DENDAM (Keysi S3 "Coming Soon") KEYSI S1 &S2 (End)

DENDAM (Keysi S3 "Coming Soon") KEYSI S1 &S2 (End)
S2 Episode 4 (Resih Abiyasa)


__ADS_3

"Pria itu siapa, Mang?" tanyaku mendekatkan mulut ke telinganya.


"Ba-ba-bayu!" ucap Mang Cipto menggetarkan gigi, terkatuk-katuk.


"Memang kenapa?" tanyaku penasaran, membuat Keysa melirik dengan tatapan tajam dan mendekatkan wajahnya.


"Nyawa Kita terancam!" jelas Keysa sambil menjauhkan wajahnya dan melihat kearah jalan.


"Apa maksudmu, Kak?" tanyaku mendekatkan wajah ke tempat duduknya.


"Selama ini, Tante Lyli tak berani mendekati kita. Karena dia pikir, sosok Bellin masih ada didalam tubuhmu! Kalau ada salah satu dari mereka (Cempaka Hitam) yang mengetahui, kalau Bellin sudah tak ada, bukannya akan gawat?" jelas Keysa menatap dengan mata yang menggenang.


"Bruat ...." Suara mobil menabrak dari arah belakang. Membuat kita terpontang-panting didalam kendaraan.


Bukan hanya itu, dari depan melaju kontainer dengan kecepatan kencang dan menghantam mobil yang kita kendarai.


Aku langsung memikirkan Keysa dan mencoba menggapai tempat duduknya.


Ternyata, belum cukup. Seperti ada yang sengaja mau mencelakai kita.


Bagian samping mobil yang sudah terbalik, di tabrak lagi oleh mobil yang pertama menabrak dari belakang.


Aku tahu mobil yang sama, karena sempat melihat dari arah jendela yang sudah tak ber-kaca.


Mobil kembali terguling dan masuk kedalam jurang.


Aku mencoba menguatkan diri dan ingin tetap sadar sambil merangkak kearah Keysa yang duduk terbalik tak sadarkan diri.


Mereka berdua mengenakan sabuk pelindung, tapi tetap saja!


Darah membasuh kedua wajah mereka.


Anehnya, Mang Cipto tak kembali sadar. Kenapa ilmu Mang Cipto tak bekerja?


"Kak, Mang Cipto." ucapku menggoyangkan badan keduanya bergantian.


Pandanganku memerah, mataku tertutup darah yang mengalir dari atas kepala.


Kesadaranku perlahan menghilang dan jatuh pingsan meniduri serpihan kaca mobil yang berserakan.


Aneh, mengapa aku sekarang berada di dalam goa?


Aku melihat kakek tua dengan pakaian serba putih yang bertapa mengambang dan badanya di penuhi cahaya putih.



Aku merasakan kesejukan dari cahaya yang bergejolak yang hampir menutup tubuh Kakek tua tersebut.


Perlahan, aku mendekati dia.


Baju dan rambutku terombang-ambing, seakan terkena angin yang sangat kencang.

__ADS_1


Padahal hanya cahaya putih, tapi kenapa begutu kuat sampai seperti ini?


"Eh, putri kula sampun wonten dipunriki?!" (Eh, anakku sudah sampai sini?!) ucapnya tersenyum sambil membuka kedua matanya.


Cahaya yang keluar dari tubuhnya perlahan meredup.


Dia mulai berdiri dan menghentikan tapa brata-nya.


Aku penasaran dan berjalan kearah belakang dia.


Matanya mengikutiku dengan sayup dan melebarkan bibir (tersenyum).


Aku mencoba meraih sesuatu dari balik punggungnya.


Tapi, tak menemukan apapun! Aku kira, dibelakang kakek ini ada sesuatu yang membuatnya mengambang.


"Eyang Kakung, saged sulap?" (Kakek, bisa sulap?) ucapku bertanya dan kaget sambil menutup mulut dengan kedua tangan. Kenapa aku berbicara dengan bahasa yang tak bisa aku mengerti. Namun, aku mengetahui arti dari kata yang terucap.


"Punapa? Aneh, nggih?" (Kenapa? Aneh, ya?) ucapnya tertawa memandangku sambil menempelkan tangan kirinya diatas kepalaku.


"Nuwun inggih, Eyang Kakung. Saleresipun, dalem wonten wonten pundi? Kaliyan, Eyang Kakung sinten?" ( Iya, kakek. Sebenarnya, aku ada di mana? Dan, kakek siapa?) tanyaku kesal sambil duduk diatas tanah berbatu.


"Kamu berada dialam berbeda! Aku adalah Kakek buyutmu, Resih Abiyasa." jelasnya mengelus kepalaku sambil tersenyum.


"Kenapa tak sedari tadi saja memakai bahasa Indonesia?" teriaku kesal dengan tatapan mata keatas, memandang wajahnya.


"Sabar, brur! Gue bisa bahasa Indonesia itu karena, memegang kepalamu!" ucapnya tersipu sambil menyipitkan kedua mata.


"Aduh, atit ...." ucapnya sambil memejamkan kedua mata, dibarengi dengan ekspresi sok imut layaknya anak kecil. Membuatku tertawa dan melepaskan genggaman tangan kananku dari jenggotnya.


"Oh iya, kenapa Aku bisa ada disini?" tanyaku dengan tatapan mengambang sambil meraba kearah dada, mencari buku yang mengalung di leher.


"Mencari ini?" tanya Resih Abiyasa sambil memperlihatkan telapak tangannya yang kosong.


Tiba-tiba, Buku Sukmo Abiyasa muncul dan melayang diatas telapak tangan kanannya.


Tapi berbeda dengan Buku yang pernah aku lihat.


Kalau yang ini, terlihat masih baru.


"Sebenarnya, aku sudah memanggilmu beberapa kali. Tapi ada energi besar yang datang. Membuatmu tak bisa kemari." terangnyaj sambil menggenggam tangan kanannya dan buku tersebut tiba-tiba menghilang.


"Kenapa Aku ada disini? Bukannya sekarang, aku ada didalam mobil yang terbalik?" tanyaku penasaran sambil menempelkan telunjuk kanan ke kening.


"Karena Kamu sudah berada di alam berbeda. Berarti, Kamu sudah meninggal!" jelasnya memejamkan kedua mata sambil menggelangkan kepala.


"Tidak mungkin .... Lalu bagaimana dengan Keysa dan Mang Cipto?" teriaku bertanya sambil menggenakan air mata.


"Ha-ha-ha. Aku bercanda. Bukan hanya alam berbeda yang telah engkau datangi. Tapi, waktu yang berbeda juga. Kamu ada disini, artinya masih hidup! Kalau mati, pasti berada di alam baka." jawabnya teriak sambil tertawa memegang perut dan melihat keatas.


Aku berdiri dan menginjak kakinya dengan sangat keras, sedangkan tangan ini mengusap air mata yang hampir mengalir diantara pipi.

__ADS_1


"Aduh." teriaknya melompat-lompat dengan kaki kiri. Sedangkan kedua tangannya memegang kaki kanan yang aku injak.


"Terus, bagaimana caranya agar Aku bisa kembali?" ucapku kembali duduk bersila sambil memejamkan mata dan memanyunkan bibir sambil membuang wajah kearah kiri.


"Bukan Aku yang membuatmu kemari. Tapi Kamu sendiri yang datang kesini!" jelasnya sambil duduk didepanku.


Aku membuka mata dan menoleh kearahnya sambil mengingat terakhir kali sebelum berada disini.


Aku melihat cahaya putih mengambang diudara dengan tulisan dan membacanya. Lalu, aku jatuh pingsan.


"Ya. Aku sudah ingat! Aku membaca tulisan yang keluar dari dalam buku. " jelasku mendekatkan wajah kearahnya.


"Muach." Kakek Resih Abiyasa mencium keningku.


Padahal, aku hanya mendekatkan wajah, tapi berani-beraninya dia mengambil kesempatan itu.


"Adu-duh, aduh ...." teriaknya saat kedua telinga Kakek Resih aku jewer.


"Kakek nakal! Beraninya, mencuri kesempatan dalam kesempitan!" teriaku melepaskan genggaman tangan dari kedua telinganya.


"Lah, Aku kan Kakek buyutmu! Masa mencium cucu tak boleh?" ucapnya membela diri.


Tiba-tiba, cahaya memancar dari dada.


Kalung yang mendadak hilang, ada kembali dan memancarkan cahaya yang memantulkan aksara jawa kuno.


Aku kembali membacanya dan tubuhku terangkat, melayang diatas tanah dengan cahaya putih yang menyelimuti tubuh.


Aku juga heran, kenapa bisa membaca tulisan yang tak bisa aku mengerti. Apalagi, mengucapkannya dengan fasih.


"Kapan-kapan, kesini lagi!" teriak Kakek melambai kearahku yang melayang.


Cahaya putih menyilaukan pandangan dan aku berada di dalam suatu ruangan.


Cahaya putih perlahan memudar, membuatku turun dan mendekati sosok yang tengah tergeletak tak sadarkan diri diatas ranjang didalam ruangan.


Aku kaget, melihat sosok yang tak lain adalah aku.


Aku melihat tubuhku terbaring dengan beberapa perban dan ada pula yang melingkar diantara kepala.


"Kalau itu aku, terus aku ini apa?" gumamku penasaran sambil mengangkat setengah tangan.


Aku melihat kedua tanganku transparan dan tubuhku, tak mengenakan pakaian.


Aku telanjang bulat dengan tubuh tembus pandang.


"Hi-hi-hi-hi." terdengar suara perempuan tertawa yang datangnya dari pojok ruangan yang mungkin, ruangan tempat tubuh asliku tergeletak adalah rumah sakit.


Bersambung ... .


Tolong tinggalkan komentar, like, favorite, vote dan jangan lupa follow agar aku bersemangat untuk menulis.

__ADS_1


__ADS_2