjadi diri sendiri, ketika sudah duduk di jok belakang (mobil).


Hidungku mengeluarkan darah dan telinga terasa berdenging.


Rasa sakit kepala makin kuat. Membuatku tersungkur dan menggeliat diatas tanah.


Aku kembali diingatkan tentang kejadian waktu digudang.


Aku ke ruang tengah dan mengambil kunci gudang yang berada di meja dekat TV.


Setelah berhasil mendapatkan kunci. Aku berjalan kearah gudang dan membukanya.


Aku masuk dan hanya berdiam diri didalam kegelapan.


Tak begitu lama, terdengar langkah kaki.


"Kok, gudang belum dikunci? Mang Cipto pasti lupa!" ucap Ayah dari luar gudang.


(Malam itu entah ada keperluan apa?! Sampai Ayah mendadak pulang.)


Terdengar suara kunci diputar. Ayah menguci gudang dan pergi meninggalkanku yang ada didalam.


"Cit-cit-cit," suara tikus terdengar.


Yang tadinya aku hanya berdiam diri menatap kearah pintu. Sekarang, aku mendadak berbalik dan melepar tikus tersebut dengan pisau.


Lemparanku tepat sasaran. Tikus tersebut terdiam tak bisa lagi bergerak.


Aku berjalan mendekat dan menarik pisau yang menancap ke badannya.


Rasa sakit dikepala mendadak hilang.


Dan aku, sudah bisa menghela nafas dengan lega.


Aku kembali bangkit dan duduk, menyenderkan punggung ke batu.


Tapi, Wahyu sudah ada dihadapanku. Dia menyeringai, mengerikan!


"Eh, ngumpet disini rupanya?"

__ADS_1


Dia menarikku dengan paksa. Aku diseret.


Tenaga Wahyu begitu kuat.


Berkali-kali aku memukul tangan kirinya. Tapi, tak juga lepas.


Tangan kanan wahyu menebang beberapa pohon kecil untuk membuat jalan.


Kakiku mulai lecet dan berdarah. Akubdiseret dan terkena pangkal pohon kecil yang ditebang meruncing.


Panas, perih itu yang aku rasakan.


Berkali-kali aku teriak minta dilepaskan. Tapi, Wahyu terus menyeretku dan tak menghiraukan apa yang aku ucapkan.


Sudah hampir mendekati rumah. Bercak darah menodai semak belukar.


Tiba-tiba, Wahyu berhenti. Dia menggeram sambil menarikku. Tapi, dia tak kuat.


Apa Mungkin, Tante Vanessa sudah kembali?!


Wahyu berbalik, menatapku dengan heran.


Aku memutar pergelangan tangan dan gantian, aku yang mencengkram tangan Wahyu.


Aku memutar tangannya sambil berdiri. Wahyu menunduk dan kesakitan.


Tiba-tiba, dia mengangkat kapaknya tinggi-tinggi.


Dengan kuat, kapak tersebut Wahyu ayunkan.


Aku langsung menutup mata. Pikirku, tak sempat untuk menghindar.


Tapi, kapak tersebut tak kunjung mengenai tubuhku.


Aku membuka mata dan terlihat ada seseorang berdiri di depanku.


Dia membalikan wajah.


"Om Rangga?" teriakku.


Om Rangga tersenyum dan badannya langsung tersungkur.


Kapak Wahyu menancap ke dada Om Rangga.


Aku mendekatinya dan duduk. Kepala Om Rangga aku taruh di kedua pahaku.


Aku menangis memandang wajahnya.


"Manis, jangan menangis!" Ucap Om Rangga sambil mengusap air mataku.


"Uhuek," Om Rangga terbatuk dan menyemburkan darah dari mulutnya.


Aku melirik kearah Wahyu. Dia hanya berdiri memandangi Ayah kandungnya yang tengah sekarat.


Badannya bergetar dan dia lari meninggalkan Kami berdua.


"Ah, cuma begini doang!" ucap Om Rangga sambil menarik kapal yang menancap di dadanya.


Darah segar mulai membasahi baju Om Rangga dan mengalir turun, membasahi pahaku.


Om Rangga berdiri, dia membuang kapak itu jauh-jauh.


"*Ayo Syi, Kita selamatkan Keysa!"


"Tapi Om?!"


"Jangan hawatirkan Om. Om masih sanggup berjalan. Biar Om yang menangani Wahyu dan Kamu yang menghadapi Lyli. Om bisa melihat makhluk astral. Bukan satu makhluk saja yang masuk kedalam tubuhmu. Makanya tubuh Kamu mendadak kuat! Tapi, jangan biarkan mereka mengambil kesadaran yang kau miliki! Ayo, Kita pergi*!"


Bersambung ... .

__ADS_1


Tolong tinggalkan komentar, like, favorite, vote dan jangan lupa follow agar aku bersemangat untuk menulis.


__ADS_2